
Bukan Penjaga Kamar Mayat, Aku Penguasa Jalur Arwah Sesat
Red Fox|Bersambung
- Jumlah kata
- 119.4K
- Popular
- 509
- Subscribe
- 68
- Jumlah kata
- 119.4K
- Popular
- 509
- Subscribe
- 68
Sinopsis
Sebagai penjaga kamar mayat, Aditya sudah biasa melihat penampakan makhluk halus. Namun, malam itu berbeda? Yang datang padanya seorang ratu dengan liontin merah dan perjanjian yang menggiurkan.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Lelaki Tua dan Peninggalannya.
Jarum jam di dinding tepat menunjuk ke angka 12 malam ketika pintu ganda ruang perawatan intensif terbuka dengan sentakan pelan. Suara roda brankar berdecit menghalau kesunyian di lorong rumah sakit.
"Pak Adit, tolong urus yang ini," kata Suster Rini, suaranya terdengar menahan amarah dan kesedihan.
Aditya yang sudah menunggu di dalam ruangan dingin Instalasi Pemulasaran Jenazah segera membenarkan letak sarung tangan lateksnya. "Kasus apa, Sus Rini?"
"Kasus berat. Anak laki-laki, masih tujuh belas tahun," bisik Suster Rini sambil menyerahkan papan klip berisi dokumen kematian dengan tangan agak gemetar. "Korban kekerasan sama pelecehan fisik kelas berat. Pihak IGD sudah coba pasang alat bantu dan jahit luka dalamnya, tapi takdir berkata lain. Polisi sudah dihubungi."
Aditya menerima papan itu dan mengangguk pelan. "Biar saya ambil alih, Sus Rini istirahat aja, ya."
"Makasih, Pak Adit. Nggak tega saya lama-lama di sini, mukanya mirip keponakan saya," sahut Suster Rini sebelum pergi dengan langkah berat.
Kini, tersisa Aditya dan jasad remaja itu dalam ruangan. Aditya mendekat, dan membaca manifes pasien dengan saksama.
Nama: Mr. X (Belum Teridentifikasi)
Usia perkiraan: 17 Tahun
Catatan: Korban penganiayaan dan pelecehan fisik berat.
Aditya membuang napas perlahan, dadanya mendadak terasa sesak saat membuka kain penutup jasad. Lebam keunguan menjalar di sekujur leher korban, bekas jeratan tali, ditambah luka-luka di lengan, yang menjadi saksi bisu bagaimana remaja itu sempat berjuang keras untuk bertahan hidup.
Sambil mengambil kasa steril dan cairan antiseptik, Aditya berbicara pada jasad di depannya.
"Kasian banget nasibmu, Dek. Pelakunya benar-benar nggak ada otak."
Dengan sangat hati-hati, ia mulai menyeka sisa darah kering di sudut bibir korban. Prosedur hukum mengharuskannya bertindak tanpa merusak bukti sekecil apa pun untuk otopsi besok.
"Maaf ya, saya bersihkan pelan-pelan," gumam Aditya lagi.
Suara mesin lemari pendingin di sudut ruangan mendadak terdengar lebih keras, membuat setiap suara walau kecil terdengar seperti bisikan kesakitan di telinganya. Hawa dingin tiba-tiba menusuk tengkuk Aditya, membuat bulu kuduknya meremang.
Aditya menghentikan usapannya sesaat, kemudian menatap wajah kaku itu. "Sudah tenang ya sekarang. Kamu sudah aman di sini."
Setelah selesai melakukan pembersihan tahap awal, Aditya membungkus tubuh kaku itu dengan kain kafan dan mengikatnya dengan rapi.
"Masuk sini dulu ya, Dek. Besok pagi Dokter Forensik baru periksa," ucap Aditya sambil mendorong brankar menuju lemari pendingin nomor empat.
***
"Dit! Sudah beres jahitnya? Ambulans sudah siap di depan!"
Suara panggilan itu membuyarkan lamunan Aditya. Jam sudah menunjukkan sore hari berikutnya. Proses otopsi oleh Dokter Forensik dan penyidikan polisi memakan waktu hampir 18 jam yang sangat melelahkan.
Aditya keluar dari ruang pemandian sambil menyeka keringat di dahinya. Ia menyapa Pak Toto, sopir ambulans senior yang sudah lama dikenalnya.
"Sudah, Pak. Kasihan, keluarganya sudah histeris dari siang tadi pas nungguin surat penyerahan jenazah selesai."
"Iya, makanya yuk buruan kita angkat ke mobil. Biar bisa segera dimakamkan," ajak Pak Toto sambil memegang ujung brankar. "Satu, dua, tiga!"
Tangis dan jeritan langsung menyambut begitu pintu belakang ambulans dibuka di halaman rumah duka. Rumah sederhana itu dipenuhi tetangga dan kerabat yang tak percaya atas tragedi yang terjadi.
