
Mantan Preman Jadi Kyai
Bp. Juenk|Bersambung
- Jumlah kata
- 140.9K
- Popular
- 465
- Subscribe
- 44
- Jumlah kata
- 140.9K
- Popular
- 465
- Subscribe
- 44
Sinopsis
Jono preman Cibangkong dijuluki "Setan Cibangkong" karna tangan besinya, tersadarkan oleh ujian-ujian kehidupan dan panggilan hati. Perlahan Ia berproses belajar ilmu agama dan mulai dipercaya menjadi Kyai. Namun pertaubatan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ketulusan, keistiqomahan dan keikhlasan harus di uji.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1. Setan Cibangkong
Langit Bandung sore itu kelabu. Awan mendung menggantung rendah di atas Jalan Cibangkong, seolah enggan melepaskan panas yang terperangkap di antara deretan kios dan lapak-lapak kaki lima yang berjejer tak beraturan.
Jam menunjukkan pukul setengah empat sore. Waktu yang biasa menjadi penanda bagi para pedagang kaki lima di kawasan Cibangkong untuk mulai berbenah, menyiapkan dagangan untuk menyambut jam pulang kantor.
Tapi hari ini berbeda, kegelisahan tampak jelas di wajah-wajah mereka. Tatapan mata was-was sesekali melirik ke ujung jalan, ke arah warung kopi tua tempat tiga sosok lelaki biasa duduk sambil bermain kartu.
"Sabar, Mang. Mungkin hari ini mereka gak datang," bisik Siti, penjual cilok sambil mengelap keringat di dahinya.
Mamat, penjual nasi uduk yang sudah lima belas tahun berjualan di tempat yang sama, hanya menggeleng pelan.
"Percuma, Teh. kamu kayak orang baru aja teh. Mereka gak pernah bolos hari Jumat."
Kata-kata Mamat membuat Siti menarik napas panjang. Baru delapan bulan dia berjualan di sini. Cukup lama untuk tahu siapa yang menguasai kawasan ini.
Dan benar saja.
Dari kejauhan, suara knalpot dua motor usang yang suara knalpotnya kasar terdengar mendekat. Siti meneguk liur.
Seorang lelaki berambut cepak berkulit agak gelap turun dari motor Honda Revo dengan gaya yang dibuat santai. Kaos oblong hitam yang dikenakannya terlihat lusuh, kusam karena terlalu sering dipakai tanpa dicuci bersih.
Lengan kaosnya digulung sampai bahu, memperlihatkan lengan kanannya yang penuh tato naga dan kiri dengan tato singa. Badannya besar dan tegap.
Itu Mang Jono.
Orang-orang Cibangkong mengenalnya dengan satu nama panggilan yang membuat bulu kuduk merinding: Setan Cibangkong.
Di belakangnya, dua pemuda dengan postur lebih ringkih turut menyandarkan motor di pinggir jalan. Yang satu kurus tinggi dengan tutup kepala terbalik, matanya sipit dan selalu menyeringai—itu Ucup.
Otak culun kata orang, karena walau terlihat lugu, dia yang biasa mencatat siapa saja yang sudah bayar dan siapa yang belum. Dia pintar menghitung dan punya ingatan tajam soal setoran.
Satu lagi, Boy. Pendek, tegap dengan brengsek tipis di dagu. Matanya bundar melotot seperti orang marah terus-menerus. Dialah eksekutor lapangan.
Jika Mang Jono memberi kode, Boy bisa memecahkan kaca etalase atau membalikkan gerobak dengan tendangan kakinya yang terkenal keras.
Mang Jono berjalan pelan, langkah kakinya berat dan datar seperti tidak ada yang menghalangi pijakannya. Dia melewati lapak Suti, penjual jamu gendong, yang langsung menunduk dalam-dalam sambil menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan.
"Untuk dua minggu kemarin, Mang. Maaf baru sekarang," kata Suti dengan suara bergetar.
Mang Jono menyambar uang itu tanpa melihat. Dilipatnya kecil lalu dimasukkan ke kantong celana jins hitam yang sudah pudar warnanya.
Di lapak berikutnya, seorang pemuda yang baru seminggu berdagang tahu bulat mulai gemetar. Tangannya memegang uang dua lembar lima puluhan, tapi kaki sepertinya berat untuk melangkah. Ucup menghampiri pemuda itu dengan senyuman culunnya—senyuman yang sama sekali tidak ramah.
