
Dikira Sampah, Ternyata Dewa Perang
Zila Aicha|Bersambung
- Jumlah kata
- 74.1K
- Popular
- 5.4K
- Subscribe
- 359
- Jumlah kata
- 74.1K
- Popular
- 5.4K
- Subscribe
- 359
Sinopsis
Dihina sebagai beban oleh keluarga kandungnya, Gilang Mahanta rela menjadi kasir demi menyelamatkan ibu angkatnya. Ternyata, pria yang mereka rendahkan adalah Jenderal Perang legendaris yang pernah ditakuti seluruh dunia! Saat identitasnya terbongkar, mereka hanya bisa menyesal karena semuanya sudah terlambat!
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1. Sang Putra Sulung
CLANG!
"Dasar bodoh! Saya bilang pakai double cheese! Ngerti nggak sih?" Seorang pria membanting sendok ke atas meja hingga denting kerasnya menggema ke seluruh ruangan.
Wajah seorang pelayan muda langsung berubah pucat. "M-maaf, Pak! Tapi tadi pesanan dari Bapak tidak ada tambahan cheese..."
"Jadi kamu bilang saya yang salah?" bentak pria itu sambil menghantam meja sekali lagi. "Berani sekali pegawai rendahan seperti kamu membantah pelanggan! Lupa kalau pelanggan itu raja?"
Pelayan itu tersentak. "T-tapi saya tidak bermaksud begitu, Pak— Saya…"
"Diam!" Suara Surya membuat seluruh ruangan seketika sunyi. "Kurang ajar kamu! Saya telepon managermu sekarang untuk melihat apa kamu masih bisa kerja di sini!"
Wajah pelayan itu memucat. "Tolong jangan, Pak… S-saya bisa membuatkan yang baru sekarang juga, tapi jangan laporkan saya…"
Surya masih tidak terlihat puas. Sebaliknya, senyum sinis terbit di wajahnya.
Di sekeliling mereka, para pelanggan mulai melirik ke arah keributan. Beberapa menunjukkan ekspresi tidak suka. Sebagian lain diam-diam mengangkat ponsel untuk merekam.
Tapi tidak ada yang berani ikut campur. Karena hampir semua orang mengenal pria itu, Surya Hartono. Adik ipar CEO Sanjaya Group, perusahaan yang menaungi jaringan kafe ini.
Dengan status dan koneksinya, menghancurkan karir seorang pegawai biasa hanyalah perkara satu panggilan telepon.
Melihat pelayan itu menundukkan kepala dan terus meminta maaf, senyum Surya semakin sinis.
Saat itulah seseorang menghentikan langkahnya di dekat meja tersebut. Tatapan Gilang jatuh pada wajah Surya dan langsung mengenali orang itu.
Dia adalah Surya, adik dari Naomi, wanita yang kini menjadi istri adiknya, Indra.
Kemudian tatapannya bergeser kepada Rakha, pelayan berusia dua puluh dua tahun yang berdiri gemetar dengan wajah sepucat kertas.
Melihat keadaan pemuda itu, Gilang melangkah mendekat dan menepuk bahu Rakha, "Tenang."
Sebelum Rakha sempat berkata apa pun, Gilang sudah berdiri di depannya untuk menggantikannya menghadapi Surya.
"Kamu kembali saja." kata Gilang.
Rakha mengangguk sebelum pergi dengan perasaan penuh syukur.
Ekspresi Gilang tenang, seolah tidak mendengar satu pun penghinaan yang baru saja dilontarkan pria itu kepada teman satu shift-nya.
"Barusan saya dengar Pak Surya mengalami kesalahan pesanan? Mohon maaf atas ketidaknyamanannya, Pak. Silakan ditunggu sebentar, karena pesanan baru akan segera datang."
Gilang menoleh kepada Otto yang memantau dari depan kasir, lalu memberi isyarat untuk membuatkan minuman baru.
Otto mengangguk dan segera menghubungi bagian dapur.
Kedatangan Gilang membuat bibir Surya terangkat. "Oh?"
