
- Jumlah kata
- 81.6K
- Popular
- 15.7K
- Subscribe
- 1.8K
Sinopsis
Tarjo, dukun muda yang digilai banyak wanita yang pernah menjadi pasiennya. Ditengah petualangannya bersama wanita-wanita, berbagai masalah datang menghampiri Tarjo yang ternyata seorang pewaris kekayaan ratusan miliar.
Ulasan
1 ulasan
Ahmad Wahyudi
25/8/26 14:13
kalau buat novel yang banyak pembaca jangan pernah buat MC jadi naif, munafik dan terlalu polos. setiap novel seperti ini pasti di awali alur karakter utamanya yang naif dan munafik apalagi umur karakter sudah 18 tahun ke atas masih di buat polos tentang wanita itu sudah cacat logika apalagi plot cerita di dunia modern banyak informasi flim biru
Tarjo Dukun Muda
Siang itu, matahari terasa begitu terik. Di ujung sebuah gang sempit berdiri sebuah rumah sederhana berdinding tembok.
Rumah itu tak besar. Halamannya pun hanya berupa tanah yang ditumbuhi beberapa tanaman liar. Di terasnya terdapat sebuah kursi kayu tua dan meja kecil yang permukaannya sudah mulai kusam.
Tak ada papan nama, tak ada tulisan yang menunjukkan bahwa rumah itu adalah tempat pengobatan.
Rumah itu adalah tempat tinggal Tarjo, seluruh warga desa mengenalnya, bahkan namanya dikenal sampai ke lain kota.
Lelaki berusia tiga puluh tahun itu dikenal sebagai dukun muda di desa tersebut.
Orang tua Tarjo menghilang ketika ada bencana alam ketika Tarjo masih kecil, dan Tarjo hidup bersama kakeknya yang dikenal memiliki kemampuan mengobati berbagai macam penyakit yang tidak mampu dijelaskan oleh orang-orang.
Sebelum meninggal, sang kakek mewariskan ilmu yang dimilikinya kepada Tarjo.
Awalnya Tarjo tak pernah berniat meneruskan pekerjaan tersebut.
Namun, setelah kakeknya meninggal, satu per satu warga mulai datang meminta pertolongan.
Ada yang mengeluhkan sakit aneh, ada yang mengaku sering diganggu sesuatu yang tak terlihat, ada pula yang datang minta nomor togel, dan bahkan ada yang minta dicarikan jodoh.
Siang itu, Tarjo sedang duduk santai di teras rumah, lelaki itu baru saja mau menyeruput kopinya ketika terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa memasuki halaman rumahnya.
"Ki Tarjo!"
Suara seorang perempuan terdengar panik.
Tarjo mengangkat wajah, dahinya mengernyit melihat seorang perempuan muda berlari sambil menggendong bayi.
Perempuan itu berusia sekitar dua puluh tiga tahun. Rambutnya berantakan, napasnya terengah-engah, dan wajahnya terlihat pucat karena kepanikan.
Begitu sampai di depan rumah, perempuan itu langsung menaiki teras.
"Tolong saya, Ki..."
Tarjo segera meletakkan cangkir kopinya.
"Ada apa, Menur?"
Perempuan bernama Menur itu langsung mendekat.
Di dalam gendongannya terdapat seorang bayi laki-laki berusia sekitar lima bulan, bayi itu menangis keras.
Wajah kecilnya memerah. Kedua tangannya terus bergerak-gerak, sementara tangisannya terdengar semakin menjadi-jadi.
"Tolong obati anak saya, Ki."
Menur hampir menangis.
"Sudah tiga hari ini dia rewel. Nggak mau makan, nggak mau minum, nangis terus. Saya sudah bawa ke bidan, tapi katanya nggak apa-apa."
Tarjo menatap bayi itu.
"Namanya siapa?"
"Raja, Ki."
Tarjo berdiri dari kursinya, tersenyum tipis sambil berkata, "Kasih sini!"
Menur ragu sejenak sebelum akhirnya menyerahkan bayinya kepada Tarjo.
Begitu berada di pelukan Ki Tarjo, tangisan Raka justru semakin keras.
"Uwaaah!"
Menur langsung panik.
"Ki!"
Tarjo tidak menjawab, Ia hanya menatap wajah bayi itu, perlahan, tangan kanannya terangkat, telapak tangannya kemudian mengusap kepala Raka dengan sangat lembut.
Bayi itu masih menangis, sampai suaranya serak.
"Sudah dinenenin?"
Mendengar pertanyaan itu, sontak Menur menatap wajah Tarjo dengan wajah bersemu merah.
"Nur! Kok malah bengong?"
Menur tergagap, lalu dengan gugup menjawab, "Anu ...anu Ki, dia nggak mau, makan juga mau, itu yang bikin saya bingung."
