
Transmigrasi Kaisar Agung Jati Waskita
Bp. Juenk|Bersambung
- Jumlah kata
- 45.8K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 8
- Jumlah kata
- 45.8K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 8
Sinopsis
Di sebuah dunia kultivasi bernama Benua Jiwa Besi di mana hukum rimba dan ketamakan berkuasa, seorang pemuda lemah di Lembah Kelam meregang nyawa akibat racun Belati Bayangan Hitam dan pengkhianatan keji. Namun, di saat bersamaan, jiwa seorang Raja Prana Purba—Kaisar Agung penguasa tatanan kosmik semesta khayangan—bertransmigrasi mengisi raga tersebut. Dengan bangkitnya Kuali Naga Hitam dan inti Dualisme Purba di dalam dantian-nya, Jati Waskita membuka mata bukan untuk membalas dendam dengan darah, melainkan untuk meluruskan tatanan dunia yang telah rusak dari akarnya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1. Transmigrasi
SZZZZZZZZT... BZZZZZZT...
Di dalam lorong tanpa waktu, kesadaran manusia biasa akan hancur lebur menjadi kabut debu kosmik dalam seperseribu detik.
Namun, bagi sesosok eksistensi yang telah menapaki Ranah Penguasa Hukum (Raja Prana Purba), badai dimensi antarsemesta hanyalah riak kecil di atas telaga. Ruang dan waktu di tempat itu tidak berbentuk garis lurus, melainkan pusaran likuid kosmik yang terdiri dari miliaran kepingan memori semesta yang telah mati.
Benih sukma Jati Waskita dibungkus rapat oleh kepompong Tetesan Air Kehidupan—sebuah artefak primordial yang memancarkan aura hijau zamrud lembut—dan pendaran sakral Kuali Naga Hitam yang menyerap setiap hantaman gelombang entropi dimensi.
Di dalam ruang hampa tersebut, bayangan mental Jati tetap berdiri tegak tanpa goyah sedikit pun. Jubah kebesarannya berkibar lembut diterpa angin kehampaan antar dimensi, sementara mata cokelat gelapnya memandang lurus ke depan, menembus dinding-dinding dimensi yang berputar kencang bagai roda gerinda kosmik.
"Resi Lengkara mengira pengorbanan terlarangnya akan menghapus keberadaanku," gumam kesadaran batin Jati Waskita tenang, tanpa secercah kepanikan pun di dalam nadinya. Suaranya bergema di antara dinding dimensi, menciptakan riak keemasan yang menenangkan badai kehampaan.
"Ia lupa bahwa Kuali Naga Hitam diciptakan bukan untuk terikat pada satu dimensi, melainkan untuk menegakkan hukum di mana pun tatanan semesta itu retak."
Tiba-tiba, tarikan gravitasional dari ujung lorong bergejolak dahsyat. Pusaran energi tak kasat mata menyedot segala partikel di sekitarnya dengan kecepatan cahaya.
BOOOOOOOOOOOOM!
Titik cahaya putih yang tadinya sebesar biji zarah tiba-tiba membengkak menjadi gerbang samudra cahaya yang menyilaukan mata batin. Pusaran reinkarnasi ghaib menyergap benih sukma Jati, menyeretnya keluar dari lorong hampa dan melontarkannya langsung ke dalam pusaran atmosfer sebuah dunia baru yang belum terjamah oleh hukum Prana Purba.
SWHUUUUUUSSSSH!
Bagaikan meteor keemasan yang menembus langit malam, sukma Jati Waskita meluncur deras menghujam permukaan bumi di dunia asing tersebut.
Ia jatuh menembus lebatnya kanopi hutan purba di sebuah lembah terpencil, membelah dedaunan raksasa selebar meja makan sebelum akhirnya menyatu secara sempurna ke dalam raga seorang pemuda fana yang baru saja menghembuskan napas terakhirnya di atas pembaringan batu yang dingin.
Di dalam sebuah gubuk batu yang reyot di tepi hutan terpencil Kekaisaran Reksopati—sebuah dunia di mana kekuatan kultivasi bela diri dan energi spiritual (Qi) menjadi penentu segalanya, di mana yang lemah diinjak dan yang kuat disembah—kelopak mata seorang pemuda perlahan terbuka.
KREK...
Suara sendi yang merenggang terdengar nyaring di ruangan yang sunyi senyap itu. Pemuda itu—yang kini telah menjadi wadah baru bagi benih sukma Kaisar Agung Jati Waskita—menggerakkan jemari tangannya perlahan.
Rasa sakit yang luar biasa akibat luka tusuk beracun di dada kiri pemuda asalnya seketika lenyap, tersapu bersih oleh gelombang Prana Purba yang secara otomatis mengalir deras dari dalam dantian yang baru terbentuk.
Jati Waskita bangkit dari pembaringannya. Pakaian compang-camping yang melekat pada raga fana ini seketika beradaptasi; kemeja korduroy hitam kebanggaannya dari dimensi asal meresap ke dalam pori-pori kulit, menyatu dengan energi esensial dan mengubah wujud menjadi jubah kain sederhana khas pertapa dunia setempat.
