
Balas Dendam Pendekar Pedang
Bp. Juenk|Bersambung
- Jumlah kata
- 139.8K
- Popular
- 615
- Subscribe
- 76
- Jumlah kata
- 139.8K
- Popular
- 615
- Subscribe
- 76
Sinopsis
Zainal Asadoma merupakan anak dari Legenda pedang yang harus berjuang membalaskan dendam kematian keluarganya. Dalang pembunuhan keluarga yang terafiliasi dengan pusat kekaisaran. Dapatkah ia menyentuh keluarga Kerajaan?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1.
Matahari bergulir tepat di atas kepala, membakar tanah lapang berbatu di halaman belakang sebuah rumah kayu yang bersahaja.
Sisa hujan deras tadi malam masih menyisakan aroma tanah basah—bau petrikor yang khas, bercampur dengan uap hangat yang menguar dari pori-pori bumi akibat sengatan terik siang itu.
Di tengah lapangan, seorang bocah laki-laki berusia sepuluh tahun sedang berdiri dengan kuda-kuda yang goyah. Namanya Zainal Asadoma.
Keringat bercucuran deras dari pelipisnya, mengalir melewati pipi tembam yang memerah, lalu menetes dari dagunya yang runcing. Kaos kain kasar yang ia kenakan sudah basah kuyup, melekat erat pada tubuh kecilnya.
Kedua tangan Zainal yang mulai melepuh mencengkeram sebilah pedang kayu. Pedang itu dibuat dari kayu jati tua yang sengaja dipahat tebal oleh ayahnya, membuatnya terasa tiga kali lebih berat daripada pedang kayu latihan biasa.
Bagi anak seusianya, mempertahankan pedang itu agar tetap sejajar dengan dada adalah sebuah siksaan fisik yang nyata.
"Empat ratus sembilan puluh delapan..." Zainal bergumam, suaranya parau karena kehausan.
Ia menarik napas pendek, menghentakkan kaki kanannya ke depan hingga debu halus beterbangan, lalu menusukkan pedang kayu itu ke depan dengan lurus.
"Empat ratus sembilan puluh sembilan..."
Tangan Zainal gemetar hebat. Otot-otot lengannya menjerit protes. Konsentrasinya mulai pecah, dan ujung pedang kayunya condong ke bawah, kehilangan presisi.
"Tahan pergelangan tanganmu, Zainal. Jangan biarkan ujung pedangmu tunduk pada gravitasi. Jika pedangmu menunduk sebelum mengenai sasaran, musuh akan memenggal kepalamu lebih dulu."
Sebuah suara bariton yang berat namun tenang terdengar dari selasar teras rumah. Di sana, duduk seorang pria paruh baya dengan pakaian ringkas berwarna hitam.
Ramlan Asadoma, sang ayah. Rambutnya yang mulai memutih di bagian pelipis diikat rapi ke belakang. Di desa terpencil di kaki lembah ini, semua orang mengenalnya sebagai petani yang ramah dan rendah hati.
Namun, di balik ketenangannya, langkah kaki yang tak bersuara dan sorot mata yang setajam elang menunjukkan siapa dia sebenarnya di masa lalu: seorang pendekar pedang legendaris yang namanya pernah mengguncang jagat persilatan.
Ramlan bangkit berdiri, berjalan perlahan mendekati anaknya. Setiap langkahnya begitu kokoh, seolah menyatu dengan bumi.
Ia membungkuk sedikit, membetulkan posisi pinggang Zainal yang terlalu condong ke depan, lalu menepuk pundak kecil itu dengan lembut.
"Satu ayunan lagi. Selesaikan apa yang sudah kau mulai hari ini," ucap Ramlan, tersenyum hangat.
Zainal menggertakkan giginya. Mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang ada di rongga dadanya, ia menarik kaki belakangnya, memutar pinggul, dan melepas satu tebasan lurus ke depan yang membelah angin.
Wuss!
"Lima ratus!" jerit Zainal, bersamaan dengan tubuhnya yang langsung ambruk, duduk bersila di atas tanah berbatu sambil terengah-engah.
Pedang kayunya diletakkan di paha, tangannya benar-benar mati rasa.
Dari arah dapur, terdengar suara tawa renyah yang akrab. Seorang wanita paruh baya berjalan keluar membawa sebuah nampan kayu berisi kendi tanah liat dan beberapa cangkir bambu.