Tatapannya menyapu Gilang dari kepala hingga kaki. Dari seragam kafe yang dikenakan pria itu hingga name tag sederhana yang terpasang di dada kirinya.
Setelah beberapa detik, Surya tertawa pelan. "Jadi benar kabarnya. Kamu memang kerja di sini sekarang, Kakak Ipar."
Begitu kalimat itu keluar, beberapa pelanggan yang berada di sekitar langsung terkejut.
Mereka tidak mengenal Gilang. Namun panggilan "Kakak Ipar" yang diucapkan Surya membuat banyak orang langsung memasang telinga. Jelas terlihat bahwa hubungan kedua pria itu tidak sederhana.
Sementara itu, Gilang tetap berdiri di tempatnya. Ekspresinya tenang seperti permukaan danau yang tidak terusik angin.
Seolah tatapan penasaran dari berbagai arah sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.
"Ada menu lain yang ingin Anda pesan, Pak?" tanyanya dengan nada profesional.
Sudut mata Surya berkedut. Dia sengaja menyebut "Kakak Ipar" agar semua orang memperhatikan. Namun Gilang justru bertingkah seolah tidak mendengar apa pun. Perasaan seperti meninju kapas membuat wajahnya sedikit menggelap.
"Kak Gilang," ucapnya lagi sambil memainkan buku menu di tangannya. Dia sengaja memperkeras suaranya. Cukup keras untuk didengar pelanggan di beberapa meja terdekat.
"Kakak kan anak sulung keluarga Sanjaya, kenapa mereka malah menaruhmu di kafe kecil seperti ini?"
Gilang tidak menjawab. Sikap itu membuat Surya berada di atas angin. Selama ini, meski bukan anggota keluarga Sanjaya, posisi dirinya di keluarga itu sangat bagus.
Setelah menikah dengan Indra, pewaris keluarga Sanjaya, kakaknya, Naomi, sangat dicintai oleh kakak iparnya itu. Akibatnya, apa pun yang dia inginkan selalu dituruti.
Begitu juga setiap masalah yang dia lakukan, akan selalu ditutupi. Kakaknya tinggal memohon pada Indria, semua masalah akan beres.
Karena itu, menurutnya, berurusan dengan orang seperti Gilang yang bahkan pengaruhnya sangat lemah di keluarga, tidak akan berdampak apapun padanya.
Senyum mengejek kembali muncul di wajah Surya.
"Sayang sekali ya. Sebagai putra sulung, seharusnya minimal kakak dapat menempati posisi eksekutif di kantor pusat. Tapi kok malah jadi karyawan kafe."
Surya menunjuk seragam kerja yang dikenakan Gilang.
"Tapi sebenarnya posisi ini cukup bagus juga kok. Keluarga jadi nggak harus repot-repot menanggung kerugian kalau kakak bangkrutkan satu perusahaan."
Begitu kalimat itu keluar, bisik-bisik langsung bermunculan dari berbagai sudut ruangan.
"Eh, ternyata dia anak sulung keluarga Sanjaya yang baru ditemukan itu?"
"Iya. Aku pernah baca berita kalau keluarga Sanjaya memang menemukan anak pertamanya lagi."
"Kalau iya, kok malah kerja di sini?"
"Mana aku tahu? Mungkin memang kemampuannya cuma sampai situ."
"Bisa jadi. Soalnya dia nggak dapat fasilitas kan? Dengar-dengar orang tua angkatnya miskin jadi nggak bisa kuliah."
"Masuk akal. Sanjaya Group yang besar itu mana mungkin ngasih posisi tinggi kalau nggak qualified."
"Benar. Bisa hancur perusahaannya kalau dipegang dia."
Beberapa orang terang-terangan berbisik-bisik sambil menatap Gilang.
Melihat reaksi tersebut, senyum Surya semakin lebar. Inilah yang dia inginkan. Mempermalukan Gilang agar semua orang mengetahui betapa rendah posisi pria itu di keluarga Sanjaya!
