
- Jumlah kata
- 4.4K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 5
Sinopsis
Madun adalah pemuda desa yang hidup dalam kemiskinan bersama ibunya. Madun ingin pergi merantau ke kota untuk mengubah nasib hidup. Namun, ibunya selalu melarang karena tak mau ditinggal pergi. Selain itu, Madun juga selalu menjadi bahan ejekan karena tak kunjung menikah di usianya yang kini menginjak tiga puluh tiga tahun. Madun pun mulai frustasi. Akan tetapi, kejadian yang tak disengaja membuat Madun bisa melihat mahluk tak kasat mata. Dan dari sanalah, hidup Madun akhirnya mulai berubah.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 Madun ingin menikah
"Mak, aku mau nikah!" seru Madun dari luar rumah.
Madun meletakkan cangkul yang dia bawa dari ladang di samping kandang kambing. Lalu menghampiri ibunya. Pemuda itu lalu menatap ibunya yang sedang sibuk membakar singkong yang baru dicabut dari kebun samping rumah. Sang ibu yang bernama Mbok Surti itu pun menoleh dan menatap putranya sebentar.
Mbok Surti tidak terkejut dengan ucapan putranya. Sebab, bukan sekali atau dua kali saja si Madun minta nikah. Madun bahkan sudah ratusan kali mengutarakan keinginan nikahnya itu pada sang ibu.
Mbok Surti menghela napas panjang. "Iya, nanti kamu bakal nikah kok kalau sudah waktunya," kata Mbok Surti.
Bukannya merasa tenang mendengar ucapan sang ibu, mulut Madun justru langsung komat-kamit tidak jelas. Sebab, setiap kali Madun mengungkapkan keinginannya untuk menikah, Mbok Surti selalu memberikan jawaban yang sama.
"Tapi kapan, Mak? Umurku sudah tiga puluh tiga tahun. Teman-temanku sudah pada nikah. Cuma aku aja yang masih jadi perjaka tua," ujar Madun lirih sambil meratapi nasib buruknya itu.
Mbok Surti tertawa kecil. "Itu kamu sadar!"
"Aku serius, Mak!" ujar Madun seraya memanyunkan bibirnya hingga lima sentimeter ke depan.
Madun mendudukkan bokong teposnya di kursi kayu reot yang ada di sudut dapur dengan lemas. Tubuh cungkringnya sedikit membungkuk, seolah tak mampu menahan beban pikiran yang akhir-akhir ini sedang menghimpit hati, perasaan dan juga jiwanya.
"Dun!" panggil Mbok Surti sambil membalik singkong yang sedang dia bakar. "Kamu itu niat mau nikah, apa cuma karena dikejar umur?"
"Ya dua-duanya, Mak. Aku malu ditanya mulu sama tetangga dan teman-temanku. Setiap ketemu, selalu aja mereka pada nanya kapan nikah?" jawab Madun setengah mendesah.
Mbok Surti menggelengkan kepalanya pelan. "Ngapain kamu mikirin omongan orang, Dun? Lagian, kamu sibuk pengen nikah memang sudah ada calonnya? Terus, apa sudah ada modalnya juga?" tanya Mbok Surti. Kali ini, nada suara wanita paruh baya itu terdengar kesal.
Madun menggeleng lemah. "Ya belum ada sih, Mak," jawab Madun lirih.
Mbok Surti berhenti sejenak dari pekerjaannya. Tangan tuanya yang semula lincah membolak-balik singkong kini diam di atas bara. Dia menoleh pelan ke arah Madun, menatap anak semata wayangnya itu dengan sorot mata yang sulit diartikan. Antara rasa iba, kesal, dan sedikit geli.
"Nah, itu dia masalahnya," ucap Mbok Surti akhirnya. "Calon belum ada, modal belum ada, tapi teriak-teriak mau nikah tiap hari."
Madun menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Wajahnya semakin muram. "Mak, kalau nunggu semuanya siap, nanti aku keburu tua beneran."
Mbok Surti terkekeh. "Sekarang juga kamu sudah tua, Dun."
Madun mendengus pelan. "Emak ini bukannya nyemangatin, malah nyindir terus."
Mbok Surti tersenyum tipis. Dia lalu mengambil satu singkong yang sudah matang, meniup-niupnya sebentar, lalu meletakkannya di atas piring seng yang sudah agak penyok di bagian pinggirnya. Dia pun menyodorkan piring itu ke arah Madun.
"Makanlah dulu! Kalau perut sudah kenyang, baru bisa mikir yang benar," kata Mbok Surti.
Madun menerima singkong itu tanpa semangat. Dia menggigit sedikit, tapi pikirannya jelas bukan pada makanan. Matanya kosong, menatap lantai semen dapur yang sudah mulai retak di bagian sana-sini. Suasana mendadak hening. Hanya suara bara api yang berderak yang terdengar di ruangan itu.
"Mak!" panggil Madun lagi, kali ini suaranya lebih pelan.
"Hmm."
"Menurut Emak, aku ini kurang apa sih sampai belum juga dapat jodoh?"
Pertanyaan itu membuat Mbok Surti terdiam cukup lama. Dia tidak langsung menjawab. Wanita paruh baya itu justru duduk di bangku kecil dekat tungku, mengusap tangannya yang sedikit berdebu oleh abu.
"Kamu mau jawaban jujur?" tanya Mbok Surti akhirnya.
Madun mengangguk cepat. "Mau, Mak. Memang aku maunya jawaban jujur."
