
The tale they twisted
Meera Sundari|Bersambung
- Jumlah kata
- 13.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 11
- Jumlah kata
- 13.3K

Meera Sundari|Bersambung
Narendra Jagadhita, seorang mahasiswa sastra berusia dua puluh dua tahun, adalah individu biasa yang lebih suka menjelajahi forum internet daripada terlibat dalam interaksi sosial. Dikenal di antara kenalannya sebagai "Naren," ia adalah orang yang pendiam dan tertutup yang jarang terlibat dalam debat atau argumen. Terlepas dari sifatnya yang pendiam, ia memiliki kecintaan yang mendalam pada epos Ramayana. Sejak kecil, ia telah mendengarkan dengan saksama cerita-cerita yang diceritakan oleh kakeknya, cerita-cerita yang menggambarkan komitmen Rama yang teguh pada dharma dan kesetiaan Sita yang teguh. Kebajikan-kebajikan ini sangat beresonansi dengan Naren, membentuk kekagumannya pada tokoh-tokoh dan cita-cita mereka. Namun, seiring bertambahnya usia, Naren semakin bingung dengan perubahan persepsi seputar Rama. Platform media sosial, khususnya, mulai menggambarkannya secara negatif. Unggahan-unggahan terbaru mempertanyakan karakter Rama, menunjukkan bahwa Ravana, raja iblis, lebih mencintai Sita daripada Rama, dan mencap Rama sebagai sosok yang dingin, acuh tak acuh, dan tidak baik hati. Pesan-pesan ini sangat mengganggu Naren, karena bertentangan dengan citra luhur yang telah ia hargai sejak kecil. Ia sering bertemu dengan para pembela Ravana yang mengklaim bahwa Ravana lebih manusiawi dan mudah dipahami daripada Rama yang suci. Argumen-argumen seperti itu memicu rasa ingin tahu Naren tentang sifat asli Rama dan apakah narasi populer tersebut secara akurat mencerminkan karakternya. Suatu malam, saat menelusuri media sosialnya, Naren menemukan sebuah komentar yang semakin menantang persepsinya. Komentar tersebut mempertanyakan moralitas tindakan Rama dan meragukan kebenaran keputusannya. Pesan provokatif ini mendorong Naren untuk mencari jawaban di luar dunia digital. Ia mengambil buku Ramayana lama milik kakeknya—sebuah buku berhias dan usang yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Saat ia membuka halaman-halaman kuno itu, ia dibawa ke dunia cerita dan kebajikan yang berbeda. Naren mulai membaca tentang kebaikan, kerendahan hati, dan rasa tanggung jawab Rama yang tak tergoyahkan. Saat ia menyelami teks tersebut, ia menyadari bahwa pangeran pejuang itu bukanlah sosok yang dingin dan jauh seperti yang awalnya ia bayangkan. Sebaliknya, Rama muncul sebagai individu yang tenang, hangat, dan penuh kasih sayang, yang sangat berkomitmen untuk melindungi orang lain dan menegakkan kebenaran. Semakin banyak ia membaca, semakin jelas bahwa kekuatan Rama terletak bukan hanya pada keberaniannya, tetapi juga pada kebajikan dan integritas moralnya. Tiba-tiba, cahaya yang tidak biasa terpancar dari halaman-halaman Ramayana. Ruangan itu dipenuhi cahaya keemasan yang bersinar, yang tampak berdenyut dengan energi ilahi. Sebelum Naren dapat bereaksi atau memahami apa yang terjadi, halaman-halaman buku yang berkilauan itu mulai bergerak dan berkilau terang. Dalam sekejap, ia mendapati dirinya diselimuti pengalaman surealis yang bercahaya.
