
- Jumlah kata
- 52.8K
- Popular
- 472
- Subscribe
- 149
Sinopsis
Bagi Rian, dikirim sang ayah untuk memimpin perusahaan cabang di London bukanlah sebuah pembuktian diri, melainkan sebuah "hukuman pengasingan". Alih-alih diberi kebebasan, kemanjaannya justru dikekang dengan kehadiran Tiara—seorang pengasuh sekaligus pelayan pribadi yang disewa ayahnya untuk mengurus segala kebutuhannya di luar negeri. Rian yang cerdas namun keras kepala, awalnya menganggap Tiara sebagai gangguan dan mata-mata sang ayah. Namun, Tiara bukanlah wanita biasa. Sebagai janda muda yang tangguh dan terbiasa hidup keras setelah ditinggal mati suaminya, Tiara menghadapi sikap dingin dan sifat manja Rian dengan kedewasaan serta kesabaran yang tak tergoyahkan. Di balik seragam kerjanya yang rapi, pesona matang dan tubuh indah Tiara perlahan-lahan mulai meruntuhkan dinding pertahanan Rian. Tinggal berdua di bawah satu atap apartemen mewah di tengah romantisnya Kota Paris, batasan profesional antara majikan dan pelayan mulai mengabur. Setiap perhatian kecil Tiara di kala Rian stres menghadapi tekanan bisnis, berubah menjadi percikan emosi yang intens. Rian mulai melihat Tiara bukan lagi sebagai pengasuh, melainkan sebagai sosok wanita dewasa yang sangat ia inginkan. Ketika gairah terlarang mulai tak terbendung, mereka harus memilih: tetap profesional demi masa depan, atau menyerah pada godaan intim di Kota Cahaya?
Ulasan
1 ulasan
Eko Sumanto
3/7/26 01:13
good story, sangat menarik biar pun ada vulgar2nya tp bs diterima karena berdasarkan hubungan cinta yg mengalir alami & manusiawi seperti pd umumnya, bukan hubungan cinta yg trjadi lewat bantuan giok warisan kuno, pelet, batu kali keramat, kultivasi sistem atau apalah yg aneh2
BAB 1: Sangkar Emas dan Pengawal Baru
Ruang kerja berlantai marmer itu terasa begitu dingin, kontras dengan hawa sore Jakarta yang membakar di luar jendela kaca besar. Di balik meja kayu ek yang kokoh, seorang pria paruh baya menatap putra tunggalnya dengan tatapan yang tak terbantahkan.
"Ayah tidak sedang bernegosiasi denganmu, Rian. Tiket penerbangan ke London sudah diatur untuk akhir pekan ini," suara Arga terdengar tenang, namun sarat akan otoritas mutlak yang membangun dinasti bisnisnya.
Rian, yang duduk di sofa kulit seberang meja, mendengus kasar. Pemuda berusia dua puluh satu tahun itu menyugar rambutnya yang sedikit berantakan dengan gestur frustrasi. Meskipun dia cerdas dan kerap lulus dengan nilai terbaik di kelas bisnisnya, predikat sebagai anak miliarder yang terbiasa hidup dimanja tak bisa sepenuhnya hilang dari pembawaannya.
"Tapi kenapa harus Rian yang ke London, Yah? Perusahaan cabang di sana baik-baik saja. Ayah sengaja kan, mau membuang Rian jauh-jauh supaya Rian enggak bisa main-main lagi di sini?" protes Rian, suaranya naik satu oktav. Gengsinya terusik. Dia merasa kemampuannya diremehkan jika harus dipindahkan ke belahan bumi lain seolah-olah sedang dihukum.
Arga menghela napas, menyandarkan punggungnya. "Kamu cerdas, Rian. Ayah tahu itu. Tapi kamu terlalu manja. Selama kamu masih di bawah ketiak fasilitas Ayah di Jakarta, kamu tidak akan pernah memimpin dengan benar. Di London, kamu harus memegang kendali penuh atas operasional cabang. Ini pembuktianmu."
"Rian bisa buktikan di sini! Rian bisa urus semuanya sendiri tanpa harus pindah negara!"
"Sendiri?" Arga tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat Rian langsung merasa tersudut. "Kamu bahkan tidak tahu cara menyalakan mesin cuci atau menyiapkan sarapanmu sendiri kalau semua pelayan di rumah ini mogok kerja, Rian. Sifat manjamu itu yang harus dikikis."
Sebelum Rian sempat membalas dengan argumen lain, pintu ruang kerja diketuk dua kali. Atas isyarat dari Arga, pintu tersebut terbuka, memunculkan seorang wanita yang sejak tadi menunggu di luar.
"Masuk, Tiara," panggil Arga.
