
RUMAHKU ( Rumah Penuh Hantu )
Afnan|Bersambung
- Jumlah kata
- 32.1K
- Popular
- 116
- Subscribe
- 21
- Jumlah kata
- 32.1K
- Popular
- 116
- Subscribe
- 21
Sinopsis
Rumah itu telah dihuni Hilal sejak lahir. Namun setiap malam, suara langkah kaki, gelang kaki, dan tawa anak-anak tanpa wujud selalu terdengar. Terinspirasi dari kisah nyata. Siapa sebenarnya penghuni rumah itu... dan mengapa mereka tak pernah pergi?
Ulasan
5 ulasan
korek api
25/7/26 08:28
wah, menegangkan, jangan rumahku aja, nggak sanggup, thor… lanjut ampe 1000 bab yaaaaa, jangan kasih kendor
the anomaly
25/7/26 08:23
tanggung jawab! merinding sampe bab terakhir! nulisnya bener2 bikin kita ngerasain apa yg dirasain mc, gas terus kak, sehari up 3 bab! biarin ngelunjak wkwkwk
Rumah yang Tak Pernah Benar-Benar Sepi
"Orang-orang bilang, setiap rumah punya cerita. Tapi rumahku... menyimpan sesuatu yang tak pernah ingin diceritakan."
Namaku Hilal.
Sejak aku dilahirkan, rumah tua bercat putih kusam yang berdiri di ujung kampung itulah satu-satunya tempat yang kusebut rumah. Di sanalah aku tumbuh, belajar berjalan, menangis, tertawa, dan menghabiskan masa kecil bersama kedua orang tuaku serta dua adikku, Karimah dan Muhammad.
Bagi orang lain, rumah kami hanyalah rumah biasa. Tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk ditinggali satu keluarga. Halamannya dipenuhi pohon mangga dan jambu yang sudah berusia puluhan tahun. Di samping rumah terdapat sumur tua yang masih digunakan hingga sekarang.
Sementara di bagian dalam, sebuah tangga kayu menghubungkan lantai bawah dengan lantai atas. Tangga itu selalu mengeluarkan bunyi
"kriet... kriet..." setiap kali diinjak.
Namun, hanya keluargaku yang tahu bahwa tangga itu sering berbunyi...
meski tidak ada seorang pun yang sedang melewatinya.
Sejak kecil aku terbiasa mendengar suara-suara aneh.
Kadang terdengar langkah kaki seseorang berjalan perlahan dari lantai atas menuju bawah. Terkadang suara itu berhenti tepat di depan pintu kamarku, seolah ada seseorang yang sedang berdiri di balik pintu sambil memperhatikanku.
Saat kuberanikan diri membuka pintu...
Tidak ada siapa-siapa.
Awalnya aku mengira itu hanya khayalanku. Tetapi semakin bertambah usia, suara-suara itu semakin sering terdengar.
Yang paling sering adalah suara gelang kaki.
"Cing... cing... cing..."
Pelan.
Teratur.
Seolah seorang perempuan sedang berjalan santai menyusuri rumah kami.
Suara itu hampir selalu muncul setelah pukul sebelas malam.
Aku pernah bertanya kepada Ibu.
"Bu... Ibu dengar suara gelang?"
Ibu hanya diam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab sambil tersenyum tipis.
"Mungkin suara kucing."
Padahal kami sama-sama tahu...
Tidak ada kucing yang memakai gelang kaki.
Pagi itu matahari bersinar terang. Burung-burung berkicau di halaman depan, membuat rumah kami terlihat begitu damai.
Tidak ada seorang pun yang akan menyangka bahwa rumah ini menyimpan banyak rahasia.
Aku sedang membantu Ibu menyapu ruang tamu ketika Karimah berlari dari lantai atas.
"Mas hilal !" ( Karimah teriak )
Aku menoleh sambil menjawab
"Ada apa?"
"Tadi aku dengar ada anak kecil ketawa." ( Karimah menjawab)
Aku tersenyum kecil sambil menjawab
"Paling tetangga."
Karimah menggeleng cepat.
Dan menjawab
"Bukan."
"Waktu aku lihat ke jendela, nggak ada siapa-siapa."
Aku langsung terdiam.
Karimah bukan anak yang suka berbohong.
Meski usianya lebih muda dariku, dia juga sering mengalami hal-hal aneh sejak kecil.
Kadang ia bercerita melihat bayangan seseorang berdiri di ujung lorong.
Kadang ia mendengar suara orang memanggil namanya dari dapur.
Yang membuatku semakin merinding, suara itu selalu terdengar saat rumah sedang sepi.
Muhammad berbeda lagi.
Adikku yang paling kecil itu baru berusia beberapa tahun. Ia belum begitu pandai berbicara, tetapi sering menunjuk ke sudut-sudut rumah sambil berkata,
"Itu siapa?" ( Muhammad bertanyya )
Padahal tidak ada siapa pun di sana.
Suatu sore ketika aku sedang menonton televisi, Muhammad tiba-tiba berdiri di depan tangga.
Ia tersenyum lebar.
