
Langkah di Tengah Badai
amartyabuana|Bersambung
- Jumlah kata
- 22.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
- Jumlah kata
- 22.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
Sinopsis
novel ini menceritakan tentang seorang anak laki-laki bernama Adi yang berjuang demi kedua adik perempuan nya setelah kedua orang tuanya berpisah
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Langit yang tak lagi sama
Hujan turun sejak sore hari dan belum juga berhenti ketika malam mulai menyelimuti desa kecil itu. Rintik-rintik air jatuh di atas atap seng yang sudah mulai berkarat, menciptakan suara berirama yang biasanya terdengar menenangkan. Namun malam itu, suara hujan justru terasa seperti ratapan panjang yang memenuhi setiap sudut rumah kecil milik Adi.
Rumah itu berdiri sederhana di ujung desa. Dindingnya terbuat dari papan kayu yang mulai lapuk dimakan usia. Di beberapa bagian, celah-celah kecil membiarkan angin malam masuk tanpa izin. Dulu rumah itu terasa hangat. Dulu ada canda tawa yang mengisi ruang tamu sempit itu. Dulu ada seorang ayah yang selalu pulang membawa oleh-oleh sederhana dan seorang ibu yang tak pernah lupa menanyakan kabar anak-anaknya.
Namun semua itu kini hanya tinggal kenangan.
Adi duduk di dekat jendela yang menghadap ke jalan tanah di depan rumah. Matanya menatap kosong ke arah gelap malam. Di usianya yang baru menginjak enam belas tahun, wajahnya sudah menyimpan kelelahan yang tidak seharusnya dimiliki seorang remaja.
Sudah hampir satu tahun sejak kedua orang tuanya bercerai.
Perpisahan itu bukan sesuatu yang tiba-tiba. Selama bertahun-tahun, Adi sering mendengar pertengkaran di antara mereka. Awalnya hanya suara-suara kecil yang terdengar dari kamar. Lama-kelamaan suara itu berubah menjadi bentakan, tangisan, dan amarah yang memenuhi rumah.
Sebagai anak sulung, Adi sering berusaha melindungi kedua adiknya dari semua itu.
Ia mengajak mereka bermain di luar rumah saat pertengkaran terjadi. Ia menyalakan televisi dengan suara keras agar mereka tidak mendengar teriakan ayah dan ibu. Namun sekeras apa pun usahanya, kenyataan tetap tidak bisa disembunyikan.
Pada akhirnya, perceraian itu terjadi.
Ayah pergi meninggalkan rumah.
Ibu yang tidak memiliki pekerjaan tetap memutuskan merantau ke kota untuk mencari nafkah. Awalnya ibu berjanji akan sering pulang dan mengirim uang setiap bulan. Namun kenyataan hidup di kota ternyata jauh lebih sulit dari yang dibayangkan.
Kiriman uang semakin jarang datang.
Telepon pun semakin jarang terdengar.
Hingga akhirnya, Adi menyadari bahwa ia tidak bisa lagi bergantung kepada siapa pun.
Malam itu, suara langkah kecil terdengar dari kamar.
Dinda, adik bungsunya yang baru berusia delapan tahun, keluar sambil mengusap mata.
"Kak Adi..."
Adi menoleh dan tersenyum.
"Belum tidur, Dik?"
Dinda menggeleng pelan.
"Perutku lapar."
Kalimat sederhana itu terasa seperti pisau yang menusuk hati Adi.
Ia bangkit lalu berjalan menuju dapur. Lampu kecil yang redup menerangi ruangan sempit itu. Di dalam karung beras hanya tersisa segenggam beras yang mungkin cukup untuk sekali makan.
Adi menarik napas panjang.
Ia mengambil beras itu dan mulai memasaknya.
Tidak banyak.
Hanya cukup untuk Dinda dan Rani.
Sejak beberapa bulan terakhir, Adi sering mengurangi jatah makannya sendiri. Ia sudah terbiasa menahan lapar. Baginya yang terpenting adalah kedua adiknya bisa makan.
Ketika nasi matang, Adi menyajikannya dengan sedikit garam dan telur yang dibagi menjadi tiga bagian kecil.
Dinda makan dengan lahap.
Rani yang baru berusia dua belas tahun memandang kakaknya dengan mata berkaca-kaca.
"Kak, Kakak belum makan?"
Adi tersenyum.
"Aku sudah makan tadi di luar."
Itu bohong.
Namun Rani tidak membantah.
Ia tahu kakaknya sedang berbohong.
Dan itu justru membuat hatinya semakin sakit.
Setelah kedua adiknya kembali tidur, Adi keluar menuju teras rumah.
Hujan sudah mulai reda.
Langit malam masih dipenuhi awan gelap.
Adi memandang ke atas.
Entah sudah berapa kali ia bertanya kepada dirinya sendiri mengapa hidup harus berubah secepat ini.
Dulu ia memiliki mimpi besar.
Ia ingin menjadi guru.
Ia ingin kuliah.
Ia ingin membahagiakan kedua orang tuanya.
