Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
PARMIN & PAIJO

PARMIN & PAIJO

agis_ | Bersambung
Jumlah kata
26.9K
Popular
100
Subscribe
1
Novel / PARMIN & PAIJO
PARMIN & PAIJO

PARMIN & PAIJO

agis_| Bersambung
Jumlah Kata
26.9K
Popular
100
Subscribe
1
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeUrban
Sebut saja Paijo, aku seorang kuli bangunan perantau dari pedesaan di sebuah kota kecil di Jawa Tengah,yg mengadu nasib di kerasnya ibukota Jakarta.Aku mempunyai seorang sahabat bernama Parmin,dia yg pertama mengajakku merantau ke ibukota menjadi seorang kuli bangunan.Kami berdua bekerja pada sebuah vendor kontraktor kecil yg mana owner-nya adalah Koko Koko dan Cici yg terkenal galak, bawel,tapi sebenarnya mereka adalah pribadi yang baik dan hangat. 😁
TERLALU NGANAN BANYAK YANG NGIRI

Pagi itu, aku bersama sahabatku, Parmin, berangkat kerja ke gudang untuk mempersiapkan barang yang akan kami bawa ke lokasi proyek pembangunan gedung di kota Jakarta.

​Setelah semuanya siap, kami bersama teman yang lain berangkat menaiki truk yang mengangkut kami bersama marmer, granit, dan quadra di belakang. Rencananya, kami akan memasang marmer di lantai lobi gedung tersebut. Dalam perjalanan, tak lupa aku menyantap bekal nasi uduk yang kubeli di samping kontrakan. Pikirku, nanti proses loading menurunkan marmer yang berat dari truk itu pasti membutuhkan tenaga ekstra.

​Sesampainya kami di lokasi proyek, kami yang berjumlah 12 orang mengatur posisi untuk menurunkan marmer yang besar, panjang, dan berat tersebut. Formasinya: 6 orang di atas bak truk memegang marmer samping kanan dan kiri, dan 6 orang lagi di bawah truk untuk menerimanya. Tak lupa kami mengikuti arahan security dan pengawas untuk memakai APD lengkap sebagai sarana safety.

​"Ji... ro... lu... pat! Ji... ro... lu... pat! Tahan, Min! Tahan, Jo! Jangan dilepas ya!" teriak bapak tukang dari atas truk.

​"Hayo, hayo, semangat Jo! Es kelapa sama nasi Padang habis ini," ucap Parmin menyemangatiku.

​"Halah, jangan ngarep, Min! Paling banter es teh Solo," celetukku pada Parmin sambil tertawa.

​Setelah berjibaku menahan beratnya marmer, akhirnya lima marmer itu berhasil diturunkan di lokasi loading dock bersama granit, quadra, dan material lainnya. Kami yang kelelahan memutuskan untuk istirahat sejenak. Tak terasa jam makan siang pun telah tiba. Kami pun menagih kompensasi makan dan minum kepada bapak pengawas (pelaksana).

​Karena kebiasaan di vendor kami, setiap selesai bongkar muat material besar, kami mendapat jatah tips kompensasi berupa makanan, minuman, maupun uang.

​"Kalian mau makan pakai apa?" tanya bapak pengawas.

"Nasi Padang, Pak!" ucap Parmin cepat.

"Aku lauknya rendang, Pak," sahutku.

"Aku ikan, Pak!"

"Aku ayam bakar, Pak!" sahut yang lain bersahutan.

​"Oke, oke. Kalian tunggu dulu di sini ya. Oh ya, itu pesan es kelapa juga sama Ibu warung," perintah bapak pengawas.

"Siap Bos! Rokok sekalian ya?" ledek bapak tukang.

"Hussst, duitnya kurang!" jawab bapak pengawas sambil berlalu.

​Sembari menunggu makanan tiba, aku dan Parmin duduk di tepian danau samping lokasi proyek sambil melihat orang-orang memancing ikan. Tak berselang lama, makanan pun tiba. Kami yang sudah keroncongan begitu lahap menyantapnya.

​Hingga tak sadar, waktu kembali bekerja telah tiba. Di dalam proyek, ternyata sudah ada bapak pengawas dan kedua owner-ku, Koko dan Cici, yang sedang asyik mengobrol sambil memotret progres pengerjaan kemarin.

​"Untuk pengerjaan kemarin sudah sampai tahap pemasangan quadra di kamar mandi, Ko. Selanjutnya nanti tim akan saya arahkan mulai pemasangan marmer untuk lantai lobi," ucap pengawas dengan nada meyakinkan.

​"Oke baik kalau gitu. Tapi apa ketebalan lantainya sudah kamu ukur?" tanya Koko.

​"Soal ketebalan lantai, kita ikut gambar dari orang gedung, Ko. Dan setelah saya ukur, ternyata sama dengan spek kita."

