
- Jumlah kata
- 61.5K
- Popular
- 288
- Subscribe
- 50
Sinopsis
Daniel adalah simbol madesu (masa depan suram). Tidak punya teman, apalagi keberuntungan. Sampai suatu hari ia tidak sengaja menjinakkan makhluk mitologi di kamar mandinya. Kini, seorang gadis tanpa ekspresi memaksanya menjadi Tamer dengan alasan dunia sedang terancam. Daniel tidak yakin dunianya bakal hancur. Yang ia tahu, hidupnya yang sudah suram kini justru semakin kacau.
Ulasan
8 ulasan
El Dhabby
18/8/26 11:20
Author longor! Lanjutin lah jir ceritanya! Ngapain mikir pasar, biar aja punya lu itu niche banget. gua gak peduli. gua pengen lu lanjutin lagi novel ini
Tieywiey
12/8/26 12:50
Wah, jujur pas pertama baca sinopsis langsung tertarik banget deh. Daniel yang hidupnya nggak pernah beruntung itu rasanya bisa kita rasain banget. Terus tiba-tiba urusan dunia mitos nyasar ke kehidupannya yang biasa aja. Kaget, bingung, campur aduk perasaan Daniel itu kerasa nyata banget. Gadis misterius itu bikin makin penasaran, apa sebenernya niat dia? Dunia yang katanya mau hancur atau cuma hidup Daniel aja yang berubah? Nuansa fantasi timurnya bacaannya beda dari yang lain, segar rasanya.
Daniel Si Madesu
Hujan deras membasahi pasangan, seorang pemuda dan seorang gadis, yang selesai bertikai di suatu tempat. Salah satu diantara mereka sudah terbujur kaku bersimbah darah.
Seorang gadis menatap nanar dengan wajah yang ternodai oleh darah. Pisau di tangannya masih tergenggam erat.
"Akhirnya aku melakukan apa yang mesti kulakukan," ujar si gadis. Tatapannya dingin seakan dia telah melakukan hal yang semestinya. "Daniel, sebenarnya kamu masih kucintai meskipun sudah kutikam berkali-kali" lanjutnya.
Namun, dibalik itu semuanya....
Drrrtt....
Ponsel bergetar. Layarnya menampilkan alarm untuk membangunkan manusia madesu (masa depan suram) yang masih pulas tertidur di ranjangnya. Dia mengucek mata, meraih sepetak gadget itu. Sudah saatnya dia berangkat sekolah.
Daniel Alphard Sanjaya. Siswa SMA biasa tanpa teman semasa hidupnya. Hidupnya berantakan semenjak seseorang yang ia anggap teman kecelakaan. Daniel sama sekali tidak ingat wajahnya dengan jelas. Yang penting temannya itu selalu hadir untuknya.
Kini "teman" itu sudah dianggap mitos olehnya. Daniel mungkin ditakdirkan untuk bangkit sendirian. Pernah dia ikut nimbrung bersama yang lain, tapi ama sekali tidak dianggap keberadaannya.
Mengingat masa lalu yang menyakitkan itu, Daniel yang sekarang sudah malas menghadapi dunia. Semenjak SMA, ia sudah lama tinggal di sebuah rumah kecil sendirian.
Kakaknya memilih tinggal di rumah lama yang letaknya jauh dari rumah Daniel. Pemuda itu memilih tinggal di sana untuk menjauh dari orang lain.
"Daniel, jangan lupa mandi sebelum kau ke sekolah. Aku gak bakal anggap kau bagian keluargaku jika kau hidup jorok macam kerbau!"
Kakaknya yang mengirim pesan begitu. Perlu diingat. Daniel bukan orang nolep yang bau. Dia sering membersihkan diri dan tidak lupa memakai parfum sebelum berangkat ke manapun.
Detik ini dia sudah siap menghadapi dunia.
***
Daniel pun tiba di sekolah dengan aman. Syukurlah tidak ada gangguan di jalan barusan. Ia beranjak ke kelas.
Seperti biasa, dia disapa dengan sebutan "madesu". Tidak tahu alasan mereka menyebutnya begitu. Apa karena dirinya sangatlah bodoh dalam bertingkah atau ada hal yang lain? Memang menyebalkan.
