
- Jumlah kata
- 28.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
Sinopsis
Satu tetes untuk kepatuhan, satu racikan untuk menguasai dunia. Dikhianati, dihina, dan dicampakkan sebagai pria miskin tak berguna, Rian Hendrawan menemukan Kitab Ambar Sutra—naskah rahasia penyulingan ramuan kuno. Dari jemarinya, lahir Distilasi Sukma, cairan emas misterius yang mampu melumpuhkan logika, mencuci kebencian, dan memaksa siapa pun bertekuk lutut memuja dirinya. Bersama imperium bisnis terlarang yang ia bangun, Rian bersiap menaklukkan siapa saja yang meremehkannya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1. Aroma Kegagalan
Bau belerang yang menyengat bercampur dengan uap amonia murah, menusuk rongga hidung hingga membuat mata Rian Hendrawan terasa perih.
Di dalam ruangan laboratorium bawah tanah milik PT Aroma Sentosa—sebuah pabrik parfum kosmetik kelas rendahan di pinggiran kota industri—udara selalu terasa padat, beracun, dan sesak oleh aroma pelarut industri yang murah.
Di atas meja kerja stainless steel yang dipenuhi noda tumpahan cairan kimia kecokelatan, sebuah surat pemecatan tergeletak di samping tabung Erlenmeyer yang masih mengepulkan sisa uap sintetis.
"Kamu pikir kamu siapa, Rian? Seorang seniman wewangian?" Suara hardikan itu memecah keheningan ruangan.
Haris, kepala produksi dengan jas laboratorium putih yang mulai menguning di bagian kerah, berdiri bersidekap di depan meja Rian. Wajahnya memerah karena amarah, matanya menatap rendah pada pemuda berusia dua puluh empat tahun yang duduk membungkuk di kursi kayu usang.
Rian tidak segera mendongak. Jemarinya yang berbau etanol dan sisa minyak kesturi sintetis masih menggenggam sehelai kertas dokumen formula.
Ia baru saja menolak menandatangani dokumen perpanjangan produksi untuk lini parfum terbaru perusahaan tersebut—sebuah produk tiruan murah bernama Aura Royale yang menggunakan bahan dasar benzyl chloride kadar tinggi dan pelarut industri beracun yang terbukti memicu iritasi parah hingga pengelupasan kulit.
"Formula ini ilegal, Pak Haris," suara Rian terdengar tenang, datar, namun bergetar oleh kelelahan yang teramat sangat.
"Kadar zat kimianya melebihi ambang batas aman. Pelanggan yang memakainya di kulit terbuka akan mengalami luka bakar kimiawi dalam hitungan minggu."
Haris mendengus sinis, tertawa kecil dengan nada merendahkan. Langkah kakinya mendekat, menciptakan suara sepatu pantofel murah yang berderit di atas lantai semen yang lembap.
Ia membungkuk, mensejajarkan wajahnya dengan Rian, sengaja membawa serta aroma parfum pasaran beralkohol tajam yang memualkan.
"Hukum? Standar aman?" Haris terkekeh, meludah kecil ke lantai.
"Dengar, Rian. Konsumen kelas bawah di luar sana tidak peduli dengan struktur top note atau base note. Mereka hanya ingin wangi yang menusuk hidung saat mereka menyemprotkannya sebelum naik angkutan umum, agar orang-orang di sekitar mereka mengira mereka memakai produk impor seharga jutaan."
Haris menepuk-nepuk pundak Rian dengan kasar, cengkeramannya menyisakan tekanan psikologis yang meremukkan harga diri.
"Kamu lulusan akademi kimia terbaik, tapi apa buktinya? Kamu terjebak di sini, di ruang bawah tanah yang bau comberan ini, menggantungkan hidup pada gaji mingguan yang bahkan tidak cukup untuk membayar sewa kontrakanmu yang bocor."
"Tanda tangani dokumen itu, atau angkat kaki dari sini malam ini juga. Pilih mana: menjadi kaya bersama kami, atau mati kelaparan sebagai idealis yang bodoh?"
Rian mendongak perlahan. Menatap lurus mata Haris tanpa gentar. Di balik wajahnya yang tirus dan lingkaran hitam di bawah matanya akibat kurang tidur selama berbulan-bulan, tersimpan sorot mata seorang peracik yang menjunjung tinggi esensi sejati dari wewangian.
"Saya memilih keluar," jawab Rian pelan, namun tegas.
