Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kebangkitan Sang Terlupakan

Kebangkitan Sang Terlupakan

lee lenia | Bersambung
Jumlah kata
89.8K
Popular
134
Subscribe
22
Novel / Kebangkitan Sang Terlupakan
Kebangkitan Sang Terlupakan

Kebangkitan Sang Terlupakan

lee lenia| Bersambung
Jumlah Kata
89.8K
Popular
134
Subscribe
22
Sinopsis
FantasiIsekaiIsekaiDewaIdentitas Tersembunyi
60 tahun lalu, Ryel Ardent bukanlah siapa-siapa. Dia hanyalah seorang tuan muda yang disingkirkan, tidak dianggap, dan tidak berharga, bahkan tak lebih dari seorang pelayan rendahan di keluarganya sendiri. Namun, sebuah tragedi mengubah segalanya. Kematian datang menjemputnya melalui sepasang tangan yang selama ini menopang hidupnya. Enam puluh tahun terkubur dalam kegelapan, akhirnya Ryel merangkak keluar dari kematian. Namun, alasan mengapa dirinya kembali menjadi misteri terbesar. Saat kembali ke dunia, Ryel menyadari satu hal yang lebih menyakitkan daripada kematian itu sendiri. Dunia telah melupakannya. Maka kali ini, Ryel akan membuat dunia mengingat namanya. Dia akan memulai semuanya dari awal dengan tiga tujuan: Bertahan hidup. Menjadi kuat. Dan membalas dendam. Perjalanan hidupnya ini perlahan akan membawanya pada kebenaran, siapa dirinya? dan mengapa dia hidup setelah mati, bukan dengan bereinkarnasi?
𝟏. Sampah dan Dua Pilar

"Dasar sampah!"

Beberapa anak remaja menendang perut satu anak lelaki yang meringkuk, memegangi kepalanya sebagai perlindungan. Dia tidak menangis, bahkan tidak menunjukkan sedikitpun kemarahan. Dia hanya pasrah.

Ini bukan pertama kalinya terjadi, sudah sangat sering. Mungkin setiap hari, sehingga dia menjadi terbiasa.

"Hei kalian! Hentikan! Beraninya memukuli Ryel lagi!!!" pekik seorang gadis dengan gaun merah muda itu suaranya lantang sambil marah marah.

"Wah, Nona Odelia datang! Ayo pergi!"

"Ayo pergi!"

Anak-anak itu langsung berlarian, meninggalkan satu orang yang meringkuk, diatas salju tebal tanpa pakaian tebal yang mampu menghangatkan tubuhnya, sehingga wajahnya sedikit memerah seperti hendak demam karena kedinginan.

"Ryel! Kamu tidak apa-apa?" Gadis bernama Odelia itu langsung menghampiri, dan membantu Ryel berdiri, memapahnya kembali ke gubuk reyot tempat Ryel tinggal.

"Aku baik-baik saja, terima kasih!"

Ryel Ardent, adalah seorang tuan muda yang diasingkan sejak berumur 10 tahun. Setelah ayahnya yang merupakan kepala keluarga, meninggalkan klan bersama sang ibu dengan alasan perjalanan bisnis.

Namun, berbulan bulan kemudian, mereka tidak pernah kembali. Sehingga kedudukan kepala keluarga kosong, dan kini diduduki oleh adik sang ayah, paman Ryel sendiri.

Sayangnya, orang itu tidak pernah menyukai Ryel yang merupakan penerus sah yang akan menjadi kepala keluarga selanjutnya. Sehingga menggunakan berbagai cara untuk menyingkirkannya, salah satunya adalah mengasingkannya.

Sedangkan Odelia, adalah gadis yang memiliki perjanjian pernikahan dengannya sejak kecil, oleh kedua orang tua mereka. Sebelum orang tua Ryel menghilang dan tidak pernah kembali sampai saat ini.

"Jangan memikirkan orang-orang itu, aku ada di sini. Aku berjanji akan terus menemanimu!" Odelia tersenyum kecil sambil merangkul lengan Ryel.