Rosnita, ibu Zainal, berjalan mendekat dengan langkah anggun. Di belakangnya, mengekor seorang remaja laki-laki berusia lima belas tahun yang membawa sekeranjang buah mangga yang baru dipetik. Itu adalah Yusuf, abang kandung Zainal.
"Lihatlah pendekar besar kita, baru lima ratus tusukan sudah seperti ikan kehabisan air," canda Yusuf sambil meletakkan keranjang buah dan langsung mengambil posisi duduk di samping adiknya. Ia menjewer pelan telinga Zainal yang kemerahan.
"Ah, Abang! Sakit!" protes Zainal, meskipun ia tidak benar-benar marah. Ia menerima cangkir bambu berisi air dingin yang dituangkan oleh ibunya dan langsung meminumnya hingga tandas dalam tiga tegukan besar.
"Ahhh... segar sekali. Ibu, Abang mengejekku! Padahal pedang kayu ini berat sekali!"
Rosnita tersenyum lembut, mengusap keringat di dahi putra bungsunya dengan ujung selendangnya. Bau harum minyak kelapa dan aroma masakan dapur dari tubuh ibunya seketika menenangkan dada Zainal yang berdegup kencang.
"Yusuf, jangan menggoda adikmu. Kau sendiri dulu waktu umur sepuluh tahun, baru mengayun seratus kali sudah menangis minta pulang ke rumah," sahut Rosnita, membelas dendam untuk Zainal.
"Ibu! Jangan buka kartu lama di depan Zainal, dong!" protes Yusuf dengan wajah merona merah, membuat Ramlan yang sedang meneguk air ikut tertawa terkekeh.
Yusuf memang tidak memiliki bakat alami dalam ilmu pedang. Kuda-kudanya lemah dan ia lebih suka membaca buku atau membantu ibunya di ladang.
Namun, tidak pernah ada rasa iri di hatinya. Ia tahu adiknya, Zainal, mewarisi bakat luar biasa ayahnya. Yusuf selalu menjadi pendukung nomor satu bagi Zainal, sering kali membuatkan mainan atau mengambilkan buah segar setelah Zainal selesai latihan keras.
"Zainal," panggil Ramlan setelah tawa mereka mereda. Ia duduk di sebuah log kayu besar yang dijadikan kursi taman.
"Kau tahu kenapa Ayah memaksamu mengulang gerakan yang sama sampai ribuan kali setiap minggu?"
Zainal mendongak, memandang wajah ayahnya yang penuh wibawa. "Agar tangan Zainal kuat, Ayah?"
Ramlan menggeleng pelan. Ia mengambil pedang kayu milik Zainal, memutarnya dengan satu gerakan jari yang sangat luwes hingga pedang itu seolah hidup di tangannya.
"Lebih dari itu. Teknik dasar adalah fondasi dari segala sesuatu. Di dunia luar, ada ribuan aliran bela diri dengan gerakan yang indah dan rumit. Namun, keindahan sering kali menipu. Aliran pedang kita tidak membutuhkan keindahan."
"Lalu apa yang dicari, Ayah?" tanya Yusuf yang ikut penasaran, ikut mendekat.
"Penyatuan," jawab Ramlan misterius. Matanya menerawang, menatap langit biru di atas lembah.
"Menjadi sebilah pedang itu sendiri. Ketika kau memegang pedang, pedang itu bukan lagi benda mati di tanganmu, melainkan perpanjangan dari jarimu, aliran darahmu, dan kehendak sukamu. Ketika jiwamu tenang, angin akan memberi tahu ke mana pedangmu harus bergerak. Itulah esensi murni dari Teknik Pedang Inti Suksma."
Zainal mengerutkan keningnya yang kecil.
"Teknik Pedang Inti Suksma? Nama yang aneh. Kenapa Zainal belum pernah melihat Ayah menggunakannya untuk memotong pohon atau bertarung?"
Rosnita yang mendengar nama teknik itu seketika terdiam. Tatapan matanya melembut, namun ada sepercik kekhawatiran yang tersembunyi di sana, yang untungnya tidak ditangkap oleh kedua anaknya.
Ramlan tersenyum, lalu mengacak-acak rambut Zainal.
"Karena teknik itu tidak diciptakan untuk dipamerkan, Anakku. Teknik itu hanya dikeluarkan ketika hidupmu atau orang-orang yang kau cintai berada di ujung tanduk. Ayah hanya mewarisi esensi dasarnya dari seseorang yang sangat luar biasa di masa lalu."