Haris tertegun sedetik, sebelum senyum sinisnya kembali mengembang lebar.
"Bagus. Pergi sana. Bawa idealisme busukmu ke jalanan kota. Kita lihat berapa hari kamu bisa bertahan hidup dengan perut kosong."
Lima belas menit kemudian, Rian melangkah keluar dari gerbang belakang pabrik. Hujan gerimis turun dengan dingin, menyapu debu jalanan dan menciptakan aroma khas aspal basah yang bercampur pekat dengan asap knalpot truk kontainer yang melintas.
Ia merogoh saku jaket parasutnya yang sudah tipis. Jari-jarinya hanya merasakan selembar uang pecahan dua ribuan yang basah dan beberapa koin logam receh. Kosong. Dompetnya benar-benar kering.
Di kepalanya, suara pemilik kontrakan—Bu Lastri—kembali berputar, mengancam akan melemparkan barang-barangnya ke jalan jika ia tidak segera melunasi tunggakan sewa tiga bulan.
Ketika Rian hendak menaiki motor bebek tuanya di area parkir semi-terbuka, sepasang lampu sorot mobil sedan mewah membelah kegelapan malam, berhenti tepat di sampingnya. Pintu mobil terbuka, mengeluarkan suara decitan pelan dari kulit jok yang empuk.
Seorang wanita berjas blazer merah muda dengan riasan wajah sempurna turun dari mobil.
Bella—kekasih Rian selama dua tahun terakhir. Aroma wewangian fruity-floral yang mahal dan manis menyeruak, berbenturan tajam dengan bau apek tempat parkir pabrik.
"Rian?" Suara Bella terdengar dingin, tanpa ada kehangatan yang biasa ia tunjukkan saat meminta dibelikan sesuatu. Matanya menatap motor kusam Rian dengan kilatan jijik yang tidak lagi ia sembunyikan.
Rian tertegun, sejenak melupakan lelahnya. "Bella? Kamu... sedang apa di sini malam-malam begini?"
Bella melipat kedua tangannya di dada, menatap Rian dari ujung rambut hingga sepatu bot kotor yang dipenuhi noda bahan kimia.
"Aku mendapat pesan dari anak produksi pabrik ini. Katanya kamu baru saja dipecat karena sok idealis menolak perintah atasan?" Bella tertawa hambar, sebuah tawa sinis yang menghujam ulu hati Rian lebih tajam daripada surat pemecatan tadi.
"Hebat sekali, Rian. Kamu bahkan tidak punya cukup uang untuk membayar kopi di kafe, tapi masih berlagak seperti pahlawan kesiangan."
Rian merasakan tenggorokannya tercekat. "Bella, aku dipecat karena mereka memaksa memproduksi racun. Aku tidak bisa membiarkan orang-orang memakainya..."
"Cukup, Rian!" potong Bella tajam, suaranya naik satu oktaf, memotong penjelasan Rian tanpa minat sedikit pun untuk mendengar.
"Aku sudah lelah. Dua tahun aku bertahan hidup dengan pria miskin yang kerjanya hanya mengotori tangan di lab bau ini, berharap kamu akan sukses suatu saat nanti. Tapi kenyataannya? Kamu bodoh, keras kepala, dan selamanya akan menjadi pecundang!"
Sebelum Rian sempat merespons, kaca jendela mobil sedan di samping Bella turun perlahan. Seorang pria paruh baya berjas rapi dengan jam tangan emas di pergelangan tangannya—Darwin, manajer area pemasaran senior yang dikenal sebagai salah satu petinggi di distrik industri itu—menjulurkan kepala sambil tersenyum meremehkan.
"Ada apa sayang? Belum selesai urusannya?" suara Darwin terdengar santai, sarat akan kuasa dan kekayaan.
Bella langsung mengubah ekspresinya menjadi lembut, membungkuk mesra ke arah jendela mobil, lalu mengecup pipi pria tua itu sekilas.
"Sebentar, Dar, ini mantan pacarku. Cuma pamitan sekalian meluruskan status supaya tidak ada salah paham."
Degup jantung Rian mendadak melambat. Tatapannya terpaku pada cara tangan Bella melingkar manja di lengan pria berumur tersebut—sebuah keintiman yang terlampau natural untuk ukuran hubungan baru.