Mbok Surti menarik napas dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. "Kamu itu sebenarnya nggak ada kurangnya, Dun. Tapi memang belum waktunya saja."
Madun mengernyit. "Maksudnya?"
"Kamu kerja, iya. Tapi hasilnya cuma cukup buat makan hari ini. Besok ya kerja lagi. Kamu nggak pernah mikir buat nabung, buat masa depan. Terus soal perempuan …." Mbok Surti melirik anaknya. "Kamu itu kalau lihat perempuan cantik, langsung minder duluan. Baru juga lihat, sudah mundur."
Madun terdiam. Ucapan ibunya seperti menampar pelan, tapi terasa kena di hati. Sebab, apa yang dikatakan ibunya memang benar. Madun kurang percaya diri jika berhadapan dengan wanita cantik.
"Terus kalau ada yang biasa saja," lanjut Mbok Surti.
Madun mengangkat bahu. "Ya … aku nggak tertarik, Mak."
"Nah itu!" Mbok Surti menepuk pahanya. "Kamu maunya yang cantik, tapi kamu sendiri belum siap. Itu namanya bukan cari jodoh, tapi kebanyakan mimpi."
Madun menghela napas panjang. Dia bersandar lemas di kursi. Untuk pertama kalinya, dia tidak membantah.
Di luar, suara kambing terdengar mengembik pelan. Angin sore mulai masuk lewat celah-celah dinding bambu, membawa aroma tanah dan rumput yang tumbuh di samping rumah.
"Jadi, aku harus gimana, Mak?" tanya Madun pelan.
Mbok Surti menatapnya lembut. Kali ini nadanya tidak lagi menyindir. "Kamu mulai dari dirimu dulu. Perbaiki hidupmu, Dun. Kerja yang lebih sungguh-sungguh. Biar nanti kalau ada perempuan yang datang, kamu nggak cuma bisa bilang aku cinta kamu, tapi juga aku siap menafkahimu."
Madun menelan ludah. Kata-kata itu terdengar sederhana, tapi terasa berat. Sebab, pekerjaan Madun selama ini hanya menjadi buruh cangkul di ladang Juragan Kasim. Upahnya pun kecil, hanya cukup untuk makan sehari-hari. Itu pun jika ada panggilan untuk membuka lahan.
Jika tak ada pekerjaan, Madun dan Mbok Surti harus siap menahan lapar. Seperti Minggu lalu, hampir seminggu mereka hanya makan singkong bakar. Tak ada beras dan juga lauk yang bisa mereka masak. Sebab, sudah seminggu Madun nganggur dan tak ada pekerjaan.
"Mak, aku harus kerja sungguh-sungguh yang gimana lagi? Emak kan tahu, aku cuma buruh cangkul panggilan. Buat makan sehari-hari aja susah, gimana mau memperbaiki hidup?" ujar Madun.
Kali ini, Mbok Surti yang terdiam. Dia tidak bisa menyangkal ucapan putranya. Suasana kembali hening.
"Mak!" panggil Madun pelan.
"Hmm!"
"Aku pengen merantau ke kota, Mak. Aku ingin—"
"Cukup, Dun!" potong Mbok Surti cepat. "Berapa kali Emak bilang, kamu nggak boleh pergi kemana-mana!" Suaranya meninggi.
Mendengar niat anaknya, Mbok Surti tampak marah. Wajahnya yang semula biasa saja, kini tampak merah seolah sedang menahan emosi.
"Kalau aku nggak merantau, gimana nasib kita akan berubah, Mak? Coba kalau aku punya gaji yang besar, aku bisa bangun rumah yang bagus, bisa beli makanan apapun yang kita suka, dan aku juga bisa menikah dengan orang yang aku sukai," ujar Madun lirih di akhirat kalimatnya. "Kalau cuma ngandelin kerjaan aku di desa, mana bisa kita hidup layak, Mak?"
Air mata Mbok Surti tiba-tiba jatuh. Raut wajahnya yang semula tampak marah, kini berubah sendu. Dia menatap Madun dengan raut wajah pilu. "Dun, Emak cuma nggak mau kamu ninggalin Emak," ucap Mbok Surti sedikit terisak.
"Siapa yang mau ninggalin Emak? Aku cuma pergi dengan niat kerja, Mak. Nanti setiap libur, aku pasti pulang. Kalau aku gajian, aku pasti kasih ke Emak. Biar Emak bisa hidup dengan layak."
Mbok Surti menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Nggak, Dun! Emak nggak mau!" tolak Mbok Surti.
"Kamu itu nggak tau bagaimana kehidupan di kota, Dun. Semua orang yang pergi ke kota pasti berubah!" lanjutnya. "Kamu lihat tuh anaknya Bude Murni, anaknya jadi sombong setelah sukses di kota. Bahkan, dia sudah nggak peduli sama ibunya. Begitu juga dengan bapakmu …."
Mbok Surti tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya. Air mata terus mengalir dari kedua sudut mata tuanya.
Madun sendiri terdiam, tak berani berdebat dengan ibunya. Sebab, dia tahu jika sang ibu masih trauma dengan masa lalunya. Sang suami yang merupakan ayah kandung Madun yang bernama Parman pun sempat pergi ke kota dengan alasan yang sama. Tapi nyatanya, pria paruh baya itu tak pernah kembali hingga detik ini.
******
Daftar bab
4 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








