
LEGENDA PANGERAN LUTUNG
Setiadji|Bersambung
- Jumlah kata
- 130.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 25
- Jumlah kata
- 130.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 25
Sinopsis
Pangeran Danuwarman adalah pewaris takhta Kerajaan Tigaraksa. Namun dibalik kesempurnaannya, sifat angkuhnya itu memicu murka penguasa jagat belantara. Badaleweng, sang Dewa sekaligus Penjaga Hutan yang sakral, turun tangan atas kezaliman tersebut, dan menjatuhkan kutukan mengerikan: mengubah tubuh tegap sang pangeran menjadi jelmaan manusia lutung berbulu legam dan berbadan besar. Kini, sang pangeran tampan telah sirna, berganti menjadi sesosok monster yang diasingkan oleh dunianya sendiri. Syarat Penawar: Danuwarman harus menemukan seorang perempuan yang mampu melihat menembus rupa binatangnya dan mencintainya dengan ketulusan jiwa yang murni dalam waktu 100 hari atau ia akan terjebak dalam rupa lutung dan kehilangan kewarasannya sebagai manusia... selamanya.
Ulasan
1 ulasan
Setiadji
3/8/26 12:22
Valerie Morghulis Para Pembaca 😇 Syukur dan Senang bisa baca karya ini mohon maaf apabila ada yang kurang 😁 Dengan senang hati apabila cerita ini ada yang kurang kalian bisa komentar aja ya, masukan kalian sangat membantu dan membangun 😇 FYI Cerita ini terinspirasi dari Serial TV Game Of Thrones/ASOIAF karangan om George R. R. Martin, Thor gabung dengan nuansa nusantara Warning Buat Bab 35 seterusnya Cerita sudah mulai 18+ Selamat Membaca ya 😉 Winter is Coming!
Bab 1 : Kutukan
Sorak-sorai membahana memecah malam di Balairung Agung Istana Kerajaan Tigaraksa. Jagat Lewang Hutan berantara bagian barat menjadi saksi lahirnya jawara baru yang tak tertandingi. Pasanggiri Kawani turnamen tarung fisik, ketangkasan berkuda, dan ilmu bela diri bergengsi yang mempertemukan ksatria-ksatria terbaik dari empat kerajaan daerah belantara baru saja usai.
Di tengah panggung arena yang bertabur kelopak bunga, berdiri seorang pemuda dengan bendera kemenangan berkain sutra emas yang dikibarkan tinggi di tangan kanannya. Seluruh pasang mata menatapnya penuh kekaguman yang mutlak atas kemenangan mutlak tersebut.
Pangeran Danuwarman. Di usianya yang baru menginjak dua puluh tahun, ia adalah definisi sempurna dari perpaduan antara ketampanan fisik dan keangkuhan nyata. Wajah rupawannya dihiasi rahang tegas dengan seulas senyum miring meremehkan gaya tengil khas yang selalu berhasil membuat lawan naik darah sebelum bertarung, sekaligus membuat para dara di sudut tribun menahan napas dengan pipi merona.
Sepasang matanya yang tajam bak elang selalu berkilat jenaka, seolah menganggap dunia beserta isinya ini hanyalah mainan kecil di bawah telapak kakinya yang kokoh. Rambut hitam panjangnya sengaja dibiarkan berantakan, membingkai leher kokoh dan bidang dada yang kekar berotot.
Rompi zirah kulitnya sengaja dibuka setengah, memamerkan hasil latihan fisik bertahun-tahun yang luar biasa. Ia gagah, berani, dan sangat menikmati memamerkan pesonanya kepada dunia dengan cara ugal-ugalan.
Malam kian larut, pesta kemenangan di dalam istana digelar luar biasa mewah. Alunan suling bambu bersahut-sahutan dengan pukulan kendang yang bertalu-talu, mengiringi para penari keraton dan cawan-cawan tuak manis yang mengalir tanpa henti. Di atas singgasana, Raja Prang Kasep, ayahanda Danuwarman, memperhatikan putranya dari kejauhan dengan tatapan cemas.