Tarjo menghela napas panjang, lalu melangkah pelan, masuk ke rumahnya, bayi yang digendongnya masih menangis walau tak sekeras tadi.
Menur mengekori langkah Tarjo, dengan perasaan tak karuan. "Duh, anakku mau diapain sama Ki Tarjo?"
Tarjo langsung membawa bayi itu masuk ke dalam sebuah kamar, dengan langkah ragu Menur ikut masuk ke kamar.
Bayi yang masih menangis itu diletakkan di atas tempat tidur, perasaan Menur makin kacau.
"Kamu bilang, anakmu nggak mau nenen?" tanya Tarjo yang kini berdiri persis di depan Menur.
Menur mengangguk, "Iya Ki."
"Kalau begitu, kamu baring di sana!" ucap Tarjo, sambil menunjuk ke arah sofa tua, yang ada di pojok kamar.
Menur menatap bingung ke arah dukun muda itu. "Sa-saya Ki?" tanya Menur, dengan wajah merah padam. "Kenapa harus berbaring Ki?"
"Nggak usah banyak tanya, kamu mau anakmu sembuh nggak?" Nada Tarjo meninggi. "Saya harus periksa susu kamu!"
Mata Menur terbeliak, jantungnya berdegup makin kencang, perasaannya semakin tak karuan, berbagai prasangka memenuhi pikirannya, apa lagi ketika Tarjo menutup pintu kamar.
"Anak saya yang sakit, kok saya yang diperiksa?" Dengan suara bergetar Menur mengucap kalimat itu.
"Saya yakin pasti ada apa-apanya dengan susumu itu, hingga anakmu nggak mau nenen! Kalau kamu merasa ragu, lebih baik kamu bawa anakmu pulang!"
Seketika, Menur menoleh ke arah anaknya, yang masih terdengar isak tangisnya.
"Iy-iya Ki, saya mau anak saya sembuh," ucap Menur, dia berjalan menuju sofa itu dengan tubuh gemetar.
Melihat itu, Tarjo menarik napas kesal. Lalu berjalan mendekati Menur, dengan lembut lelaki itu memegang pundak Menur, lalu membaringkannya di atas sofa.
Tarjo duduk bersimpuh di samping Menur, wajahnya tampak tenang dan serius, begitu dekat dengan wajah pucat Menur.
Tangan kasarnya menekan-nekan lembut dua buah payuda-ra sebesar melon milik Menur.
"Aliran susumu ini tersumbat, harus segera dibuka. Kalau terlambat, bisa bikin badanmu panas, bisa bikin penyakit hingga anakmu nggak mau menyusu," ucap Tarjo, sambil terus menekan-nekan dua buah payudara besar itu secara bergantian.
Menur menghela napas, matanya terpejam. Jantungnya berpacu sangat cepat, keringat dingin mulai bercucuran ketika tangan Tarjo mulai merem-as lembut payudara yang masih berlindung di balik pakaiannya.
"Sekarang, buka bajumu!" perintah Tarjo, dengan suara tenang, wajah datar penuh wibawa.
Menur tercekat, bibirnya bergerak-gerak seolah ingin berkata sesuatu. Ia ingin protes, tapi suaranya seakan berhenti di tenggorokan.
"Kamu jangan punya pikiran macam-macam. Saya sudah biasa mengobati perempuan yang punya keluhan seperti ini. Kalau kamu nggak percaya, gimana anakmu bisa sembuh?" ucap Tarjo, dengan suara penuh penekanan.
Menur menggigit bibir bawahnya, ia merasa dalam dilema, ia menatap anaknya. Wajah kecil itu tampak pucat, matanya sembap dan lelah setelah terlalu lama menangis. Kini ia tertidur pulas, seolah tubuhnya sudah kehabisan tenaga untuk mengeluarkan air mata.
Lalu, dengan tangan gemetar Menur membuka kancing bajunya.
Jakun Tarjo bergerak naik turun ketika melihat dua buah payudara Menur tersembul dari balik BH yang ukurannya lebih kecil hingga tak bisa menutup semua payudara Menur yang ukurannya lumayan besar.
"Hmmmm, susumu lumayan besar juga," gumam Tarjo sambil menelan ludahnya.
Menur makin tak karuan, apa lagi saat jari kasar Tarjo mengusap-usap kulit payudara yang put-ingnya masih bersembunyi di balik BH-nya yang berwarna hitam.
"Buka kutangnya, kalau ditutup gini gimana saya bisa ngobatinya," ucap Tarjo, dengan suara datar.
Menur tak berani membantah, ia merasa malu pada dirinya sendiri, tapi rasa itu kalah oleh wajah pucat anaknya. Bagi Menur, demi anaknya sembuh dia akan melakukan apa saja.
Glek! Glek!
Tarjo menelan ludah hingga berulang kali, begitu payudara Menur terpampang indah di depan matanya.
Daftar bab
78 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