1 ulasan
Resia Noir
14/5/26 11:22
Izin Promosi novel saya ya kk. Judul : Bupati Muda yang Misterius Penulis : Resia Noir Dulu Mika hanya anak supir yang hidup di belakang pasar dan dihina semua orang. Kini… ia kembali sebagai Bupati termuda di Kabupaten Arunika. Namun jabatan itu bukan untuk kekuasaan. Ia datang membawa dendam, rahasia, dan pencarian tentang kematian ayahnya yang misterius. Di balik dunia politik yang penuh korupsi, pengkhianatan, dan permainan kekuasaan… Mika harus melawan orang-orang paling berbahaya di kotanya sendiri. Dan saat hatinya mulai terusik oleh seorang pustakawan sederhana bernama Alena, rahasia besar perlahan mulai terungkap. 🔥 Penuh misteri 🔥 Politik dan balas dendam 🔥 Romance yang bikin baper 🔥 Banyak plot twist dan rahasia gelap 📖 BUPATI YANG MISTERIUS Siapkah kamu masuk ke dunia Mika Ardian?
Hari-hari di Ayodhya berlalu dengan tenang.
Terlalu tenang, menurut Naren.
Tidak ada cahaya aneh yang tiba-tiba muncul dari kitab kuno. Tidak ada peristiwa besar yang mengguncang kerajaan. Tidak ada pula pertanda bahwa dirinya adalah tokoh penting dalam kisah ini.
Dan itu seharusnya menjadi hal yang melegakan.
Namun entah kenapa, semakin lama tinggal di sini, semakin Naren merasa dirinya berada di tengah sungai yang perlahan mengalir menuju suatu tempat yang tidak bisa ia lihat.
Ia hanya belum tahu ke mana.
Pagi itu, seperti biasa, Mahesh sudah mengomel bahkan sebelum matahari sepenuhnya terbit.
"Naren."
"Hm?"
"Itu bukan cangkul."
Naren menatap benda di tangannya.
Kemudian menatap Mahesh.
Lalu kembali menatap benda itu.
"Tidak?"
"Itu penggaruk tanah."
"Oh."
Mahesh memejamkan mata beberapa detik.
Seolah sedang memohon kesabaran kepada para dewa.
"Kadang aku benar-benar heran bagaimana kau masih hidup."
Naren menyerahkan alat itu tanpa rasa bersalah.
"Aku berbakat."
"Kau memang berbakat."
"Nah, benar ka—"
"Dalam membuat orang lain sakit kepala."
Beberapa pekerja taman yang mendengar percakapan mereka langsung tertawa.
Naren hanya mengangkat bahu.
Sudah beberapa minggu terakhir ini hidupnya berjalan seperti itu.
Bekerja.
Dimarahi Mahesh.
Bekerja lagi.
Dimarahi lagi.
Entah kenapa, rutinitas itu mulai terasa biasa.
Bahkan nyaman.
Dan mungkin itulah yang membuatnya sedikit takut.
Karena semakin nyaman dirinya di Ayodhya, semakin jarang ia memikirkan kehidupan lamanya.
---
Menjelang siang, pekerjaan mereka selesai lebih cepat dari biasanya.
Matahari bersinar cerah. Angin bertiup pelan membawa aroma bunga kenanga dari sisi utara taman.
Sebagian pekerja memilih beristirahat di bawah pohon besar.
Sebagian lagi pergi mencari minuman dingin.
Naren duduk di dekat kolam sambil membersihkan tanah dari tangannya.
Tidak lama kemudian Tara datang.
Membawa dua gelas minuman dari dapur.
Ia menyerahkan satu kepadanya.
"Terima kasih."
"Jangan senang dulu."
Naren mengangkat alis.
"Ada syaratnya?"
"Tentu."
"Aku tahu."
"Kau harus membantuku nanti."
Naren menghela napas panjang.
"Kenapa semua orang selalu meminta bantuanku?"
Tara menatapnya datar.
"Karena kau tidak bisa menolak."
"Itu bukan alasan."
"Itu alasan yang sangat baik."
Naren tidak bisa membantah.
Mereka duduk beberapa saat tanpa berbicara.
Di kejauhan terdengar suara para pelayan yang sedang bercanda.
Seorang penjaga melintas di koridor sambil membawa tombak.
Semua tampak biasa.
Namun kemudian Tara berkata,
"Beberapa orang masih membicarakanmu."
Naren langsung mengerang pelan.
"Lagi?"
"Ya."