Rian yang awalnya hendak melanjutkan protesnya langsung terdiam. Pandangannya otomatis terkunci pada sosok wanita yang baru saja melangkah masuk dengan anggun namun penuh kesopanan.
Wanita itu bernama Tiara. Dia mengenakan kemeja putih formal yang rapi dan rok sepan hitam selutut. Pakaiannya sangat standar untuk seorang pekerja profesional, namun tidak bisa menyembunyikan lekuk tubuhnya yang indah dan proporsional—sebuah daya tarik alami yang langsung tertangkap oleh mata muda Rian. Rambut hitamnya disanggul rapi ke belakang, membingkai wajahnya yang cantik dengan garis kedewasaan yang matang. Di usianya yang masih tergolong janda muda, ada gurat ketegaran di matanya—tatapan seseorang yang sudah kenyang ditempa kerasnya hidup setelah kehilangan suaminya, tanpa sanak saudara tempat bersandar.
"Selamat sore, Pak Arga. Selamat sore, Den Rian," ucap Tiara lembut, membungkuk hormat. Suaranya terdengar tenang, memancarkan aura seorang wanita yang tahu persis bagaimana membawa diri.
"Rian, perkenalkan. Ini Tiara," kata Arga, memecah keheningan sesaat di ruangan itu. "Dia yang akan ikut bersamamu ke London. Tiara sudah menandatangani kontrak untuk menjadi pelayan pribadi sekaligus pengasuhmu selama kamu bertugas di sana."
Mata Rian membelalak. Rasa terkejut sekaligus tersinggung langsung bergejolak di dadanya. "Tunggu... apa?! Pengasuh? Ayah, Rian sudah dua puluh satu tahun! Rian bukan anak balita yang butuh babysitter untuk diceboki atau disuapi makan!"
Rian berdiri dari sofanya, menunjuk ke arah Tiara dengan tatapan tidak percaya. Sebagai cowok dewasa yang cerdas, memiliki seorang pengasuh pribadi di luar negeri benar-benar sebuah penghinaan bagi harga dirinya.
Tiara tetap berdiri bergeming di tempatnya, tidak menunjukkan kepanikan atau rasa tersinggung atas reaksi meledak-ledak dari calon majikan mudanya. Dia justru menatap Rian dengan senyuman tipis yang sangat tenang, seolah sudah memprediksi bahwa tugas menghadapi anak miliarder yang manja ini tidak akan berjalan mudah sejak hari pertama.
"Tugas Tiara bukan untuk mencebokimu, Rian," sahut Arga dengan nada memperingatkan. "Dia yang akan mengurus seluruh kebutuhan logistikmu di apartemen London. Memastikan makananmu bergizi, pakaianmu siap untuk rapat, dan memastikan rumahmu tidak hancur berantakan karena ketidakpedulianmu. Dan yang paling penting... dia akan melaporkan setiap perkembangan dan kedisiplinanmu langsung kepada Ayah."
Rian menatap Tiara dengan pandangan tajam, mencoba mengintimidasi wanita di depannya. "Jadi, dia ini pelayan sekaligus mata-mata Ayah?"
Tiara akhirnya membuka suara, tatapannya langsung bertemu dengan sepasang mata Rian yang sedang emosi. "Saya hanya menjalankan tugas profesional saya untuk membantu memudahkan keseharian Anda selama di luar negeri, Den Rian. Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik."
Mendengar suara lembut namun penuh ketegasan itu, Rian mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Di satu sisi, dia sangat membenci keputusan sepihak ayahnya dan kehadiran "pengawas" baru ini. Namun di sisi lain, saat matanya kembali memperhatikan bagaimana pakaian formal itu memeluk erat lekuk tubuh matang Tiara, sebuah debaran aneh yang tak menentu mendadak menyelinap di sudut hatinya.
Tinggal berdua di negara orang dengan wanita sehangat dan seindah ini... Rian tahu, perjalanannya ke London tidak akan pernah sama lagi.
Gemuruh mesin pesawat berbadan lebar itu meredam keheningan di dalam kabin kelas bisnis. Di luar jendela, gumpalan awan putih perlahan berubah gelap seiring pesawat yang membawa mereka terbang menjauhi zona waktu Jakarta menuju London.
Rian duduk bersandar di kursi nyamannya, sengaja memasang headphone peredam bising berlogo huruf 'H' di telinganya meski tidak ada musik yang diputar. Matanya terpejam, namun pikirannya sama sekali tidak tenang. Di sampingnya, dipisahkan oleh sekat pembatas kabin yang mewah, duduk Tiara.
