Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Identitas Rahasia Calon Menantu Terbuang

Identitas Rahasia Calon Menantu Terbuang

Jejak Timur | Bersambung
Jumlah kata
110.5K
Popular
150
Subscribe
55
Novel / Identitas Rahasia Calon Menantu Terbuang
Identitas Rahasia Calon Menantu Terbuang

Identitas Rahasia Calon Menantu Terbuang

Jejak Timur| Bersambung
Jumlah Kata
110.5K
Popular
150
Subscribe
55
Sinopsis
PerkotaanAksiPewarisMenantuMiliarder
Aren Nawasena hanyalah kurir dan satpam miskin yang dibuang keluarga calon istrinya pada malam pernikahan mereka dibatalkan. Namun beberapa menit setelah dia diusir, sekelompok pria bersenjata datang, berlutut, dan memanggilnya Zero, pemimpin organisasi rahasia yang telah dianggap mati selama tiga tahun. Sebuah kartu misterius kemudian membuka jejak kekayaan triliunan, perusahaan besar, dan masa lalu penuh darah yang tidak lagi dia ingat. Di saat mantan calon istrinya mulai menyadari kesalahannya, musuh-musuh lama bergerak untuk merebut identitas Aren, menghancurkan orang-orang di sekitarnya, dan membangkitkan sosok mengerikan yang pernah dia kubur dalam dirinya. Sekarang Aren harus memilih: tetap menjadi pria biasa yang pernah dibuang, atau kembali menjadi Zero dan membuat semua orang yang meremehkannya menyesali keputusan mereka.
Calon Menantu yang Dibuang

"Kalau makanan ini sampai menyentuh teras lagi, saya pastikan akun kamu hilang malam ini."

Gladys mengangkat kotak ayam lada hitam di depan wajah Aren. Lampu teras memantul pada saus yang menempel di tutup plastik. Jam di layar ponsel Aren menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh malam.

Jaket kurirnya lembap oleh keringat. Helm tua tergantung di siku. Dia baru menempuh dua belas kilometer melewati kemacetan Kota Jayanagara. Alamat tujuan ternyata hanya dua blok dari rumah keluarga Rahadya, tempat dia tinggal selama tiga tahun terakhir.

"Pesanannya sesuai aplikasi, Bu. Ayam lada hitam, dua nasi, dan es teh tanpa gula."

"Jangan sok sopan."

Aren menelan jawaban yang hampir keluar. "Saya cuma menjelaskan pesanannya."

Gladys membuka kotak, mencium isinya sekilas, lalu menjatuhkannya. Nasi dan saus tumpah di lantai teras.

"Baunya busuk. Kamu sengaja membawa makanan rusak karena tahu saya tetangga Elara."

Uap tipis masih naik dari ayam itu. Aren melihatnya, tetapi tidak membantah. Dia membungkuk untuk menyelamatkan kantong minuman yang hampir ikut jatuh.

"Kalau Ibu merasa makanannya bermasalah, saya bantu ajukan komplain melalui aplikasi."

"Sekarang kamu mengajari saya."

Ponsel Gladys sudah mengarah kepadanya. Kamera menyala.

"Lihat ini," katanya kepada layar. "Kurir kasar, makanan rusak, pakaian kotor. Orang seperti ini sebulan lagi mau menikahi anak keluarga terpandang di kompleks kami."

Aren menatap lensa, lalu menunduk. "Saya tidak mengancam Ibu. Tolong bagian itu ikut direkam."

Gladys menendang kotak makanan. Kotak tersebut membentur helm Aren sampai terlepas dari lengannya. Helm berguling ke anak tangga dan kaca pelindungnya retak.

"Calon suami miskin tetap saja miskin. Elara pasti malu melihat kamu keliling membawa makanan."

Aren memungut helmnya. Retakan memanjang tepat di depan mata. Dia menghitung harga kaca pengganti, kemudian teringat bonus harian yang belum masuk.

"Ini pekerjaan halal, Bu."

Gladys mengetik cepat dan memperlihatkan layar. Video itu sudah diunggah ke grup warga dengan keterangan KURIR MENGANCAM PELANGGAN.

Ponsel Aren berbunyi.

Pesanan dibatalkan.

Notifikasi kedua menyusul.

Akun Anda ditangguhkan sementara karena laporan keselamatan pelanggan. Seluruh pesanan dan bonus dibekukan selama proses peninjauan.

Aren membaca pesan itu dua kali. Dia menutup aplikasi, membukanya lagi, lalu menekan menu bantuan. Pesan yang sama tetap muncul.

