
Sistem Tak Terbatas Raja Samudra
Hyuga Himawari|Bersambung
- Jumlah kata
- 161.1K
- Popular
- 2.4K
- Subscribe
- 234
- Jumlah kata
- 161.1K
- Popular
- 2.4K
- Subscribe
- 234
Sinopsis
Saat 7 miliar manusia dipaksa masuk ke permainan bertahan hidup di laut dalam, Jerry Sanjaya terbangun di kapal selam bobrok dengan energi nyaris habis dan maut yang menunggunya dari segala arah. Tepat ketika semuanya tampak mustahil, ia memperoleh bakat emas langka yang mengubah kapalnya menjadi mesin abadi dengan energi tak terbatas, sebuah keuntungan gila yang tak dimiliki siapa pun. Sementara pemain lain membeku, kehabisan oksigen, dan saling berebut sisa harapan, Jerry melesat menembus kegelapan, menjarah persediaan, memperkuat kapalnya, dan mulai menumpuk kekuatan untuk mendominasi lautan mematikan itu.
Ulasan
1 ulasan
Fithriah Arrahman
13/7/26 09:58
Permisi, izin promosi buku aku, Kak Thor...🙏 Judulnya, DIKHIANATI TUNANGAN, BANGKIT MENJADI MILIARDER DENGAN SISTEM RAHASIA Kisah seorang pria yang dikhianati oleh tunangannya, lalu bangkit dari keterpurukan setelah memperoleh sistem rahasia yang mengubah hidupnya. Makasih... 🙏
Bab 01
Suara alarm melengking, tajam dan menyakitkan, seolah-olah sebilah belati perak sedang mengorek paksa seluruh saraf di gendang telinga Jerry Sanjaya. Matanya terbuka lebar, dipaksa bangun oleh rasa sakit yang menusuk.
Namun, yang menyambut kesadarannya bukanlah langit-langit kamar apartemennya yang hangat dan berwarna krem, melainkan bentangan lempengan logam berkarat yang lembap dan mengeluarkan bau apak yang menyengat paru-paru.
Jerry tersentak, mencoba duduk tegak karena dorongan adrenalin, tetapi kepalanya justru menghantam pipa besi yang melintang rendah di atasnya. Bunyi dentang logam beradu tulang terdengar nyaring.
"Sial!" umpatnya sambil memegangi dahi yang seketika berdenyut hebat.
"Di mana ini? Apa yang sebenarnya terjadi?"
Pandangannya yang masih sedikit kabur beralih ke sebuah jendela kecil berbentuk lingkaran di sampingnya.
Di balik kaca tebal itu, tidak ada sinar matahari yang hangat. Tidak ada kicau burung. Hanya ada kegelapan pekat dari massa air hitam yang seolah-olah tidak memiliki dasar.
Sesekali, seekor ikan dengan sirip yang memancarkan pendar cahaya aneh melintas, berhenti sejenak untuk menatapnya dengan mata besar yang kosong dan dingin sebelum akhirnya menghilang kembali ke dalam kegelapan abadi.
Tiba-tiba, sebuah suara dingin, mekanis, dan tanpa emosi bergema secara artifisial, langsung di dalam tempurung kepalanya.
[Selamat datang di Permainan Bertahan Hidup Laut Dalam.]
Jerry membeku di tempat. Jantungnya berdegup kencang, menghantam dinding rusuknya dengan liar, persis seperti seekor burung liar yang terperangkap dalam sangkar sempit.
[Tujuh miliar manusia telah dipindahkan. Habitat asli kalian telah musnah sepenuhnya. Di dunia baru ini, kapal selam adalah satu-satunya nyawa kalian. Kumpulkan sumber daya, tingkatkan level kapal, atau mati dalam kesunyian yang dingin.]
"Tujuh miliar?" gumam Jerry tak percaya. Suaranya gemetar, menggema di dalam ruangan sempit yang luasnya tak lebih dari lima meter kubik itu.
"Ini gila. Ini pasti hanya mimpi buruk yang terlalu nyata."
Ia mencoba mencubit lengannya dengan keras. Rasa sakit yang tajam seketika menjalar, membuktikan bahwa ini bukanlah halusinasi.
Dengan napas yang mulai memburu, ia mendekati jendela kaca tebal itu dan berteriak sekuat tenaga, "Halo! Apa ada orang di luar sana? Tolong aku!"
