
Valerian Erdus: The Last Reincarnation
Vire zheke|Bersambung
- Jumlah kata
- 3.8K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
- Jumlah kata
- 3.8K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
Novel ini menceritakan seorang pemuda bernama Valerian Erdus yang memiliki rambut biru bagai laut dalam dan mata merah seindah rubi juga keingintahuan tinggi, namun karena dia adalah seorang yatim piatu yang dirawat oleh seorang Priest. Valerian dibesarkan di sebuah kota Bernama Poison Hell yang semua penduduknya adalah pemburu beast dan hanya Valerian saja yang menjadi penduduk termuda di kota itu. Valerian terus belajar dan berburu sejak kecil untuk membantu Priest Robert yang telah merawatnya, disaat pemuda seusianya sedang mengejar ketenaran dan mimpi dengan membangkitkan job menggunakan ritual kebangkitan yang di anugrahkan oleh para Dewa dan Dewi, Valerian memilih tidak membangkitkan jobnya karena tidak memiliki uang. Tanpa dia sadari jauh didalam darahnya menyimpan rahasia yang sangat tidak terduga, serta ancaman yang diam-diam mengintai dari balik langit yang seolah tidak terjamah. Bagaimana valerian akan berkembang? Apakah dia akan membangkitkan kemampuanya dan menjadi jawaban dari para Dewa dan Dewi? Atau dia akan memilih untuk menjadi dirinya sendiri.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab. 1. memulai
“akhirnya kau kembali kawanku, maafkan aku yang datang terlambat.” Kata seorang pria tinggi menjulang bagai pilar yang menyangga langit yang gelap, pria itu memiliki rambut emas, wajahnya tertutup dengan kegelapan yang sangat pekat.
Sedangkan didepan pria raksasa itu ada sosok kecil yang ternyata seorang pemuda berumur dua puluhan yang terdiam membeku, matanya bergetar ada keterkejutan, ketakutan, keheranan dan keingintahuan yang menjadi satu.
Kemudian semua menjadi gelap dan pria itu terbangun dengan terengah-engah, badannya penuh keringat seolah habis melakukan pekerjaan yang berat.
Dadanya sesak, memikirkan mimpi yang baru saja dialaminya.
Suara pria dalam mimpinya seakan nyata terus terngiang dikepalanya hingga membuatnya kepalanya pusing.
“a-apa itu.” Ucapnya dengan suara bergetar.
Pria muda ini bernama Valerian Erdus, seorang pemuda yatim piatu yang hidup di pinggiran hutan Sky Poison, salah satu hutan terlarang yang berada di di benua utara.
“Vale! Cepat bangun, hari ini aku mendapatkan pekerjaan bagus untukmu.” Teriak seorang pria tua dari luar tempat tinggal Valerian.
“tunggu sebentar tuan Rian.” Jawab Valerian.
Valerian membasuh mukanya di halaman belakang kediamannya kemudian keluar dari tempat tinggalnya yang berupa gubuk terbuat dari kayu dan atap dari anyaman rumput liar.
“pekerjaan apa tuan Rian?” tanya Valerian.
Tuan Rian adalah mantan pemburu beast dan macenary rank c yang pensiun dan beralih menjadi seorang pedagang beast, begitulah yang Valerian ketahui.
“aku mendapatkan klien yang membutuhkan porter untuk mengangkut hasil buruan dan kebetulan aku mengingatmu anak muda, hahaha.” Jawabnya sambil tertawa.
“wah… baiklah tuan.” Jawab Valerian dengan wajah berbinar.
“baiklah, segera ganti bajumu, karena yang akan kau layani ini seorang bangsawan.” Kata tuan Rian.
Vale terdiam dan gugup seketika, karena baru pertama kali dia akan bekerja sebagai pengangkut material beast untuk rombongan bangsawan.
“tenang saja, mereka keluarga bangsawan Radox dari kekaisaran Suci benua tengah.” Tuan Rian tersenyum hangat melihat kegugupan Valerian.
“baiklah tuan.” Jawab Vale singkat lalu kembali masuk kedalam gubuknya dan mengganti pakaian yang paling bersih miliknya.
Vale menggunakan pakaian coklat sederhana dan celana panjang berwarna sama juga sepatu pemburu, pakaian yang dia kenakan merupakan pembrian dari Priest Robert yang merawatnya dari kecil dan sepatunya dia beli dari menabung selama tiga tahun.
Tuan Rian melihat Valerian dengan mata berbinar, Valerian memiliki tinggi badan 185 cm rambut biru gelap bagai laut dalam Caspia mata merah sindah rubi dan wajah yang menyaingi para pangeran dan pria bangsawan.
