
TANTEKU YANG GENIT
Eko Rafa Uj|Bersambung
- Jumlah kata
- 126.3K
- Popular
- 1.4K
- Subscribe
- 286
- Jumlah kata
- 126.3K
- Popular
- 1.4K
- Subscribe
- 286
Sinopsis
Raka, seorang pemuda biasa yang baru saja lulus kuliah dan masih menganggur, terpaksa tinggal sementara di rumah tantenya di kota demi mencari pekerjaan. Ia membayangkan hidup yang tenang dan penuh dukungan keluarga. Namun semua bayangannya hancur… saat ia bertemu dengan Tante Maya. Tante Maya bukan tante biasa. Di usianya yang masih terlihat muda, ia punya sifat genit, percaya diri berlebihan, dan hobi menggoda siapa saja—termasuk Raka, keponakannya sendiri! Dari cara berpakaian yang terlalu mencolok, hingga kebiasaan bicara yang penuh rayuan absurd, Tante Maya membuat hidup Raka berubah jadi kekacauan yang memalukan sekaligus… anehnya, menyenangkan. Di tengah kekacauan itu, Raka juga bertemu dengan Nisa, tetangga sebelah yang cerdas, jutek, tapi diam-diam perhatian. Nisa sering menjadi “korban kedua” tingkah laku Tante Maya yang suka menjodoh-jodohkan secara brutal. Seiring waktu, Raka harus menghadapi: Tante genit yang makin hari makin tidak terkendali Tetangga yang diam-diam mulai masuk ke hatinya Dan rahasia besar Tante Maya yang ternyata menyimpan masa lalu tak terduga Apakah Raka bisa bertahan hidup… atau malah terseret dalam drama penuh tawa dan cinta yang tak masuk akal ini?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Tante atau Bencana Alam?
Hari pertama Raka di rumah tante seharusnya berjalan normal.
Seharusnya.
“Ini alamatnya, ya…” gumam Raka sambil menatap rumah dua lantai dengan cat krem yang terlihat cukup mewah.
Ia menarik napas panjang.
“Semoga tantenya orangnya kalem…”
BRAAAK!
Pintu rumah tiba-tiba terbuka keras dari dalam.
“RAKAAAAAA!”
Seorang wanita keluar dengan langkah cepat, rambutnya panjang tergerai, pakaiannya… mencurigakan. Terlalu mencolok untuk ukuran seorang tante.
Dan sebelum Raka sempat bereaksi—
PLAK!
Ia dipeluk.
Dipeluk dengan sangat… erat.
“Ya ampun, kamu makin gede aja! Aduh, ganteng banget sih kamu!” suara wanita itu riang.
Raka kaku.
“Ta… Tante Maya?”
Wanita itu melepas pelukan, lalu menatap Raka dari atas sampai bawah… pelan… dan sangat tidak nyaman.
“Ih… badan kamu sekarang… jadi banget ya…” katanya sambil menyenggol lengan Raka.
Raka langsung mundur satu langkah.
“Eh… makasih, Tante…”
Dalam hati:
Kenapa nadanya kayak cewek lagi ngegodain cowok di sinetron…?
“Masuk, masuk!” kata Tante Maya sambil menarik koper Raka masuk ke dalam rumah.
Begitu masuk, Raka langsung melihat interior rumah yang… cukup modern. Tapi ada satu hal yang aneh.
Banyak foto Tante Maya.
Sendiri.
Dengan berbagai pose.
Ada yang pakai gaun merah, ada yang pakai baju olahraga ketat, bahkan ada yang… pose miring sambil menggigit jari.
Raka menelan ludah.
Ini rumah… atau studio foto narsis?
“Tante tinggal sendiri?” tanya Raka mencoba mengalihkan perhatian.
“Iya dong. Masa sama kamu?” jawab Tante Maya santai.
Raka hampir tersedak ludah sendiri.
“Eh maksudnya… sendirian?” Raka buru-buru meluruskan.
Tante Maya tertawa kecil.
“Kenapa? Kamu mau nemenin Tante?”
Ini bukan tante… ini ujian hidup… batin Raka.
Saat Raka sedang mencoba menenangkan diri di sofa, Tante Maya datang membawa minuman.
“Ini buat kamu,” katanya sambil menyodorkan segelas jus.
Raka menerimanya.
“Terima kasih, Tante—”
“Eh tunggu,” Tante Maya tiba-tiba mendekat.
Raka membeku.
“Bibir kamu ada yang kering,” katanya.
“Eh?”
Dan tanpa aba-aba…
Tante Maya mengusap bibir Raka dengan jarinya.
Raka langsung berdiri.
“Oke! Saya sehat! Saya kuat! Saya tidak pingsan!” katanya panik sambil berjalan mondar-mandir.
Tante Maya malah tertawa terbahak-bahak.
“Kamu lucu banget sih, Rak!”
