
Luka yang tidak pernah sembuh akhirnya menjadi tenang.
There|Bersambung
- Jumlah kata
- 16.4K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
- Jumlah kata
- 16.4K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
Sinopsis
Saya seorang anak laki-laki yang penuh luka. Berawal dari seorang anak yang seharusnya tidak dilahirkan secara normal dan sempurna tapi justru kebalikannya, aku terlahir normal dan sempurna. Tapi aku harus menjalani berbagai masalah dan ritual aneh hingga berumur 21 tahun. Apakah semua selesai setelah itu? tidak. Aku harus menjalani ritual ikatan pernikahan dengan Nyi Samudrawanata seumur hidup.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Awal mula semua terjadi..
Saya seorang anak laki-laki yang bernama Leonard Kevin Hantara. Aku dulu terlahir normal seperti anak lainnya, tapi aku berbeda. Saat ibuku sedang mengandung, ibuku sering percaya dengan ilmu hitam atau dukun. Ibu tidak percaya jika aku akan dilahirkan secara tidak normal, jadi ibu meminta dukun untuk membuatku terlahir sempurna dan normal. Sang dukun meminta imbalan yang seimbang untuk keinginan ibuku. Ya, ibuku menerima imbalan itu meski tidak rela. Hingga akhirnya aku lahir. Tapi aku lahir dengan beban yang harus aku tanggung seumur hidupku.
Suatu sore, aku pulang sekolah. Aku sudah berusia 19 tahun. Dan saat ini aku akan menyelesaikan pendidikan ku di sekolah menengah atas. Aku berjalan menuju rumahku yang terbuat dari jerami dan kayu sisa dari penebangan yang tidak terpakai. Tidak mewah tapi setidaknya dapat membuat aku nyaman dengan keluarga utuh dan kebahagiaan dari keluarga. Aku anak tunggal yang tidak seberuntung anak lainnya. Aku baru saja sampai didepan rumahku. Aku melihat ibuku sedang membakar kayu untuk memasak hingga akhirnya ibuku menoleh dan melihat ke arahku. "Eh anak ibuk wes moleh, mrene sek nduk bantu ibuk masak" (Eh anak ibu sudah pulang, sini dulu nak bantu ibu masak.) Aku mengangguk pelan dan segera menghampiri ibuku. Ibuku membantuku melepaskan tas sekolahku dan menaruhnya di atas kursi sofa yang usang dan bekas. Ibuku duduk disampingku didepan kayu yang sedang di bakar untuk memasak. "Le, wes mangan durung?" (Le, sudah makan belum?) Ibu berbicara pelan sambil mengelus punggungku lembut. "Uwes ma, tadi nang sekolah wes dapet mbg. Leo mangan paling akeh sampe kekenyangan ma" (sudah ma, tadi di sekolah sudah dapat mbg. Leo makan paling banyak sampai kekenyangan) Aku tertawa pelan hingga membuat ibuku tertawa juga.
Malam hari tiba, aku sedang duduk di kursi belajarku di dalam kamar tidurku. Aku menatap ke arah dinding yang terbuat dari jerami. Di dinding itu banyak tempelan sticky note tentang kuliah di luar negri. Aku berpikir untuk kuliah di korea, tapi aku tidak mungkin meninggalkan ayah dan ibuku dirumah sendirian. Aku juga tidak memiliki uang, aku harus bekerja karena aku adalah seorang anak laki-laki tunggal. Aku menatap kosong ke arah catatan tertempel di dinding. Tanpa aku sadari, aku tidak sendirian. Ada sosok yang memeperhatikan aku. Sosok itu hanya diam saat melihatku diam menatap kosong ke arah dinding. Aku tidak menyadarinya hingga suara ibuku menyadarkan aku. "Leo ayo mangan sek!" (Leo ayo makan dulu) Suara ibuku terdengar dari arah ruang makan. Aku bangkit dari kursi belajar dan berjalan menuju ruang makan "iya buk, Leo datang" aku duduk di samping bapakku. Makan malam berjalan dengan tenang dan damai seperti biasanya. Aku kembali ke kamar tidurku, melihat ke arah ponselku sambil berbaring di atas kasur. Membuka pesan dari temanku yang menawarkan lowongan pekerjaan. Aku segera menyetujuinya. Aku segera bangkit dari kasur menuju ruang tamu. Melihat ibu dan ayahku sedang bercerita hingga aku memotong pembicaraan mereka. "Ayah ibuk, aku wes dapet kerjaan di kota!" Aku menatap ayah dan ibuku dengan semangat. Tapi sebaliknya, ayah ibuku hanya saling bertatapan dengan ragu sebelum ayah mengatakan "Leo, kamu mau kerja dimana? Jangan jauh-jauh dari desa." Senyumku memudar saat mendengar itu "Kenapa ayah? Ini lumayan loh kerja di kota bisa dapat 6 juta perbulan dengan bekerja sebagai asisten CEO" Aku menatap ayahku bingung. "Intine kamu ora oleh keluar dari desa ini Leonard. Ayah ora setuju" (intinya kamu tidak boleh keluar dari desa ini Leonard. Ayah tidak setuju). Aku memucat, bertanya dalam hatiku dengan rasa penasaran yang sangat tidak tenang. "Kenapa ayah? Onok opo lek aku jauh dari desa?" (Kenapa ayah? Ada apa kalau aku jauh dari desa?) Aku sangat bingung sekarang hingga ayahku menggebrak meja keras "Pokoke ayah ora gelem kowe lunga marang desa iki!" (Pokoknya ayah tidak mau kamu pergi dari desa ini) Aku dan ibuku kaget. Jelas, ayah tidak pernah sekalipun berkata keras seperti ini..