Sang raja menghela napas panjang melihat Danuwarman tertawa terbahak-bahak di tengah kerumunan bangsawan, sesekali mengedipkan mata dengan genit kepada para pelayan wanita yang mengantarkan makanan. Sifat liar, kepala batu, dan tengil sang pewaris tunggal takhta itu bukanlah hal baru bagi seisi istana.
Raja Prang Kasep tahu putranya adalah ksatria tak kenal takut, namun kesombongannya membuat sang raja khawatir akan masa depan Tigaraksa. Karena lelah menggelayuti tubuh tuanya, dan enggan merusak suasana pesta dengan teguran keras yang pasti diabaikan, Raja Prang Kasep memilih bangkit dari singgasana, memberi isyarat pada pengawal, lalu melangkah ke kamarnya untuk beristirahat lebih cepat.
Sepeninggal sang raja, pengaruh alkohol sepenuhnya menguasai kesadaran Danuwarman. Pandangannya mengabur dan langkah kakinya goyah, namun kesombongannya tidak berkurang barang sedikit pun. Merasa bosan dengan hiruk-pikuk balairung, ia berjalan sempoyongan keluar gerbang istana tanpa pengawalan, mencari udara malam di jalan setapak yang membatasi kerajaan dengan hutan belantara.
Di sana, seorang lelaki tua berjalan gontai dari arah berlawanan. Lelaki itu adalah penambang emas miskin yang baru pulang bekerja bertaruh nyawa di sungai bawah tanah sejak kemarin siang, membawa keranjang kayu tua berisi peralatan tambangnya demi menghidupi keluarga.
Akibat langkah kakinya yang limbung, Danuwarman menabrak lelaki tua ringkih itu dengan keras. *Braakk!* Tubuh lemah sang penambang terjerembab ke tanah basah, membuat seluruh mangkuk tembaga dan peralatannya berserakan memecah keheningan dini hari.
Alih-alih membantu, Danuwarman yang mabuk berat justru langsung naik pitam. "Koplo! Apakah mata tua kau sudah buta, hah?!" caci Danuwarman dengan suara serak, matanya merah melotot murka. "Berani sekali kau menghalangi jalan Pangeran Danuwarman! Binatang rendahan tidak tahu diri!"
"Mohon ampun, Gusti Pangeran... hamba tidak melihat Anda di kegelapan..." Lelaki tua itu gemetar ketakutan, merangkak mundur mencoba memeluk keranjangnya yang rusak.
Namun, keangkuhan telah menutup pintu nurani sang pangeran. Tanpa belas kasihan, Danuwarman melayangkan tendangan keras tepat ke dada lelaki tua itu hingga memuntahkan darah segar. Tak puas sampai di situ, ia kembali menghajar wajah dan tubuh pria tak berdaya itu dengan beberapa pukulan mentah hingga pingsan membisu.
Danuwarman meludah kasar, mengumpat pelan, lalu berjalan sempoyongan meninggalkan korbannya begitu saja di kegelapan malam.
Langkah kakinya membawa Danuwarman kian jauh masuk ke kegelapan hutan berantara di belakang kerajaan. Kabut tebal tiba-tiba turun secara tidak wajar, memeluk pepohonan purba dengan atmosfer magis yang mencekam.
Kesadarannya yang compang-camping membuatnya tidak menyadari telah melewati batas aman wilayah Tigaraksa. Tiba-tiba, kaki sang pangeran tersangkut jalinan akar raksasa yang mencuat kasar dari tanah. Tubuh tegapnya kehilangan keseimbangan, lalu terperosok berguling-guling menuruni lereng berbatu yang curam, sebelum akhirnya jatuh terhempas ke dalam sebuah ceruk hutan antah-berantah yang sangat gelap, asing, dan sunyi.