"Siapa dia, Ayah? Apakah dia seorang kakek tua yang sakti?" tanya Zainal antusias, rasa lelahnya mendadak sirna.
"Bukan," Ramlan menurunkan suaranya, seolah sedang menceritakan sebuah rahasia besar dunia.
"Dia adalah seorang wanita. Seorang pendekar pedang wanita yang kehebatannya melampaui logika manusia. Di negeri ini, orang-orang menganggapnya hanya sebuah mitos, cerita pengantar tidur untuk anak-anak.
Namun, Ayah tahu dia nyata. Dialah pencipta asli aliran pedang kita. Di dalam ruang utama rumah kita, di balik altar leluhur, ada sebuah pedang panjang pusaka yang dibungkus kain usang. Itu adalah pemberian darinya."
"Pedang panjang yang tidak boleh disentuh itu?" Yusuf menyela.
"Benar," Ramlan mengangguk. "Pedang itu terbuat dari baja meteorit yang ditempa dengan energi spiritual murni. Jika suatu saat nanti kalian melihat bilahnya berteman dengan angin, kalian akan melihat siluet atau bayangan naga yang bergerak di atasnya. Itulah tanda bahwa teknik Suksma Naga telah bangkit."
Zainal matanya berbinar-binar. "Zainal ingin melihatnya, Ayah! Zainal ingin menjadi sekuat pendekar wanita itu!"
"Maka dari itu, selesaikan latihan dasarmu besok pagi tanpa mengeluh," goda Ramlan sambil berdiri, menandakan waktu istirahat telah usai.
"Ayo, matahari sudah mulai turun. Ibumu sudah memasak sayur lodeh dan ikan asin yang baunya sudah sampai ke sini sejak tadi."
"Hore! Makan!" Yusuf langsung melompat berdiri, menarik tangan Zainal untuk berlomba lari menuju pintu belakang rumah.
Malam harinya, suasana rumah terasa begitu damai dan hangat. Di ruang tengah, sebuah perapian kecil dinyalakan untuk mengusir hawa dingin lembah yang mulai turun menembus dinding-dinding kayu.
Bau kayu bakar yang terbakar berpadu dengan aroma sisa makan malam yang mengenyangkan.
Zainal berbaring di tikar bambu, kepalanya berbantalkan paha ibunya yang sedang menyisir rambutnya dengan jemari tangan yang lembut.
Di sudut ruangan, Yusuf sedang sibuk meraut sepotong bambu untuk dijadikan seruling, sementara Ramlan duduk bersila di dekat jendela yang terbuka sedikit, memandang kegelapan malam sambil sesekali meminum teh hangatnya.
"Ibu, apakah besok kita akan pergi ke pasar desa?" tanya Zainal dengan suara yang mulai mengantuk.
"Iya, kalau Zainal bangunnya tidak kesiangan. Ibu mau membelikanmu kain baru untuk baju latihan," jawab Rosnita lembut, suaranya bagaikan nyanyian penenang jiwa.
Zainal tersenyum, matanya perlahan terasa sangat berat. Kehangatan api unggun di dalam ruangan itu, suara serutan bambu Yusuf, dan usapan tangan ibunya membuat malam itu terasa sebagai malam paling sempurna dalam hidupnya.
Senda gurau kecil masih terdengar sesekali antara ayah dan abangnya tentang bagaimana Yusuf hampir menjatuhkan keranjang mangga siang tadi.
Bocah sepuluh tahun itu akhirnya terlelap dengan senyuman yang menghiasi bibir kecilnya. Di dalam tidurnya yang nyenyak, ia bermimpi tentang memegang pedang panjang berbayangan naga, terbang di atas awan bersama keluarganya.
Ia benar-benar tidak menyadari, bahwa kehangatan api unggun yang melindunginya malam ini adalah sebuah kontras yang kejam dari takdir yang menantinya.
Ia tidak pernah tahu bahwa beberapa jam lagi, kehangatan ini akan musnah, dan ia akan dipaksa berlari sendirian di dalam dinginnya hutan belantara yang pekat, mendekap pedang pusaka dengan hati yang hancur berkeping-keping.
Malam damai itu adalah malam terakhir kalinya Zainal Asadoma bisa tersenyum sebagai seorang anak kecil.
Daftar bab
119 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
119 bab








