
Mata Dewa Pembawa Rezeki
Souma|Tamat
- Jumlah kata
- 942.3K
- Popular
- 216.1K
- Subscribe
- 6.8K
- Jumlah kata
- 942.3K
- Popular
- 216.1K
- Subscribe
- 6.8K
Sinopsis
Tristan Wicaksono, seorang lulusan arkeologi yang hidup pas-pasan, mendadak kehilangan segalanya ketika kekasihnya, Liora Gunawan, memutuskan hubungan karena kemiskinannya. Dalam keputusasaan, ia tanpa sengaja membangkitkan kekuatan misterius dari sebuah vas antik yang memberinya kemampuan melihat kebenaran tersembunyi di balik benda dan manusia. Dengan kekuatan itu, ia berhasil mengungkap penipuan besar di toko tempatnya bekerja, membuatnya naik jabatan dan menarik perhatian sang pemilik toko, Aurine Lesmana. Ia baru saja menemukan mata yang bisa melihat segalanya, tapi tak tahu bahwa kekuatan itu juga perlahan menatap balik ke dalam dirinya.
Ulasan
21 ulasan
NovelbyAsma
21/7/26 14:04
Izin Promosi kak Judul : Candu Dalam Pelukan Dosa pokoknya loveee sekebon buat author yang udah berbaik hati izin kan aku numpang promosi 🤭🤭
Mistique
20/6/26 14:57
Izin Kakak, numpang promosi Novel terbaru ku. Hai, pembaca novel digital! Kenalin Aku (@mistique.author) penulis baru di Max Novel Karyaku : Retakan Garis Tangan (Arsitektur Ghaib Bimo) Jadwal Rilis : Setiap hari pukul 20.00 WIB Kehidupan Bimo sebagai arsitek biasa berubah sejak kematian sang Ibu. Jangan lupa subscribe supaya kamu ga ketinggalan cerita ini ya 🥰 Baca Novel terbaruku ya kak
Bab 1
“Tristan, kita putus saja. Aku lelah. Aku butuh kepastian, bukan cuma mimpi. Maaf.”
Itu dari Liora Gunawan, kekasihnya. Pesan itu muncul di layar ponselnya, singkat, dingin, dan mematikan.
Jemarinya yang gemetar mencoba mengetik balasan. ”Liora, tunggu. Kita bisa bicara. Aku bisa jelaskan.”
Sebuah tanda seru merah muncul di samping pesannya. Pesan tidak terkirim. Ia mencoba lagi. Gagal. Ia membuka profil Liora, hendak menelepon, namun tombol panggil itu berwarna abu-abu.
Di bawah nama Liora, tertulis satu kata.
Liora Gunawan memblokir Anda.
Hatinya hancur berkeping-keping. Kenangan manis yang mereka rajut bersama seakan menguap, meninggalkan ampas pahit di dasar jiwanya. Ia bahkan tidak diberi kesempatan untuk memohon.
Dengan langkah gontai dan tatapan kosong, Tristan berjalan menuju tempat kerjanya, Toko Antik Warisan Agung. Toko itu adalah salah satu dari empat pilar dunia barang antik di kota, sebuah tempat terhormat di mana sejarah diperjualbelikan.
Bagi Tristan, seorang murid magang, tempat itu adalah harapan sekaligus pengingat akan posisinya yang rendah. Begitu ia mendorong pintu kaca yang berat, suara bentakan langsung menyambutnya seperti sambaran petir.
““Sudah pukul sembilan lewat lima belas, Tuan Wicaksono. Kau tahu aturannya di sini? Wajib tepat waktu!” Brevin Halim berdiri di balik meja penilai.
“Kenapa terlambat lagi? Kau kira tempat ini milik bapakmu? Kemarin terlambat, hari ini terlambat.
Brevin Halim, sang ahli penilai senior, berdiri dengan tangan terlipat di dada.