Seluruh potongan teka-teki yang selama ini janggal mendadak terkumpul di kepala Rian. Alasan mengapa belakangan ini Bella sering sulit dihubungi di akhir pekan, alasan mengapa wanita itu mendadak tahu begitu banyak tentang gaya hidup mewah, hingga aroma parfum asing beraroma kayu manis dan tembakau mahal yang kerap melekat di mantel Bella saat mereka bertemu.
Bella tidak baru saja memutuskannya hari ini karena pemecatan itu. Wanita itu sudah lama berselingkuh, memanfaatkan uang dan fasilitas pria tua di dalam mobil tersebut, dan kini hanya menggunakan alasan pemecatan Rian sebagai tiket keluar yang paling mudah untuk membuangnya tanpa rasa bersalah.
"Kamu... sudah lama berhubungan dengannya, Bel?" suara Rian tercekat, dingin, namun menyembunyikan badai kehancuran di dadanya.
Bella mendengus, menatap Rian tanpa secercah pun rasa bersalah di matanya.
"Jangan sok tersakiti, Rian. Wanita butuh kepastian masa depan, bukan janji-janji kosong dari pria yang bahkan tidak bisa membelikannya tas branded. Anggap saja hubungan kita selesai malam ini. Jangan pernah hubungi aku lagi."
Bella membalikkan badan, melangkah masuk ke dalam mobil mewah itu tanpa menoleh sekali pun. Mobil sedan tersebut melaju meninggalkan cipratan air genangan yang mengenai celana Rian, membawa serta wanita yang pernah ia cintai ke dalam kegelapan malam yang hangat.
Rian berdiri mematung di bawah rintik hujan. Tidak ada air mata yang jatuh. Yang ada hanya rasa dingin yang merambat dari ujung jemari kaki hingga ke kepalanya, membekukan setiap bagian dari sisa-sisa kemanusiaannya.
Harga dirinya telah diinjak-injak sampai ke titik nadir terendah.
Ia tidak melaju ke arah kontarakannya. Alih-alih berbelok ke kanan menuju kamar sewa sempit yang penuh kenangan pahit itu, Rian justru memutar setang motornya ke arah kiri—menembus jalanan berlubang yang semakin menanjak menuju kawasan pinggiran kota yang sunyi.
Pohon-pohon mahoni besar yang menjulang tinggi di sisi kiri dan kanan jalan menyembunyikan rumah-rumah tua peninggalan era kolonial yang kini terbengkalai.
Di ujung jalan setapak berbatu, di balik pagar besi berkarat yang dililit tanaman liar, berdiri rumah mendiang kakeknya—Ki Djatmiko.
Mesin motor mati dengan suara batuk terakhir. Rian turun, mendorong standar motor dengan kaki kanannya yang basah oleh genangan air hujan dan air mata kekecewaan.
Suasana di sekitar rumah itu terasa berbeda. Di tengah malam yang basah ini, tidak ada suara bising kendaraan kota. Yang ada hanyalah suara desau angin malam yang menggesek dedaunan dan aroma yang langsung menyergap indra penciuman Rian begitu kakinya menginjak halaman depan.
Bukan bau aspal atau asap knalpot.
Bukan pula bau amonia pabrik yang membuat paru-parunya sakit.
Udara di sini dipenuhi oleh aroma kayu cendana basah yang pekat, bercampur dengan wangi kemenyan tua dan debu tebal yang telah terkurung selama bertahun-tahun di balik dinding kayu jati yang mulai rapuh.
Aroma itu begitu tenang, purba, dan seolah memanggil-manggil namanya dari kegelapan teras rumah.
Rian meraba saku jaketnya, mencari kunci gembok warisan yang telah lama ia simpan di dalam tas ransel lusuhnya. Langkah kakinya menaiki tangga kayu berderit menuju pintu utama.
Ia memasukkan anak kunci kuningan yang terasa dingin di telapak tangannya. Putaran pertama terasa berat, bergesek dengan karat, hingga akhirnya sebuah bunyi klik yang dalam terdengar memecah keheningan malam.
Pintu terbuka perlahan, membawa kepulan debu tipis tersapu angin malam. Rian melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang gelap gulita.
Di hadapannya, tersimpan sebuah rahasia leluhur yang akan mengubah takdir hidupnya selamanya—sebuah peti kayu jati tua berukir relief kalajengking yang terdiam di sudut ruangan, memancarkan aroma ambar purba yang begitu memabukkan.
Daftar bab
25 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