Dulu ketika Surya mendengar kabar bahwa keluarga Sanjaya telah menemukan putra sulung mereka yang telah lama hilang, dia ikut datang untuk memberi selamat untuk mencoba akrab dengan orang itu.
Dia pikir dengan dekat dengan si putra sulung, itu akan memuluskan urusan bisnisnya. Dia bahkan rela menjilat Gilang walaupun pria itu selalu bersikap dingin.
Sayangnya, dia salah sangka. Si putra sulung itu tidak lebih hanya dianggap sebagai putra buangan yang tidak berguna di keluarga itu.
Gilang bahkan tidak diberikan satu persen pun saham di Sanjaya Group yang semakin membuat usahanya selama itu sia-sia belaka.
Ditampar oleh kenyataan itu, Surya pun berubah arah. Dia melampiaskan kekesalannya pada Gilang di setiap kesempatan.
Meski begitu, sejak awal kedatangannya hingga sekarang, ekspresi Gilang tidak berubah sedikit pun. Dia malah mengeluarkan menu dari balik apronnya.
"Pak Surya mau pesan menu sampingan? Kami sedang ada diskon untuk Tiramisu Cake dan Carrot Mile.."
Surya tercengang dan suasana mendadak hening. Bahkan beberapa pelanggan yang sedang bergosip ikut terdiam.
Mereka tidak menyangka bahwa setelah semua penghinaan tadi, kalimat pertama yang keluar dari mulut Gilang justru pertanyaan soal menu diskon.
Wajah Surya langsung mengeras. Sikap tenang tersebut justru membuatnya merasa seperti badut yang sedang tampil sendirian!
"Kalau tidak ada, saya sajikan dulu pesanannya ya, Pak."
Bisik-bisik pun mulai terdengar lagi usai Gilang berbalik untuk mengambil minuman yang sudah selesai dibuat.
"Eh, apa-apaan dia itu! Dia dihina seperti itu tapi dia hanya diam saja?"
"Dia tuli atau gimana? Kalau aku jadi dia, sudah aku balas perkataan si Bapak itu!"
Salah seorang pengunjung lain menyahut, "Mungkin dia memang malas menanggapi? Lagian, kalau ditanggapi, bukannya makin runyam?"
"Orang kaya seperti si Bapak itu pasti akan malah menjadi-jadi kan kalau direspon?"
"Setuju, aku juga akan memilih diam saja kalau jadi dia."
Beberapa menit kemudian, pesanan sebelumnya itu diantar ke mejanya bersama dengan tambahan menu baru.
Perasaan kesal Surya masih bergelora dan matanya kembali mencari masalah.
Saat Gilang mulai membersihkan pecahan kaca bekas gelas yang pecah tadi, senyum licik muncul di wajah Surya.
Dengan sengaja dia menyenggol punggung Gilang, tapi Gilang berhasil menghindar.
"Kamu…!" Surya tersedak amarah.
Di saat Gilang hendak pergi untuk membuang wadah berisi pecahan kaca itu, Surya mengangkat kaki, berniat menendangnya agar Gilang terjatuh. Tapi, lagi-lagi Gilang berhasil menghindar dengan mudah.
"Brengsek!" Surya mengumpat keras.
Gilang pun berjalan lagi. Surya yang ternyata belum menyerah pun berniat menendang Gilang.
Akan tetapi, sebelum dia sempat melakukan hal itu pada Gilang, tiba-tiba saja pintu utama kafe terbuka lebar.
Seorang pria bertubuh tinggi besar dengan aura dominan yang kuat memasuki kafe itu didampingi oleh setidaknya delapan orang.
"Pak Gilang, keributan apa yang terjadi di sini?"
Surya tertegun karena di hadapannya berdiri pria yang seminggu terakhir paling sering diberitakan oleh berita.
Dia adalah Farraz Atlanta, komandan perang yang baru saja menerima penghargaan khusus setelah berhasil memukul mundur musuh di daerah perbatasan utara!
Bagaimana bisa dia mengenal Gilang?!
Daftar bab
70 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








