
Kaya dan Perkasa Berkat Putri Siluman
Arias Binerkah|Bersambung
- Jumlah kata
- 64.5K
- Popular
- 5.2K
- Subscribe
- 460
- Jumlah kata
- 64.5K
- Popular
- 5.2K
- Subscribe
- 460
Sinopsis
Bagus Aji, pemuda tani miskin, di desanya ia bahkan dikenal sebagai pemuda lemah, loyo, impoten— dianggap tidak seperti laki-laki pada umumnya. Sampai suatu hari, seekor monyet putih misterius muncul di hadapannya. Anehnya, monyet itu bisa berbicara. Lebih aneh lagi, ia menawarkan bantuan kepada Bagus, karena alasan balas budi. Bagus dibawa menuju Desa Atsari, sebuah desa misterius yang selama ini ditakuti warga. Sejak saat itu, keberuntungan datang bertubi-tubi. Dari seorang petani miskin, Bagus mulai memiliki uang. Dari pemuda yang selalu diremehkan, ia berubah menjadi sosok yang kuat dan perkasa. Gadis-gadis desa yang dahulu mencibirnya kini mulai mengaguminya. Mereka yang dulu tidak pernah melirik, kini berlomba mencari perhatian Bagus. Tetapi kekayaan dan kekuatan Bagus juga mengundang iri hati. Tidak semua orang rela melihat pemuda yang dahulu mereka hina kini bangkit dan mengubah nasibnya. Bahkan banyak yang ingin merebut sosok yang membantu Bagus.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab. 1. Loyo?
Bagus, pemuda tani berusia dua puluh tiga tahun, tersenyum tipis menatap terong-terong ungu yang mengkilap, timun-timun hijau yang tersusun rapi di dalam keranjang bambu, serta lobak, sawi, dan kacang tanah yang memenuhi keranjang pikulnya.
"Alhamdulillah... disyukuri aja seberapa pun hasilnya," gumamnya lirih. "Besok pagi dijual di pasar. Semoga cukup buat belikan Emak baju baru buat Lebaran."
Membayangkan senyum emaknya, lelah yang sejak pagi Bagus rasakan sedikit menguap.
Di saat Bagus baru saja mengambil bambu pikulan, Arif, sesama pemuda tani yang baru selesai memupuk lahannya, menghampiri sambil memanggul cangkul di bahu.
"Sudah selesai panen, Gus? Mau langsung ke pancuran mencuci hasil panen?" tanyanya dengan seringai usil.
"Iya,” jawab Bagus singkat.
“Wah kok selalu pas sama waktunya gadis-gadis mandi sih, Gus” ucap Arif masih dengan seringai usil, “Nggak berdiri tuh burung kamu lihat melon kembar seger-seger?”
Bagus hanya diam dan terus merapikan sayuran di keranjang.
"Enak juga jadi kamu, nggak pernah diusir mereka. Coba aku yang datang, paling sudah dilempari gayung... atau batu hehe..." Arif terkekeh sendiri.
Bagus hanya membalas dengan senyum tipis. Ia memasang bambu pikulan pada dua keranjang besar, lalu bersiap mengangkatnya.
"Lahan seluas itu cuma panen segitu, Gus?" Suara berat yang tak asing, membuat Bagus mengurungkan niatnya.
Bagus refleks menoleh ke jalan setapak. Pakde Karto berdiri di sana dengan kedua tangan bertolak pinggang.
"Iya, Pakde. Sebagian tanaman kena penyakit. Sebagian lagi dirusak babi hutan."
"Heleh!" Pakde mendecak. "Alasan saja."
"Memang begitu keadaannya, Pakde. Kata Emak, seberapapun hasilnya tetap harus disyukuri."
"Disyukuri boleh, tapi jangan dijadikan alasan buat malas!" bentak Pakde Karto. "Kamu itu loyo! Kerja nggak becus, maunya pasrah terus. Mau jadi apa nanti?"
