Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kaisar Dewa Kekacauan

Kaisar Dewa Kekacauan

Fzl-dark | Bersambung
Jumlah kata
65.6K
Popular
1.5K
Subscribe
96
Novel / Kaisar Dewa Kekacauan
Kaisar Dewa Kekacauan

Kaisar Dewa Kekacauan

Fzl-dark| Bersambung
Jumlah Kata
65.6K
Popular
1.5K
Subscribe
96
Sinopsis
FantasiFantasi TimurKultivasiPembunuhanPedang
Baran Ranggu, pewaris terakhir keluarga tabib legendaris, kehilangan penglihatannya demi menyelamatkan nyawa wanita yang dicintainya.Selama setahun, ia mempertaruhkan segalanya untuk menyembuhkan penyakit langka yang diderita Laras Prana, putri Penguasa Kota sekaligus tunangannya. Bahkan ketika matanya menjadi buta akibat serangan balik energi penyakit itu, Baran tidak pernah menyesal. Ia percaya semua pengorbanannya akan berakhir dengan kehidupan yang bahagia bersama wanita yang dicintainya.Namun pada malam penyembuhan terakhir, semua harapannya hancur.Laras menuduhnya mencoba mencemarkan kehormatannya. Penguasa Kota yang dulu memohon bantuannya kini memerintahkan para pengawal untuk membunuhnya tanpa belas kasihan. Di hadapan orang-orang yang telah ia selamatkan, Baran baru menyadari bahwa sejak awal dirinya hanyalah alat yang dimanfaatkan.
Bab 1

Malam itu gelap gulita seperti tinta, dengan awan tebal yang memenuhi langit. Di tengah keributan gemuruh guntur, hujan deras tampaknya akan segera turun.

Di sebuah jalan pegunungan, seorang pemuda bertubuh tinggi melangkah perlahan. Tangannya memegang sebuah tongkat kayu yang diketuk-ketukkan ke tanah untuk memandu jalannya. Pemuda ini memiliki wajah yang tampan dengan mata seindah permata hitam yang memancarkan semangat. Namun sayangnya, dia buta.

Langkah kakinya akhirnya berhenti di sebuah hutan kecil. Di depannya, berdiri seorang gadis muda anggun yang mengenakan gaun biru muda. Wajahnya tampak cantik.

"Kakak Baran, Anda di sini!"

Melihat pemuda tunanetra itu mendekat, gadis berbaju biru tersebut segera menghampiri dan memeluk lengannya.

Pemuda buta bernama Baran Ranggu ini adalah keturunan dari keluarga dokter bangsawan yang telah jatuh miskin. Sejak kecil, ia berkelana bersama kakeknya untuk mengobati pasien di berbagai tempat.

Setahun yang lalu, Baran dan kakeknya tiba di Kota Albara. Mereka mendengar kabar bahwa putri Penguasa Kota yang bernama Laras Prana lahir dengan kondisi Denyut Ekstrem Tiga Yin, sebuah penyakit langka yang belum bisa disembuhkan oleh siapa pun. Penyakit ini sangat mematikan. Jika tidak disembuhkan sebelum menginjak usia delapan belas tahun, putri Penguasa Kota itu dipastikan akan menemui ajalnya.

Namun, Baran memiliki bakat medis yang luar biasa. Ia telah menguasai prinsip-prinsip kedokteran sejak kecil dan mempelajari Teknik Akupunktur Misterius Tertinggi milik keluarganya, sebuah keterampilan medis yang sangat ajaib.

Kakek Baran, Sena Ranggu, melihat sayembara berhadiah besar yang diumumkan oleh Penguasa Kota. Ia pun mendesak Baran untuk menerima tantangan tersebut dan memasuki Kedianan Penguasa Kota demi mengobati Laras.

Setelah sesi akupunktur pertama dilakukan, kondisi Laras ternyata membaik secara signifikan. Oleh karena itu, atas permintaan tulus dari Penguasa Kota, Baran dan kakeknya menetap di sana untuk menyembuhkan total Denyut Ekstrem Tiga Yin yang diderita Laras.

