
SI BISU DAN BATU PENAKLUK
Kucing Senior|Bersambung
- Jumlah kata
- 125.5K
- Popular
- 1.6K
- Subscribe
- 474
- Jumlah kata
- 125.5K
- Popular
- 1.6K
- Subscribe
- 474
Sinopsis
Seno menjalani hidup layaknya sampah. Sudah bisu, tubuhnya pun dipenuhi koreng menjijikkan dari ujung kepala hingga kaki. Puncaknya, ia difitnah mengintip istri orang mandi, dihajar setengah mati oleh Darto si jagoan desa, lalu dilempar begitu saja ke dalam jurang hutan terlarang. Seharusnya Seno mati. Namun, takdir berkata lain. Darahnya yang mengalir deras tanpa sengaja menetes dan meresap ke dalam batu misterius dan membangunkan entitas gaib yang terkurung selama ratusan tahun. Yang mengejutkan adalah, sosok dalam batu itu bukanlah raksasa, monster ataupun naga selayaknya dongeng. Melainkan seekor kucing belang abu-abu. Namun, sejak saat itu hidup Seno mulai berubah.
Ulasan
2 ulasan
Adjay Limbeng
3/8/26 10:33
Tak selamanya yang selalu bunyi itu hebat. terkadang, dalam sebuah keterbatasan, ada penopang kekuatan yang tak terduga. gas terus, kucing meong 🤣🤣🤘🏻🤘🏻
sapi
18/7/26 03:20
Ceritanya bagus, ada humornya yang gak garing. Seno juga mulutnya asal nyablak ternyata hahah...Semangat Thor.
1. Si Bisu
Bughh....
Prakk....
“Mampus kau!”
Satu tendangan keras mendarat di rusuk Seno. Pemuda ini meringis kesakitan. Belum sirna rasa sakitnya, satu jotosan kembali mendarat di wajahnya. Bibirnya pecah mengucurkan darah. Pandangannya menjadi gelap dan dalam keadaan seperti itu, salah satu dari mereka yang menghajar memukul kepala si pemuda menggunakan balok kayu.
PRAAKK
Seketika darah segar mengalir dari kepala pemuda itu yang robek akibat benturan kayu itu.
“A-am-puun!” Si pemuda memohon dengan gagu.
“A u a u, ngomong apa kau, hah?! Lancang sekali kau mengintip istriku mandi?!” teriak Darto sangat murka, lalu kembali menggebuk tubuh pemuda yang sudah terkapar itu.
Pemuda yang dihajar itu bernama Seno, usianya baru 20 tahun. Dia tak salah apa-apa sebenarnya. Beberapa saat yang lalu, Seno baru buang air besar di sungai. Ketika hendak pulang ke rumahnya, dia tak sengaja melihat Narti, istri Darto, sedang bercinta dengan Boga, sahabat Darto, di balik semak-semak tak jauh dari kali.
Narti berteriak kaget ketika perbuatan bejatnya diketahui Seno. Wanita itu langsung mengenakan kainnya. Sementara Boga langsung lari terbirit-birit sambil membetulkan celana yang sempat dilorotkan. Di saat yang hampir bersamaan, Darto datang bersama tiga kawannya. Saat itu juga Narti langsung menuduh Seno mengintipnya mandi. Jelas dia cari aman.
“A-ng, aa-mm-puunn...” ucap Seno, berusaha menjelaskan dengan bahasa isyarat.
“Oa oa oa saja yang keluar dari mulutmu!” Darto mengangkat kaki kanannya tinggi-tinggi, siap menghantamkan tumitnya ke wajah Seno yang sudah bersimbah darah. Namun, sebelum serangan mematikan itu mendarat, sebuah tangan lembut menahan lengannya.
"Sudahlah, Kang, sudah," bisik Narti. Matanya tidak berani menatap Seno yang tergeletak tak berdaya.
Melihat kondisi pemuda itu yang tak karuan, hati Narti digelitik rasa bersalah yang hebat. Ia tahu betul bahwa ia baru saja menghancurkan hidup seorang pemuda yang bahkan tidak bisa membela diri sendiri dengan kata-kata. Pemuda itu hanya korban dari rasa takutnya akan murka Darto jika perselingkuhannya dengan Boga terbongkar.
"Kenapa? Biar kupatahkan leher si bisu ini! Dia sudah berani mengintipmu!" bentak Darto, meski suaranya mulai sedikit merendah.
"Cukup, Kang. Dia sudah sekarat. Kalau dia mati, urusannya bakal panjang dengan perangkat desa. Ayo pulang... aku takut," rengek Narti sambil menarik-narik lengan suaminya.
“Puih!” Darto meludah ke tanah, tepat di samping telinga Seno. Namun, akhirnya ia melunak, dan sebagai salam perpisahan, sebuah tendangan keras tetap ia layangkan ke tulang kering kaki kiri Seno.
Prakkk!
Seketika Seno tidak bergerak. Kesunyian yang tiba-tiba melanda membuat wajah Darto, ketiga kawannya dan juga Narti mendadak pucat pasi seperti mori.
Suro, salah satu kawan Darto memberanikan diri mendekat. Dengan tangan gemetar, ia menempelkan jarinya ke depan lubang hidung Seno.
