
aku mendapatkan sistem Check-in
kazuya12|Bersambung
- Jumlah kata
- 38.4K
- Popular
- 2.0K
- Subscribe
- 312
- Jumlah kata
- 38.4K
- Popular
- 2.0K
- Subscribe
- 312
Sinopsis
Fajar Pratama, seorang mahasiswa miskin dari universitas Gunadarma. fajar di khianati mantan kekasihnya Vania, sehingga dia putus asa dan hendak mengakhiri hidupnya, tapi saat fajar hendak melompat ke sungai, tiba-tiba dia mendapatkan sebuah sistem Check-in harian, di mana setiap hari fajar harus melakukan check-in untuk mendapatkan berbagai hadiah dari sistem, dengan bantuan sistem fajar akhirnya berhasil membalikkan keadaan sehingga fajar bebas finansial dan menemukan cinta sejatinya Serta membuat mantan kekasihnya menyesal.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1. penghianatan
Di alun-alun Universitas Gunadarma, terlihat seorang pemuda berpakaian sederhana sedang menelepon sambil membawa sebuah buket bunga mawar dan sebuah kado kecil. Pemuda itu bernama Fajar Pratama.
"Halo... Sayang, kamu di mana? Aku ingin memberimu hadiah ulang tahun," tanya Fajar dengan santai, tanpa sedikit pun rasa curiga.
Dari seberang telepon, terdengar suara seorang wanita yang terengah-engah.
"Sayang... aku sedang nge-gym bersama teman-teman," jawab wanita itu.
Tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun, Fajar langsung berkata,
"Oh, begitu. Eh... Sayang, bisakah kamu kirimkan alamatnya? Aku akan segera ke sana."
Wanita itu menjawab,
"Tidak usah, Sayang. Di sini banyak orang. Nanti kalau aku sudah selesai nge-gym, aku akan segera ke sana," ucap wanita itu.
"Oh... Kalau begitu, aku akan menunggumu, Sayang..."
Namun, saat Fajar menoleh ke depan, langkahnya tiba-tiba terhenti. Matanya membelalak ketika melihat sosok yang sangat dikenalnya.
"Vania?!"
Fajar tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.
"Bukankah dia sedang nge-gym bersama teman-temannya? Tapi... kenapa dia bersama Kevin?" gumam Fajar.
Dadanya terasa sesak. Untuk pertama kalinya, muncul kecurigaan di dalam pikirannya.
"Apakah dia sedang membohongiku?"
Tanpa membuang waktu, Fajar langsung menghampiri Vania.
Sesampainya di dekat mobil Kevin, Fajar mengetuk kaca jendela mobil dengan keras.
"Tok! Tok! Tok!"
Karena terkejut, Vania langsung menoleh ke arah pintu mobil. Wajahnya seketika berubah pucat ketika melihat Fajar berdiri di luar.
"Kak Kevin... bagaimana ini? Fajar ada di luar. Dia akan menyadari kalau aku telah menyelingkuhinya," ucap Vania dengan panik.
Kevin yang berada di samping Vania langsung merangkulnya dan berkata dengan tenang,
"Kamu tidak perlu takut. Kita keluar saja. Lagipula, dia tidak akan bisa menyentuhku."
"Baiklah, kalau begitu," ucap Vania.
Mereka pun segera keluar dari mobil untuk menghampiri Fajar.
Tanpa banyak bicara, Fajar langsung bertanya,
"Vania... Bukankah kamu sedang nge-gym? Tapi kenapa kamu ada di sini? Apa yang sedang kamu lakukan bersama Kevin?"
Vania langsung menjawab dengan nada ketus,
"Memangnya apa urusanmu? Aku mau bersama siapa pun, itu urusanku. Kamu itu hanya mahasiswa miskin yang tidak punya apa-apa. Selama tiga tahun kita berpacaran, tapi apa yang sudah kamu berikan kepadaku?" bentak Vania dengan penuh emosi.
Kevin yang berdiri di samping Vania ikut angkat bicara.
"Kamu memang tidak layak bersama Vania. Orang yang layak bersamanya hanyalah aku. Jadi, lebih baik kamu urus dirimu sendiri."
Vania kemudian menatap Fajar dengan dingin.
"Fajar, lebih baik kita putus saja."
Seketika, dada Fajar terasa bergetar hebat. Perkataan itu menghantam hatinya bagaikan sambaran petir.
"Bu... bukankah selama ini kita baik-baik saja?" ucap Fajar dengan suara bergetar.
Dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Vania, kamu sedang bercanda, kan? Kamu masih menyukaiku, kan?"
Fajar kemudian tersenyum getir sambil mengulurkan sebuah kado dan buket bunga mawar yang sejak tadi dibawanya.
"Vania... ini hadiah yang aku belikan untukmu sebagai kado ulang tahun. Tolong terima juga buket bunga mawar ini."
Namun, sebelum Vania sempat mengambilnya, Kevin langsung merebut buket bunga dan hadiah tersebut dari tangan Fajar.
"Hadiah macam apa ini?" ujar Kevin meremehkan. "Ini hanya akan menghina Vania."
Tanpa ragu, Kevin langsung membuang buket bunga dan hadiah dari Fajar ke tanah.
"Bruk!"
Buket bunga itu jatuh dan beberapa kelopaknya berserakan di atas tanah, sementara kado yang telah dipersiapkan Fajar dengan penuh harapan tergeletak di sampingnya.
Mereka pun meninggalkan Fajar sendirian di alun-alun Universitas Gunadarma.