“jika aku tak melihatmu dari kecil mungkin aku mengira kau adalah seorang bangsawan Vale.” Kata tuan Rian tersenyum hangat.
Tuan Rian sudah melihat Valerian dari kecil karena dia berteman baik dengan Priest Robert yang merawat Valerian, awalnya tuan Rian dan Priest Robert curiga bahwa Valerian adalah anak dari seorang bangsawan, mereka mencari tau untuk mengembalikannya kepada orang tuanya.
Namun setelah bertahun-tahun mencari, mereka tidak menemukan ciri-ciri bangsawan manapun yang mirip dengan valerian.
Semua bangsawan memiliki ciri uniknya masing-masing, terutama rambut dan warna mata.
Meskipun Sebagian besar Ras Humanoid di seluruh benua memiliki warna mata dan rambut berbeda-beda, namun keturunan bangsawan bisa dilihat dari keseragaman antara warna mata dan warna rambut yang selaras.
Jika keturunannya bercampur maka gen yang dominan akan menjadi penanda keturunan seperti jika warna rambut merah dan memiliki tanduk namun warna matanya hitam maka di anggap sebagai half blood dari ras beastman drago karena warna hitam di anggap warna netral.
Semua ras unggulan memiliki keunikan yang dapat dilihat dari warna rambut dan mata, dari sana jugalah kemurnian garis darah dapat di pertahankan.
“hahaha.. anda terlalu memuji saya.” Jawab Valerian.
“haha baik-baik, mari ikut denganku.”
Kedua pria beda usia itu berjalan bersama menuju kesebuah kuil bernama kuil Dewa Perburuan Nix.
Sesampainya didepan kuil, terlihat barisan pasukan berjumlah 20 orang memakai armor perak dengan lambang artefak Kompas berbentuk bulat dan sebuah Claymore tergantung di pinggang mereka masing-masing.
“apakah anda tuan Rian.” Tanya seorang pria setengah baya tinggi dengan tubuh tegap, wajah tegas dengan luka memanjang dipipinya.
“benar tuan, saya Rian seorang pedagang kecil yang di kontrak mengangkut hasil buruan tuan bangsawan Radoks.” Kata tuan Rian sambil berlutut.
Sedangkan Valerian mengikuti gestur tuan Rian yang berlutut, dia tidak pernah diajari tentang bersikap dan hanya mengikuti apa yang dilakukan tuan Rian.
“cih… hanya seorang jelata.” Ucap salah seorang pria dibelakang.
“Andre! Tutup mulutmu.” Teriak pria paruh baya yang tadi berbicara dengan tuan Rian.
“mereka hanya seorang jelata Komandan Albert, jangan terlalu menghormati mereka, yang ada mereka akan menganggap kelas mereka sama dengan kita.” Jawab Andre dengan nada sinis.
Valerian masih berlutut dengan diam bersama Tuan Rian, wajah Valerian sangat jelek mendengar perkataan prajurit itu, dia sangat tidak suka ada orang yang merendahkan orang lain sedangkan tubuh tuan Rian bergetar semua orang menganggap jika tuan Rian ketakutan, terutama dia takut dirinya dan Valerian akan di hukum meskipun dia tidak tau apa kesalahan nya.
“Andre? Apa kau ingin ku penggal saat ini juga?” ucap seorang pria dengan nada tenang namun penuh tekanan sambil melangkah keluar dari dalam kuil.
Pria itu terlihat seperti berumur 20 tahun memiliki wajah tegas, dan memakai armor ringan perak, di pinggangnya ada belati dengan sarung coklat dan claymore dengan sarung hitam di sisi lain.
Rambut dan matanya berwarna hijau seperti pucuk daun muda yang segar, senyumnya tenang tapi matanya bagai beast tua yang sudah merasakan banyak pertarungan hidup dan mati.
Seketika prajurit bernama Andre diam membisu, tubuhnya kaku tidak bisa bergerak, udara semakin dingin dan tekanan itu membuatnya berlutut.
“m-maafkan saya yang mulia. S-saya hanya menjaga martabat anda.” Ucap Andre bergetar.
Pria itu berjalan melewati Andre tanpa menoleh sedikitpun menuju Komandan Albert.
“maaf kan kekasaran pasukanku tuan Rian, angkat wajah kalian berdua dan perkenalkan Aku adalah Arlo Verdi Radox putra pertama Ardian Verdi Radox.” Katanya sambil tersenyum hangat.
Tuan Rian dan Valerian bangkit, seketikan Arlo kaget dengan wajah Valerian yang tampan itu.
“T-terimakasih tuan Arlo telah mengampuni nyawa kami, semoga Dewi Cahaya dan Kehidupan Aora melimpahkan berkah kepada keluarga bangsawan Radox.” Ucap tuan rian.
