
MISTERI BATU AKIK
PengabdiCuan|Bersambung
- Jumlah kata
- 117.6K
- Popular
- 1.6K
- Subscribe
- 601
- Jumlah kata
- 117.6K
- Popular
- 1.6K
- Subscribe
- 601
Sinopsis
WARNING 21+++ Bayu yang miskin, sial, bertubuh kerempeng, dan tidak tampan mendapatkan keapesan yang membawanya bertemu Pak Andy. Setelah pertemuan itu, Bayu mendapatkan delapan batu akik misterius. Di mana salah satu batu akik itu memunculkan perempuan cantik, seksi, dan mempesona bernama Sukma. Hidup Bayu pun mulai berubah satu per satu, tetapi semua itu tidak gratis! Setiap permintaan, harus memberikan TUMBAL keperawanan dari orang yang dipilih oleh jin penunggu batu akik. Akankah Bayu terbuai dengan kemudahan nan fana itu?
Ulasan
10 ulasan
Bayu Aksara
11/8/26 05:07
Tumbal bukan sembarang tumbal. Wah, kakak berhasil membuat saya berimajinasi tiap melihat batu akik nih Kak. Semangat berkarya kak.
Azeela Danastri
11/8/26 04:36
Cocok untuk pembaca yang menyukai horor pesugihan, tumbal, jin, dan kisah tentang keinginan manusia yang ternyata tidak pernah gratis. 👀🔥 Love, mamaknya Catra kesayangan ani-ani, eh... onty-onty
Bayu
"Ya Allah, kapan aku ini jadi kaya? Kerja cuma jadi kurir kerja lepas begini," keluh Bayu yang mengendarai kendaraan roda duanya melaju dengan kecepatan rendah.
Hujan rintik-rintik diperalihan sore menjelang malam. Dinginnya menusuk tulang. Bayu baru selesai mengirim semua paket ke tuannya.
Motor butut keluaran lawas menjadi satu-satunya teman yang setia dalam perjalanan hidup Bayu.
"Uang tinggal tiga ratus ribu. Padahal tadi ibu sudah ngeluh nggak ada beras. Gimana ini? Gajian masih dua minggu lagi."
Pusing.
Bayu merasa pusing karena sejak ayahnya tiada tiga tahun lalu, mau tak mau, dia menjadi tulang punggung keluarga. Ibunya hanya buruh lepas. Sedangkan kedua adiknya masih sekolah.
Saat lewat jembatan yang sepi dan terkenal angker, Bayu tiba-tiba dihimpit oleh orang yang mengendarai motor berboncengan.
"Heh, turun! Menepi!"
"Cepet menepi! Tak clurit kamu kalau nggak nurut!" gertak lelaki berambut gondrong dengan paras yang menyeramkan.
Bayu langsung ciut nyali dan menghentikan laju kendaraannya. Dia sudah merasa tak enak hati karena penampilan orang itu seperti preman dan kemungkinan besar saat ini dia dalam bahaya.
"A-ada apa, Mas?" ucap Bayu dengan gugup.
"Ada apa, ada apa ... Serahin semua duitmu! Ponsel! Dan motormu! Kalau nggak, nyawamu melayang!" seru lelaki berambut gondrong yang langsung turun dari motor kawannya.
Sedangkan lelaki gemuk yang masih di atas motor menengok ke kanan dan ke kiri memastikan semua aman.
"Ma-Mas ... Jangan, Mas. Ini motor peninggalan almarhum bapakku." Bayu mencoba membela diri.
Namun yang terjadi selanjutnya, pukulan demi pukulan dilayangkan Si Gondrong kepadanya. Si Gemuk yang awalnya menunggu di atas motor, langsung ikut turun dan menghajar Bayu tanpa ampun.
"Ampun, Mas! Ampun!" jerit Bayu penahan kesakitan.
Seketika hujan pun makin deras. Padahal tadi hanya hujan rintik-rintik saja.
Si Gondrong mendengus kesal. "Malah deres hujane! Dasar apes!"
"Dah, ambil aja yang dia punya," pungkas Si Gendut.
Tanpa ampun, keduanya merampas semua yang Bayu punya. Uang di dalam dompet yang hanya tinggal tiga ratus ribu, motor butut, dan juga ponsel yang digunakan kerja sebagai kurir paket.
Setelah mengambil semuanya, dua preman itu pun meninggalkan lokasi tersebut dengan menggunakan motor masing-masing. Sedangkan Bayu merangkak kesakitan.
"Tolong ... tolong aku ... kumohon, tolong aku ...."
Kesadarannya hampir hilang. Tubuhnya menahan sakit luar biasa. Kepalanya pening dan cairan merah menetes di pelipis, hidung, dan luka di beberapa bagian tangan serta kaki.
"Apa aku bakal mati hari ini? Jangan ... kasihan ibu, Dela, sama Wahyu. Aku nggak boleh mati," gumam Bayu berusaha susah payah untuk berdiri, tetapi kesakitan yang dirasa membuatnya tampak makin payah.
Tiba-tiba petir pun terdengar menyambar. Suara menggelegar itu membuat Bayu makin panik. Dia takut nyawanya berakhir di sini.
