
- Jumlah kata
- 24.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 11
Sinopsis
"Orang lain kerja part-time dapat gaji, Evans kerja part-time cuma dapat wujud ganteng!" Evans Aziel adalah lelucon berjalan di kampusnya. Berbadan gemuk dan berwajah pas-pasan, ia dijuluki "gajah bengkak". Hanya Amelia yang tulus berteman dengannya, sebelum gadis itu dipaksa pindah ke luar negeri oleh orang tuanya. Namun, nasib tragis Evans berubah usai tersambar petir misterius di makam sang ibu. Kejadian absurd itu membuatnya berubah menjadi pria tampan berbadan atletis. Sayangnya, ketampanan ini berstatus part-time! Keajaiban itu hanya berlaku dari pukul 13.00 hingga 00.00. Lewat tengah malam, wujud lamanya kembali seketika. Kini, Evans harus pintar-pintar main petak umpet dengan waktu. Di balik situasi konyol saat harus kabur sebelum tenggat jam dua belas malam tiba, ia mulai menyadari bahwa perubahan paruh waktu ini bukanlah kebetulan belaka. Ada pusaka kelam keluarga dan misteri kematian sang ibu yang menuntut balasan.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Gajah Bengkak.
Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring stainless steel di kantin kampus siang itu kalah riuh oleh gelak tawa di meja pojok. Seperti biasa, Evans Aziel menjadi pertunjukan utama tanpa pernah mendaftar sebagai pemeran.
"Pelan-pelan makannya, Vans! Nanti bangku kampus runtuh, kasihan rektorat harus ganti rugi," celetuk seorang mahasiswa berjaket almamater, disambut tawa geli beberapa mahasiswi di sekitarnya.
Evans hanya bisa menunduk dalam-dalam, berusaha menyusupkan leher berlipatnya ke dalam kerah kaos yang sudah melar. Julukan "Gajah Bengkak" bukan sekadar gertakan gertak sambal di kampusnya. Tubuh bongsornya memakan dua porsi ruang duduk, ditambah bentuk pipinya yang kelewat tembam hingga membuat hidungnya tertarik dan kelihatan makin pesek. Di mata mereka, Evans adalah definisi hidup dari kata canggung dan tidak sedap dipandang.
"Bisa diam tidak? Makanan kalian belum habis, tapi mulut kalian sudah rame duluan," sebuah suara tenang tapi tajam mendadak memotong gelak tawa itu.
Amelia melangkah mendekati meja Evans sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh manis hangat. Tanpa ragu sedikit pun, gadis bermata jernih yang dikenal sebagai salah satu bunga kampus itu duduk tepat di hadapan Evans. Aksi sederhana yang sukses membuat mahasiswi-mahasiswi di meja sebelah mendecak jijik.
"Nih, buat kamu. Jangan didengerin, mereka cuma kurang kerjaan," bisik Amelia seraya menggeser satu cangkir ke arah Evans. Senyumnya terbit alami, tanpa ada picingan mata atau jarak yang sengaja dibuat-buat.
Evans mendongak ragu. Muka chubbynya merona merah. "Makasih, Mel. Kamu... enggak malu duduk sama aku? Nanti dituduh ketularan bengkak lagi."
Amelia terkekeh manis, menyibak rambut panjangnya ke belakang telinga. "Malu kenapa? Daripada duduk sama yang sok ganteng tapi mulutnya kayak kaleng rombeng? Mending sama kamu, adem."
Sebuah kehangatan menjalar di dada Evans. Di tengah ribuan manusia kampus yang memandangnya seperti hama, Amelia adalah satu-satunya alasan Evans tidak memilih drop out. Gadis itu tidak pernah memandangnya dengan tatapan kasihan, apalagi jijik. Ada ketulusan yang membuat Evans merasa tetap menjadi manusia utuh di dekatnya.
Namun, kedamaian kecil itu runtuh hanya dalam hitungan detik.
Dua pria berjas hitam mendadak masuk ke area kantin dengan langkah tergesa-gesa. Di belakang mereka, berjalan seorang pria paruh baya berwajah keras dengan garis muka yang sangat mirip dengan Amelia. Pria itu menyapu pandangan ke seluruh ruangan sebelum matanya tertuju penuh amarah pada meja tempat Evans dan Amelia duduk.
"Amelia! Berapa kali Papa bilang, jangan pernah menginjakkan kaki di tempat kumuh ini, apalagi duduk sama..." Pria itu berhenti persis di samping meja, menatap Evans dari ujung rambut hingga sepatu ketsnya yang sudah jebol dengan raut jijik yang tak disembunyikan. "...makhluk seperti ini!"
"Papa?! Kok Papa di sini?" Amelia berdiri kaget, wajah cantiknya langsung pucat pasi.