Namun, di balik kesederhanaan itu, pendar Dualisme Purba—perpaduan Emas Suci dan Hitam Murni—masih berputar samar di sekitar pupil matanya, memancarkan kedaulatan absolut yang membuat udara di dalam gubuk terasa berat dan padat.
Ia melangkah keluar dari gubuk reyot itu. Bau tanah basah, humus hutan purba, dan aroma pekat energi spiritual liar langsung menyergap indranya. Jati mendongakkan kepalanya, menatap ke angkasa.
Di langit malam dunia asing ini, dua bulan kembar—satu berwarna perak kebiruan dan satu lagi merah tembaga—bersinar terang, memancarkan cahaya ganda yang menciptakan bayangan tumpang tindih di atas permukaan tanah.
Dunia ini, berdasarkan kilatan memori samar dari raga fana yang ia tempati, dikenal sebagai Benua Jiwa Besi di bawah yurisdiksi Kekaisaran Reksopati.
Di tempat ini, umat manusia mengandalkan sistem kultivasi yang terbagi ke dalam beberapa tingkatan: Raga Besi, Pengumpul Qi, Pendekar Spiritual, Penguasa Elemental, hingga Alam Raja Bela Diri.
Udara di tempat ini terasa tipis bagi orang biasa, penuh dengan persaingan klan yang haus darah, intrik sekte besar yang saling jegal, dan hukum rimba yang kejam di mana yang kuat memangsa yang lemah tanpa ampun.
Pemuda pemilik raga ini sebelumnya bernama sama, Jati, seorang anak yatim piatu dari desa pinggiran yang dibuang oleh klan lokal karena dianggap tidak memiliki bakat kultivasi (meridian tersumbat total).
Ia tewas ditikam oleh pembunuh bayaran dari Sekte Bayangan Hitam yang diutus untuk merampas sebidang tanah warisan mendiang ayahnya dan sebuah gulungan naskah kuno berdebu yang ternyata menyimpan rahasia besar tentang formasi alam semesta.
Jati Waskita menarik napas dalam-dalam. Ia merasakan aliran energi spiritual di sekitarnya bergerak lambat, seolah-olah tunduk pada gravitasi dunia yang keras ini. Ulas senyum tipis yang amat tenang terukir di bibirnya, kontras dengan suasana malam yang mencekam.
"Dunia baru... aturan baru," bisik Jati Waskita pelan, suaranya mengandung wibawa mutlak yang bergetar di dalam frekuensi gelombang kejut niskala.
Getaran suara itu menyebar ke seluruh penjuru hutan dalam radius beberapa mil. Seketika itu juga, sekawanan Serigala Bulan Darah yang sedang mengintai dari balik semak-semak belukar langsung menghentikan langkah mereka.
Bulu-bulu di tubuh makhluk buas itu berdiri tegak. Insting bertahan hidup mereka menjerit histeris, memaksa mereka untuk bertekut lutut dan menundukkan kepala ke tanah, gemetar ketakutan di hadapan eksistensi tingkat tinggi yang baru saja turun ke bumi.
Jati melipat kedua tangannya di dada, matanya menatap tajam ke arah bentangan pegunungan gelap di kejauhan, tempat di mana menara-menara sekte besar menjulang tinggi menembus awan.
"Jika dunia ini berjalan di atas hukum yang salah, di mana keadilan ditentukan oleh ketebalan pedang dan kejamnya tusukan dari belakang, maka biarkan Sang Kaisar Agung yang menegakkan kembali tatanannya dari nol—dimulai dari tempat ini."
Angin malam berembus semakin dingin, membawa serta bau amis darah yang masih menggenang di lantai gubuk tempat raga fana itu terbujur kaku sebelumnya.
Di sudut ruangan yang sempit, sebuah gulungan naskah tua terbungkus kulit binatang kusam tampak bergetar pelan, seolah merespons resonansi Prana Purba yang terpancar dari tubuh Jati Waskita.
Ketika Jati melangkah kembali ke dalam gubuk dan menyentuh gulungan tersebut, ribuan aksara kuno melompat keluar dari permukaannya, berputar membentuk lingkaran magis sebelum akhirnya terserap bersih ke dalam kesadarannya.
Naskah itu ternyata bukan sekadar warisan biasa, melainkan peta spiritual yang menandai letak reruntuhan Istana Langit Sembilan—sumber kekuatan kuno yang hilang ribuan tahun silam di Benua Jiwa Besi.
Jati menyadari bahwa kedatangannya ke dunia ini tidak terjadi secara kebetulan. Garis takdir yang dipilin oleh musuhnya Resi Lengkara justru membuka pintu menuju pusat energi kosmik yang selama ini tersegel rapat oleh para penguasa lokal.
Dengan fondasi dantian baru yang kini telah terisi oleh tetesan energi keemasan dan hitam murni, Jati tahu bahwa waktu pembalasan dan pembenahan tatanan dunia baru saja dimulai, dan ia tidak akan membiarkan siapapun menghalangi langkah kaki seorang Kaisar Agung.
Note : Bab 1 ini merupakan Lanjutan dari akhir cerita pada Karya “Kultivator Abadi Nusantara” Silahkan mampir di Karya Sebelumnya. Terima kasih.
Daftar bab
38 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