Brevin tidak pernah menyukainya. Sejak awal, ia merekomendasikan keponakannya untuk posisi magang, namun Nyonya Aurine Lesmana, sang pemilik toko, justru memilih Tristan yang hanya berbekal ijazah arkeologi dari universitas ternama.
Hari ini, melihat wajah Tristan yang muram dan kusut, Brevin seolah menemukan sasaran empuk untuk melampiaskan kekesalannya. “Lihat wajahmu itu! Patah hati? Atau memang dasarnya pemalas? Kalau tidak niat kerja, pulang saja! Banyak yang mau posisimu!”
Amarah yang tadinya terpendam di dada Tristan karena pesan Liora, kini mendidih. “Saya hanya terlambat lima menit, Pak Brevin.”
“Melawan kau, ya? Anak magang sudah berani membantah!” Brevin menunjuk ke deretan rak pajangan yang menjulang tinggi. “Sana! Bersihkan semua guci dan vas porselen itu! Jangan ada satu butir debu pun yang tersisa. Gunakan tenagamu untuk bekerja, bukan untuk melamun!”
Tristan menahan napas, mengepalkan tangan di dalam saku, lalu mengangguk tanpa suara. Ia mengambil lap dan kemoceng, berjalan menuju rak pajangan yang berisi koleksi keramik Dinasti Qing.
Saat membersihkan sebuah vas porselen biru-putih yang ramping, tangannya tiba-tiba bergetar. Bayangan senyum Liora melintas di benaknya, disusul dengan kata-kata dingin di pesan terakhirnya. Genggamannya goyah.
SRAAAKK!
Vas itu terlepas dari tangannya, menghantam lantai marmer dengan suara yang memekakkan telinga, lalu pecah menjadi puluhan kepingan tajam.
Hening.
Semua aktivitas di toko terhenti.
Brevin menoleh, dan sorot matanya berubah dari kesal menjadi puas yang kejam. Ia berjalan mendekat, setiap langkahnya seolah menginjak-injak harga diri Tristan. “Lihat apa yang kau lakukan, bodoh! Kau tahu berapa harga vas itu? Enam puluh juta! Gaji magangmu sepuluh tahun pun tidak akan cukup untuk menggantinya!”
Tristan hanya bisa menunduk, menatap kepingan porselen yang berserakan seperti reruntuhan harapannya. “Maaf, Pak. Saya… saya akan ganti rugi.”
“Ganti rugi?” Brevin tertawa sinis. “Pakai apa? Daun?”
Sambil berjongkok untuk memunguti pecahan itu, Tristan merasakan sakit yang luar biasa. Saat itulah, matanya menangkap sesuatu yang aneh.
Di bagian dalam salah satu pecahan terbesar, terukir gambar sepasang mata emas yang sangat kecil, berkilau samar di bawah cahaya lampu toko.
Tanpa pikir panjang, ia menyentuh ukiran itu
Ujung jarinya tergores oleh sisi pecahan yang tajam. Setetes darah segar keluar, jatuh tepat di atas ukiran mata emas tersebut.
Tristan terkesiap.
Mata emas itu seolah hidup, melompat dari kepingan porselen, dan terbang lurus ke arah matanya sendiri. Rasanya seperti ada dua jarum panas yang menusuk masuk ke dalam bola matanya. Ia terhuyung ke belakang, pusing, dan dunianya seakan berputar.
“A-ada apa ini?”
Sebuah suara lembut namun berwibawa memecah ketegangan. Aurine Lesmana, sang pemilik toko, muncul dari ruangannya di lantai dua. Wanita itu anggun, kecantikannya memancarkan aura tenang yang membuat seisi ruangan seakan berpendar.
Brevin segera memasang wajah prihatin palsu. “Nyonya Aurine, lihatlah kelakuan anak magang pilihan Anda! Dia baru saja memecahkan vas famille rose dari era Qianlong. Kerugian kita puluhan juta! Saya rasa sudah saatnya kita memecat orang ceroboh seperti ini!”