"Wah, bau tahu bulat nih. Enak ya, Mas?" ujar Ucup sambil mengendus-endus udara. "Coba sepuluh biji, gratis ya. Kan pedagang baru biasanya bagi-bagi."
Pemuda itu tersenyum canggung. Dia sudah mendengar cerita dari pedagang lain. Tahu bulat di gerobaknya seharga seribu per biji. Memberi sepuluh gratis, itu tidak masalah.
"Siap, Mas. Silakan," kata pemuda itu sambil membalik-balikkan tahu bulat yang mengembang di penggorengan mini.
Ucup mengambil tahu bulat yang pertama, meniupnya sebentar, lalu memakannya utuh.
"Enak, sayang gorengnya pakai minyak bekas ya, Mas? Bau minyak jelantah."
Pemuda itu terdiam. Ucup tertawa kecil lalu meninggalkannya, pergi menuju lapak lain dengan catatan kecil di genggamannya—isinya daftar nama dan jumlah setoran tiap pedagang.
Boy berjalan di sisi berlawanan. Dia tidak banyak bicara. Cukup berdiri di samping lapak, memasang muka paling bengis yang dia punya, lalu tunggu sampai uang setoran meluncur ke tangannya.
Sampai akhirnya Mang Jono berhenti di sebuah lapak yang terlihat berbeda. Letaknya agak terpisah dari deretan PKL lainnya, tepat di tikungan yang menjadi spot strategis karena menjadi tempat orang berhenti membeli sebelum belok ke perumahan.
Lapak itu sederhana: meja kayu dadakan dengan kain terpal biru sebagai tenda, menjual aneka pentol, cilok, dan batagor.
"Baru, ya?" tegur Mang Jono tanpa basa-basi.
Seorang perempuan muda dengan kerudung cokelat muda menegakkan badan. Wajahnya pucat. Dia memegang penjepit pentol dengan tangan gemetar.
"Iya, Mang. Baru dua hari," jawabnya pelan.
"Mana yang jaga sebelumnya?"
"Kakak saya, Mang. Tapi dia... lagi sakit. Jadi saya yang gantian."
Mang Jono mengangguk-angguk. Matanya menyusuri lapak itu. Mejanya bersih. Makanan ditata rapi. Bahkan ada taplak plastik bermotif bunga di atas meja. Dia menyentuh taplak itu, merasakan plastiknya yang baru.
"Bagus. Rapih ini mah. Tapi ada aturan di sini. Pedagang baru minggu pertama gratis. Minggu kedua, setor. Tiga puluh ribu per hari, gak pake kompromi. Ngerti?"
Perempuan itu mengangguk. "Ngerti, Mang. Saya Nining. Kakak saya bilang begitu."
"Bagus kalau kakak lo udah ngasi tahu. Tapi lo gak usah nyetor dulu, seminggu lagi aja. Nanti lo nyari Boy kalau mau bayar. Yang gendut itu."
Mang Jono menunjuk ke arah Boy yang sedang duduk di atas gerobak bakso sambil menggerutu karena gerobaknya terasa panas.
Nining menghela napas lega.
Sementara pedagang lain memandang Nining dengan campuran simpati dan peringatan tak bersuara—bersiaplah, karena baru permulaan.
Tapi Mang Jono belum selesai.
Di ujung barisan, seorang lelaki setengah baya dengan kacamata minus tebal tengah merapikan lapak ciloknya. Dia bukan pedagang baru. Sebenarnya dia sudah setahun berjualan di ujung Pasar Kopro.
Tapi tiga hari lalu dia memindahkan lapaknya ke sini, ke wilayah yang lebih ramai, tanpa izin. Tanpa setoran. Atau tanpa melapor.
Lelaki itu bernama Kosim. Pedagang cilok keliling yang nekat membuka lapak tetap di tempat yang dia anggap lebih strategis.
Mang Jono berdiri di depan lapak Kosim. Dia tidak bicara. Hanya berdiri, merokok, dengan asap mengepul dari hidungnya seperti naga dalam film laga.
"Maaf, Mang. Maaf," Kosim berkali-kali mengucapkannya sambil merunduk. "Saya pindah dari Kopro, teu apal aturan di dieu. Saya baru, Mang. Saya bersedia bayar."
Mang Jono membuang puntung rokoknya ke lantai, menginjaknya dengan sol sepatu karetnya yang tebal. "Aturan di sini, kalau pindah, harus lapor dulu sama aing. Atau sama Boy. Atau sama Ucup. Gak boleh langsung jualan. Karena kita udah punya kuota untuk berapa PKL per meter.”