Danuwarman mengerang kesakitan, mencoba bangkit sambil memegangi kepalanya yang berdenyut pening. Namun, rasa sakit fisiknya mendadak sirna, berganti rasa ngeri yang mencekam sukmanya. Angin hutan mendadak mati total, menyisakan kesunyian yang memekakkan telinga.
Dari balik pohon beringin raksasa kuno di hadapannya, muncul pendaran cahaya hijau keemasan yang berputar mistis. Cahaya itu perlahan memadat, mewujud menjadi sesosok entitas gaib berukuran raksasa yang agung namun mengerikan. Dialah Badaleweng, Dewa sekaligus Penjaga Hutan yang sakral dan ditakuti oleh seluruh makhluk belantara. Sepasang matanya menyala merah bagai bara api, menembus langsung ke dalam lubuk hati Danuwarman yang kotor oleh dosa kesombongan.
"Danuwarman..." Suara Badaleweng bergemuruh hebat bagai guntur, menggetarkan bumi di bawah kaki sang pangeran. "Kau dianugerahi rupa tampan, kedudukan tinggi sebagai calon raja, dan kekuatan fisik luar biasa. Namun, malam ini kau membuktikan bahwa jiwamu jauh lebih rendah daripada kotoran tanah. Kau menindas kaum lemah dengan keangkuhan binatangmu yang tak bernurani!"
Danuwarman mencoba membusungkan dada dengan gaya tengilnya, namun lidahnya mendadak kelu karena ketakutan mistis yang belum pernah ia rasakan seumur hidup. "Si... siapa kau?! Berani sekali mencampuri urusanku!"
"Aku adalah mata dari hutan ini, yang menyaksikan kebusukan perangaimu!" gertak Badaleweng dengan murka. "Jika kau begitu menyukai tabiat binatang yang kasar dan sombong, maka rupa binatangi pulalah yang layak melekat pada ragamu!" Badaleweng mengangkat tongkat kayu gaibnya tinggi-tinggi. Seketika, kilatan petir hijau menyambar tepat ke arah tubuh Danuwarman.
"Aaaarrghhh!" Danuwarman menjerit histeris. Rasa sakit teramat sangat, seakan dikuliti hidup-hidup, menjalar ke setiap jengkal tubuhnya. Ia mendengar suara tulang-belulangnya patah berderak, bergeser, dan menyusun ulang menjadi struktur tubuh yang jauh lebih besar dan berotot kekar. Kulit kuning langsatnya mendadak melepuh, ditumbuhi bulu-bulu legam yang lebat dan kasar. Wajah tampannya bergeser ekstrem; rahangnya maju, tulang pipinya menonjol, dan sepasang taring tajam mencuat dari sela lipatan bibir. Dalam hitungan detik, sang pangeran rupawan musnah, berganti menjadi sesosok manusia lutung raksasa berwajah primata yang sangat mengerikan.
"Dengarlah kutukanku, wahai manusia yang buta karena takhta!" suara Badaleweng bergema di tengah raungan parau Danuwarman yang kini terdengar seperti kera menyedihkan. "Kau hanya bisa kembali menjadi manusia seutuhnya jika ada seorang perempuan yang mampu melihat melampaui wujud buruk rupamu ini, dan mencintaimu dengan ketulusan jiwa yang paling murni! Waktumu hanya seratus hari! Setiap kali fajar menyingsing, satu helai harapanmu akan gugur. Jika dalam batas waktu seratus hari kau gagal mendapatkan cinta sejati itu, kau akan kehilangan seluruh akal sehat manusiamu, dan bertransformasi menjadi binatang buas yang terjebak dalam tubuh lutung ini... selamanya!"
Cahaya mistis itu perlahan memudar, menyisakan Danuwarman yang bersimpuh tak berdaya di atas tanah dingin. Ia menatap sepasang cakarnya yang hitam besar dan berbulu lebat. Sang Pangeran Tigaraksa yang tengil dan diagungkan, kini tak lebih dari seonggok monster yang terasing di tengah belantara liar.
Daftar bab
98 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