"Ikut Papa sekarang. Paspor dan tiket penerbanganmu ke Inggris sudah siap hari ini. Tidak ada bantahan!" tegas sang ayah sambil mencengkeram pergelangan tangan Amelia cukup keras.
"Enggak mau, Pa! Aku masih ada kelas! Evans, tolongin..." suara Amelia memelan, gemetar saat tubuhnya ditarik paksa.
Melihat mata Amelia yang berkaca-kaca, keberanian langka mendadak timbul di dada Evans. Ia refleks berdiri, hingga bangku plastik yang didudukinya terdorong ke belakang dan menimbulkan suara decitan nyaring.
"Pak, maaf... tapi Amelia kelihatan enggak mau..."
Brak!
Sebelum Evans selesai bicara, salah satu pengawal berjas hitam mendorong dada lebar Evans dengan satu tangan. Tubuh bongsor Evans yang hilang keseimbangan langsung limbung, menabrak meja hingga dua gelas teh manisnya tumpah membasahi celana serta bajunya sendiri.
Prang!
Gelas kaca jatuh dan pecah di lantai. Sorak-sorai dan gelak tawa penonton kantin kembali pecah, bahkan jauh lebih keras dan riuh dari sebelumnya.
"Jaga jarakmu, Gajah," bisik ayah Amelia dingin, melangkah mendekat dan menatap Evans yang tertunduk di lantai dengan tatapan tajam membunuh. "Sekali lagi kamu berani mendekati putriku, bukan cuma kampus ini yang membuatmu tidak kerasan, tapi aku pastikan kamu tidak punya tempat tinggal lagi di kota ini."
Evans hanya bisa membisu di tengah genangan teh manis yang lengket. Matanya menatap punggung Amelia yang diseret menjauh, menyisakan lambaian tangan keputusasaan dari gadis itu sebelum benar-benar hilang di balik pintu kaca kantin.
"Duh, kasihan banget si Gajah, udah gendut, bau teh lagi!" celetuk salah satu mahasiswa, disambut derai tawa bersahut-sahutan.
Dengan dada sesak dan mata yang panas memendung air mata, Evans bangkit perlahan. Tanpa mempedulikan bisikan dan tatapan menghina di sepanjang koridor, ia berjalan menyeret kakinya keluar dari area kampus. Hatinya hancur berkeping-keping. Satu-satunya orang yang memandangnya sebagai manusia kini telah direnggut pergi.
Langkah kakinya membawa Evans ke satu-satunya tempat yang bisa memberinya sedikit ketenangan: Pemakaman Umum Kota.
Di sana, di depan batu nisan bertuliskan nama ibunya yang wafat tiga tahun lalu, Evans akhirnya roboh. Ia berlutut di tanah yang lembap, membiarkan tangisnya pecah tanpa perlu ditahan lagi. Rasa sakit atas penghinaan bertahun-tahun, rasa kehilangan Amelia, serta rasa tidak berdaya atas fisiknya sendiri menumpuk jadi satu gumpalan sesak di dadanya.
"Ibu... kenapa Evans harus lahir kayak gini?" bisiknya di antara isak tangis, mengelus batu nisan yang mulai ditumbuhi lumut tipis. "Evans cuma mau dihargai, Bu. Kenapa enggak ada satu pun orang yang mau lihat Evans... cuma karena muka dan tubuh Evans yang kayak gini?"
Matahari siang terasa membakar kulitnya. Anehnya, tepat saat jam tangan murah milik Evans menunjukkan pukul 12.59 WIB, angin di sekitar area pemakaman mendadak berhenti berembus. Suara jangkrik dan burung yang tadinya bersahut-sahutan mendadak hilang. Suasana menjadi begitu hening dan mencekam.
Awan hitam pekat bergulung cepat di atas kepala Evans, menutupi terik matahari hanya dalam hitungan detik. Padahal tidak ada ramalan hujan hari ini.
Evans mendongak ragu, merasakan bulu kuduknya berdiri. Tepat ketika jarum panjang di jam tangannya bergeser menunjukkan pukul 13.00 WIB, sebuah kilatan cahaya membiru mendadak menyambar dari langit secara presisi.
DUAARRR!
Bukan kilatan biasa. Sambaran petir tunggal itu menghantam tepat di atas batu nisan sang ibu, memancarkan gelombang kejutan misterius yang langsung menyengat tubuh Evans hingga ia terlempar beberapa meter dan akhirnya tak sadarkan diri. Di atas batu nisan yang berasap, terukir sebuah simbol kuno berbentuk rantai melingkar yang menyala redup... sebelum akhirnya perlahan tenggelam dan menghilang ke dalam batu.
Daftar bab
24 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