"Tapi Mang, di sini kosong. Saya pikir..."
"Lo pikir?" Mang Jono menyela dengan suara meninggi. "Lo pikir aing ngurusin semuanya? Lo pikir gampang ngatur orang-orang macem-macem?"
Kosim terdiam. Wajahnya pucat pasi. Pedagang lain mulai menjauh, pura-pura sibuk dengan dagangan masing-masing. Mamat, penjual nasi uduk, menggeleng pelan sambil berdoa dalam hati semoga anak semata wayang Kosim—yang biasa membantu jualan setelah pulang sekolah—tidak ikut hari ini.
"Oke," Mang Jono berkata dengan nada yang tiba-tiba menjadi tenang. Tenang yang justru lebih menakutkan.
"Lo gak mau lapor dulu. Lo gak mau patungan. Lo mao enaknya aja."
Dia berbalik mencari Boy. "Boy, ke sini."
Boy berjalan dengan kaki menyeret, wajah bengisnya kali ini terlihat antusias.
"Bantuin Aing," kata Mang Jono sambil menunjuk lapak Kosim. "Rapihin. Kasihan lapaknya berantakan."
Boy tersenyum. Senyuman singkat penuh kenikmatan.
Dia berjalan mendekati lapak Kosim, lalu tanpa aba-aba dengan kedua tangannya mendorong meja kayu kecil tempat aneka pentol dan cilok disusun. Meja itu terguling.
Pentol dan cilok bergelimpangan ke aspal. Saus kacang tumpah. Air rebusan panas mengucur ke jalan. Botol kecap pecah.
Kosim berteriak, "Ampun, Mang! AMPUN!"
Terlambat.
Boy mengangkat satu kakinya dan menendang panci rebusan dengan brutal. Panci itu terbang, berputar beberapa kali di udara, lalu jatuh dengan bunyi memekakkan dan air panasnya menyiram pengendara motor yang kebetulan lewat.
"Celaka!" teriak pengendara motor itu sambil menghindar hampir jatuh.
"Ada apa ini?" bentak pengendara lain yang hampir menabrak panci yang berguling di tengah jalan.
Mang Jono hanya berdiri menyilangkan tangan, tidak terpengaruh oleh pengendara yang protes. Dia memandang Kosim yang kini berlutut di antara barang dagangannya yang berserakan, menangis terisak-isak.
"Besok lo balik ke Kopro," kata Mang Jono dengan dingin. "Jangan pernah lo jualan di sini lagi. Karena kalau lo masih ada di sini, aing gak bisa jamin lapak lo bakal utuh. Ngerti?"
Kosim hanya bisa mengangguk sambil membungkukkan badan. Harga dirinya hancur bersama pentol-pentol yang kini diinjak-injak pejalan kaki dan dilindas ban motor.
Mang Jono berbalik dan berjalan perlahan, kembali ke arah motor-motor mereka yang terparkir. Sepanjang jalan, para pedagang yang lain berebut menyodorkan uang setoran.
Ada yang lima puluh ribu, ada yang tiga puluh, ada yang bahkan seratus, semata-mata untuk menghindari nasib serupa.
Boy menerima uang-uang itu dengan enteng, sesekali menghitung dengan jari-jari pendeknya yang hitam akibat keringat dan debu. Ucup mencatat di bukunya, sesekali mengoreksi Boy jika merasa jumlahnya kurang.
"Kurang nih, Mang Boy. Dua puluh. Lo cek lagi," kata Ucup sambil menunjuk nama seorang pedagang sayur.
Boy menggerutu, tapi kembali lagi ke lapak pedagang sayur yang wajahnya langsung pucat. Pedagang sayur itu menggelar dompetnya, mengeluarkan dua lembar sepuluh ribuan yang diselipkan di balik foto anaknya, lalu menyerahkan dengan tangan gemetar.
"Maaf, Mang Boy, saya kira minggu depan."
"Ya udah, minggu depan ditambahin," potong Boy sambil menyambar uang itu.
Seorang lelaki paruh baya yang menjaga parkiran motor di seberang jalan menghampiri Ucup. Bajunya rompi orange lusuh, bertuliskan "PARKIR RESMI" yang sudah pudar.
Lelaki itu bernama Yanto. Sudah tujuh tahun mangkal di tempat itu. Dia termasuk bawahan Mang Jono. Bukan pedagang yang disetori, tapi anak buah yang ikut 'mengamankan' kawasan.