Dengan hati yang hampa, Fajar Pratama berjalan tanpa tujuan. Langkahnya terasa berat, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kenangan selama tiga tahun terakhir bersama Vania.
Tanpa sadar, Fajar tiba di sebuah jembatan yang menjadi perbatasan antara Kota Arwana dan Kota Jiang.
Dia berdiri termenung di sana, menatap aliran air di bawah jembatan dengan tatapan kosong.
Dalam hati, Fajar berkata,
"Sungguh... perjuanganku selama tiga tahun ini ternyata hanya sebuah lelucon. Betapa banyak waktu yang telah aku habiskan demi Vania. Aku memberikan semuanya untuk hubungan ini, tetapi pada akhirnya dia tetap meninggalkanku."
Fajar mengepalkan tangannya.
"Kenapa semuanya harus berakhir seperti ini..."
Saat pikirannya berada dalam titik terendah, tiba-tiba sebuah suara mekanis bergema di dalam kepalanya.
"TING!"
"DING! Terdeteksi host memenuhi syarat untuk mengaktifkan Sistem."
Fajar langsung tertegun.
"Suara apa itu?" gumamnya. "Apakah aku sedang berhalusinasi?"
Namun, suara mekanis tersebut kembali terdengar.
"TING! Apakah Host ingin mengaktifkan Sistem Check-In?"
"[YES/NO]"
Fajar terdiam beberapa saat.
"Ternyata ini bukan halusinasi..."
Rasa penasaran mulai muncul di wajahnya. Setelah berpikir sejenak, Fajar memilih pilihan YES.
"TING!"
"Selamat, Host! Sistem Check-In telah berhasil diaktifkan."
Fajar membelalakkan matanya.
"Sistem...?"
Untuk pertama kalinya sejak kejadian tadi, tatapan Fajar mulai berubah. Ada sedikit harapan yang muncul di tengah keterpurukannya.
"Tapi, Sistem... apa maksudnya Sistem Check-In?" tanya Fajar dengan penasaran.
"TING! Sistem Check-In memungkinkan Host mendapatkan berbagai hadiah secara acak. Fitur Check-In Harian akan diperbarui setiap pukul 06.00."
Mata Fajar langsung membelalak.
"Jadi, aku hanya perlu melakukan Check-In setiap hari?"
"TING! Benar, Host."
"Eh... Sistem, apakah tidak ada hadiah khusus untuk pemula?" tanya Fajar.
"TING! Maaf, Host. Sistem Check-In tidak menyediakan fitur hadiah khusus untuk pemula. Namun, Host tetap dapat melakukan Check-In hari ini."
Fajar terdiam sejenak. Kemudian, dia bertanya,
"Sistem... bagaimana cara melakukan Check-In?"
"TING! Host hanya perlu mengucapkan 'Check-In', kemudian menekan tombol bertuliskan [CHECK-IN] pada monitor virtual di hadapan Host."
Fajar menatap monitor transparan yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Monitor virtual...?" gumam Fajar dengan mata berbinar.
Dengan gugup, Fajar segera melakukan Check-In.
"Sistem, aku ingin melakukan Check-In hari ini."
Fajar kemudian menekan tombol [CHECK-IN] pada monitor virtual di hadapannya.
"TING!"
"Check-In berhasil."
"TING! Selamat, Host! Anda mendapatkan hadiah berupa uang tunai sebesar Rp200.000.000."
"Uang telah dikirimkan ke rekening Anda. Silakan periksa rekening Anda untuk memastikan hadiah telah diterima."
Fajar langsung membelalakkan matanya.
"Apa?! Dua ratus juta? Apakah aku sedang bermimpi?"
Karena masih tidak percaya, Fajar mencubit pahanya sendiri.
"Ahh... sakit!"
Fajar mengusap pahanya sambil tertegun.
"Jadi... ini bukan mimpi?"
Tidak lama kemudian, ponsel Fajar berbunyi.
TING!
Sebuah notifikasi transaksi muncul di layar.
GoPay menerima uang dari pengirim anonim sebesar Rp200.000.000.
Fajar menatap layar ponselnya dengan mata berbinar.
"Benar-benar masuk..."
Setelah menerima hadiah dari sistem, semangat Fajar yang sebelumnya hilang perlahan kembali.
"Kali ini aku mendapatkan uang Rp200 juta."
Fajar mulai menghitung rencananya.
"Aku akan mengirimkan Rp50 juta kepada Ibu untuk merenovasi rumah. Kemudian, Rp50 juta untuk biaya kuliah. Aku juga masih memiliki utang sebesar Rp60 juta."
Fajar tersenyum kecil.
"Kalau begitu, masih tersisa Rp40 juta. Uang itu akan aku gunakan untuk membeli pakaian dan perlengkapan kuliah yang selama ini tidak mampu kubeli."
Tanpa membuang waktu, Fajar segera mengirimkan Rp50 juta kepada ibunya.
Namun, beberapa saat kemudian, ponsel Fajar kembali berdering.
Riiing... Riiing...
Nama Ibu muncul di layar.
Fajar segera mengangkat telepon tersebut.
"Halo, Bu. Ada apa?"
Dari seberang telepon, terdengar suara ibunya dengan nada panik sekaligus marah.
"Dasar anak kurang ajar! Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak ini?! Jangan-jangan kamu merampok bank?!"
Fajar langsung terkejut.
"Bu, dengarkan dulu penjelasanku...."
Bersambung...
Daftar bab
34 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