Satu per satu kenangan pahit muncul di dalam memori. Semenjak sekolah dia selalu menjadi bahan hinaan teman-temannya. Dia dijauhi semua orang bahkan tidak ada satupun perempuan yang tertarik kepadanya.
Meski Bayu memiliki tubuh yang tinggi, tetapi penampilannya sangat payah. Dia juga kurus kering seperti kurang gizi.
Setelah lulus sekolah, Bayu harus menghadapi kenyataan pahit karena bapaknya dipanggil Sang Pencipta. Tiga tahun sudah, Bayu menjadi tulang punggung keluarga. Dia tahu ini tidak mudah, tetapi hanya ini yang bisa dia lakukan sebagai anak yang peduli terhadap ibu dan kedua adiknya.
Tak disangka, seseorang berjalan mendekat. Lalu tangan terulur padanya. Ini kali pertama Bayu mendapatkan pertolongan dari orang lain.
"Le, nopo kowe udan-udanan nek kene?" (Le = panggilan anak lelaki di bahasa Jawa) (Kenapa kamu hujan-hujanan di sini?)
Bayu meraih tangan itu dan menatap orang yang tadi bicara padanya. "Pak ... tolong ... tolong aku ...."
Setelah itu, kesadaran Bayu terenggut. Dia pingsan.
Lelaki berusia sekitar enam puluh lima tahun itu bernama Pak Andy. Dia langsung menolong Bayu. Entah bagaimana caranya, Pak Andy membawa Bayu pulang ke rumahnya.
Rumah yang jauh dari keramaian warga. Rumah yang sunyi dan terpencil. Letaknya di pinggiran sungai, dekat dengan perkebunan.
"Tangi o, Le. Wong koyo kowe, kudu urip. Dadi o wong sek diajeni lan sugih," kata Pak Andy sambil merapalkan sebuah mantra dengan bahasa Jawa. (Bangunlah. Orang sepertimu harus hidup. Jadilah orang yang disegani dan kaya raya)
Lalu, beberapa batu akik muncul dengan cahaya yang menyilaukan. Warnanya berbeda-beda.
Bayu yang hampir bertemu malaikat maut, akhirnya bisa membuka mata lagi. Dia terkejut dan ketakutan berada di dalam rumah Pak Andy.
"Loh, a-aku di mana ini??!" ujarnya dengan kebingungan.
Tubuhnya yang tadi serasa penuh luka dan remuk redam, saat ini dengan ajaib sudah sembuh seperti semula. Bayu pun bingung saat bangkit dari tempat tidur. Dia terduduk di tepi ranjang bambu dan menatap Pak Andy.
"Kamu di gubukku. Namaku Pak Andy. Panggil Pak atau Mbak tak apa. Kalau aku ngomong pakai bahasa Jawa, takutnya kamu tak paham," jawab lelaki tua itu sambil tersenyum mengetahui Bayu sudah sadarkan diri.
"Pak ... Eh, Mbah ... Eh, Pak saja lah. Te-terima kasih sudah tolong aku. Tapi ...." Ucapannya terhenti. Tubuhnya yang tadi penuh luka, sekarang sudah sembuh. "Lah, tadi aku 'kan dipukuli preman. Uang, ponsel, sama motorku diambil. Aku sekarat tadi. Tapi ini, kok, badanku udah sehat lagi? Nggak ada luka?"
Bayu merasa kebingungan dengan apa yang menimpa dirinya. Bahkan sempat terpikir dalam benaknya kalau mungkin dia sudah pingsan beberapa hari dan berada di sana cukup lama.
"Tenang, Nak Bayu. Aku ini sudah hidup cukup lama di dunia fana ini. Kamu ... Itu orang yang terpilih. Aku akan bantu kamu ubah nasib. Kamu mau jadi orang kaya? Mau jadi orang sukses? Mau jadi orang yang disegani? Dan ... Jadi orang yang ganteng serta digandrungi para wanita?" Pak Andy menanyakan hal yang selama ini menjadi impian dan andai-andai dalam benak Bayu.
Bayu masih bingung dan mengerjab-ngerjabkan matanya. Dia tak tahu ini mimpi atau nyata. "I-iya, Pak. Aku ... pingin ubah nasib. Tapi ... apa bisa?"
Pak Andy tersenyum menyeringai. Dia pun menjawab pertanyaan Bayu dengan mantap. "Bisa. Sangat bisa. Ini untukmu. Delapan batu akik kecubung yang sakti mandraguna. Kamu bisa mendapatkan kemampuan yang berbeda-beda dari tiap batu akik ini. Warnanya beda, fungsinya beda. Kamu akan paham semua ini saat membuka mata besok pagi."
"Satu hal yang harus kamu ingat, ini ... tidak gratis! Ha ha ha ...."
Suara Pak Andy langsung menggema. Bayu ketakutan dan memejamkan mata. Dia tak paham apa yang dimaksudkan oleh Pak Andy. Dia pun menutup telinga dengan kedua tangannya.
Suara tawa Pak Andy menggema ke seluruh penjuru ruangan. Hingga akhirnya Bayu kembali tak sadarkan diri. Dia kembali pingsan.
Entah ini mimpi atau nyata, Bayu tak tahu. Apa bisa lelaki payah nan miskin seperti Bayu mengubah nasib dengan batu akik?
Daftar bab
106 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
106 bab