​"Baiklah. Kira-kira bisa tidak kamu kejar target pengerjaan volume ini dalam waktu satu minggu?" tanya Koko lagi.

​"Bisa, Ko. Sabtu atau Minggu ini pasti selesai," ucap pengawas mantap.

​"Ya sudah, saya tinggal dulu ya," ucap Koko lalu pergi.

​Sedangkan aku dan Pak Tukang saling lirik. "Seminggu? Dia pikir pasang marmer itu cuma kayak nempel stiker? Ada urusan finishing, penggosokan, dan detail nat yang butuh ketelitian. Bukan cuma sekadar tempel lalu difoto," gumam Pak Tukang ketus.

​Waktu berlalu hingga tak terasa sudah hampir jam lima sore, menandakan waktunya untuk pulang.

​"Jo, si Indra (pengawas) ke mana?" tanya Pak Tukang padaku.

"Sudah pulang duluan, Pak, tadi jam setengah empat," jawabku.

​"Lho, owalah... belum jamnya pulang sudah pulang duluan. Kalau si Bos tahu, harusnya bisa ditegur itu," kata bapak tukang.

"Ya biasalah, Pak. Kayak enggak tahu dia saja. Salah atau benar, ya pasti tetap dibela sama Bos," ucapku pasrah.

​"Udah gitu tadi bilangnya enteng banget sama si Bos. Katanya pengerjaan ini satu minggu bisa selesai. Apa dia enggak mikir? Masang marmer bukan cuma ditempel, tapi ada finishing, harus digosok lagi!" terang Pak Tukang sambil menahan marah.

​"Ya, begitulah, Pak," jawabku sambil cengar-cengir.

​"Saya tuh heran sama dia. Kalau ada pengerjaan yang bagus, yang selalu dipuji-puji itu dia. Giliran ada komplain, yang selalu ditunjuk dan disalahkan pasti saya. Padahal itu juga bagian tanggung jawab pengawas," ucap bapak tukang geram.

​"Bocah plenger itu, Pak!" sahut teman dari kejauhan.

"Sabar, Pak, sabar," ucap Parmin menenangkan.

​Aku terkekeh pahit sambil menepuk debu di celana. "Sabar, Pak. Di sini mah yang rajin akan selalu kalah sama yang pandai menjilat. Yang kerja berdarah-darah siapa, yang dapat pujian di grup WhatsApp siapa."

​"Kalau cuma rajin di depan Bos buat apa? Toh selama ini dia juga enggak paham dengan proses pengerjaan kita. Dia cuma tahu hasilnya, perintah-perintah, dan foto-foto," imbuh teman yang lainnya.

​"Ya sudah, ayo kita balik saja. Sudah sore, pasti macet," ajak bapak tukang.

​Sembari mengobrol, kami membereskan peralatan untuk pulang. Sementara itu, sopir sudah menunggu kami di depan pagar.

​"Sudah enggak ada yang ketinggalan, kan?" tanya Pak Sopir.

"Enggak, Pak. Aman. Ayo, let's go!" ucapku.

​Truk mulai melaju membelah kemacetan Jakarta. Di bak belakang, di antara sisa debu marmer, kami hanya bisa menyandarkan punggung yang pegal, membiarkan angin sore menghapus sisa kekesalan hari ini. Angin sore yang membawa debu jalanan menerpa wajah kami yang kusam. Pak Tukang menyulut rokoknya, matanya menatap kosong ke arah gedung-gedung pencakar langit yang mulai menyalakan lampu hiasnya.

​"Dia pikir marmer itu keramik potong yang tinggal tempel pakai semen instan? Ini granit alam, butuh hati-hati buat masangnya," gumam Pak Tukang, memecah keheningan di antara lelahnya kami.

​Aku mengangguk setuju. "Tadi dengar sendiri kan, Pak? Dia bilang ke Koko kalau volume lantai lobi bakal kelar hari Minggu. Padahal kita baru turunin barang hari ini. Leveling lantai saja belum kita cek ulang secara keseluruhan," ucapku.

​"Itu dia masalahnya," sahut teman yang lain dari sudut bak truk. "Kalau dipaksakan cepat, hasilnya pasti berantakan. Natnya bakal miring, atau lebih parah lagi, ada yang kopong. Nanti kalau Koko komplain, kita lagi yang disuruh bongkar pasang tanpa dibayar lembur."

Kami hanya bisa menghela napas panjang sambil menatap langit Jakarta yang mulai jingga. Truk terus berguncang, membawa raga kami yang letih kembali ke kontrakan. Meski hati dongkol karena ulah pengawas, kami tahu besok tangan-tangan kasar inilah yang tetap akan memastikan marmer itu terpasang sempurna demi sesuap nasi.

Lanjut membaca
Lanjut membaca