Beberapa petani yang melintas menoleh. Ada yang hanya menggeleng, ada pula yang tersenyum tipis. Arif yang masih berdiri tidak jauh dari situ, buru-buru menutup mulut menahan tawa, lalu segera pergi menjauh.
Bagus menelan ludah. "Saya sudah berusaha, Pakde. Kata Mas Penyuluh harus tanam tumpang sari supaya penyakitnya berkurang, saya juga su..."
"Huh! Nggak usah banyak omong!" potong Pakde Karto. "Dasar loyo ya tetap loyo! Kalau terus begini, kamu tidak usah kerja di lahanku!"
Tanpa menunggu jawaban, Pakde Karto segera berlalu.
Bagus mengembuskan napas panjang. Jemarinya kembali merapikan sayuran di dalam keranjang, memastikan tak ada yang akan terjatuh selama perjalanan.
Perlahan ia mengangkat pikulan ke bahunya. Meski hasil panennya tidak sebanyak yang diharapkan, setidaknya masih menghasilkan dan bisa dijual ke pasar besok pagi.
"Aku cuci sekarang di sungai. Besok pagi tinggal berangkat ke pasar," gumamnya dan segera melangkah. Sambil bersenandung pelan, ia menyusuri jalan setapak di antara kebun menuju sungai.
Beberapa menit kemudian, gemericik suara air yang jernih menyambut langkahnya. Sungai itu menjadi tempat warga Desa Losari untuk mencuci hasil panen atau mandi.
Bagus berjongkok di tepi sungai. Satu per satu terong, timun, sawi, lobak dan kacang tanah dicelupkannya ke dalam air. Lumpur dan debu yang menempel perlahan luruh, hanyut mengikuti arus yang mengalir tenang.
Di saat sedang asyik bekerja, Bagus mendengar suara tawa dan canda beberapa perempuan dari arah belakang. Bagus menoleh sekilas ke arah jalan setapak yang tadi dilaluinya.
Empat gadis desa berjalan sambil membawa ember dan kain ganti. Di antara mereka ada Mona, gadis cantik dengan tubuh yang sintal dan dikenal sebagai bunga Desa Losari.
Bagus segera mengalihkan pandangan. Ia memilih kembali mencuci hasil panennya.
Keempat gadis itu terus melangkah menuju pancuran. Mereka meletakkan baju gantinya di batu besar, di bawah pohon bambu yang menaungi tepian sungai. Mereka terus bercanda sambil tertawa riang.
"Ya ampun, panasnya dari tadi bikin lengket," keluh salah seorang gadis.
"Makanya cepat mandi. Airnya seger banget!" sahut Mona segera melangkah ke pancuran.
Mereka segera melepas daster yang dipakai lalu membalut tubuh mereka dengan kain batik. Mereka bergantian berdiri di bawah pancuran bambu yang mengalirkan air langsung dari mata air pegunungan.
Cuur...
Air sebening kristal jatuh deras membasahi kepala, meluncur ke pundak mulus, terus mengalir ke arah dua bukit kembar yang tertutup kain batik hingga ujung kaki.
Uap panas yang sejak siang menempel di kulit seolah hanyut bersama aliran air. Suara tawa mereka berpadu dengan gemericik sungai dan desir angin yang menggoyangkan rumpun bambu.
"Ah... seger sekali!" seru Mona sambil memejamkan mata. Kedua telapak tangannya menampung air, lalu membasuh wajahnya perlahan.
Sementara, Lisa yang baru selesai membasuh wajah tanpa sengaja menoleh ke arah hilir sungai.
Matanya membulat. "Mon... ada orang!"
Refleks ia memeluk tubuhnya sendiri, lalu merapatkan kain basah yang melilit tubuhnya. Wajahnya seketika memerah. Sebagai pendatang baru di Desa Losari, ia sama sekali tidak menyangka ternyata ada seorang laki-laki yang tengah mencuci hasil panen tak jauh dari pancuran.
