
CEO RAJA MAFIA SELATAN
Agus wandi|Bersambung
- Jumlah kata
- 23.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
- Jumlah kata
- 23.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
Sinopsis
Di dunia bawah, ada satu nama yang membuat para bos mafia memilih berlutut daripada berperang. RAJA ARKANA. Tak ada yang tahu wajah aslinya. Tak ada yang tahu seberapa besar kerajaannya. Yang mereka tahu hanya satu... Saat Raja Arkana bergerak, satu kota bisa lumpuh dalam semalam. Ia bukan sekadar CEO konglomerat terkaya. Di balik jas mahal dan senyum dinginnya, berdiri kerajaan mafia terbesar di Selatan—menguasai pelabuhan, kasino, perbankan gelap, hingga jaringan intelijen yang tersebar di berbagai negara. Satu perintah darinya cukup untuk menghapus nama seseorang dari dunia, tanpa meninggalkan jejak. Namun, ketika musuh lamanya kembali membawa pengkhianatan berdarah, Raja Arkana tidak lagi bermain bertahan. Ia akan memburu setiap pengkhianat, menghancurkan setiap keluarga mafia yang menentangnya, dan membangun kembali tahtanya di atas puing-puing musuh. Di dunia ini hanya ada dua pilihan... Berlutut kepada Raja Arkana... atau mati sebagai musuhnya. Karena bagi sang CEO RAJA MAFIA SELATAN, belas kasihan adalah kelemahan, sedangkan balas dendam adalah hukum yang tak pernah kedaluwarsa. "Namanya adalah ketakutan. Kedatangannya adalah akhir dari sebuah kerajaan."
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Nama yang Disegani
BAB 1 Nama yang Disegani
Di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan yang tak pernah tidur, di antara gedung pencakar langit yang menjulang menembus awan, ada satu nama yang cukup disebut untuk membuat semua orang yang mendengarnya menelan ludah. Nama itu bukan sekadar identitas, melainkan simbol kekuasaan mutlak, ketakutan yang membekukan darah, dan kekuatan yang melampaui akal sehat manusia biasa.
Raja Arkana.
Bagi dunia resmi, ia dikenal sebagai pemilik dan CEO Grup RMS—konglomerat terbesar dan terkaya di wilayah Selatan. Namanya tercatat di papan saham, diundang dalam pertemuan para pengusaha terkemuka, dan fotonya sesekali terbit di halaman depan majalah bisnis. Di mata publik, ia hanyalah seorang pengusaha muda yang cerdas, berwibawa, dan memiliki insting bisnis yang tajam. Jas mahal yang selalu melekat rapi di tubuhnya, jam tangan berlian di pergelangan tangan, serta senyum tipis yang jarang pernah sampai ke matanya, menjadi gambaran sempurna seorang penguasa di atas kertas.
Namun, di balik topeng itu, di balik dunia yang teratur dan sah, tersembunyi sebuah kerajaan yang jauh lebih luas, jauh lebih berbahaya, dan jauh lebih mengerikan. Kerajaan yang berdiri kokoh di atas fondasi darah, kesetiaan, dan kekuasaan yang tak terbantahkan. Dialah Raja Mafia Selatan, satu-satunya penguasa yang tak pernah memiliki lawan yang setara.
Malam itu, langit kota diselimuti awan gelap yang sesekali dibelah oleh kilatan petir, diikuti suara guntur yang bergemuruh seolah memerintah alam semesta. Di ruang kerja terluas di lantai paling atas gedung pencakar langit miliknya, suasana terasa hening, berat, dan penuh tekanan yang bisa membuat orang biasa sulit bernapas.
Raja Arkana duduk bersandar di kursi kulit hitam yang diukir dengan motif mahkota dan sayap—simbol kekuasaannya. Tubuhnya tegak, satu tangan bertumpu santai di sandaran kursi, sementara tangan lainnya memegang gelas kristal berisi cairan cokelat keemasan yang berputar pelan. Kacamata hitam yang ia kenakan menutupi matanya, menyembunyikan sorot pandang yang bisa membaca kebohongan dan membongkar niat jahat siapa pun hanya dalam sekejap.