Namun sekarang, semua impian itu terasa begitu jauh.
Setiap hari pikirannya hanya dipenuhi satu pertanyaan.
Bagaimana cara bertahan hidup besok?
Pagi datang lebih cepat dari biasanya.
Jam empat subuh Adi sudah bangun.
Ia mencuci muka di sumur belakang rumah lalu mengenakan pakaian kerja yang mulai kusam.
Sebelum berangkat, ia menyiapkan sarapan sederhana untuk kedua adiknya.
Rani yang terbangun lebih dulu menghampirinya.
"Kak, hari ini jangan terlalu capek ya."
Adi tersenyum.
"Tenang saja."
Padahal ia tahu hari itu akan menjadi hari yang berat.
Seperti biasa, sebelum masuk sekolah, Adi bekerja lebih dulu di pasar desa.
Ia membantu para pedagang menurunkan barang dari truk.
Karung-karung berisi sayuran dan beras yang berat harus dipikul dari satu tempat ke tempat lain.
Meski tubuhnya masih muda, pekerjaan itu tetap menguras tenaga.
"Kamu rajin sekali, Di," kata Pak Hasan, salah satu pedagang.
Adi hanya tersenyum.
Baginya tidak ada pilihan lain.
Jika ia tidak bekerja, maka tidak ada uang yang bisa dibawa pulang.
Setelah selesai bekerja, ia langsung berlari menuju sekolah.
Keringat masih membasahi seragamnya.
Beberapa teman sekelas memandangnya dengan tatapan aneh.
Ada yang mengejek.
Ada yang berbisik-bisik.
Namun Adi memilih diam.
Ia sudah terlalu lelah untuk memikirkan pendapat orang lain.
Yang membuatnya bertahan hanyalah satu hal.
Kedua adiknya.
Saat pelajaran berlangsung, guru matematika membagikan hasil ujian.
Nilai Adi adalah yang tertinggi di kelas.
"Bagus sekali, Adi," kata gurunya.
Seluruh kelas bertepuk tangan.
Namun tidak ada kebahagiaan yang terlihat di wajah Adi.
Karena ia tahu nilai bagus tidak serta-merta menyelesaikan masalah hidupnya.
Sepulang sekolah, ia kembali bekerja.
Kali ini di bengkel milik Pak Budi.
Ia membantu mencuci motor dan membersihkan peralatan.
Upahnya memang tidak besar.
Namun cukup untuk membeli beras dan kebutuhan sehari-hari.
Menjelang malam, Adi berjalan pulang sambil membawa kantong plastik berisi beras, telur, dan beberapa bungkus mi instan.
Langkahnya terasa ringan.
Setidaknya malam ini adik-adiknya tidak akan tidur dalam keadaan lapar.
Ketika sampai di rumah, ia melihat Dinda dan Rani sedang belajar di ruang tamu.
Mereka langsung menyambutnya.
"Kak Adi pulang!"
Wajah ceria kedua adiknya membuat rasa lelah Adi perlahan menghilang.
Mereka makan malam bersama.
Sederhana.
Tetapi penuh kehangatan.
Di tengah makan malam itu, Dinda tiba-tiba bertanya.
"Kak, Ayah kapan pulang?"
Suasana mendadak hening.
Adi terdiam.
Rani menunduk.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Adi menjawab pelan.
"Ayah mungkin sedang sibuk bekerja."
"Kalau Ibu?"
"Ibu juga."
Dinda mengangguk meski sebenarnya ia belum mengerti sepenuhnya.
Setelah kedua adiknya tidur, Adi kembali duduk sendirian di teras rumah.
Malam terasa sunyi.
Di tangannya terdapat sebuah buku tua berisi catatan cita-citanya sejak kecil.
Ia membuka halaman demi halaman.
Di sana tertulis dengan tulisan tangan yang masih rapi:
"Aku ingin menjadi guru agar bisa mengajarkan banyak anak dan membanggakan Ayah dan Ibu."
Mata Adi mulai berkaca-kaca.
Ia menutup buku itu perlahan.
Lalu mengepalkan tangannya erat.
Mungkin hidup tidak berjalan seperti yang ia inginkan.
Mungkin jalan yang harus ia tempuh jauh lebih berat dibandingkan teman-teman seusianya.
Namun satu hal yang pasti.
Ia tidak boleh menyerah.
Ia tidak akan membiarkan kedua adiknya merasakan penderitaan yang lebih besar.
Ia akan bekerja sekeras mungkin.
Ia akan melindungi mereka.
Ia akan memastikan mereka tetap sekolah.
Dan suatu hari nanti, apa pun yang terjadi, ia akan membuktikan bahwa anak yang ditinggalkan keadaan pun bisa meraih masa depan.
Di bawah langit malam yang masih menyisakan awan kelabu, Adi memandang jauh ke depan.
Perjalanan hidupnya baru saja dimulai.
Dan tanpa ia sadari, badai yang jauh lebih besar sedang menunggunya di depan.
Daftar bab
20 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