Lalu melambaikan tangan ke arah lantai atas.
"Dadah..." ( Muhammad berbicara )
Aku mengikuti arah pandangannya.
Tangga itu kosong.
"Siapa, Dek?" ( aku bertanya )
Muhammad menjawab polos.
"Mbak cantik."
Aku menelan ludah.
"Di mana?" ( Aku menjawab dengan penuh kecemasan dalam hatiku )
"Itu..." ( Muhammad menjawab )
Jarinya menunjuk ke anak tangga paling atas.
Namun di sana...
Tidak ada siapa-siapa.
Malam selalu menjadi waktu yang paling kubenci.
Begitu adzan Isya selesai berkumandang, suasana rumah berubah drastis.
Angin yang biasanya sejuk mendadak terasa dingin.
Suara jangkrik terdengar lebih jelas.
Lampu rumah seolah tidak mampu mengusir kegelapan yang memenuhi setiap sudut ruangan.
Ayah sebenarnya tidak pernah percaya cerita-cerita mistis.
Beliau selalu berkata,
"Kalau kita rajin salat dan berdoa, tidak ada yang perlu ditakutkan."
Aku berusaha memegang ucapan Ayah.
Tetapi rasa takut tetap saja muncul setiap kali suara langkah kaki itu terdengar lagi.
Malam itu hujan turun cukup deras.
Rintik air menghantam genting rumah tanpa henti.
Listrik sempat padam selama beberapa menit sebelum akhirnya menyala kembali.
Kami semua berkumpul di ruang tengah.
Ibu sedang melipat pakaian.
Ayah membaca koran.
Karimah bermain boneka.
Sedangkan Muhammad sudah tertidur di pangkuanku.
Suasana begitu tenang.
Hingga...
"Kriet..."
Aku langsung mengangkat kepala.
Suara itu berasal dari tangga.
"Kriet..."
Sekali lagi.
Tangga itu berbunyi seperti ada seseorang yang sedang menuruni anak tangga.
Aku menoleh ke arah Ayah.
Beliau masih membaca koran.
Ibu juga masih sibuk melipat pakaian.
Berarti...
Siapa yang sedang turun?
Aku mencoba menenangkan diri.
Mungkin kayunya memang memuai karena hujan.
Namun beberapa detik kemudian terdengar suara lain.
Cing... cing... cing...
Suara gelang kaki.
Jelas....
Sangat jelas.
Pelan-pelan suara itu semakin dekat.
Karimah menghentikan permainannya.
"Masss..." ( Karimah memanggilku )
Aku menggenggam tangannya.
Dan akupun bertanya dengan nada sangat pelan
"Kamu dengar?"
"Iya Mas...."
Karimah mengangguk dengan wajah pucat.
Muhammad yang sejak tadi tertidur mendadak menangis sekencang-kencangnya.
Tangisnya begitu histeris hingga membuat Ibu panik.
"Kenapa, dek?" (Tanya ku "
Muhammad menunjuk ke arah tangga.
Dengan suara terbata-bata ia berkata,
"Itu... ada ibu..."
Kami semua spontan menoleh.
Tangga itu tetap kosong.
Tidak ada bayangan.
Tidak ada orang.
Tetapi suara gelang kaki itu belum berhenti.
"Cing..."
"Cing..."
"Cing..."
Semakin lama semakin dekat.
Seolah seseorang benar-benar sedang menuruni tangga dan berhenti tepat di belakang kami.
Aku bisa merasakan hawa dingin menyentuh tengkukku.
Bulu kudukku berdiri.
Ruangan yang tadi terasa hangat kini berubah sangat dingin.
Ayah akhirnya berdiri.
Beliau mengambil senter lalu perlahan menaiki tangga.
Aku menahan napas.
Setiap langkah Ayah di tangga diiringi suara kayu yang berderit.
"Kriet..."
"Kriet..."
Sesampainya di lantai atas, beliau memeriksa setiap kamar.
Satu per satu.
Tidak ada siapa-siapa.
Ayah kembali turun sambil menggeleng.
"Nggak ada apa-apa." ( Ucap Ayahku "
Aku ingin mempercayai ucapan beliau.
Benar-benar ingin.
Namun saat Ayah baru menginjak anak tangga terakhir...
Suara itu kembali terdengar.
Bukan dari atas.
Melainkan dari belakang kami.
Cing...
cing...
cing...
Aku menoleh dengan cepat.
Kosong. ( Aku berbicara dalam hati, suara gelang kaki siapa itu, dengan ekpresi wajah yang sedikit takut)
Tetapi ada sesuatu yang berbeda.
Pintu menuju lorong belakang rumah yang sejak tadi tertutup...
Kini terbuka perlahan dengan sendirinya.
Angin dingin berembus dari balik pintu yang gelap.
Dan sejak malam itulah aku mulai menyadari satu hal.
Cerita-cerita yang selama ini dianggap hanya mitos oleh warga kampung...
Mungkin memang benar adanya.
Sebab rumah tempat kami tinggal sejak aku lahir...
Bukan hanya dihuni oleh keluargaku.
Daftar bab
27 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