Ryel mengangguk, dia mengelus lembut rambut hitam Odelia yang tergerai indah. "Aku tahu, aku sangat beruntung memiliki kamu di sampingku," kata Ryel lembut. Keberadaan Odelia selalu menjadi kekuatan dan obat dari sakit hatinya.

"Hei! Jangan bermesraan di sana! Lihat hasil tangkapanku!" Pemuda lain datang, membawa ember, dan sebuah pancing dari kayu di pundaknya.

Odelia langsung melepaskan dirinya dari Ryel, berlari menghampiri pemuda itu, bernama Rovan. Sahabat baik Ryel. "Ryel! Lihat! Ikannya sangat besar!" Odelia dengan ceria mengangkat ikan tersebut dari ember, yang justru membuat si ikan loncat pada hamparan salju putih.

"Sudah aku bilang jangan diambil!" pekik Rovan.

Ryel datang menghampiri, menangkap ikan itu dan memasukkannya kembali ke ember. "Ini untukmu!" kata Rovan, menyodorkan ember berisi seekor ikan besar, cukup untuk makan malam.

"Terima kasih." Ryel menerimanya dengan senang. Karena dia harus bekerja membersihkan ladang, menyapu halaman, dan sebagainya. Jika tidak bekerja dia akan kelaparan.

Ryel sangat bersyukur, dirinya yang bukan siapa-siapa, hanyalah sampah Ardent yang tidak dianggap, tapi Rovan dan Odelia selalu membantunya dengan suka rela. Mereka tidak pernah memandang Ryel seperti bagaimana orang-orang memandangnya.

***

10 tahun kemudian

PRAK!!!

"Aw!"

Ryel mengaduh sambil memegang keningnya yang berdarah, akibat gelas keramik yang baru saja menghantam keningnya. Dia melihat ke depan, pada seorang pemuda yang merupakan anak pamannya, sekaligus sepupunya itu sedang tertawa setelah melempar gelas itu padanya.

"Apa? Jangan lihat! Dasar sampah!" Seru pemuda itu lagi, sambil melemparkan gelas lain padanya, berakhir kembali membuatnya terluka di bagian tangannya. Ryel hanya diam diperlakukan demikian, bahkan tidak mengeluh sakit.

Dia justru berjongkok, menaruh sapu yang sejak tadi di pegangnya ke tanah. Mulai memunguti pecahan gelas, dan membuangnya ke tempat sampah.

"Cih membosankan!" Pemuda itu meninggalkan halaman, setelah melempar tatapan merendahkan pada Ryel.

Ryel hanya menghela nafas, kembali menyapu halaman dan membuang sampah. Setelah semua pekerjaannya selesai, seseorang akan datang memberikan dua keping koin perak dan sepotong roti.

Ryel selalu menerimanya dengan senang hati, dia menggunakan sepotong roti untuk makan malam, dan dua koin perak untuk membeli roti hangat untuk makan besok.

Dia kembali ke gubuk reyot saat matahari mulai tenggelam. Di depan gubuk reyot nya, Odelia dan Rovan duduk di teras gubuk, lantas melambaikan tangan menyambut kepulangan Ryel.

"Kenapa kalian di sini? Hari sudah mulai gelap," kata Ryel sambil duduk di teras gubuknya.

"Lagian, hari ini kamu sangat sibuk. Kita tidak sempat bermain," keluh Odelia dengan suara manjanya.

"Kita sudah besar, kamu masih saja suka bermain!" Ryel menyentuh lembut kening Odelia. Benar, mereka bukan lagi anak-anak. Mereka sudah berusia 20 tahun, sudah cukup dewasa.

Odelia menundukkan kepalanya. "Ayahku ingin membatalkan pertunangan kita," katanya pelan.

Ryel menatapnya dengan perasaan tidak karuan, dia mencintai Odelia. Tapi dia sadar diri, bahwa dia bukan siapa-siapa di sini. Tidak layak untuk menjadi pasangan Odelia.