Daniel pun duduk di bangku kelas yang berada di dekat jendela. Menatap kekosongan dan mengeluh seakan sudah menjadi hobi untuk menghibur diri. Dia sangat iri dengan orang-orang yang berbicara dengan temannya masing-masing. Nasib! Bukannya introvert, mereka saja yang malas berbicara dengannya.
Dulu, Daniel juga pernah mengungkapkan perasaan pada beberapa gadis. Dia sudah menembak sembilan gadis secara random dan tak ada satu pun yang menerimanya. Sekalipun sudah gagal ke-sembilan kalinya, Daniel masih mengagumi orang lain.
Kali ini Daniel menyukai seorang gadis yang periang serta membuatnya bersemangat tak karuan. Ia harus berusaha mendapatkan hatinya!
"Daniel! Ngelamun aja kamu. Kamu gak tau kalo kita sedang belajar!?" tegur Mina, wali kelasnya.
"Iya, bu...." sahutnya lesu. Ia benar-benar tidak semangat ketika mendengar suara Mina.
"Sekarang kamu maju kedepan dan jelaskan tentang sudut istimewa yang ibu jelaskan barusan!" pinta Bu Mina.
"Ibu ini gimana sih? Orang yang gak nyimak mana ada yang bisa ngejelasin, bu? Ibu sendiri tau sifat saya gimana, kan?"
"Kalo kamu tidak bisa, apa yang guru jelaskan itu disimak!" hardik Bu Mina.
Daniel berdecih lalu berpura-pura menyimak dengan memenghadap wajah ke papan tulis. Ini sungguh menyebalkan. Ia ingin sekali keluar dari tempat ini.
Jam istirahat pun tiba. Itu sudah waktunya Daniel tidur di sekolah. Ketika matanya hendak terpejam, seorang gadis yang ia sukai saat ini menghampiri dan mengajak membeli jajan bersama. Namanya adalah Mawar. Dia gadis yang baik dan murah senyum. Kadang ia juga suka bercanda. Dia pula anak yang cantik rupawan.
"Daniel, beli jajan, yuk!" ajak Mawar.
"Apaan, sih? Aku mau tidur juga" Daniel pura-pura kesal. Padahal ia suka dengan suaranya. Si madesu ini masih bisa juga jatuh hati.
"Gak usah sungkan. Aku yang bayarin kok. Tenang aja." ujarnya.
Seketika matanya yang terpejam itu terbelalak. Daniel pun bangun dan menoleh padanya. "Aku ikut!"
***
Di kantin, Daniel duduk bersebelahan dengan Mawar. Mereka memesan bakso dan teh manis. Keadaan ini sudah seringkali ia alami. Bukankah ini awal dari tumbuhnya rasa cinta? Memang terkesan dungu karena posisinya Daniel yang ditraktir. Bukankah seharusnya dia yang mentraktir Mawar?
Pesanan pun datang setelah mereka menunggu beberapa saat.
"Wah! Keliatannya enak nih" Daniel sok asik. Ia sengaja melakukannya karena ia ingin mencari perhatian Mawar.
"Kita kan udah sering makan disini, Dan. Kok tingkahmu seperti orang baru liatin bakso?" celetuk Mawar.
Daniel terdiam, manatap wajah Mawar datar. Ia pura-pura kesal. Entah mengapa hatinya berdebar-debar dengan sendirinya saat mereka bertatapan. Apakah itu disebut dengan cinta?
"Kenapa sih wajahmu kaya orang kesal gitu. Aku cuma bercanda tau! Gak usah bawa ke hati" ujar Mawar cekikikan seindiri.
Tawa cekikikannya itu sangat imut. Sialan! Aku tak bisa menahan image-ku yang seharusnya cool di depan cewek, batin Daniel.
"Ya sudah. Dimakan dulu, Daniel sayang!" ujar Mawar.
Tunggu! Barusan dia panggil aku sayang?
