
Sistem Ajaib Ponsel Tua
ardina whina|Bersambung
- Jumlah kata
- 116.3K
- Popular
- 6.0K
- Subscribe
- 668
- Jumlah kata
- 116.3K
- Popular
- 6.0K
- Subscribe
- 668
Sinopsis
Ini bukan hanya selingkuh biasa. Jaka telah di tipu. Seluruh kerja kerasnya bukan dia yang menikmati. Jaka yang sudah kehilangan segalanya, masih memiliki keberuntungan untuk menemukan sebuah ponsel jadul yang ternyata memiliki sistem Ajaib di dalamnya.
Ulasan
3 ulasan
Arif RH
28/7/26 15:02
gas keun Thor nulisnya... 10 Bab perhari biar ga nanggung...,....,......................,,.......,..
CakeMacha
17/7/26 01:44
Author, semangat ya! Ceritanya bikin aku susah berhenti baca. Ditunggu update berikutnya! Jangan menyerah, Kak. Novel ini punya potensi besar. Aku bakal setia ngikutin sampai tamat.
1. DITIPU
Rp7.000.000 BERHASIL DIKIRIM. Sebuah notifikasi di layar handphone usang milik Jaka dengan peluh yang masih mengucur di dahinya Jaka tersenyum senang melihat notifikasi itu. Akhirnya dengan kerja kerasnya ia dapat mengumpulkan pundi-pundi rupiah itu. Tak berselang beberapa lama sebuah telepon masuk.
"Mas Jaka, uangnya sudah masuk." suara wanita di seberang sana tanpa mengucapkan salam sebelumnya. Sedetik kemudian suaranya berubah terbata,
"Ta-tapi Mas Jaka." Ia tidak melanjutkan perkataannya, hal ini memancing rasa penasaran Jaka.
"Tapi ada apa?" Ucap Jaka memancing kekasihnya itu untuk berbicara dengan jujur.
"Besok itu ada praktikum, sepertinya aku masih membutuhkan tambahan biaya sekitar 2 juta lagi. Apa Mas Jaka masih punya uang simpanan? Boleh alana pinjam dulu uang itu? Nanti kalau Alana sudah bekerja, Alana akan mengganti uang nya."
"Simpanan Mas Jaka sudah habis untuk tambahan biaya pindahan kosan kemarin Al, tapi sebentar nanti Mas Jaka akan pinjamkan dulu ke teman Mas Jaka. Kamu jangan khawatir, tugas kamu hanya belajar dengan baik." ucap Jaka meyakinkan Alana.
"Siap Mas Jaka. Aku akan belajar dengan giat supaya segera lulus dan bisa bekerja. Aku janji setelah aku lulus kita akan segera menikah dan akan membangun keluarga yang harmonis." Wanita itu menutup panggilannya. Jaka sedang berpikir keras bagaimana ia mendapatkan 2 juta lagi setelah seluruh tabungan sudah terkuras dan gaji yang sudah ia kumpulkan sudah ia berikan pada pacarnya tersebut.
"Kasihan Alana kalau sampai dia tidak bisa ikut ujian praktek. Tak apalah, kali ini aku akan meminjam pada Pak Handoko dulu." batin Jaka sambil terus berjalan ke arah ruangan Pak Handoko. Seorang bertubuh tegap sedang berdiri di ambang pintu. Dia adalah mandor pada proyek pekerjaan Jaka.
Dengan kaki gemetar, ia melangkahkan kakinya. Seorang bertubuh gempal, dengan kulit warna hitam sedang menatap Jaka dengan tajam. Seakan Pak Handoko tahu apa yang akan Jaka minta. Tatapan itu bagai pisau yang dapat menancap pada mata Jaka.
"Bos Handoko! Saya sedang ada keperluan, bolehkah saya meminjam dua juta? Tiga hari lagi saya gajian di cafe, saya akan melunasinya." "Jaka... Jaka... Kamu ini masih muda, tapi masak hari ini gajian saja kamu sudah mau meminjam uang lagi. Sebenarnya kamu ini bodoh atau apa? Semua gaji kamu, kamu berikan pada pacarmu itu yang belum tentu jadi istrimu. Kalau Aku sarankan, lebih baik kamu simpan saja uangmu itu." ucap Pak Handoko tajam. Jaka seringkali menjadi buah bibir di tempat kerjanya. Jaka banting tulang dari pagi hingga malam bekerja di tiga tempat sekaligus. Semua tahu itu dilakukan untuk membiayai kekasihnya yang sedang berkuliah di luar kota. Semua orang kasihan pada Jaka karena semua kerja kerasnya tidak dapat dinikmati oleh Jaka sendiri, melainkan hanya dikirimkan kepada kekasihnya itu. Termasuk Pak Handoko, ia endiri tidak tega dengan Jaka. Jaka tetap di pertahankan sebagai anak buahnya karena tahu kegigihan Jaka dalam bekerja. Tapi Pak Handoko sangat benci dengan sikap Jaka yang selalu meminjam uang kepadanya. Pak Handoko takut suatu saat nanti Jaka tidak mampu melunasi semua hutangnya.
