

Namanya Ezra. Usianya 18 tahun. Saat ini, dia berada di akhir masa putih abu-abu. Biasanya, anak-anak seusianya memiliki cita-cita. Ezra juga sama, punya cita-cita. Tapi, tidak semua orang bisa menggapai cita-cita mereka. Ezra adalah orang itu.
“Cita-cita adalah barang yang mahal.”
Orang miskin sering mengatakan itu.
Di kelasnya, ada 5 orang siswa yang lolos SNBP, termasuk Ezra. Ia lolos masuk ke universitas terbaik di negeri ini, universitas berlogo kuning itu. Tapi, bukannya bahagia seperti teman-temannya, saat ini Ezra sedang menahan tangis.
“Pinter tapi miskin, sama saja bohong! Hahaha.”
Ezra hafal sekali suara siapa itu. Suara dari orang yang selama 3 tahun ini merundung dan meremehkannya.
Tawa yang lain turut mengikuti. Riuh sekali. Ezra benar-benar menahan diri.
Sebetulnya, saat mendaftarkan diri untuk mengikuti seleksi masuk melalui jalur prestasi itu, awalnya Ezra tidak mau. Dia sadar diri kalau anak yatim piatu sepertinya tidak mungkin bisa kuliah. Tapi, Pak Ahmad, guru matematikanya berjanji akan membantu. Namun, minggu lalu, Pak Ahmad meninggal dunia karena serangan jantung.
Otomatis, tidak ada yang bisa membantunya.
“Miskin mah miskin aja, jangan mimpi buat kuliah.”
Meski tidak ingin mendengarnya, karena dia punya telinga, Ezra tetap saja mendengarnya.
Perundung itu adalah Rafael. Anak komite di sekolah yang paling berkuasa dan tidak ada yang berani melawannya. Bahkan, guru-guru pun tidak berani melawan. Rafael anak orang kaya. Orang tuanya adalah orang paling berkuasa di sekolah. Suntikan dana dari keluarga Rafael yang berhasil membungkam para guru dan kepala sekolah.
“Otak lu nggak ada gunanya.”
Kepala Ezra ditempeleng begitu saja. Ringan sekali tangan Rafael melakukan itu. Ezra tetap diam.
Ditemani kedua temannya, Rafael menghampiri meja Ezra. Tidak ada anak laki-laki yang mau berteman dengan Ezra karena takut dijadikan korban selanjutnya oleh Rafael.
Kaki kanan Rafael berada di meja Ezra. “Orang miskin, nggak berhak punya mimpi! Denger nggak lu?” Rafael mendekatkan wajahnya ke wajah Ezra.
Ezra menatapnya dengan penuh kemarahan, tapi masih bisa dia tahan.
Melihat tatapan Ezra, membuat ego Rafael tersenggol. Ia menarik kerah baju Ezra dengan mata melotot. “Lu kenapa? Nggak terima? Fakta kan kalo lu miskin?”
“Rafael! Apa-apaan sih, lu?!” ujar Jeanne.
Jeanne adalah teman sekelas mereka, sekaligus sepupunya Rafael. Hanya Jeanne yang bisa memprotes tindakan Rafael.
Jeanne bangun dari kursinya dan melepaskan kerah baju Ezra yang ditarik oleh Rafael. “Jangan keterlaluan ya, lu! Ini di sekolah, sekolah punya aturan!”
Mendengar itu, Rafael menyeringai sinis. “Lu kayak gini cuma ke Ezra doang, kan?”
Rafael tahu, sepupunya itu memang menaruh hati pada Ezra. Anak yatim-piatu itu memanglah tampan. Tubuhnya tinggi semampai bak model pria yang sering berjalan di catwalk. Hidungnya bangir, kulitnya kuning langsat, wajahnya nyaris tak ada bekas jerawat, rambutnya hitam lebat.
“Mau siapapun, kalo lu udah keterlaluan pasti bakal gua bela!” Jeanne menampik, merasa malu karena Rafael mengatakannya di depan teman-teman di kelas.
“Banyak gaya. Pake duit orang tua aja, banyak gaya.”
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Ezra. Tidak terima dengan ucapan Ezra, Rafael langsung memberikan bogem mentah ke perut Ezra, disusul dengan tendangan yang bertubi-tubi.
Dua teman Rafael pun berusaha menahan. “Raf, udah Raf. Mati nanti dia, Raf!” kata Steve, salah satu temannya, berusaha sekuat tenaga menghentikan Rafael.
Ezra merasakan sesak pada perutnya. Perutnya belum terisi makanan pagi ini.
***
Ezra berbaring di UKS, ditemani oleh Jeanne. Hanya Jeanne yang menemani dan membantunya berjalan di UKS.
Sekujur tubuhnya terasa nyeri sekali, terlebih perut dan punggung yang menerima tendangan dari Rafael.
Jeanne membawakan teh hangat dari kantin dan sepotong roti. Ia sudah hafal, Ezra pasti belum sarapan. “Makan dulu, Zra,” katanya seraya duduk di kursi.
Ezra berusaha beringsut untuk bangun, tapi ia meringis kesakitan. Sulit sekali baginya untuk bangun dan duduk di kasur UKS.
Melihat kesakitan itu, Jeanne pun merasa kalau ada yang harus dilihat dari tubuh Ezra. “Coba buka baju lu. Jangan-jangan ada luka,” katanya menebak.
