
Budak Perkasa Kesayangan Nona Muda
El Mufied|Bersambung
- Jumlah kata
- 30.7K
- Popular
- 579
- Subscribe
- 155
- Jumlah kata
- 30.7K
- Popular
- 579
- Subscribe
- 155
Sinopsis
Tukijo memegang teguh sumpah anjing pungutan miliknya: Lindungi majikan, dan jangan pernah menyentuh sang Pewaris Takhta. Namun, sumpah itu hancur saat Markonah, dewi bisnis yang baru saja diselingkuhi oleh tunangannya, menarik kerah seragam pelayannya dan memohon pelampiasan. Mereka semua pikir Tukijo hanyalah pelayan miskin yang bisa diinjak-injak sesuka hati. Mereka salah besar. Setelah setetes darahnya tidak sengaja membangunkan jiwa Kaisar Sesat di dalam cincin besi berkarat miliknya, Tukijo memiliki kekuatan bela diri kuno yang mematikan. Sekali sang mantan gelandangan mencicipi manisnya bibir sang majikan, aturan kasta tak lagi berlaku. Markonah kini adalah miliknya mutlak. Siapapun yang berani meremehkannya atau membuat Nona ini menangis, bersiaplah menyambut neraka.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1. Cincin Karat Kaisar Sesat
Alunan gamelan lembut sayup-sayup terdengar dari aula bawah Hotel Borawijaya. Tukijo berdiri mematung di depan pintu kayu jati Suite Presidential Nomor 01, berniat untuk menjemput tunangan sang majikan.
Seragam pelayan putihnya tampak rapi. Bekas sayatan tipis di telinga kirinya masih menjadi saksi bisu masa lalunya yang keras sebagai mantan anak jalanan.
"Emm..."
"Aaakh!"
Suara ranjang yang berderit dan tawa serak pria, disusul lenguhan tertahan yang mendesak keluar dari seorang wanita, menandakan betapa mereka menikmati situasi tersebut tanpa peduli siapa yang mendengar dari luar.
Tanpa perlu menempelkan telinga ke pintu, pendengaran Tukijo sudah menangkap apa yang sedang terjadi di dalam sana.
Urat di punggung tangan Tukijo menonjol keras. Jika ini adalah kehidupan lamanya di jalanan, ia sudah menendang hancur pintu itu.
Namun, ia terikat sumpah untuk melindungi Nona Adiningrat dan mematuhi perintahnya. Hari ini sang majikan akan menghadiri suatu acara, jika hatinya kacau, ini akan mempengaruhi penampilannya.
Ponsel di saku Tukijo bergetar pelan. Sebuah pesan singkat dari kepala pelayan keluarga masuk ke layarnya.
[Le, Nona Besar sudah naik ke lantai atas. Jaga dia.]
Suara langkah sepatu hak tinggi memecah keheningan koridor.
Markonah Adiningrat muncul dari belokan. Pewaris tunggal Adiningrat Group itu berjalan anggun membawa sebuah kotak beludru kecil, hadiah kejutan untuk tunangannya, Reno.
Tukijo segera menegakkan tubuh, menghalangi akses ke pintu.
"Minggir, Tukijo!" ucap Markonah riang. "Aku mau memberi Reno kejutan sebelum kita berangkat ke Malam Anugerah Pengusaha Nusantara."
"Tuan Reno sedang tidak bisa diganggu, Nona," jawab Tukijo datar. "Saya akan bilang ke Bi Sumi untuk menyiapkan sedan hitam mewah kita di lobi sekarang."
Markonah mengerutkan kening. Sisi keras kepalanya seketika muncul. "Sejak kapan seorang pelayan berani mengaturku? Minggir!"
Sebelum Tukijo sempat menahan, Markonah menempelkan kartu aksesnya ke sensor pintu.
Bip!
Pintu terbuka. Senyum di wajah Markonah membeku seketika. Kotak beludru di tangannya terlepas, jatuh menghantam karpet tanpa suara.
Di atas ranjang yang berantakan, Reno sedang memompa gairah dengan sekretaris pribadi Markonah sendiri.
"Markonah?!" Reno melompat panik, buru-buru menarik selimut menutupi tubuhnya. "I-ini salah paham! Dia yang menggodaku duluan!"
Tukijo melangkah masuk, berdiri tegak tepat di belakang Nona Besarnya. Ruangan mendadak terasa sesak. Si sekretaris menjerit tertahan, meringkuk ketakutan di sudut ranjang.
"Perintah saja, Nona," suara bariton Tukijo memecah keheningan, mengalun pendek namun sarat ancaman. "Sebut namanya, saya yang akan mengurus bajingan ini."
Reno menelan ludah, bulu kuduknya spontan berdiri. Namun, sisa kesombongannya sebagai anak keluarga konglomerat membuatnya memaksakan diri untuk membalas.
"K-kau berani mengancamku?!" bentak Reno dengan suara melengking. "Aku ini calon suaminya! Kau cuma jongos miskin! Berani menyentuhku, kubuat kau membusuk di penjara!"
Rahang Tukijo mengeras. Ia mengambil satu langkah maju.
"Berhenti, Tukijo."
Suara Markonah bergetar. Wanita itu membalikkan badan, matanya memerah, tetapi tidak ada setetes pun air mata yang jatuh.
"Kita pergi," perintah Markonah pelan. "Mobil sudah menunggu. Aku harus hadir di acara Malam Anugerah, atau saham perusahaanku akan anjlok besok pagi."
Tukijo menghentikan langkahnya, menundukkan kepala. "Sesuai perintah, Nona."