Tiga bulan yang lalu, saat sedang melakukan akupunktur pada Laras, Baran secara tidak sengaja terkena serangan balik dari energi yin. Akibatnya, ia mengalami kerusakan mata dan menjadi buta.

Untuk menenangkan Baran agar tetap merawat putrinya dengan sepenuh hati, Penguasa Kota berjanji bahwa jika Baran berhasil menyembuhkan Laras, ia akan menikahkan putrinya itu dengan Baran. Laras sendiri juga menyatakan bahwa karena Baran telah menjadi buta demi dirinya, ia bersedia membalas kebaikan tersebut dengan mengabdi seumur hidup dan merawatnya selamanya.

Laras adalah sosok wanita yang sangat cantik dan berhati lembut. Baran pun sudah lama memendam perasaan kepadanya. Kini, dalam kondisinya yang buta, bisa menikahi wanita secantik Laras tentu menjadi hal yang tidak mungkin ia tolak.

Selama tiga bulan terakhir, berkat upaya gigih Baran, kesehatan Laras berangsur-angsur pulih. Perawatan malam ini adalah sesi terakhir yang dibutuhkan untuk menyembuhkan total Denyut Ekstrem Tiga Yin tersebut.

"Kemarilah, Laras, duduklah. Hari ini aku akan memberikan sesi akupunktur terakhir untukmu. Setelah ini, Tiga energi Yin di tubuhmu akan benar-benar bersih, dan kamu tidak akan lagi menderita rasa sakit akibat lonjakan energi yin setiap kali malam bulan purnama tiba."

"Terima kasih, Kakak Baran! Mari kubantu Anda duduk."

Senyum manis mengembang di wajah Laras yang menawan. Ia membantu Baran duduk di bawah sebuah pohon besar, lalu mengambil posisi duduk bersila di hadapan pemuda itu.

Setelah duduk mapan dengan bantuan Laras, Baran mengeluarkan sebungkus jarum emas dari balik pakaiannya. Ia berkata dengan lembut, "Laras, maaf jika aku menyinggungmu."

Baran mengangkat tangannya dan mulai meraba titik-titik akupunktur di tubuh Laras dengan hati-hati. Meski kehilangan penglihatannya, sosok Laras telah terukir kuat di dalam benaknya. Ia dapat dengan mudah menemukan titik yang tepat, lalu menusukkan jarum emas itu untuk mulai mengeluarkan Tiga Energi Yin.

Saat energi tersebut dialirkan keluar melalui jarum emas, sebagian kecil jejak energi yin mau tidak mau mengalir masuk ke dalam tubuh Baran. Hal inilah yang sebelumnya membuat mata Baran menjadi buta.

Saat ini, wajah Laras tampak merona merah. Sebaliknya, seluruh tubuh Baran menegang dengan urat-urat yang menonjol di sekujur kulitnya. Keringat dingin bercucuran di dahinya saat ia menahan rasa sakit yang luar biasa akibat kikisan energi yin.

Tujuh setengah menit berlalu, Baran perlahan menarik kembali jarum emasnya. Denyut Ekstrem Tiga Yin milik Laras akhirnya berhasil disembuhkan sepenuhnya.

Baran menyeka keringat di dahinya. Dengan wajah yang pucat pasi, ia berkata lirih, "Sudah selesai, Laras. Kamu boleh bangun sekarang."

Laras membuka matanya. Ia tampak jauh lebih bugar dan ceria. Sambil menatap Baran, ia bertanya dengan nada serius, "Apakah Denyut Ekstrem Tiga Yin milikku benar-benar sudah sembuh total?"

"Ya, sudah sembuh total," Baran tersenyum lembut. "Setelah beristirahat sebentar, kamu akan menjadi seorang pengantin yang sehat dan cantik."

"Terima kasih." Suara Laras tiba-tiba berubah menjadi agak dingin, tidak lagi sehangat biasanya saat ia selalu memanggil dengan sebutan 'Kakak Baran'.

