
Identitas Rahasia Admin Dunia
Albanna|Bersambung
- Jumlah kata
- 152.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 9
- Jumlah kata
- 152.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 9
Sinopsis
Kael Adikara hanyalah teknisi lift yang hidupnya hancur dalam satu malam. Identitasnya ditolak, rekeningnya dibekukan, dan seluruh kota memburunya sebagai ancaman berbahaya. Namun ketika sistem terkuat di Aeropolis mengenalinya sebagai penciptanya, Kael menemukan fakta yang lebih mengerikan: seseorang dengan wajah dan namanya telah mengambil alih dunia yang pernah dia bangun. Kini, dengan tubuh terluka dan hanya segelintir sekutu, Kael harus melawan perusahaan raksasa, pemerintahan korup, serta sosok misterius yang mengaku sebagai dirinya yang asli. Di kota yang dikendalikan data, siapakah yang berhak menentukan kebenaran: sistem, kekuasaan, atau manusia yang menolak menyerah? Baca Identitas Rahasia Admin Dunia sekarang dan ikuti perjuangan seorang teknisi merebut kembali nama, ciptaan, dan dunianya!
Ulasan
1 ulasan
Queen Tuth
2/8/26 05:38
Gimana caranya supaya jadi Admin Dunia, Thor? Bisa nggak dari admin grup WhatsApp nanti jadi Admin Dunia? Kalo bisa gaskeun ni
Teknisi yang Dibuang
“Jangan bikin malu aku di depan semua orang, Kael.”
Kiara berdiri di tengah aula utama Zenith Dynamics dengan gaun putih berkilau, satu tangan masih berada dalam genggaman Adrian Zenith. Di belakang mereka, layar setinggi tiga lantai menampilkan tulisan besar tentang pertunangan dua keluarga paling berpengaruh di Aeropolis.
Kael berhenti beberapa langkah dari panggung. Kotak hadiah kecil di tangannya mendadak terasa konyol.
“Kamu bilang malam ini ada presentasi penting.” Kael menatap Kiara, lalu cincin berlian di jarinya. “Aku datang karena kamu minta.”
“Dan kamu seharusnya mengerti posisi.” Kiara menarik tangannya dari Adrian, wajahnya kaku.
“Bukan datang pakai seragam kerja kayak begini.”
Beberapa pegawai yang berdiri di sekitar panggung mulai berbisik. Ada yang menahan senyum, ada juga yang sengaja mengangkat ponsel.
Kael menunduk sebentar. Seragam abu-abunya memang masih kotor oleh oli. Dia baru turun dari ruang mesin lift lantai delapan puluh tujuh setelah memperbaiki kerusakan yang hampir menghentikan seluruh acara.
“Lift utama tadi macet.” Kael mengangkat pandangan. “Kalau aku nggak turun tangan, tamu kalian masih kejebak di lantai bawah.”
“Teknisi lain juga bisa memperbaikinya.” Adrian turun dari panggung sambil merapikan manset. “Jangan bertingkah seolah gedung ini berdiri karena kamu.”
Kael mengenal wajah itu dari layar iklan kota. Adrian Zenith, putra tunggal Orion Zenith, calon pewaris perusahaan teknologi terbesar di Aeropolis. Wajahnya rapi, senyumnya tipis, dan tatapannya seperti sedang menilai barang murah.
“Aku nggak pernah bilang begitu.”
“Tapi kamu sering bikin Kiara merasa berutang.” Adrian berhenti tepat di depannya. “Katanya kamu banyak membantu proyek dia.”
Kiara memalingkan wajah.
Kael melihat gerakan kecil itu. Jari Kiara mencengkeram kain gaunnya, kebiasaan lama setiap kali dia gugup. Tiga tahun bersama membuat Kael hafal hal-hal yang bahkan tidak pernah disadari Kiara sendiri.
“Proyek prediksi energi itu memang aku bantu.” Kael mengatakannya datar. “Algoritma stabilisasinya juga aku yang revisi.”
Beberapa kepala langsung menoleh kepada Kiara.