Tiga puluh menit kemudian, sedan hitam mewah itu berhenti di depan pelataran hotel tempat acara diadakan. Begitu pintu dibuka, rentetan kilat dari kamera wartawan menyambar bak senapan mesin.
Markonah melangkah keluar, mencoba memamerkan senyum profesionalnya. Namun, realitas pengkhianatan tadi akhirnya menghantam kesadarannya. Hak sepatunya goyah. Lutut sang pewaris kehilangan tenaga.
Sebelum ia jatuh, sebuah lengan kokoh melingkar di pinggangnya, menahan tubuhnya dengan erat.
"Tetap berdiri, Nona," bisik Tukijo, suaranya mantap. "Saya di sini."
Markonah mendongak. Tatapan Tukijo yang menajam ke arah kerumunan wartawan entah bagaimana membuat para juru kamera itu secara naluriah mundur selangkah.
"Bawa aku pergi dari sini, Tukijo," bisik Markonah parau, meremas ujung kemeja pelayannya. "Sekarang!"
Tukijo segera menggiring majikannya menjauh dari keramaian. Mereka melewati seorang pelayan hotel yang membawa nampan berisi wedang jahe, masuk ke dalam sebuah Lounge VIP temaram yang kosong, di mana sebuah lukisan wayang kulit besar terpajang di dindingnya.
Begitu pintu ganda tertutup, topeng besi sang direktur muda hancur lebur. Markonah berjalan gontai, napasnya tersengal seolah baru saja dipaksa berlari bermil-mil jauhnya.
Fakta bahwa pria yang telah bersamanya bertahun-tahun baru saja meniduri sekretarisnya sendiri, memukul telak harga dirinya. Wanita itu menghempaskan tubuh ke sofa kulit.
Bahunya mulai bergetar. Ia menutupi wajah dengan kedua telapak tangan, menyembunyikan isak tangis yang terdengar menyayat hati.
Tukijo hanya berdiri diam dalam jarak satu meter, membiarkan majikannya menumpahkan kehancuran itu. Namun, ketika tangis itu mereda dan digantikan oleh tatapan kosong yang penuh keputusasaan, Markonah meraih sebotol wine dari atas meja. Dengan tangan bergetar, ia menuangkannya serampangan ke dalam gelas kristal, bersiap menenggaknya dalam satu tarikan napas.
Refleks, Tukijo melangkah maju, tangannya mencengkeram erat dasar gelas kristal itu untuk menahannya.
"Anda tidak perlu menghancurkan diri Anda sendiri demi pria pengecut seperti dia, Nona."
Tanpa disadari, cengkeraman Tukijo terlalu kuat. Ujung kristal yang retak menggores kulit telapak tangannya. Setetes darah merembes keluar, mengalir turun membasahi cincin besi kusam tanpa motif yang melingkar di jarinya, sebuah pusaka berkarat yang ia temukan di aspal jalanan bertahun-tahun lalu.
Benda mati itu mendadak menyerap darah Tukijo.
Bersamaan dengan itu, sebuah getaran mistis yang luar biasa pekat menjalar dari cincin tersebut.
"Hooo..."
Sebuah suara parau yang sangat tua mendadak menggema di dalam tengkorak Tukijo.
"Astaga... tiga ribu tahun aku tidur. Pas bangun malah numpang di badan jongos?!"
Tukijo tersentak kaku. Kepalanya berdenyut keras. Sebuah hawa panas meledak dari cincin besinya, mengalir deras hingga tenaga itu berkumpul di ulu hatinya, membuat dadanya terasa seperti tungku yang menyala.
"Apa manusia sekarang sudah tidak punya harga diri?" omel suara kuno itu, nadanya terdengar kesal sekaligus angkuh. "Siapa namamu? Kenapa kau cuma jadi jongos? Tegakkan bahumu! Aku yang dahulu dijuluki manusia sebagai Kaisar Sesat, tidak sudi menumpang di raga orang bermental budak!"
Tukijo terhuyung. Rantai mentalnya sebagai seorang pelayan seolah terkikis habis oleh aliran tenaga mistis yang beringas ini.
"Tunggu dulu..."
Suara tua itu tiba-tiba berubah, seolah sedang mengendus udara.
"Darah perempuan di depanmu ini... mengandung Hawa Ratri yang sangat langka. Tenaga batinnya murni, tapi sayangnya dipenuhi racun emosi. Kenapa kau hanya diam, Bocah?"
"Tukijo? Kau sakit?"
Bisikan serak Markonah menarik kesadaran Tukijo. Sang pewaris menatapnya dengan pandangan sayu, rapuh, dan penuh keputusasaan.
Wanita itu melepaskan gelasnya, membiarkannya ditaruh di atas meja, lalu bangkit berdiri hingga tubuh mereka nyaris bersentuhan.
"Malam ini... persetan dengan statusmu," bisik Markonah, napasnya yang beraroma anggur menerpa dada Tukijo. "Buat aku lupa rasanya dikhianati. Singkirkan bajingan itu dari kepalaku, Tukijo."
Tukijo mematung. Akal sehatnya berbenturan hebat dengan insting buas yang kini mendidih di pembuluhnya. Tangannya perlahan terangkat, ragu untuk melanggar batas yang selama ini dijaganya rapat-rapat.
Tepat saat ujung jari Tukijo hendak menyentuh pipi pucat Markonah, suara tua itu kembali berbisik di telinganya. Kali ini, nadanya terdengar sangat dingin dan tanpa ampun.
"Jangan ragu, Bocah. Sambungkan sukmamu dengan hawa ratrinya malam ini juga. Jika tidak..."
"Dia akan mati sebelum matahari terbit!"
Daftar bab
30 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