Aurine menatap pecahan di lantai, lalu beralih ke Tristan yang masih pucat pasi. Dengan tenang, ia berkata, “Brevin, harga pokok vas itu enam puluh juta. Setelah diperbaiki, kita masih bisa menjualnya seharga dua puluh hingga empat puluh juta. Jadi kerugian bersihnya tidak sebesar itu. Tristan hanya perlu mengganti sekitar dua puluh juta.”
Ia kemudian menatap Tristan dengan sorot mata yang menenangkan. “Tristan adalah lulusan arkeologi dari universitas ternama. Pengetahuannya akan berguna bagi toko kita. Kesalahan seperti ini bisa terjadi pada siapa saja.”
“Tapi, Nyonya…” Brevin mencoba berdebat, namun tatapan tajam Aurine membuatnya bungkam. Wajahnya memerah karena menahan amarah dan malu.
Tristan menatap Aurine dengan rasa terima kasih yang meluap. Di tengah hari terburuk dalam hidupnya, kebaikan hati wanita itu terasa seperti setetes air di padang pasir. Namun, saat ia memfokuskan pandangannya pada Aurine, sesuatu yang aneh terjadi.
Di kedalaman pupil mata kirinya, ia seperti melihat simbol seperti yin dan yang, yang berputar perlahan. Simbol itu memancarkan seberkas cahaya tak kasat mata yang meluncur ke arah Aurine Lesmana. Dalam sekejap, di mata Tristan, gaun sutra yang dikenakan Aurine menjadi transparan, menampakkan lekuk tubuh indahnya dengan sangat jelas.
Sebuah suara aneh bergema di kepalanya, menyebutkan serangkaian data: ”Aurine Lesmana. Usia: 28 tahun. Status: Belum menikah. Profesi: Pemilik Toko Antik Warisan Agung. Ukuran lingkar dada, 36D…”
Tristan terlonjak kaget dan segera mengedipkan matanya keras-keras. Pemandangan itu hilang. Semuanya kembali normal. Ia mengira itu hanya halusinasi akibat syok dan tekanan batin.
Namun, saat ia memberanikan diri menatap Aurine lagi, pemandangan transparan itu muncul kembali.
Panik, ia mengalihkan pandangannya ke Brevin Halim. Seketika, tulisan-tulisan samar muncul di udara di samping kepala Brevin: ”Brevin Halim. Usia: 45 tahun. Status: Menikah. Kondisi kesehatan: Menderita hipertensi dan asam urat kronis. Pikiran saat ini: Merencanakan cara untuk menyingkirkan Tristan Wicaksono.”
Jantung Tristan berdebar kencang. Ia menatap deretan barang antik di rak. Di atas sebuah piringan keramik, muncul tulisan: ”Piringan Seladon, Dinasti Song. Keaslian: 95%. Kondisi: Retakan halus di bagian dasar. Taksiran harga pasar: 1,2 miliar.”
Ia menatap belasan benda lain secara berurutan, dan informasi detail tentang setiap benda muncul di depan matanya. Namun, setelah beberapa saat, matanya terasa sangat nyeri dan berat, seolah energinya terkuras habis.
Ia menyandar ke rak, napasnya terengah. Ia baru saja mendapatkan sebuah kekuatan luar biasa. Kemampuan untuk melihat kebenaran tersembunyi di balik benda dan manusia. Dengan kekuatan ini, ia bisa menjadi kaya raya. Ia bisa membeli rumah dan mobil yang dulu hanya ada dalam angannya. Ia bisa membuktikan pada Liora bahwa ia salah.
Namun, kebahagiaan itu segera disusul oleh kesadaran pahit. Kekuatan ini ada batasnya. Setiap kali digunakan, rasa lelah dan nyeri di matanya semakin parah.
Saat ia masih mencoba memahami apa yang terjadi padanya, pintu toko terbuka dengan kasar. Seorang wanita paruh baya masuk dengan tergesa-gesa, wajahnya pucat dan cemas.
“Tolong… saya ingin menjual sesuatu!” serunya dengan napas tersengal.
Daftar bab
663 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
663 bab