"Mona... itu ada cowok!" bisiknya panik, “Kenapa kalian tenang-tenang aja?”
Mona menoleh mengikuti arah pandang Lisa, lalu terkekeh pelan. "Itu Bagus," katanya santai. "Nggak usah takut. Dia memang sering nyuci hasil panennya di sini. Dia nggak mungkin ngapa-ngapain kita."
Lisa masih tampak kikuk. Jemarinya terus merapikan kain basah yang dikenakannya sambil membelakangi arah Bagus.
Lisa menatap Mona dengan wajah masih tegang. "Serius aman?"
"Iya," jawab Mona santai.
Lisa makin merapatkan kain yang membalut tubuhnya. “ Gimana kalau dia...?"
Mona dan dua temannya saling pandang, lalu tersenyum menahan tawa.
"Tenang saja, Lis… " bisik Mona.
"Iya," sahut salah seorang temannya sambil menyenggol bahu Lisa. "Bagus itu bukan laki-laki normal."
Lisa mengernyit bingung. "Maksudnya gimana?"
Beberapa detik kemudian terdengar tawa kecil.
"Dia tuh sering jadi bahan omongan warga,” ucap salah satu gadis itu.
“Omongan gimana?” tanya Lisa penasaran, sekilas ia melirik ke arah Bagus yang masih sibuk mencuci timun, “Kayaknya normal-normal aja, nggak senyum-senyum sendiri, nggak tertawa sendiri.”
Mona tertawa kecil, “Maksudnya bukan gila, Lis. Tapi katanya sih dia begitu tuh... loyo, nggak normal sebagai laki-laki."
Salah satu gadis lain menepuk pundak Lisa, “Masa kamu belum paham, itu tuh.. dia nggak jantan!”
"Makanya dia nggak pernah punya pacar,” sahut Mona.
"Ya jelas saja. Dia bukan laki-laki yang bisa dibanggakan," timpal satu gadis lainnya. "Sampai sekarang nggak ada perempuan yang mau."
Lisa begidik, “Aku juga nggak mau, meskipun wajahnya tampan tapi nggak normal.”
Ketiga temannya saling pandang, lalu tertawa lagi.
Sementara itu Bagus, meskipun berusaha fokus mencuci sayuran, telinganya tetap mendengar setiap kata. Tangannya berhenti sesaat. Tatapannya jatuh ke permukaan air sungai yang beriak pelan.
Ia menarik napas panjang. Sudah lama ia sering mendengar perkataan-perkataan seperti itu. Entah siapa yang memulainya. Yang jelas, hampir seluruh Desa Losari tahu jika burung miliknya berukuran sangat kecil, impoten, dan cairan spermanya encer. Namun Bagus selalu memilih diam.
Ia kembali menggosok timun satu per satu seolah tidak mendengar apa pun. Baginya, membalas hanya akan memperpanjang hinaan.
Akan tetapi, tanpa disadari oleh Bagus, di balik rindangnya pohon besar di tepi sungai... sepasang mata bening sedang memperhatikan seluruh kejadian itu.
Seekor monyet putih duduk santai di atas dahan sambil mengunyah buah hutan. Ia memiringkan kepala. "Hah... masa manusia bisa menghina seperti itu pada sesamanya?"
Sesaat kemudian, senyum jahil mulai mengembang di wajahnya. "Sepertinya... bakal seru nih..." ucapnya dan monyet putih itu terus menatap Bagus dari atas pohon.
Bagus mempercepat gerakannya. Sayuran yang telah bersih segera dimasukkan kembali ke dalam dua keranjang bambu.
"Yang penting besok dagangan laku, bisa beli baju baru Emak." gumamnya pelan.
Namun, saat Bagus baru akan mengangkat pikulan, ia mendadak membeku, telinganya mendengar suara.
"Bagus... jangan sedih. Aku akan membantumu."
Daftar bab
56 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