"Laporan, Mang Ucup. Hari ini parkiran aman. Dua motor gak bayar, udah dikasih paham," kata Yanto sambil menyodorkan amplop cokelat kecil yang sedikit tebal.
Ucup menerima amplop itu, membuka sebentar, menghitung dengan cepat, lalu mengangguk. Tawanya culun.
"Mantap, Mang Yanto. Lain kali, motor yang gak bayar, bannya dikempesin aja. Biar kapok."
"Ngertos, Mang," jawab Yanto sambil membungkuk, lalu kembali ke pos parkirannya.
Mang Jono duduk di atas jok motor Honda Revonya sambil menyalakan rokok baru. Dia tidak ikut mencatat atau menerima uang.
Pekerjaan mengumpulkan itu untuk Ucup dan Boy. Dia hanya perlu berada di sana, hadir dengan wajahnya, dengan lengan tato dan badannya yang besar, dan semua orang akan mengerti siapa yang berkuasa.
Setelah semua pedagang tercatat dan setoran terkumpul—entah sebagian atau seluruhnya, yang penting tidak ada yang berani menolak—Ucup dan Boy kembali ke tempat Mang Jono.
"Total hari ini, Mang. Dari PKL dua juta tiga ratus. Dari parkiran sejuta. Dari toko-toko juga ada yang nitip," lapor Ucup sambil membuka buku catatannya.
Mang Jono hanya mendengus. "Ya udah, dibagi. Dua puluh persen buat benah-benah."
Maksudnya 'dibagi', Ucup paham.
Ucup mengambil bagian Mang Jono separuh dari total, lalu sisanya dibagi dua antara dia dan Boy. Itu sudah kesepakatan tidak tertulis: Mang Jono setengah, sisa setengah lagi dibagi dua untuk berdua. Belum termasuk yang kadang dipotong untuk 'dana tak terduga'—istilah Ucup untuk kebut uang rokok atau minuman keras.
"Boy, lo anterin uang ke Bini Aing. Jangan sampe kececer," kata Mang Jono sambil menyerahkan satu amplop cokelat kepada Boy. Boy mengangguk patuh.
Basecamp mereka berada di sebuah rumah kontrakan sederhana di gang becek di belakang Pasar Cibangkong. Rumah itu milik Haji Nurdin yang sudah tua dan tidak berani berbuat banyak karena setiap bulan mendapat 'sumbangan sukarela' dari Mang Jono—istilah lain untuk pungli.
Mang Jono duduk di kursi plastik warna merah, di samping meja kayu yang permukaannya penuh lingkaran bekas gelas dan rokok. Ucup duduk di lantai, bersandar di tembok, memainkan ponsel jadulnya.
Beberapa anak buah lain mulai berdatangan: ada Ibing yang jaga keamanan pasar, ada Asep yang bertugas di parkiran Indomaret sebelah, dan ada Dadang yang mengatur preman-preman kecil di sektor timur Cibangkong.
Semua berkumpul. Laporan demi laporan disampaikan. Ucup mencatat di buku Narutonya. Boy belum kembali dari mengantar uang ke rumah Mang Jono.
Di rumah itu—di sebuah petak kontrakan sempit di pinggiran Cibangkong—istri Mang Jono menerima amplop cokelat dengan ekspresi datar. Dia sudah terlalu lelah marah.
Terlalu lelah berharap berubah. Terlalu lelah untuk menangis. Dia hanya mengambil amplop itu, menyimpannya di bawah kasur.
Putri Mang Jono yang masih SMP belum pulang. Gadis kecil yang menjadi satu-satunya alasan Mang Jono masih mengirim uang, satu-satunya kelembutan di tengah kerasnya kehidupan setan Cibangkong.
Di basecamp, segelas tuak mulai disiapkan. Ucup menuang ke gelas plastik. Mang Jono mengambil gelas pertama, menenggaknya tanpa jeda. Sebelum mabuk mengambil alih kesadarannya, Mang Jono sempat bergumam pada Ucup.
"Coba lo panggil Nining, tuh cewek baru yang jualan cilok. Suruh ke sini. Gue mau ngomong."
"Ada apa, Mang?" tanya Ucup.
“Lo mau tau aja.”
Ucup manggut-manggut, Ia melangkah keluar basecamp menembus gang becek. Di kejauhan, suara azan Mghrib mulai berkumandang.
Daftar bab
106 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
106 bab