“terima kasih, dan jika boleh tau siapa yang bersama dengan anda tuan?” tanya Arlo.
“maaf kan saya tuan Arlo. Perkenalkan saya adalah Valerian yang akan menjadi pengangkut dari rombongan anda.” Valerian memperkenalkan dirinya.
“hahaha.. baiklah. Semua pasukan dengarkan perintahku!!” teriak Arlo.
Semua pasukan kemudian berlutut termasuk Komandan Albert.
Tuan Rian dan Valerian terdiam, tidak tau apa yang akan dilakukan Arlo.
“mereka adalah Tuan Rian dan pemuda bernama Valerian, lindungi mereka atas nama dewi perburuan Nix.” Teriak Arlo memberikan perintah.
“baik tuan, kami bersumpah atas nama dewi perburuan Nix” jawab semua pasukan serentak.
“t-tuan terimakasih.” Kata tuan Rian.
“tenang saja tuan Rian, nyawa kalian menjadi tanggung jawab kami.” Kata Arlo singkat dan berbalik.
“komandan Albert? Hukum parajurit tadi dan potong tangannya lalu keluarkan dari pasukan. Aku tidak membutuhkan sampah di pasukanku.” Kata Arlo dingin.
“baik tuan.” Jawab Komandan Albert dingin dan menatap Andre dengan datar.
“t-tuan, m-mohon.. arghhh” ucapnya belum selesai tapi tangannya telah lepas dari tubuhnya.
Seorang priest tua keluar dari dalam kuil dengan perlahan, matanya menatap prajurit tadi dengan tatapan datar, aura hijau beraroma hutan tercium diudara dan menyembuhkan luka ditangan Andre yang sudah pingsan.
“terimakasih Priest Arden telah memberikan berkah hutan kepada kami, meskipun ada sampah yang tidak layak untuk itu.” Kata Arlo.
“tidak tuan Arlo, anggap saja ini sebagai terima kasihku karena mengasihani dan menjamin keselamatan temanku Rian dan anakku Vale.” Ucapnya datar.
Semua pasukan terdiam karena terkejut, seluruh pengikut Dewi Perburuan Nix merupakan orang-orang yang kaku dan berhati kejam, kebanyakan diantara mereka adalah mantan pemburu rank tinggi atau marcenari rank tinggi yang membangkitkan job unik Priest Hunter yang sangat langka.
Mereka juga jarang menganggap ras humanoid lain sebagai sudara atau anak, bagi mereka kemampuan lah yang menentukan mereka setara atau tidak.
“aku tidak menyangka, seorang Arden yang perkasa mengakui ras humanoid sebagai kawan dan anak.” Arlo berbicara melalui telepati.
“kau akan mengetahuinya tuan.” Jawab arden.
“baiklah, semua mari kita berangkat dan bawa kemenangan untuk para dewa dan dewi.” Teriak Arlo dan berjalan pergi.
Sedangkan Priest Arden hanya memperhatikan rombongan pasukan keluarga bangsawan Radox perlahan menjauh dengan tenang.
“keluarlah Robert.” Kata Priest Arden pelan.
Seorang pria setengah baya berjalan kearah Priest Arden dengan perlahan, pria itu memakai jubah putih bergambar cahaya dengan garis-garis tipis di jubahnya.
Wajahnya menampakkan kebijaksanaan dengan janggut putih menghiasi dagunya.
“kenapa Robert? Apa kau masih belum menemukannya?” tanya Priest Arlo.
Pria itu ternyata Priest Robert, sorang Priest dari kuil Dewi Cahaya dan Kehidupan Aora.
“aku belum menemukannya, aku sangat kasihan karena anak itu harus hidup seperti ini.” Ucap Priest Robert pelan.
Nadanya terdengar sedih melihat rombongan pasukan yang telah hilang dari pandangan menyisakan jejak beast tunggangan.
“semoga dewi perburuan Nix melindungi Vale.” Ucap Priest Arden sambil mendesah panjang.
“mengapa wajahmu seperti itu.” Tanya Priest Robert Ketika melihat wajah Priest Arden yang tampak sedih.
“aku mendapatkan sebuah mimpi, akan lahir bencana di dalam hutan Sky Poison. Seekor Nine-Headed Red Demon Dragon yang memakan Bulan.” Jawab Priest Arden.
Priest Robert sedikit terkejut, karena mimpi dari seorang Priest tidak bisa di anggap remeh meskipun dia hanya Priest di kuil kecil sekalipun.
“semoga dewi Aora menjaga semua orang.” Kata Priest Albert.
Daftar bab
3 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