"Ya Allah, Naaak, kamu anak baik, kenapa nasibmu jadi gini!" jerit seorang wanita paruh baya. Ibu korban nyaris pingsan di pelukan suaminya.
"Dia nggak pernah membantah orang tua, Mas. Anaknya soleh dan baik banget," bisik salah satu tetangga yang membantu Aditya menurunkan keranda. "Kok ya ada orang yang tega sama dia, salahnya apa cobak?”
Aditya hanya bisa menunduk. "Kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya, Pak, Bu."
Kemudian jenazah telah berpindah ke pihak keluarga dan tugas mereka berdua selesai.
Perjalanan pulang terasa jauh lebih sunyi. Sore berganti malam, dan jalanan pinggir kota yang mereka lalui mulai sepi dari kendaraan.
Mesin ambulans kembali berulah seperti biasa. Asap putih tipis mulai keluar dari bagasi.
"Adoooh, mogok lagi mobil ini! " umpat Pak Toto sambil buru-buru mengarahkan setir ke bahu jalan yang gelap dan dikelilingi pepohonan rimbun.
Pak Toto menghela napas panjang. Ia memukul setir dengan kesal sebelum menoleh ke arah Aditya.
"Terpaksa harus nunggu sampai mesinnya agak dingin ini, Dit. Baru saya cek karburatornya."
Aditya menurunkan kaca jendela, dan membiarkan angin malam yang dingin masuk ke dalam mobil. Suasana di luar benar-benar sunyi dan gelap gulita.
Pak Toto merogoh kantongnya, lalu menyalakan sebatang rokok untuk mengusir dingin, dan menatap Aditya tanpa ekspresi.
“Sedih banget, ya, keluarga tadi?” gumam Aditya pelan.
“Iya, jaman makin edyan, dulu yang kita khawatirkan anak wedok saja. Sekarang anak lanang melok dadi korban, orang kok gak takut sama Allah, toh,” sahut Pak Totok yang ikut kesal.
Aditya lagi-lagi membuang napas berat. Teringat ia dengan anak laki-lakinya yang berumur empat tahun di rumah bersama istrinya. Sungguh setiap hari rasa khawatir menyergap dadanya, tetapi istrinya selalu meyakinkan bahwa putra mereka dijaga dengan baik.
“Namanya juga dunia, Pak, tempatnya manusia diuji.” Aditya melirik arlojinya. Tak terasa hari sudah jam sembilan malam. Segera ia meraih ponsel dan mengabarkan pada istrinya—Santi—bahwa ia akan pulang terlambat sekali malam itu.
Tak lama setelah diperbaiki, mesin ambulans sudah menyala. Aditya masuk ke mobil setelah Pak Toto. Sayangnya, mereka seperti tersasar dan berputar-putar saja, sampai hari sudah menunjukkan pukul 11 malam.
“Capek, pasti kita dikerjain arwah penasaran lagi.” Aditya menepuk jidatnya yang licin.
“Eh, itu siapa lambaikan tangan?” Tatapan Pak Toto tertuju pada lelaki tua di pinggir jalan yang terlihat seperti meminta tumpangan. “Manusia apa hantu?”
“Kakinya nginjek tanah, kok, Pak.”
“Lah, kuntilanak minggu kemaren juga kakinya nginjek tanah. Hampir modyar juga kita dibuatnya, kan?”
Aditya memutuskan membuka pintu dan memperhatikan lelaki tua itu.
“Tolong, Nak, saya nggak sanggup lagi, rasanya lelah sekali.” Lelaki tua itu berkeringat sebesar biji jagung di dahinya meski angin malam sangat dingin.
“Manusia, Pak, tolong aja, ya, kasihan.” Aditya menoleh ke dalam mobil menatap Pak Toto.
“Ya udah, tapi di belakang ya, Pak. Di sini ndak muat lagi.”
“Ndak apa-apa, Mas, saya sudah biasa kok,” jawab lelaki yang enggan menyebut namanya itu, dan ia segera berjalan ke belakang.
“Sudah biasa? Maksudnya udah biasa naik ambulans?” tanya Aditya pelan sambil menggaruk kepalanya.
“Buruan, Dit, nanti makim malem, makin banyak hantunya.” Pak Toto sudah tidak sabar.
Aditya membuka pintu ambulans bagian belakang dan menuntun lelaki tua itu masuk, setelahnya pintu ditutup dan dikunci. Anehnya setelah mendapat penumpang misterius, Pak Toto dan Aditya tidak lagi tersesat. Jalanan serasa terlihat lebih jelas dan lebar di depan mata mereka.
Aditya sesekali melihat ke belakang dan tiba-tiba saja lelaki tua tadi hilang tanpa jejak.
"Loh, Bapak yang tadi, ke mana?"
Bersambung ...
Daftar bab
109 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
109 bab