"Mengapa kamu menjadi begitu formal bersamaku? Mari kita kembali ke kediaman. Besok aku akan menemui Penguasa Kota untuk membicarakan pernikahan kita!" Baran tersenyum manis sambil mengangkat tangannya, berniat membelai pipi Laras.

Biasanya, Laras akan menyambut hangat jemarinya. Namun kali ini, gadis itu justru menghindar.

Jantung Baran berdebar kencang, memicu rasa tidak nyaman di hatinya. Ia mengernyitkan alis, "Laras, ada apa?"

Laras tidak menjawab. Ia menoleh ke arah hutan lebat, di mana obor-obor mendadak bermunculan diiringi suara langkah kaki yang mendekat dengan cepat.

Tiba-tiba, Laras merobek pakaian di bagian bahunya sendiri lalu menerjang ke dalam pelukan Baran. Ia berteriak dengan histeris, "Baran, dasar binatang! Kau mencoba melecehkanku! Tolong! Siapa pun, selamatkan aku!"

Ekspresi Baran seketika membeku. Dengan penuh kebingungan, ia berseru, "Laras, apa yang kau katakan? Apa maksud semua ini?"

Pada saat yang sama, seorang pemuda tampan memimpin seorang pria paruh baya beserta sekelompok pelayan berjalan cepat ke arah mereka.

"Baran, dasar binatang! Apa yang kau lakukan?!"

Pria paruh baya itu meraung murka. Ia melesat maju, merenggut Laras menjauh dengan satu tangan, sementara tangan lainnya melayangkan tamparan keras yang membuat Baran tersungkur ke tanah. Pria paruh baya ini tidak lain adalah Damar Prana, ayah Laras sekaligus Penguasa Kota Albara.

Laras langsung menangis tersedu-sedu di pelukan Damar, "Ayah, Baran... dia benar-benar kejam!"

"Paman Damar, Anda lihat sendiri, kan? Sudah kukatakan bahwa Baran ini hanyalah orang tidak berguna yang berniat buruk. Dia berpura-pura merawat sepupuku, tetapi diam-diam menjebaknya ke tempat ini untuk melakukan tindakan keji!"

Pemuda yang datang bersama Damar itu maju dan menginjak-injak tubuh Baran yang sedang terkapar. Sambil terus memukul, ia mengumpat, "Dasar bajingan buta! Berani sekali kau mendambakan sesuatu yang di luar jangkauanmu. Berkacalah pada kondisimu yang cacat itu! Apakah kau merasa pantas bersanding dengan sepupuku, Laras?"

Pemuda ini bernama Bima Santra, sepupu dari Laras.

Kenyataannya, semua kejadian malam ini adalah rencana yang telah disusun dengan matang oleh Laras dan Bima. Jika tidak, mengapa Laras bersikeras mengajak Baran melakukan pengobatan di bukit belakang, dan mengapa Damar bisa datang tepat pada waktu yang sangat pas ini?

Baran merasa kepalanya pening akibat tamparan Damar serta pukulan dan tendangan bertubi-tubi dari Bima. Namun, rasa sakit di tubuhnya tidak seberapa dibandingkan dengan rasa dingin yang menusuk hatinya. Ternyata, sejak awal Laras hanya memanfaatkannya dan membohonginya.

Sambil menggertakkan gigi menahan siksaan Bima, Baran berteriak penuh amarah, "Laras, kau menjebakku! Kau memanfaatkanku!"

Laras tetap menyembunyikan wajahnya di dada ayahnya sambil terus menangis, "Kita bahkan sudah bertunangan, tapi mengapa kau tega memperlakukanku seperti ini di tempat sepi? Kau... kau adalah binatang berwajah manusia!"

"Hahaha..." Baran tertawa terbahak-bahak ke arah langit. Ia menertawakan kebodohannya sendiri yang telah menyia-nyiakan seluruh usahanya selama setahun terakhir, bahkan sampai kehilangan penglihatannya, hanya untuk menerima akhir yang seperti ini.

Lanjut membaca
Lanjut membaca