“Ini bukan lucu, Tante… ini darurat,” jawab Raka lemah.
Sore harinya, Raka mencoba kabur sebentar dengan alasan beli kebutuhan.
“Rak, beli apa?” tanya Tante Maya.
“Beli… udara segar, Tante.”
“Bawa Tante dong!”
“NGGAK USAH!”
Raka langsung keluar sebelum situasi makin aneh.
Di luar rumah, Raka menghela napas panjang.
“Ya Tuhan… baru sehari…”
“Ngomong sendiri ya?”
Raka menoleh.
Seorang gadis berdiri di pagar sebelah. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya cantik tapi ekspresinya datar.
“Oh, maaf… saya cuma—”
“Kamu keponakannya Tante Maya, ya?” potong gadis itu.
“Iya… saya Raka.”
“Nisa,” jawabnya singkat.
Raka mengangguk.
“Apa Tante saya… memang selalu seperti itu?”
Nisa diam sebentar, lalu berkata dengan datar,
“Kalau kamu masih waras setelah seminggu… berarti kamu manusia pilihan.”
Raka menatapnya serius.
“Jadi… ini normal?”
“Sayangnya, iya.”
Belum sempat Raka berkata apa-apa—
“RAKAAAAAA!”
Suara Tante Maya terdengar dari dalam rumah.
Raka langsung merinding.
“Cepetan pulang! Tante kangen!”
Nisa langsung menutup mulut menahan tawa.
Raka menatap langit.
“Aku baru keluar lima menit…”
Saat Raka kembali masuk rumah, Tante Maya sudah berdiri di depan pintu.
“Kamu lama banget sih!” katanya sambil cemberut.
“Baru lima menit, Tante…”
“Iya, tapi Tante udah kangen.”
Raka menatap kosong ke depan.
Ini bukan kehidupan… ini sinetron…
Malam hari, Raka masuk ke kamar yang sudah disiapkan.
Akhirnya, ketenangan.
Ia merebahkan diri di kasur.
“Ah… akhirnya…”
CREAK…
Pintu terbuka pelan.
Raka langsung bangun.
“Tante?”
Tante Maya berdiri di pintu… sambil tersenyum misterius.
“Rak… kamu takut gelap nggak?”
Raka langsung menarik selimut.
“Mulai sekarang… iya, Tante.”
------
Raka bangun pagi dengan perasaan aneh.
Bukan karena mimpi buruk.
Tapi karena… mimpi itu ternyata nyata.
Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar.
“Semalam… Tante Maya masuk kamar… nanya aku takut gelap…” gumamnya pelan.
Ia menarik selimut sampai menutup wajah.
“Ini bukan hidup normal. Ini reality show.”
“RAKAAAAA! SARAPAN!”
Suara Tante Maya menggema dari bawah.
Raka langsung duduk tegak.
“Dan ini… episode baru…”
Dengan langkah berat, Raka turun ke ruang makan.
Dan begitu ia sampai—
Ia menyesal.
Tante Maya sudah duduk di meja makan.
Dengan pakaian… olahraga.
Tapi bukan olahraga biasa.
Lebih tepatnya: terlalu ketat untuk disebut pakaian keluarga.
Raka langsung memalingkan wajah.
“Pagi, Tante…”
“Pagi juga, ganteng,” jawab Tante Maya sambil menyandarkan dagu di tangan, menatap Raka tanpa berkedip.
Raka duduk dengan hati-hati.
Sangat hati-hati.
“Ini sarapan spesial buat kamu,” kata Tante Maya sambil mendorong piring ke arah Raka.
“Wah, makasih Tan—”
“Tante masak pakai cinta.”
Raka berhenti.
“...Saya makan pakai doa saja, Tante.”
Saat Raka mulai makan, ia mencoba fokus ke makanan.
Telur dadar.
Nasi.
Sambal.
Normal.
Aman.
Masih bisa bertahan hidup.
“Tadi malam kamu nyenyak?” tanya Tante Maya.
Raka mengangguk cepat.
“Nyenyak, Tante.”
“Padahal Tante sempat mau nemenin kamu tidur loh…”
Hampir saja aku pindah planet… batin Raka.
Tiba-tiba—
DING DONG!
Bel rumah berbunyi.
Raka langsung berdiri.
“Saya buka!”
Lebih baik menghadapi orang asing daripada Tante sendiri.
Saat pintu dibuka…
Itu Nisa.
Dengan ekspresi yang sama seperti kemarin: datar, dingin, dan seperti sudah menyerah pada hidup.
“Pagi,” katanya singkat.
“Pagi… kamu ke sini?” tanya Raka.
“Biasanya tiap pagi saya ambil paket yang salah kirim ke rumah Tante kamu.”
Raka mengangguk.
“Masuk saja—”
“NISAAAAA!”
Suara Tante Maya terdengar dari dalam.
Nisa langsung menutup mata.
