

Hujan menghantam atap seng gedung tua itu tanpa ampun. Suaranya memekakkan telinga, menelan hampir seluruh kebisingan malam di sudut kota yang mati. Ruangan itu pengap, dipenuhi bau jamur yang lembap, sisa kopi basi, dan kepulan asap rokok yang menyesakkan dada.
Gavin Arisanta duduk bergeming di balik meja kayu yang politurnya sudah mengelupas. Ia dikenal dengan julukan "Sang Pemburu".
Di seberang meja, Joni, seorang informan amatir, tampak sangat gelisah. Kemejanya basah oleh keringat dan air hujan. Ia terus-menerus meremas jemarinya yang gemetar.
"Kau yakin dengan nama ini, Jon?"
Gavin bahkan tidak mengangkat kepalanya ketika bertanya. Suaranya rendah.
Joni tersedak ludahnya sendiri, lalu mengangguk cepat.
"Ya...yakin, Bos. Sumpah! Saya belum pernah melihat TKP seaneh itu. Benar-benar tidak normal."
Gavin tidak langsung merespons.
Ia meraih foto itu. Foto jasad seorang wanita yang tergeletak di atas lantai.
Peluru perak di dada korban membuat tangannya bergetar.
G.A.
Inisial yang tertulis pada peluru perak itu.
Seseorang sengaja ingin ia melihatnya.
"Dia tahu kau yang akan datang, Bos," bisik Joni ketakutan. "Ini umpan yang disiapkan khusus untuk Anda."
Gavin menyalakan sebatang rokok dengan pemantik Zippo tuanya yang berdenting nyaring.
"Semua buruan mengira mereka adalah pemburu, Jon, sampai akhirnya kaki mereka terjebak di dalam jepitan besi."
"Tapi yang ini beda, Bos! Dia meninggalkan pesan tulisan merah di dinding," potong Joni dengan volume suara yang buru-buru dikecilkan.
"Kata pertamanya adalah nama Anda."
Gavin mengetukkan abu rokoknya.
"Apa bunyinya?"
"Gavin... mari kita lihat seberapa cepat kau bisa berlari. Hanya itu, dan di bawahnya ada angka kosong, satu, kosong, sembilan."
Mendengar angka itu, tangan Gavin yang memegang rokok bergetar samar. Ia kembali mencium bau bensin menyengat dan hawa panas yang menghancurkan hidupnya lima tahun lalu pada tanggal sembilan September. Hari di mana semua miliknya hancur menjadi abu.
Pria itu menguasai diri dalam hitungan detik, lalu mematikan rokoknya kuat-kuat ke dalam asbak. "Di mana lokasinya sekarang?"
"Gudang nomor empat, di ujung dermaga barat."
"Polisi belum tahu.
Yang menemukan sepupu saya.
Dia cuma menghubungi saya sekali.
Sekarang dia sembunyi."
Joni merogoh sakunya dan menyodorkan sebuah kunci berkarat ke atas meja.
"Itu kunci pintu samping. Tolong, jangan bawa-bawa nama saya jika terjadi sesuatu."
Gavin meraih kunci tersebut.
"Kau yakin tidak ada orang lain yang tahu?"
"Tidak ada, Bos! Tapi ada coretan lain di dekat pintu masuk: 'Aku tahu kau akan datang sendiri, Gavin. Sang Pemburu tidak pernah membawa kawanan saat melacak bayangannya.' Seolah-olah dia kenal Anda luar dalam," Joni bergidik.
Gavin terdiam.
Ia merogoh saku jaketnya, lalu mengeluarkan seikat uang pecahan seratus ribu rupiah ke hadapan Joni. "Pergilah dari kota ini selama satu minggu. Jangan aktifkan ponselmu."
Joni menyambar uang itu dengan cepat. "Terima kasih, Bos. Anda benar-benar mau pergi ke sana? Badai di luar sangat gila."
"Hujan bisa menyembunyikan jejak kaki," jawab Gavin pendek sembari berdiri.
Ia memastikan pisau taktis dan pistol semi-otomatisnya terselip kokoh di pinggang. Sambil melangkah keluar, Joni bergumam, "Semoga beruntung, Sang Pemburu." Gavin tidak menjawab dan langsung membiarkan angin malam yang sedingin es menyapu wajah lakinya.
Langkah kakinya hampir tidak bersuara membelah kegelapan dermaga barat. Lampu jalan berkedip lemah. Bau garam laut bercampur karat besi menusuk hidung saat ia mendekati Gudang Nomor Empat. Bangunan tua itu tampak seperti raksasa yang tertidur di tepi pantai.