"Saya janji saya benar-benar akan melunasinya, tiga hari lagi. Tolong berikan saya pinjaman itu Pak." Suara Jaka memelas, Pak Handoko yang terpancing merasa iba. Mau tidak mau, Pak Handoko memberikannya pada Jaka.
Uang 2 juta itu berhasil jaga transfer kembali pada Alana.
Biasanya setelah Jaka mentransfer uang pada Alana, Alana akan segera menelponnya tetapi kali ini tidak.
"Apa Alana sedang sibuk ya?" batin Jaka bertanya. Sedetik kemudian ia menulis pesan pada Alana.
"Alana sebentar lagi aku akan bekerja di cafe, hp-ku aku silent ya. Aku masukkan ke loker. Kamu jangan lupa makan." Sebuah kabar yang selalu ia berikan pada Alana, agar komunikasi diantara mereka tetap terjalin. Pesan itu dikirimkan pada Alana, tapi tidak ada balasan yang Jaka terima. Jaka segera bersiap pulang dan segera menyiapkan diri untuk bekerja di cafe.
Jam menunjukkan pukul 05.00 sore. Hari ini Jaka terlambat untuk datang ke cafe tempat ia bekerja.
Dengan nafas yang tersengal-sengal Jaka berlari ke ruang karyawan, di sana sudah berdiri Pak Arifin yang melotot ke arah Jaka. Belum sempat Jaka menarik nafas, ia sudah mendengar teriakan dari Pak Arifin.
"Kamu sudah tahu Jaka, ini sudah jam berapa?" "Maafkan saya pak, tadi ban saya bocor. Jadi saya harus berlari kemari." Jaka mencoba menjelaskan.
"Kamu tahu saya tidak peduli dengan itu semua. Yang saya tahu kamu harus tepat waktu datang kemari." ucap Arifin dengan angkuh.
"Sana segera bekerja! Di luar sudah penuh pelanggan!" Perintah Pak Arifin.
Seorang pria dengan dandanan modis memasuki cafe tempat Jaka bekerja. Ia datang tidak sendiri tapi di belakangnya ke-4 temannya mengikuti langkah Sandi memasuki cafe dengan pakaian serupa. Pakaian branded lengkap melekat di tubuhnya, sepatu keluaran terbaru dengan harga jutaan rupiah. Sandi memanggil pelayan untuk membawakan buku menu. Seorang teman kerja Jaka memanggil Jaka untuk melayani mereka. Jaka bergegas untuk menghampiri meja itu. Tak disangka, ia mengenal sosok itu.
"Lu Jaka kan?" tanya pria itu yang tak percaya melihat sosok Jaka sedang berdiri mengenakan celemek hitam dan kemeja berwarna putih. Jaka tersenyum lebar melihat sahabat baiknya dulu berada di depannya kini.
"Kamu Sandi?" tanyanya yang juga tak percaya. Pria itu berdiri dari tempat duduknya dan memeluk Jaka.
"Gua nggak percaya, elu juga ada di Jakarta. Gimana kabar lu? Seperti yang kamu lihat. Aku lagi bekerja nih."
"Kenapa gak kabarin gue sih kalau lu ada di Jakarta? Gue seneng banget deh, lihat lu ada di sini."
"Sejak kamu pindah ke Jakarta waktu itu. Kita kan putus kontak, jadi aku nggak bisa hubungi kamu."
"Ya udah deh, save nomor gue aja ya biar kapan-kapan gue bisa calling lu. Eh lu tau nggak sih ternyata Alana tuh juga ada di Jakarta loh. Lu ingat nggak sih mantan lu yang dulu itu? Gila sekarang dia cantik banget tau, sekarang dia lagi pacaran tuh sama Tommy, anak bos tambang. Keren banget deh dia, lu pasti nyesel dulu putus sama si Alana." Sandi bercerita dengan semangat tanpa tau setiap kalimatnya itu merupakan pisau yang mengarah ke hati Jaka. Ucapan sahabatnya itu bagaikan petir yang menyambar Jaka di siang bolong.
"Maksud kamu? Ta-tapi Alana gak di Jakarta. Dia kuliah di Malang."
"Enggak, Alana mantan lu dulu itu, orang dia satu kampus sama gua. Kalau nggak percaya tanya aja mereka, Alana tuh termasuk mahasiswi hits." Sandi menunjuk ke teman-temanya yang di ikuti anggukan ringan oleh teman-temannya. Jaka masih tidak percaya dengan informasi yang ia dapatkan. Jadi selama ini, Alana bermain di belakangnya. Tapi apakah mungkin seorang Alana bermain api di belakangnya?
"Nggak mungkin Alana kayak gitu. Kita belum putus kok, mungkin kamu salah orang." Sanggah Jaka dengan terbata.
"Gue liatin Instagramnya deh ya, kalau lu nggak percaya." Sandi menunjukan ponsel pintarnya. Mata Jaka hampir keluar melihat sebuah foto Alana sedang dirangkul oleh seorang pria berkulit putih dan berdandan Modis, seperti Sandi. Ia tak percaya, selama ini ia bekerja keras tapi ternyata di belakangnya Alana melakukan semua ini.
Daftar bab
110 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
110 bab