“Sudah kuduga…”
Tante Maya muncul dengan langkah penuh percaya diri.
“Ih Nisa! Kamu makin cantik aja sih!” katanya sambil langsung merangkul Nisa.
Nisa tidak bereaksi.
Sudah kebal.
“Masuk, masuk! Mau sarapan bareng?” tanya Tante Maya.
“Tidak, terima kasih,” jawab Nisa datar.
“Ayah kamu sehat? Masih jomblo kan?” lanjut Tante Maya tanpa rem.
Raka tersedak air minum.
“TAANTE!”
Nisa menghela napas.
“Masih.”
Tante Maya tersenyum lebar.
“Kenalin dong ke Tante…”
Raka menatap langit-langit.
Ya Tuhan, aku minta kerja… bukan drama keluarga…
Beberapa menit kemudian, Nisa akhirnya duduk juga di meja makan—terpaksa.
Raka mencoba mencairkan suasana.
“Kamu kerja di mana, Nis?”
“Freelance desain,” jawabnya singkat.
“Oh, keren…”
“Tapi sering terganggu.”
“Kenapa?”
Nisa melirik ke arah Tante Maya.
“Tamu tidak diundang.”
Tante Maya pura-pura tidak dengar.
Tiba-tiba Tante Maya berdiri.
“Oke! Hari ini kita jalan-jalan!”
Raka langsung kaget.
“Hah? Ke mana?”
“Cari kerja buat kamu. Sekalian… quality time.”
Raka merasa ada yang salah dengan kata terakhir itu.
Satu jam kemudian…
Mereka bertiga sudah di jalan.
Dan masalah pertama muncul.
“Tante… ini ke mana?” tanya Raka.
“Ke mall dong!”
“Cari kerja di mall?”
“Enggak.”
“Terus?”
“Foto.”
Raka berhenti berjalan.
“Foto…?”
“Iya, Tante lagi pengen update Instagram.”
Raka menatap kosong ke depan.
“Jadi… saya diajak keluar… buat jadi fotografer?”
“Dan model cadangan,” tambah Tante Maya.
“...Saya mau pulang.”
Nisa yang ikut karena “terjebak situasi” hanya bisa menggeleng.
“Sudah, terima saja nasibmu,” katanya.
Di dalam mall…
Raka berdiri memegang HP.
Di depannya, Tante Maya sudah berganti pose ke-12.
“Nah, yang ini candid ya!” kata Tante Maya.
“Tan… candid itu harus natural…”
“Ya sudah, kamu pura-pura tidak lihat Tante.”
Raka menutup mata.
“Saya memang tidak mau lihat…”
“RAK! Fokus dong! Nanti blur loh fotonya!”
“Blur itu bukan dari kamera, Tante… tapi dari hidup saya…”
Nisa akhirnya tidak tahan dan tertawa kecil.
Raka menoleh.
Dan untuk pertama kalinya…
Ia melihat Nisa tersenyum.
Dan anehnya—
Itu lebih menenangkan daripada semua kekacauan hari ini.
“Eh, kalian cocok loh!” tiba-tiba Tante Maya nyeletuk.
Raka dan Nisa langsung menoleh bersamaan.
“Hah?!”
“Iya, cocok banget. Kayak sinetron!”
“TAANTE!”
“Nggak lucu.”
Jawaban mereka kompak.
Tante Maya tersenyum nakal.
“Nanti Tante jodohin ya…”
Raka langsung berjalan menjauh.
“Saya resign dari keluarga ini.”
Hari itu berakhir dengan kelelahan.
Tapi saat mereka pulang…
Raka mulai sadar sesuatu.
Hidupnya memang kacau.
Tapi…
Tidak sepenuhnya buruk.
Karena di tengah kegilaan Tante Maya…
Ada tawa kecil dari seseorang bernama Nisa.
Malam hari, Raka kembali ke kamar.
Ia duduk di kasur, menghela napas.
“Hari kedua… masih hidup…”
CREAK…
Pintu terbuka lagi.
Raka langsung menarik selimut.
“Tante, saya sudah siap mental—”
“Ini aku.”
Raka membuka selimut.
Nisa berdiri di pintu.
“Oh… kamu…”
Nisa menyandarkan tubuh di pintu.
“Cuma mau bilang…”
Raka menunggu.
“Semangat. Kamu butuh itu.”
Raka tersenyum kecil.
“Terima kasih…”
Nisa berbalik pergi.
Tapi sebelum benar-benar pergi—
“Dan satu lagi…”
Raka menoleh.
“Kalau Tante kamu makin aneh…”
“Iya?”
“Lari aja.”
Raka tertawa pelan.
“Siap.”
Di balik semua kekacauan…
Sesuatu mulai tumbuh.
Perlahan.
Dan tanpa disadari."
Bersambung.....!"
Daftar bab
97 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