Ia merapat ke dinding seng gudang, menajamkan pendengarannya di antara deru badai sebelum memasukkan kunci ke lubang gembok. Dengan satu sentakan pelan, gembok terbuka. Ia mendorong pintu besi itu lambat-lambat dan menyelinap ke dalam kegelapan yang lebih pekat.
Udara di dalam terasa luar biasa dingin. Bau darah segar langsung menyergap indra penciumannya. Tangannya menyalakan senter kecil yang diredupkan. Berkas cahaya menyapu lantai semen yang lembap, mengikuti jejak air yang membentuk pola langkah kaki ke arah tumpukan peti kayu setinggi tiga meter di bagian tengah gudang.
Gavin melangkah pelan dengan pistol teracung di tangan kanan. Sepatunya bergerak tanpa suara di atas lantai yang licin.
Saat berbelok di ujung barisan peti terakhir, dadanya berdesir hebat. Di bawah sorotan lampu yang bergoyang ditiup angin, seorang wanita terduduk di atas kursi kayu dengan kepala terkulai lemas. Gaun putihnya tampak kontras dalam kegelapan.
Ia mendekat, lalu memeriksa urat leher wanita itu. Tubuhnya masih hangat.
"Tidak ada denyut. Terlambat lagi."
Gavin menarik napas pendek sebelum menutup mata wanita itu.
Pandangannya beralih ke dinding di belakang kursi. Tertulis dengan cairan merah pekat yang masih agak basah: GAVIN... MARI KITA LIHAT SEBERAPA CEPAT KAU BISA BERLARI. 01-09. Di bawahnya ada catatan kaki kecil: Kau datang sendiri, persis seperti tindak-tandukmu lima tahun lalu. Sendirian, sombong, dan siap untuk hancur.
"Bajingan," desis Gavin dengan urat leher menegang. Ini bukan lipstik, melainkan darah manusia asli.
Tiba-tiba, keheningan pecah oleh suara statis perangkat elektronik dari atas peti kayu. Gavin berbalik secepat kilat, mengacungkan pistolnya ke arah kegelapan.
"Siapa di sana? Keluar!"
Tidak ada jawaban, namun lampu indikator merah dari sebuah ponsel pintar mulai berkedip, menampilkan mode panggilan video yang aktif. Gavin mendekat dengan waspada. Layar itu hitam pekat, tetapi suara distorsi yang berat segera terdengar.
"Kau terlambat lagi, Gavin. Selalu terlambat."
"Siapa kau? Tunjukkan wajahmu, keparat!" tanya Gavin sedingin es.
Suara tawa renyah yang dimanipulasi terdengar menyakitkan.
"Kau tidak merindukanku? Lima tahun... waktu yang cukup lama untuk menyembuhkan luka bakar, rasanya."
Rahang Gavin mengatup. "Kau yang membakar tempat itu dan membunuh mereka?!"
"Sekarang, fokuslah pada apa yang ada di depan matamu. Gadis itu terlalu banyak bicara tentang masa lalumu, jadi aku memutuskan untuk membantunya diam selamanya."
"Aku akan menemukanmu," janji Gavin mutlak. "Dan aku sendiri yang akan memastikan kau memohon untuk mati."
"Oh, aku sangat berharap begitu. Tapi, jika kau tidak bergerak cepat sekarang..." Suara itu mendadak berhenti, digantikan bunyi detak jam digital yang nyaring.
Pip... pip... pip...
"Kau punya waktu tepat tiga menit sebelum seluruh gudang ini meledak."
"Kalau aku jadi kau... aku sudah mulai berlari."
"Kenapa aku?" tuntut Gavin.
Pelaku tertawa pelan. "Karena kau satu-satunya orang yang masih hidup."
Klik. Panggilan terputus. Angka digital berwarna merah di layar mulai menghitung mundur dengan cepat: 02:59... 02:58... 02:57...
Jari Gavin berhenti di pelatuk selama sepersekian detik. Musuhnya berhasil menyentuh luka lama yang dikuburnya dalam-dalam.
Mendengar bunyi pip yang kian rapat di angka 02:41, Gavin memandang pintu keluar. Malam ini, ia tidak lagi sekadar berlari dari ledakan bom, melainkan sedang berlari menuju masa lalu yang selama lima tahun ini mati-matian ingin ia lupakan.