Ibuku segera menenangkan ayahku. "Wes mas, iki iso di omongi sesuk wae. Iki wes bengi, takut ganggu wong laine.." (sudah mas, ini bisa diomongin besok saja. Ini sudah malam takut ganggu orang lain.) Ibuku menarik lengan ayahku pelan menuju kamar mereka sendiri. Aku berdiri diam disana dengan emosi, bingung, kaget, dan banyak lagi yang aku rasakan. Aku terdiam hingga beberapa menit. Aku kembali ke kamarku dengan pikiranku yang rumit sekali sekarang. Aku berbaring di atas kasur sambil menutupi seluruh tubuhku dengan selimut. Menangis pelan hingga membuat orang lain tidak bisa mendengar tangisanku. Aku adalah anak laki-laki yang kuat, tapi mendengar bentakan aku kalah. Aku tidak bisa mendengar bentakan, akan aku lakukan semuanya kecuali di bentak. Aku menangis disana hingga pagi tiba, aku terbangun dan berjalan keluar dari kamar. Aku melihat ayahku duduk di sofa sambil meminum secangkir kopi. Wajahnya terlihat tegas dan tidak seperti dulu. Aku menghampiri ayahku perlahan dan duduk disampingnya. "Ayah, sebenere kenapa kok aku gaoleh keluar dari desa?" Aku berbicara pelan agar tidak membuat ayah marah lagi seperti tadi malam. Ayahku tidak menoleh ke arahku, hanya menaruh cangkir kopi di atas meja "wes talah nuruto ae, iki yo gawe kebaikanmu pisan. Ayah gak gelem kowe kenapa-napa lek lunga marang desa iki" (sudahlah nurut aja, ini ya buat kebaikan mu. Ayah gamau kamu kenapa-napa kalau pergi dari desa ini). Aku hanya terdiam. Tidak menanyakan lebih lanjut. Tapi aku harus tau kenapa ayah tidak mau aku pergi dari desa ini. Aku mengangguk pelan dan bertanya pelan "lek aku kerja didesa, aku kerja opo pak?" Ayahku menatapku dengan tegas "melu bapak kerja nang sawah" (ikut bapak kerja di sawah). Aku mengangguk lagi, pelan dan tidak protes. Sebenarnya dalam hatiku berkata untuk mencari tau sendiri apa yang telah terjadi sebelumnya. Hingga keesokan harinya, aku sedang menjalani hari libur sekolahku. Aku ikut ayahku ke sawah. Sawah itu harus melewati kebun jagung yang lebat sekali. Aku berjalan sambil beberapa orang menyapaku karena ketampanan ku yang berbeda dari lainnya. Aku berhenti didepan sawah sambil melihat sekeliling. Aku melihat beberapa orang sedang menanam padi dan beberapa orang sedang memanen padi. Aku mengikuti ayahku menuju lahannya sendiri, menanam padi, membantu melihat apakah ada padi yang rusak karena gigitan serangga. Aku bekerja sangat keras dari pagi hingga sore. Aku tidak menyadari waktu cepat sekali berlalu, ayahku mengajakku pulang tapi aku mengulur waktu hingga matahari mulai tenggelam. Gelap, sunyi, dan tanpa cahaya. Ayahku mengeluarkan senter di sakunya dan mulai berjalan didepanku, aku mengikuti ayahku dari belakang. Hingga kakiku di tarik oleh tangan seseorang dari belakang yang membuatku jatuh.
Daftar bab
15 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