"Tidak bosan apa mereka?"
"Bukan salah mereka."
Naren menoleh.
Tara menatap permukaan kolam.
"Kau memang aneh."
"Terima kasih."
"Itu bukan pujian."
"Aku sudah terbiasa."
Tara tertawa kecil.
Kemudian wajahnya kembali serius.
"Kadang aku juga penasaran."
Jantung Naren sedikit menegang.
"Penasaran apa?"
"Darimana sebenarnya kau berasal."
Untuk sesaat tidak ada suara.
Naren memandang air kolam yang berkilau terkena cahaya matahari.
Ia sudah memikirkan pertanyaan itu berkali-kali.
Dan jawabannya tetap sama.
Tidak ada jawaban yang bisa ia berikan.
Karena kebenaran justru terdengar seperti kebohongan paling besar.
Aku berasal dari masa depan.
Aku membaca kisah kalian dalam bentuk kitab.
Aku bahkan tahu beberapa peristiwa yang akan terjadi.
Tidak ada orang waras yang akan mempercayainya.
"Aku sendiri tidak tahu harus menjawab bagaimana."
Tara menatapnya.
Mungkin ia mengira Naren sedang bercanda.
Namun kali ini Naren benar-benar jujur.
Dan entah kenapa, Tara tidak bertanya lebih lanjut.
---
Sore harinya suasana istana terlihat lebih sibuk dibanding biasanya.
Pelayan berlalu-lalang membawa gulungan kain.
Beberapa petugas gudang terlihat keluar masuk area penyimpanan.
Bahkan para pengawas tampak lebih sering berjalan dari satu bangunan ke bangunan lain.
Awalnya Naren tidak terlalu memikirkan hal itu.
Sampai ia bertemu Mahesh di dekat rumah kaca.
"Ada apa sebenarnya?"
Mahesh sedang memindahkan pot tanaman.
"Apa?"
"Semua orang terlihat sibuk."
Mahesh mendengus pelan.
"Karena memang sibuk."
"Itu tidak menjawab pertanyaanku."
"Karena aku tidak tahu."
Naren memandangnya curiga.
"Kau sungguh tidak tahu?"
Mahesh mengangkat satu pot besar.
"Aku pekerja taman."
"Itu aku tahu."
"Kalau begitu berhentilah bertanya seolah aku penasihat kerajaan."
Naren tertawa kecil.
Namun setelah itu ia memperhatikan sekitar lebih seksama.
Dan memang ada sesuatu yang berbeda.
Gudang lebih ramai.
Pengawal lebih sering muncul.
Beberapa kereta bahkan terlihat dipersiapkan di area belakang istana.
Sesuatu sedang direncanakan.
Tetapi tidak ada yang tahu apa.
Atau setidaknya tidak ada yang mau memberi tahu para pelayan.
---
Malam tiba.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Naren berjalan menuju asrama.
Udara terasa lebih sejuk dibanding biasanya.
Langit Ayodhya dipenuhi bintang.
Pemandangan yang dulu membuatnya terpana kini perlahan menjadi hal biasa.
Saat melewati koridor belakang, ia melihat dua pelayan sedang berbicara pelan.
"...aku dengar beberapa nama sudah dipilih."
"Benarkah?"
"Ya."
"Untuk apa?"
"Aku tidak tahu."
Naren tidak berniat menguping.
Namun kata-kata berikutnya membuat langkahnya melambat.
"Katanya untuk membantu urusan kerajaan."
"Perjalanan?"
"Mungkin."
Percakapan itu terputus saat mereka menyadari ada orang lewat.
Naren melanjutkan langkah.
Pikirannya tidak terlalu memikirkan hal tersebut.
Di istana selalu ada daftar nama.
Selalu ada tugas.
Selalu ada orang yang dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain.
Ia tidak melihat alasan untuk khawatir.
---
Keesokan paginya, pekerjaan berlangsung seperti biasa.
Sampai menjelang siang.
Ketika seorang pelayan muda datang berlari ke taman.
Ia langsung menghampiri pengawas.
Menyampaikan sesuatu dengan suara pelan.