Mendengar itu, Ezra salah tingkah. Ia merasa malu kalau harus membuka kancing seragamnya. “Nggak usah, nanti aja pas udah pulang.”
“Sekarang, Zra. Daripada kenapa-kenapa nanti.” Jeanne tegas.
Ezra pun bergeming. Selama ini, di sekolah, hanya Jeanne yang baik padanya. Dan ia pikir-pikir, tidak ada salahnya juga. Ia pun membuka kancing bajunya dan terlihatlah beberapa lebam di bagian perut bagian depan dan samping.
Saat Jeanne melihatnya, bukan lebamnya yang menjadi fokus Jeanne tetapi enam kotak di perut Ezra yang menarik perhatiannya. Ia pun memberanikan diri untuk menyentuhnya. “Sakit?”
Malu-malu Ezra mengangguk. Saat tangan Jeanne memegang perutnya, Ezra merasakan sensasi seperti rangsangan yang membuat aliran darah dan saraf-sarafnya terangsang.
“Udah liat, kan? Cuma lebam saja. Nanti gua kasih salep aja di rumah,” ucap Ezra segera mengancingkan lagi seragamnya.
***
Pukul lima sore, Ezra bersiap-siap untuk pergi bekerja. Nyeri masih terasa walaupun ia sudah menelan obat anti nyeri yang ia beli di warung.
“Tahan, Zra. Tahan. Kalo nggak kerja hari ini, pasti gaji dipotong,” katanya menyemangati diri sendiri.
Ia bekerja di sebuah warung bakso yang cukup ramai. Ia mulai bekerja di jam enam sore sampai jam dua belas malam. Upahnya satu juta rupiah per bulan.
Bagi sebagian orang, mungkin upah itu sangat kecil dan tidak cukup. Tapi, Ezra tidak punya pilihan lain. Tidak ada yang mau mempekerjakan dirinya yang masih sekolah dan belum punya ijazah.
Setelah lulus dan punya ijazah, dia akan mencari pekerjaan yang lebih baik, supaya dirinya juga bisa menabung untuk kuliah di tahun berikutnya.
“Zra, pesanan di meja 13! Dua bakso urat sama jus jeruk!” kata bosnya setibanya dia di tempat kerja.
“Siap!”
Ezra segera mengesampingkan sakitnya. Tak penting, ia harus bekerja dengan giat malam ini demi sesuap nasi dan membayar uang kos yang sudah menunggak tiga bulan.
Ia bekerja giat sekali. Setiap pelanggan selesai makan, ia langsung membersihkan meja agar bisa digunakan oleh pelanggan yang lain.
Karena sibuk dan obat anti nyerinya sudah bekerja, Ezra mampu melakukan pekerjaannya seperti biasa.
Pukul 12 malam, setelah merapikan dan menutup warung bakso, ia pun pamit.
“Pulang langsung tidur,” ucapnya pelan.
Kondisi jalanan telah lengang. Tak banyak kendaraan roda dua atau empat yang melintas. Ia pulang jalan kaki, upahnya yang minim membuatnya berpikir dua kali kalau harus naik angkot demi mempercepat waktu.
Dari kejauhan, ia melihat sebuah mobil mewah menepi. Di luar, gerak-gerik dua orang cukup aneh. Mereka menggedor-gedor mobil dengan kuat, bahkan sesekali menendang.
Satu orang dari mereka mengambil batu yang ada di pinggir jalan, lalu menghantamnya ke kaca mobil itu.
Terdengar teriakan seorang perempuan dari dalam mobil tersebut. Ezra akhirnya menyadari kalau dua orang itu adalah perampok. Segera ia mengedarkan pandangannya, melihat ke sekeliling.
Terdapat balok kayu yang dibuang di drum sampah. Ia mengambilnya, berlari kencang dan segera menghajar kedua orang itu. Keduanya terkejut melihat kedatangan Ezra yang tiba-tiba. Ezra melayangkan balok kayu itu sekuat tenaga sehingga keduanya pun memutuskan untuk pergi.
“Mbak nggak apa-apa?” tanya Ezra setelah dua orang itu pergi. Wanita itu masih ada di dalam mobil.
“Nggak apa-apa. Saya nggak apa-apa,” jawabnya dengan nada lemah, tapi tersirat kelegaan.
“Makasih banget, kalo nggak ada kamu, saya nggak tahu bakal kayak gimana.”
Seorang wanita dewasa dengan pakaian serba terbuka turun dari mobil dengan mimik yang masih panik.
Ezra tak sengaja melihat belahan di dada wanita itu dan langsung memalingkan wajahnya. Jantungnya berpacu dengan kencang.
“Thank you, banget ya,” kata wanita itu kepada Ezra. Ia tahu kalau Ezra memperhatikan sekilas. “Nama kamu siapa? Nama saya Natasha.” Natasha mengulurkan tangan ke Ezra.
Ezra yang masih gugup pun berusaha untuk bersikap biasa saja walaupun susah, menjabat tangan Natasha. Kedua mata Ezra bereaksi. Ia tidak pernah berpikir kalau telapak tangan manusia bisa sehalus ini.
“Nama saya Ez…” Belum selesai bicara, Ezra limbung. Tubuhnya tiba-tiba kehilangan tenaga.