Sejak mereka menginjakkan kaki di bandara hingga masuk ke dalam pesawat, Tiara benar-benar menjalankan perannya dengan sangat efisien. Wanita itu menangani seluruh urusan bagasi, paspor, hingga memastikan posisi duduk Rian mendapatkan kenyamanan maksimal. Sifat telaten Tiara yang mandiri—karena tuntutan hidup kerasnya sebagai yatim piatu yang berjuang sendiri—membuatnya terlihat sangat cekatan.
Rian membuka matanya sedikit, melirik ke arah samping. Tiara sedang fokus membaca sebuah berkas panduan mengenai wilayah tempat tinggal mereka nanti di London. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya, memberikan kesan intelektual yang berkelas pada wajah cantiknya. Kemeja kerja yang ia pakai sejak sore tadi kini sedikit longgar karena kancing teratasnya dibuka untuk kenyamanan selama penerbangan belasan jam, memperlihatkan kulit lehernya yang putih bersih dan kontur tulang selangka yang tegas.
Merasa ada yang memperhatikan, Tiara menoleh. Pandangan mereka bertemu. Tiara langsung melempar senyum profesionalnya yang hangat, lalu melepas kacamatanya.
"Ada yang bisa saya bantu, Den Rian? Mau saya pesankan minuman hangat pada pramugari?" tanya Tiara lembut, sedikit mendekatkan tubuhnya ke arah sekat agar suaranya terdengar jelas oleh Rian.
Rian buru-buru melepas headphone-nya, mencoba mempertahankan wajah angkuh dan cueknya untuk menjaga gengsi sebagai majikan. "Enggak usah. Dan berhentilah memanggilku 'Den'. Ini bukan di rumah Jakarta. Kita mau ke London, Tiara. Panggilan seperti itu terdengar konyol di sana."
Tiara mengangguk maklum tanpa terlihat tersinggung. "Baik, kalau begitu saya akan memanggil Anda 'Mas Rian' atau 'Pak Rian' jika sedang berada di lingkungan kantor nanti. Bagaimana?"
"Terserah. Asal jangan panggil aku seolah-olah aku ini bocah SD yang sedang kamu asuh," ketus Rian, memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela pesawat.
"Saya tahu Anda pria dewasa yang cerdas, Mas Rian," sahut Tiara pelan, namun nadanya terdengar sangat tulus. "Pak Arga menceritakan banyak hal tentang prestasi akademis Anda. Saya di sini bukan karena meragukan kemampuan otak Anda, saya hanya diutus untuk memastikan fisik dan fokus Anda tidak terganggu oleh urusan domestik yang sepele."
Rian agak tertegun mendengar pujian yang terselip dalam kalimat Tiara. Dia menoleh lagi, menatap lekat sepasang mata janda muda di hadapannya itu. "Kalau kamu tahu aku cerdas, kenapa kamu mau menerima pekerjaan konyol ini? Menjadi pembantu sekaligus mata-mata untuk cowok yang usianya mungkin tidak terpaut jauh darimu?"
Senyum Tiara perlahan memudar, digantikan oleh tatapan yang sedikit sendu namun tetap tegar. "Karena saya butuh uangnya, Mas Rian. Kehilangan suami beberapa waktu lalu membuat saya sadar kalau hidup tidak akan memberi saya pilihan selain terus bergerak maju sendirian. Kontrak dari Pak Arga adalah kesempatan besar bagi saya untuk menata ulang hidup saya. Jadi, saya akan melakukan tugas ini dengan sangat serius."
Mendengar kejujuran dari Tiara, lidah Rian mendadak kelu. Sifat manjanya yang egois seolah tertampar oleh kedewasaan wanita di depannya. Ada rasa bersalah yang sedikit menyelinap karena sudah bersikap terlalu sinis pada wanita yang ternyata memiliki masa lalu yang cukup berat.
"Jadi... kamu benar-benar akan melaporkan semua kegiatanku pada Ayah?" tanya Rian, kini dengan nada yang jauh lebih melunak, hampir terdengar seperti sebuah negosiasi.
Tiara menatap Rian, matanya menyipit jenaka, memancarkan pesona matang yang membuat jantung Rian berdegup sedikit lebih cepat. "Itu tergantung seberapa baik sikap Mas Rian selama kita tinggal berdua di London nanti. Kalau Mas Rian bisa bekerja sama dengan baik... mungkin ada beberapa laporan yang bisa saya 'sesuaikan' demi kenyamanan kita bersama."
Rian menaikkan sebelah alisnya, sebuah seringai tipis muncul di wajah tampannya. Ketegangan awal di antara mereka perlahan mulai mencair, digantikan oleh sebuah dinamika baru yang terasa jauh lebih mendebarkan. Tinggal berdua di apartemen mewah London, jauh dari pengawasan siapa pun, batasan antara pengasuh dan majikan ini tampaknya akan menjadi sangat tipis untuk dijaga.
Daftar bab
40 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