"Dia masih bernapas, tapi sepertinya ajal akan segera menjemputnya,” kata Suro dengan suara bergetar karena takut.
Mendengar ucapan Suro, yang lainnya tersentak. Terutama Narti, seketika mulutnya dengan tangan kanan, matanya membelalak ketakutan.
"Buang saja ke sungai! Biar dia hanyut, jadi kita tidak perlu repot menguburnya." Rekan Darto yang bernama Sarwo tiba-tiba mengusulkan, matanya menatap aliran air yang deras tak jauh dari mereka
"Jangan goblok!" bentak Darto cepat. "Sungai ini mengalir ke desa sebelah. Tubuhnya pasti tersangkut di sana. Jika mayatnya masih utuh, luka lebam dan bekas hantaman kayu ini jelas akan terlihat. Warga di sana tahu betul tanda-tanda penganiayaan. Bisa-bisa kepala desa dan keamanan mengusutnya sampai ke sini! Mampuslah kita... des, bedes!"
Sarwo terdiam sebentar, otaknya berpikir keras. Sebenarnya, dia punya alasan pribadi; Beberapa hari yang lalu, Seno memergoki dirinya berciuman dengan Narti di hutan. Ia sangat ingin pemuda itu benar-benar lenyap agar rahasia busuknya tidak pernah terungkap jika suatu saat si bisu itu sembuh.
"Kalau begitu, kita buang ke tengah hutan saja, Kang Dar! Kita cemplungkan saja ke jurang di dalam sana. Setahuku jurang itu juga tempat anjing-anjing liar sering berkumpul. Biar binatang-binatang itu yang menghabisinya sampai ke tulang-tulang. Tidak akan ada yang menemukan jejaknya di sana," usul Sarwo lagi, penuh tipu daya.
Tanpa banyak bicara lagi, mereka mengikat kaki Seno dengan tali, lalu menyeret tubuh yang sudah tak sadarkan diri itu semakin jauh ke dalam kegelapan hutan. Tiba di tempat tujuan, Darto langsung membuang Seno ke dalam jurang.
Tubuh Seno menggelinding ke bawah, menghantam semak berduri yang merobek kulitnya, lalu membentur bebatuan lancip yang menambah luka di sekujur tubuhnya. Hingga akhirnya tubuh ringkih itu tersangkut di sebuah dahan besar.
“Ayo kita pergi! Aku yakin sebentar lagi anjing hutan yang kelaparan akan kemari karena mencium bau anyir mayat ini!” kata Sarwo seraya terus melihat tubuh Seno di bawah sana.
Ketiganya meninggalkan Seno begitu saja dan berharap pemuda itu mati. Seharusnya Seno memang mati akibat kehabisan darah. Namun tidak demikian adanya.
Darah segar mengalir deras dari kepalanya, menetes ke bawah, tepat mengenai sebuah benda bulat berwarna biru dalam sebuah sarang burung yang terletak di antara ranting. Anehnya darah Seno langsung meresap masuk ke benda bulat seukuran kelereng tersebut.
Hal yang mencengangkan pun terjadi. Perlahan batu itu menyala biru terang. Semakin lama, sinar itu kian terang dan perlahan menguar seperti sepihan debu biru yang kemudian membentuk menjadi sebuah benda padat.
~~~
Perlahan, sang surya mulai menampakkan diri di langit timur, menyiratkan semburat jingga yang menembus celah-celah dedaunan. Di bawah siraman cahaya pagi itu, Seno mulai menggerakkan kelopak matanya.
Pandangannya masih buram, dan sempit karena matanya bengkak. Namun, di tengah kesadarannya yang masih tipis, dia melihat sebuah bayangan nyata yang sedang berdiri diam menatapnya. Yaitu seekor kucing belang abu-abu.
“Apakah ini taman surga?” Seno bertanya-tanya dalam hati.
Pemuda itu masih terdiam. Melalui pandangannya yang terbatas, dia bisa melihat gubuknya yang bolong-bolong dan sebagian rumbianya terjatuh.
“Oh... ini rumahku.” Dia masih berkata dalam hati.
Dengan susah payah, Seno berusaha duduk. Tulangnya terasa remuk, setiap tarikan napas memicu rasa nyeri yang menusuk di rusuknya. Ia melihat ke sekeliling dengan tak percaya. Seno masih ingat betul Jika baru dihajar habis-habisan oleh Darto dan kawan-kawannya di pinggir kali.
"Mungkinkah mereka mengantarku pulang?" pikirnya dalam hati. Namun, ia segera menepis pikiran itu. Darto bukan orang yang punya belas kasihan, apalagi setelah Narti memfitnahnya.
Matanya kembali tertuju pada seekor kucing yang sejak tadi tidak beranjak. Binatang itu masih memandangnya dengan aneh.
"Wahai orang busuk dan korengan, apakah kau sedang ketakutan? Apakah aku perlu menolongmu? Hitung-hitung sebagai imbalan karena darahmu yang jelek itu membebaskanku dari batu sialan."
Mendengar itu, Seno tersentak bukan kepalang. Ia menoleh ke arah si kucing berbulu abu-abu belang-belang itu. Dari sanalah suara itu berasal.
“Hai manusia jelek? Kau mendengarku?” Kucing itu kembali berseru.
Daftar bab
117 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
117 bab