***
"Daniel, kenapa nilaimu bisa 80 sedangkan aku sendiri 100? Padahal aku udah kasih contekan matematika sama kamu. "
Mawar mengomel sambil menunjukkan nilainya tidak sesuai ekspektasi. Sekalipun begitu, entah kenapa Mawar terlihat cantik di mata Daniel.
Daniel menggaruk kepalanya, memalingkan wajah.
"Aku sebenarnya sengaja ngelakuin itu biar gak keliatan nyontek aja. Jadi aku asal jawab yang sisanya, deh." Sebenernya itu bohong. Daniel hanya tidak tega menyontek semua jawabannya.
"Ahh! Dasar Daniel! Matematika itu bagaimanapun jawabannya gak bakal berubah dengan rumusnya yang sesuai. Seperti satu ditambah satu tetap dua, tidak ada yang bisa diperdebatkan" ujar Mawar kesal.
"Maaf, deh!"
"Hmmph!! Ya, aku maafin!" Ketusnya.
"Hei, kau ngambek sama aku?"
"Gak kok! Aku cuma kecewa"
Mawar pun meninggalkan Daniel ke tempat bangku duduknya. Ia mengekor langkah Mawar. Mana tahu kalau gadis itu mulai membenci. Jadi, Daniel harus memastikannya. Mawar yang menyadari dirinya sedang diperhatikan menoleh ke arah Daniel. Ia tersenyum manis seakan berkata, "gak apa-apa. Santai aja!"
Suara manis itu menggetarkan jiwa Daniel. Ia akan berencana besok akan memacari gadis itu.
***
Keesokan harinya, Daniel membantu Mawar mengangkat setumpuk buku cetak bahasa Inggris. Bukunya cukup tebal dan banyak.
"Dan, gak keberatan tuh?" tanyanya cemas.
"Gak masalah! Cowok itu harus kuat, Mawar."
Sebetulnya ia berbohong. Ini berat banget, tau!! Pake nanya lagi. Tapi gak apa-apa kalau yang kulakukan ini semata-mata demi cintaku kepada Mawar, batinnya lagi dan lagi.
"Begitu, ya?"
"Yoi!" Ternyata kalau sudah cinta apapun dilakukan.
***
Berbagai cara mencari perhatian hatinya telah dilakukan. Sekarang adalah waktunya menyatakan perasaan! Daniel pun mengajaknya ke taman sepulang sekolah. Mereka duduk di taman berduaan.
"Mawar," panggilnya pelan.
"Ada apa, Daniel?" sahutnya sambil tersenyum manis.
"A-aku mau bicara sama kamu."
"Bilang aja, Dan! Aku bakal dengerin kok."
"Diantara semua teman yang aku kagumi kayaknya cuma kamu. Kamu sudah cantik, baik, pengertian, dan suka menolong."
"Hahaa... Kamu ini lucu deh" ujar Mawar merendah diri.
"Aku menyukai dirimu, Mawar" ucap Daniel spontan. Dia tidak bisa menahannya lagi.
...
...
...
...
"Maaf, ya, Dan. Aku gak bisa nerimain kamu" jawabnya dengan senyuman terpaksanya.
Deg! Daniel mematung. Ia tidak menyangka hasilnya akan seperti ini.
"Dan?"
"Jeng jeng jeng! Selamat anda kena prank!" Daniel berperangai seperti prankster murahan. Jujur. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, tapi mungkin kebohongan ini bukan kebohongan yang buruk.
"Oalah... Cuma prank rupanya" ujar Mawar sambil cekikikan.
Daniel berharap Mawar akan menganggap itu sebuah candaan. Menerima kenyataan bahwa dirinya payah sangat menyakitkan batinnya.
Seharusnya Daniel tidak memikirkan berpacaran apalagi menyatakan perasaan pada siapapun lagi.
Sudahlah. Daniel sudah menyerah pada hidupnya.
"Daniel, kamu mau kemana?" Mawar memanggil saat langkahnya bergerak menjauh dari bangku taman yang ia duduki.
Daniel menoleh ke belakang. Tatapannya nanar.
"Katanya mau bakso."
"Hehehe... Lupa."
Daftar bab
53 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