“Cukup.” Kiara turun dari panggung. “Kamu cuma bantu beberapa rumus dasar. Jangan klaim kerja kerasku.”
Kael tidak menjawab. Dia teringat malam-malam saat Kiara tertidur di meja apartemen, sementara dia menyelesaikan simulasi sampai pagi. Dia juga ingat bagaimana Kiara memeluknya setelah presentasi pertama dan bilang mereka akan naik bersama.
Sekarang perempuan itu bahkan tidak berani menatapnya.
“Baik.” Kael meletakkan kotak hadiah di meja terdekat. “Kalau itu yang mau kamu bilang.”
Kiara menarik napas pendek, seolah jawaban tenang itu justru membuatnya kesal.
“Hubungan kita selesai.” Kiara mengangkat dagu.
“Aku capek menunggu kamu berubah. Tiga tahun, Kael. Kamu masih teknisi kontrak, masih tinggal di apartemen murah, masih percaya kerja keras aja cukup.”
Aula mendadak terasa lebih sunyi.
Kael menatap wajah Kiara tanpa berkedip. Tidak ada air mata. Tidak ada permohonan. Hanya jeda panjang yang membuat Kiara mulai gelisah.
“Jadi ini alasan kamu meminta aku datang?”
“Aku ingin kamu dengar langsung.” Kiara merapikan gelangnya. “Adrian bisa memberi masa depan yang jelas. Aku butuh hidup yang stabil, bukan janji.”
“Aku nggak pernah kasih janji kosong.”
“Pendapatan kamu bahkan nggak cukup buat masuk Celestial District tanpa kartu kerja.” Kiara melirik seragamnya.
Celestial District adalah kawasan elite di tingkat atas Aeropolis, tempat para konglomerat, pejabat, dan keluarga lama tinggal. Orang seperti Kael biasanya hanya bisa masuk sebagai pekerja dengan izin sementara.
“Kadang kenyataan memang harus disampaikan terang-terangan,” lanjut Kiara.
Adrian tertawa kecil. “Akhirnya dia paham.”
Kael menatap Adrian. “Kamu boleh menikahi siapa pun. Tapi jangan pakai kerja aku buat membangun nama kalian.”
Senyum Adrian menghilang.
“Kamu mengancamku?”
“Aku mengingatkan.”
Adrian mendekat sampai jarak mereka tinggal satu langkah. Dua petugas keamanan di sisi aula mulai bergerak.
“Seorang teknisi kontrak mau mengingatkan pemilik gedung.” Adrian mengangguk pelan. “Menarik.”
Salah satu manajer operasional berlari dari pintu samping. Wajahnya pucat, tablet di tangannya menampilkan peringatan merah.
“Bapak Adrian, ada masalah pada lift utama.”
“Sudah diperbaiki.” Kael menoleh.
“Justru setelah dia menyentuh sistem, modul kendali utama rusak.” Adrian merebut tablet itu dan melihat laporan. “Semua akses teknisi terakhir tercatat atas nama Kael Adikara.”
Kael mengerutkan dahi. Dia sudah menguji sistem tiga kali sebelum keluar dari ruang mesin.
“Itu bukan kerusakan modul. Ada perintah jarak jauh yang masuk setelah aku keluar.”
“Pak, Kael benar soal perintah jarak jauh.” Seorang teknisi muda muncul di belakang manajer, napasnya terputus-putus.
“Saya menemukan akses dari lantai eksekutif. Kalau Kael tidak memindahkan lift ke mode manual, kabinnya bisa turun tanpa rem.”
Adrian menatap teknisi itu sampai lelaki muda tersebut berhenti bicara.
“Nama kamu?”
“Niko, Pak. Divisi pemeliharaan malam.”
“Mulai besok, pindah ke gudang suku cadang.”
Niko langsung pucat.
Kael mengepalkan tangan, tetapi suaranya tetap rendah. “Dia cuma menyampaikan laporan.”
“Dan kamu masih merasa boleh mengatur keputusan perusahaanku?” Adrian menyerahkan tablet kepada manajer. “Hapus laporan tidak terverifikasi itu.”