Tentu saja, tidak ada jawaban. Hanya gelembung air kecil dan keheningan laut dalam yang mencekam yang membalas teriakannya.
Detik berikutnya, sebuah panel cahaya transparan mendadak muncul di hadapannya, menampilkan data statistik yang membuat seluruh persendian Jerry terasa lemas seketika.
Status Pemain:
Nama: Jerry Sanjaya
Kesehatan: Sehat
Kewarasan: 100/100 (Peringatan: Di bawah 50 akan muncul keinginan bunuh diri. Di bawah 0 Anda akan menjadi gila sepenuhnya.)
Mental: 10 (Rata-rata manusia normal)
Fisik: 10 (Kecepatan, Kekuatan, Pertahanan)
Status Kapal Selam (Level 1)
Tingkat Kekerasan:10 (Kondisi: Sangat rapuh)
Kedalaman Maksimum: 100 meter
Kedalaman Saat Ini: 10 meter
Sisa Energi: 2%
"Dua persen?" Jerry berteriak, suaranya naik satu oktav karena histeria yang mulai menyerang.
"Hanya dua persen?! Hei, Sistem! Kau pasti bercanda! Bagaimana mungkin aku bisa bergerak atau bertahan hidup dengan energi sesedikit ini?"
Ia memukul panel kontrol di depannya yang terlihat sangat kuno, penuh debu, dan berminyak.
"Bicara padaku! Bagaimana cara mendapatkan energi tambahan?"
Sebuah jendela notifikasi baru muncul dengan warna merah yang mencolok, seolah-olah sedang menanggapi kemarahan dan keputusasaannya.
[Peringatan: Badai dahsyat akan melanda permukaan laut dalam 60 menit ke depan. Kedalaman 0-50 meter akan menjadi zona kematian total. Seluruh pemain diwajibkan menyelam di bawah kedalaman 50 meter sebelum waktu habis.]
Jerry menelan ludah dengan susah payah. Kerongkongannya terasa kering. Ia melirik indikator energi lagi yang kini berkedip-kedip mengancam.
Dengan sisa energi hanya 2%, kapal selam rongsokan ini bahkan tidak akan mampu melakukan manuver penyelaman yang stabil, apalagi bergerak mencari kotak persediaan yang dijanjikan dalam panduan sistem.
"Sepuluh menit," bisik Jerry sambil menatap angka digital yang terus berdenyut merah.
"Energi dasar ini hanya cukup untuk membuat kapal ini bernapas selama sepuluh menit dalam posisi diam. Jika aku memaksakan mesin untuk bergerak, aku akan mati kehabisan oksigen dalam hitungan detik karena sistem pendukung hidup akan lumpuh."
Dengan tangan yang masih gemetar, ia mencoba membuka saluran obrolan regional, berharap menemukan bahwa ini hanyalah kesalahan teknis yang dialami kapalnya saja.
[Saluran Obrolan Regional - Sektor 402]
Pemain 1029: "Tolong! Aku takut gelap! Kenapa bagian dalam kapalku bau oli dan karat?"
Pemain 9928: "Sial, energi punyaku cuma 5%! Aku mencoba bergerak sedikit dan langsung merosot jadi 4%. Jangan bergerak sembarangan jika ingin hidup!"
Pemain 0031: "Aku melihat sebuah kotak di luar sana! Tapi ada hiu dengan tiga kepala yang menjaganya. Aku tidak berani keluar, aku akan mati!"
Pemain 8812: "Ini kiamat yang nyata... kita semua hanya menunggu waktu untuk mati di dalam kaleng kerupuk ini."
Jerry segera menutup panel obrolan tersebut. Ratapan dan keputusasaan orang-orang itu justru mempercepat penurunan mentalnya. Ia merasa dadanya sesak.
Ruang sempit ini mulai terasa seperti peti mati besi yang sedang menunggu untuk dipaku dari luar.
"Berpikir, Jerry, ayo gunakan otakmu!" ia memarahi dirinya sendiri, menepuk-nepuk pipinya agar tetap fokus.
"Sistem bilang ada kotak persediaan. Tapi di mana? Jika aku menggunakan sisa energi untuk mencari dan ternyata tidak menemukan apa-apa, aku mati. Jika aku tetap diam di sini, satu jam lagi badai akan menghancurkan kapal ini di kedalaman 10 meter. Hasilnya sama, aku tetap mati."