Pengawas mengangguk.
Lalu menerima sebuah gulungan kecil.
Naren tidak terlalu memperhatikan.
Namun beberapa menit kemudian ia melihat pengawas membaca gulungan itu berkali-kali.
Ekspresinya sulit ditebak.
Setelah itu, pria tersebut memanggil beberapa pekerja senior.
Mereka berbicara cukup lama.
Mahesh termasuk salah satunya.
Saat rapat kecil itu selesai, Mahesh kembali dengan wajah yang sedikit lebih serius dari biasanya.
Naren langsung menyadarinya.
"Itu wajah seseorang yang baru mendengar kabar buruk."
Mahesh meliriknya.
"Aku selalu punya wajah seperti ini."
"Itu juga benar."
Mahesh menggeleng.
Kemudian kembali bekerja tanpa menjelaskan apa pun.
Dan justru itu yang membuat Naren semakin penasaran.
---
Menjelang sore, sebagian besar pekerja sudah pulang.
Naren sedang membereskan alat-alat taman ketika tanpa sengaja mendengar percakapan dari dalam bangunan pengawas.
Pintunya tidak tertutup rapat.
Suara di dalam terdengar samar.
"...hanya tiga orang?"
"Tiga cukup."
"Kita sedang kekurangan tenaga."
"Itu perintah dari istana."
Beberapa lembar kertas terdengar dibalik.
Lalu suara lain berkata,
"Kalau begitu pilih yang paling bisa diandalkan."
Naren tidak sengaja berhenti melangkah.
Bukan karena ingin menguping.
Hanya saja percakapan itu terdengar aneh.
Namun sebelum sempat mendengar lebih banyak, Mahesh muncul dari belakang.
"Kalau kau tidak sedang bekerja, menyingkirlah dari jalan."
Naren hampir melompat.
"Astaga."
"Itu bukan reaksi orang tidak bersalah."
"Aku tidak melakukan apa-apa."
"Bagus."
Mahesh mengambil alat dari tangannya.
"Lalu kenapa berdiri di sini?"
Naren memutuskan tidak menjawab.
Karena memang tidak punya jawaban yang bagus.
---
Malam itu, setelah semua pekerjaan selesai, pengawas taman kembali dipanggil ke gedung administrasi.
Hal seperti ini jarang terjadi.
Bahkan Mahesh mengaku belum pernah melihatnya dalam beberapa bulan terakhir.
Sebagian pekerja mulai berspekulasi.
Sebagian lagi tidak peduli.
Naren termasuk kelompok kedua.
Setidaknya sampai ia melihat pengawas kembali membawa sebuah daftar.
Pria itu terlihat lelah.
Namun juga sangat serius.
Ia berbicara cukup lama dengan kepala pelayan yang datang dari istana utama.
Suara mereka tidak terdengar.
Jaraknya terlalu jauh.
Namun dari tempat berdiri, Naren sempat melihat kepala pelayan menunjuk beberapa nama di atas gulungan tersebut.
Pengawas mengangguk.
Lalu kembali menunjuk bagian lain.
Percakapan mereka berlangsung beberapa menit sebelum akhirnya selesai.
Kepala pelayan menggulung kembali daftar itu.
"Besok pagi."
Pengawas mengangguk.
"Baik."
"Jangan sampai terlambat."
"Akan saya urus."
Setelah itu kepala pelayan pergi.
Meninggalkan pengawas yang masih berdiri di tempatnya sambil memandang daftar nama tersebut.
Untuk beberapa saat.
Lalu perlahan mengembuskankan napas panjang.
Seolah pekerjaan tambahan baru saja jatuh ke pundaknya.
Naren yang melihat dari kejauhan hanya menganggap itu urusan biasa.
Ia tidak tahu isi daftar tersebut.
Tidak tahu nama siapa saja yang tertulis di sana.
Tidak tahu apa tujuan semua persiapan yang sedang dilakukan istana.
Dan yang paling penting...
ia tidak tahu bahwa salah satu nama di daftar itu terpatri nama miliknya.
11 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.