“Data mentahnya tersimpan otomatis.” Niko mencoba bicara lagi. “Tidak bisa dihapus tanpa otorisasi pusat.”
Adrian tersenyum tipis. “Kalau begitu, kita akan tahu siapa yang cukup bodoh untuk mempertahankannya.”
Kiara mendekat kepada Kael dan merendahkan suara. “Udah, jangan bikin semuanya makin buruk. Pergi sekarang. Aku bisa bicara sama Adrian supaya masalah ini nggak dibawa ke polisi.”
Kael menatap perempuan itu cukup lama.
“Kamu tahu aku nggak merusak lift.”
Kiara menggigit bibir, lalu melirik para tamu yang mengamati mereka.
“Aku tahu kamu marah. Orang marah bisa melakukan hal bodoh.”
Kalimat itu lebih menyakitkan daripada pengumuman pertunangan.
Kael mengangguk sekali. “Jadi segitu aja kepercayaan kamu setelah tiga tahun.”
Kiara tidak menjawab.
“Alasan murahan.” Adrian menyerahkan tablet kepada manajer. “Putus akses kerjanya sekarang.”
“Pak, prosedurnya perlu pemeriksaan.”
“Aku bilang sekarang.”
Manajer itu ragu, lalu menyentuh layar. Kartu identitas di dada Kael berkedip merah.
‘Akses Ditolak.’
Tulisan itu muncul di panel pintu terdekat.
“Mulai malam ini, kamu bukan bagian dari Zenith Dynamics.” Adrian menunjuk pintu keluar. “Dan kalau ditemukan bukti sabotase, kamu akan berurusan dengan pengadilan.”
Kael melepas kartu identitas dari seragamnya. Dia meletakkannya di meja, tepat di samping hadiah untuk Kiara.
“Periksa log sumber perintah di lapisan ketujuh.” Kael menatap manajer operasional. “Perintah jarak jauh itu masih tersimpan. Kalau masuk lagi, rem utama bisa gagal sebelum tengah malam.”
Manajer itu menelan ludah.
“Jangan dengarkan dia,” potong Adrian. “Bawa dia keluar!”
Dua petugas keamanan mendekat. Kael tidak melawan. Dia berjalan melewati barisan pegawai dengan punggung lurus, sementara bisikan dan tatapan mengikuti sampai pintu aula menutup di belakangnya.
Saat melewati meja, Kael melihat kotak hadiahnya terbuka karena tersenggol. Di dalamnya ada komponen mini yang dia rakit sendiri, alat penstabil untuk proyek Kiara berikutnya.
Kiara melihat benda itu, tetapi tetap diam. Wajahnya sedikit berubah.
Hujan mengguyur Aeropolis.
Kael berdiri di bawah kanopi beberapa detik, lalu mengeluarkan ponsel. Saldo rekeningnya nyaris habis. Gaji terakhir belum masuk. Apartemen masih harus dibayar tiga hari lagi.
Layar ponsel menampilkan satu pesan dari Kiara.
‘Jangan cari aku lagi.’
Kael membaca pesan itu tanpa membalas.
Dia melangkah ke tepi jalan. Jalur kendaraan otomatis bergerak cepat di antara gedung-gedung tinggi. Sebuah mobil hitam mendadak keluar dari jalurnya dan meluncur lurus ke arah Kael.
Orang-orang di trotoar berteriak dan mundur.
Kael membeku.
Mobil itu berhenti hanya beberapa sentimeter dari tubuhnya.
Bukan cuma satu mobil.
Seluruh kendaraan di jalan berhenti bersamaan. Lampu gedung padam. Layar iklan, panel jalan, dan menara informasi berubah menjadi hitam.
Lalu satu kalimat putih muncul di seluruh Aeropolis.
ADMINISTRATOR ATLAS TELAH DITEMUKAN.
Kael menatap layar raksasa di seberang jalan.
Sebuah suara asing terdengar langsung di dalam kepalanya.
“Selamat datang kembali, Creator.”
Daftar bab
130 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
130 bab