"Ryel, bagaimana jika besok kita pergi ke hutan!" kata Rovan menghentikan obrolan suram antara Odelia dan Ryel. "Aku dengar, di sana ada tanaman obat ajaib yang mungkin bisa membantumu berlatih!" imbuh Rovan dengan percaya diri.

"Benarkah? Jika Ryel mendapatkannya, mungkin aku bisa membujuk ayah untuk tidak membatalkan pertunangan!" kata Odelia dengan antusias. Tapi Ryel hanya diam, dia memikirkan beberapa kemungkinan, tempat itu pasti berbahaya. Dan dia tidak ingin merepotkan mereka hanya untuknya.

"Sepakat!" kata Rovan tiba-tiba mengejutkan Ryel, bahkan Odelia dan Rovan telah ber-tos bersama.

"Tapi itu berbahaya," kata Ryel cemas.

"Kamu tidak perlu mencemaskan apa pun! Ada kita, kita akan melindungi kamu!" kata Rovan penuh keyakinan, dan Odelia yang menganggukkan kepalanya.

"Benar! Aku ini istri masa depanmu! Bagaimana bisa aku tidak bisa menjagamu!" Odelia menyahuti.

Akhirnya Ryel ikut mengangguk, dia tidak boleh melewatkan kesempatan itu. Yang bisa jadi menjadi kesempatan terakhirnya untuk mengubah hidup menyedihkan ini.

Keesokan paginya, pagi sekali Odelia dan Rovan menjemput Ryel. Meninggalkan klan dan memasuki hutan yang katanya banyak hewan buas berkeliaran.

Ryel berjanji dalam hati, akan membalas budi keduanya suatu hari nanti. Semua yang pernah mereka berikan akan selalu dia ingat dalam hatinya. Mereka adalah pilar yang membuatnya bertahan hidup selama ini.

Sesampainya di tujuan, Ryel justru mengernyit bingung. Tidak ada aliran mana yang memungkinkan tanaman ajaib tumbuh. Tapi, Odelia dan Rovan tidak menjelaskan apa pun.

"Hei! Apakah kalian salah-"

"Uhuk!"

Ryel terbelalak melihat perutnya sendiri ditikam pedang dari belakang hingga dia dapat melihat ujung pedang itu di perutnya, penuh oleh darah yang mengalir deras. Seteguk darah langsung keluar dari mulutnya, dia tidak menjerit kesakitan, dia hanya merintih, tapi terbelalak karena terkejut. Barulah menjerit saat pedang itu ditarik keluar dari tubuhnya.

Mulutnya terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar. Dia ambruk ke tanah, dengan darah yang perlahan menggenang. Tangannya terulur ke depan, bibirnya bergetar meminta pertolongan.

"Cepat ambil darahnya!" pekik Odelia sambil menginjak lengan Ryel yang terulur.

"Tenang, dia belum benar-benar mati," balas Rovan sambil mengangkat kembali pedangnya dengan mata pedang lurus ke dada Ryel. Tapi Ryel, hanya bisa terbelalak, dengan bibir bergetar, tidak bisa mengatakan apa pun karena rasa kematian yang datang.

"Sayang sekali, dia benar-benar percaya pada kita! Sungguh, sampah yang bodoh!"

JLEB!

Rovan menusuk jantung Ryel, yang seketika membunuh Ryel sekaligus mengambil darah evolusi dari jantungnya.

Detik berikutnya... disela tawa dua orang atas kemenangan itu-

BLARR!!!!

Langit tiba-tiba berubah menjadi gelap dipenuhi awan kelabu, diikuti oleh guntur dan petir yang bergemuruh saling bersahutan.

Rovan menatap langit dengan tatapan bingung. Namun, karena sudah mendapatkan apa yang dia butuhkan, ia segera merangkul Odelia. “Ayo, kita pulang dan rayakan kemenangan kita sekarang.”

Di tengah nafas yang kian melambat, Ryel merutuki dirinya sendiri. Penghianatan ini…jika ada kesempatan kedua, maka Ryel akan memastikan untuk membalas dendam.

Lanjut membaca
Lanjut membaca