Di hadapannya, berdiri berbaris rapat puluhan orang berpakaian seragam jas hitam, masing-masing adalah kepala divisi dan orang kepercayaan tertinggi dalam jaringannya. Tidak ada satu pun yang berani menegakkan kepala terlalu tinggi, tidak ada yang berani bersuara sebelum dipanggil, dan tidak ada yang berani menyembunyikan apa pun darinya. Di hadapan Raja Arkana, rahasia adalah hal yang tak mungkin ada.
"Melaporkan, Tuan," suara berat memecah keheningan. Seorang pria paruh baya dengan luka bekas pertarungan di pipinya melangkah maju sedikit, kepala tetap menunduk hormat. "Semua pelabuhan utama di wilayah Selatan telah diamankan. Aliran barang, keuangan, dan informasi berjalan sesuai jadwal. Tidak ada gangguan yang berarti."
Raja Arkana tidak langsung menjawab. Ia mengangkat gelas itu perlahan, mencium aromanya sekilas, lalu meneguknya sedikit. Gerakannya tenang, namun setiap gerakan membawa wibawa yang memaksa setiap orang di ruangan itu untuk terus menahan napas.
"Bagian kasino dan jaringan keuangan gelap?" suaranya terdengar rendah, berat, dan dingin seperti es di puncak gunung. Suara itu tidak keras, namun menggema jelas ke seluruh penjuru ruangan, seolah menekan ke telinga setiap orang yang mendengarnya.
"Berjalan lancar, Tuan. Setiap transaksi tercatat rapi, tidak ada kebocoran sedikit pun. Polisi dan pengawas resmi masih buta akan jalur yang kita gunakan, sesuai perintah."
"Dan jaringan intelijen?"
Pertanyaan itu membuat suasana semakin mencekam. Raja Arkana tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik atau uang semata. Ia memiliki mata dan telinga yang tersebar di setiap sudut kota, bahkan hingga ke luar batas wilayah kekuasaannya. Tidak ada percakapan penting yang lepas dari pantauannya, tidak ada rencana yang bisa disusun secara diam-diam tanpa sepengetahuannya.
"Semua informasi masuk dan terverifikasi, Tuan. Hingga saat ini, tidak ada tanda-tanda kelompok atau keluarga mafia lain yang berani melanggar batas wilayah kekuasaan Tuan. Mereka semua tahu, satu langkah saja salah, mereka akan lenyap tanpa bekas."
Sebuah senyum tipis terukir di sudut bibir Raja Arkana. Senyum itu bukan tanda keramahan, melainkan ekspresi kepuasan yang datang dari keyakinan mutlak atas kekuasaannya. Ia meletakkan gelas itu perlahan di atas meja yang terbuat dari kayu mahoni berukir indah, bunyi benturannya yang lembut justru terasa seperti getaran yang menjalar ke tulang punggung setiap orang di sana.
"Mereka tahu benar," ucapnya perlahan, setiap kata terucap dengan tegas dan berat. "Selama mereka tetap tahu tempat mereka, dan tetap mengingat siapa yang memegang kendali atas nyawa dan harta mereka, maka kedamaian ini akan terus berlanjut."
Ia meluruskan posisi duduknya, jari-jarinya menyambung di depan dada. "Tapi ingat satu hal. Kedamaian bukan berarti kita lengah. Di dunia ini, rasa aman adalah jebakan terbesar. Dan bagi mereka yang berani melupakan aturan yang telah kita buat, atau yang berani mengangkat kepala untuk menantang, maka mereka harus siap menerima konsekuensinya."
Satu perintah dari Raja Arkana memiliki bobot yang sama dengan keputusan hidup dan mati. Beberapa bulan lalu, ada sekelompok pengusaha yang mencoba menyelundupkan barang melewati jalur miliknya tanpa izin. Mereka mengira bisa menyembunyikan tindakan itu, mengira jaringan Raja Arkana memiliki celah yang bisa dimanfaatkan. Namun, dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, seluruh jejak mereka lenyap dari permukaan bumi. Tidak ada mayat yang ditemukan, tidak ada laporan polisi yang bisa menemukan bukti, seolah mereka tidak pernah ada.