Jerry menyandarkan punggungnya pada dinding logam yang terasa sangat dingin dan basah. Air mulai merembes sedikit demi sedikit dari sambungan pipa yang longgar di pojok ruangan.
Suara tetesan air yang jatuh ke lantai logam itu terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur waktu kematiannya.
"Jadi begini akhirnya?" Jerry tertawa getir, tawa yang terdengar kosong dan hampa.
"Tujuh miliar orang di bumi, dan aku justru mendapatkan kapal selam paling rongsok di seluruh samudra ini?"
Jerry menatap kosong ke arah kegelapan tak berujung di balik jendela. Keputusasaan mulai merayap naik, mencekik setiap inci kesadarannya.
Jerry mulai membayangkan dirinya terombang-ambing sebagai mayat yang membusuk di dalam besi berkarat ini, tenggelam perlahan ke dasar laut yang paling dalam dan tak pernah terjamah oleh cahaya.
Namun, tepat di titik keputusasaan yang memuncak, sebuah suara dentingan logam yang berbeda terdengar. Suara ini tidak seperti suara dingin sistem permainan tadi. Suara ini lebih tajam, lebih megah, dan seolah-olah berwarna keemasan di dalam pikirannya.
[Ting! Kondisi keputusasaan ekstrem terdeteksi. Memicu protokol tersembunyi yang terkunci...]
Jerry terbelalak. Tubuhnya menegang. "Apa? Apa itu?"
[Selamat! Anda telah berhasil mengaktifkan Sistem Bakat Unik.]
[Anda mendapatkan Bakat Tingkat SSS: "Atribut Emas".]
Jerry ternganga, mulutnya sedikit terbuka karena syok. Ia mengucek matanya berulang kali, memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi hebat karena tingkat kewarasannya mulai menurun.
"Atribut Emas? Apa itu semacam kode curang atau cheat?" Gumam Jerry
[Deskripsi Bakat "Atribut Emas": Setiap kali kendaraan (kapal selam) Anda naik level, pemain berhak mendapatkan satu kesempatan untuk menarik satu atribut emas secara acak. Atribut emas akan memberikan sifat luar biasa atau kemampuan permanen yang melampaui logika permainan pada kendaraan Anda.]
"Melampaui logika?" Jerry mengulang kata-kata itu dengan suara serak yang hampir habis.
Harapan yang tadinya sudah padam total kini memercik kembali, membakar rasa takut yang sempat menyelimuti hatinya.
"Artinya... aku masih punya peluang untuk hidup?"
Tiba-tiba, sebuah cahaya keemasan yang redup namun hangat mulai menyelimuti panel kontrol di depannya. Sebuah pemberitahuan baru muncul dengan efek animasi yang jauh lebih mewah dan elegan daripada sebelumnya.
[Pemberitahuan: Sebagai pemilik bakat unik pertama di dunia, Anda mendapatkan Bonus Pemula.]
[Bonus: 1x Kesempatan Penarikan Atribut Emas Gratis (Diberikan tanpa syarat kenaikan level).]
Jerry merasakan napasnya memburu, paru-parunya seolah menuntut oksigen lebih banyak karena rasa senang yang meledak. Ini adalah satu-satunya pelampung penyelamat di tengah samudra yang mematikan ini.
Jerry menatap layar itu dengan intensitas yang luar biasa, seolah-olah dunianya hanya menyisakan panel tersebut.
"Hanya satu kali kesempatan," bisiknya pelan, mencoba menenangkan tangannya yang bergetar.
"Satu tarikan ini bisa menentukan apakah aku akan mati konyol sebagai santapan ikan atau menjadi penguasa samudra ini."
Ia melihat sebuah tombol emas besar yang bercahaya terang muncul secara virtual di udara, melayang tepat di hadapannya.
Di bawah tombol yang berdenyut itu, tertulis sebuah pertanyaan yang akan menentukan takdir hidup dan matinya.
[Sistem: Apakah Anda ingin segera menggunakan kesempatan penarikan Atribut Emas gratis sekarang?]
Jerry mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya memutih. Ia melirik sekilas ke arah tangki oksigen tua yang mendesis lemah, lalu kembali menatap ke arah sisa energi 2% yang terus berkedip merah dengan nada mengancam.
Tanpa ragu lagi, ia mengayunkan tangannya, menghantam tombol cahaya emas itu dengan seluruh harapan yang tersisa.
Daftar bab
123 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
123 bab