Begitu pula dengan dua keluarga mafia kecil yang mencoba bersekutu untuk merebut sebagian wilayah kekuasaannya. Mereka mengumpulkan kekuatan, membeli senjata sebanyak-banyaknya, dan menyusun rencana penyerangan yang mereka anggap sempurna. Namun, pada malam yang mereka tentukan untuk bergerak, justru itulah malam kehancuran mereka. Sebelum mereka sempat melangkah keluar dari markas, pasukan bawahannya sudah mengepung dari segala arah. Dalam waktu singkat, seluruh pemimpin mereka terbunuh, aset-aset mereka disita, dan nama keluarga itu dihapus dari daftar kekuasaan di Selatan.
Sejak saat itu, tidak ada lagi yang berani bermain api. Raja Arkana telah membuktikan berkali-kali bahwa ia tidak hanya memiliki kekuatan, tetapi juga kecepatan, kecerdasan, dan kekuasaan yang melampaui perhitungan siapa pun. Ia adalah sosok yang benar-benar Overpower—di luar jangkauan, di luar kekuatan, dan di luar kemampuan untuk dikalahkan.
"Perlu diingatkan sekali lagi," lanjut Raja Arkana, pandangannya menatap lurus ke depan seolah menembus dinding dan melihat seluruh wilayah kekuasaannya sekaligus. "Kerajaan ini dibangun dengan darah orang-orang yang setia, dan juga darah musuh yang berani melawan. Kesetiaan dibalas dengan perlindungan dan kekayaan. Tapi pengkhianatan atau keberanian yang salah arah hanya akan mendapatkan satu jalan keluar: kematian yang menyakitkan."
Semua orang di ruangan itu menunduk lebih dalam, meresapi setiap kata yang keluar dari mulut sang penguasa. Mereka tahu betul bahwa Raja Arkana bukan orang yang mengancam sembarangan. Setiap kata yang ia ucapkan adalah hukum yang pasti akan dijalankan tanpa kompromi, tanpa belas kasihan, dan tanpa penundaan.
"Jika tidak ada laporan lain, kalian boleh kembali ke pos masing-masing. Jaga wilayah masing-masing, pastikan tidak ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh siapa pun."
"Siap, Tuan!" jawab mereka serentak dengan suara yang mantap dan penuh hormat.
Satu per satu mereka berjalan mundur perlahan, lalu memutar badan dan keluar dari ruangan itu, meninggalkan Raja Arkana sendirian di balik pintu tertutup.
Kembali hening. Sang Raja kembali mengambil gelasnya, menatap pantulan dirinya di permukaan cairan bening itu. Di balik kacamata hitam itu, matanya memancarkan ketajaman yang tak tergoyahkan. Ia tahu, meskipun saat ini semuanya terlihat damai, dunia bawah tidak pernah benar-benar tenang. Di balik kedamaian, selalu ada bisikan, selalu ada rencana, dan selalu ada yang menginginkan tempatnya.
Namun, hal itu tidak membuatnya gentar. Justru sebaliknya. Selama ia masih berdiri, selama ia masih memegang kendali penuh atas setiap aspek kerajaannya, maka semua ancaman hanyalah angin lalu yang bisa ia singkirkan dengan satu gerakan tangan.
Karena bagi Raja Arkana, penguasa tertinggi di Selatan ini, hanya ada satu kebenaran mutlak: Namanya adalah ketakutan. Kedatangannya adalah akhir dari sebuah kerajaan.
Dan hari itu, ia masih berdiri tegak di puncaknya, siap menghadapi apa pun yang akan datang, baik itu kedamaian maupun badai pertarungan yang akan meledak sewaktu-waktu.
Daftar bab
21 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