"Sekarang pergi. Jangan bikin kompleks ini kelihatan murahan."

"Maaf atas ketidaknyamanannya."

Kata maaf itu keluar otomatis. Aren membencinya sesaat kemudian. Dia memotret makanan yang masih beruap, lantai teras, unggahan Gladys, dan helmnya yang retak. Bukti kecil, tetapi cukup untuk melawan cerita Gladys.

Aren tetap bekerja menggunakan aplikasi lain. Pesanannya lebih sedikit dan tarifnya lebih rendah. Dia hanya sempat makan roti murah di ruang keamanan King Karaoke sebelum mengganti jaket kurir dengan seragam satpam.

Dari pukul sembilan sampai tengah malam, dia membantu tamu mabuk menemukan mobil, memisahkan dua pria yang hampir berkelahi, dan membersihkan pecahan gelas. Ketika shift selesai, manajer menyerahkan amplop tipis.

"Gaji tambahan minggu ini. Lu masih mengambil semua shift kosong."

"Selama badan gua belum mengirim surat keberatan."

"Pernikahan tinggal sebulan."

"Harusnya."

Manajer tertawa, mengira dia bercanda. Aren ikut tersenyum. Tangannya justru meremas amplop sampai sudutnya kusut.

Selama tiga tahun, Aren bekerja untuk satu tujuan. Rumah calon pengantin dicicil melalui kredit atas nama Elara. Aren tercatat sebagai penjamin karena pendapatannya dipakai dalam pengajuan, meskipun sertifikat kelak tetap atas nama Elara.

Mobil keluarga berada atas nama Mireya. Aren tidak pernah menandatangani jaminan untuk kendaraan itu. Dia hanya membayar angsurannya setiap bulan karena Elara mengatakan mobil tersebut dibutuhkan keluarga.

Pinjaman biaya pernikahan berbeda. Beberapa lembar memuat tanda tangannya, tetapi Aren tidak pernah menerima salinan lengkap. Dia selalu percaya Bramasta sudah memeriksa semuanya.

Tiga tahun lalu, ayah Elara itu menemukan Aren tanpa ingatan di tepi sungai. Bramasta membawanya pulang, memberinya nama, lalu menyediakan tempat tinggal di paviliun belakang rumah Rahadya. Sejak Bramasta meninggal setahun lalu, Mireya mengatur seluruh urusan rumah, cicilan, dan pernikahan.

Hampir pukul satu ketika motor Aren memasuki jalan samping rumah Rahadya. Dua koper dan satu kardus berdiri di depan paviliun. Gembok pintunya sudah diganti.

Mireya menunggu dengan gaun tidur sutra. Gladys berdiri di balik pagar rumahnya, memegang ponsel seolah malam itu belum memberinya cukup hiburan.

"Kamu akhirnya pulang. Ambil barangmu."

Aren mematikan mesin. "Ada apa, Bu?"

"Pernikahan dibatalkan. Mulai malam ini kamu tidak tinggal di sini."

Kedua alis Aren hampir bertemu di tengah. "Elara ada di rumah?"

"Dia tidak ingin bicara denganmu."

Tirai kamar lantai dua bergerak. Bayangan perempuan berambut panjang berdiri di balik kaca.

"Elara."

Bayangan itu tidak pergi, tetapi juga tidak mendekat.

"Aku cuma minta lima menit. Kalau memang selesai, bilang langsung. Setelah itu aku pergi."

Lampu kamar padam.

Aren tetap menatap jendela yang mendadak gelap. Dadanya terasa kosong, seperti ada sesuatu yang dicabut tanpa meninggalkan darah.

Mireya menyerahkan map tagihan. "Kamu tetap harus menyelesaikan kewajiban ini."

Aren membuka halaman pertama. Kredit rumah mencantumkan namanya sebagai penjamin. Berkas mobil hanya mencatat Mireya sebagai debitur. Pada lembar pinjaman pernikahan, tanda tangannya terlihat miring, sedikit berbeda dari kebiasaan tangannya.

"Rumah atas nama Elara."

"Tapi kamu penjaminnya."

"Mobil bukan kewajiban hukum saya."

"Itu kesepakatan keluarga."

Aren mengusap ibu jari pada tanda tangan terakhir. "Saya akan membaca seluruh dokumen sebelum membayar apa pun."

Mireya mendengus. "Jangan mencari alasan setelah keluarga ini menyelamatkanmu."

"Pak Bramasta menyelamatkan saya. Untuk hal lain, saya belum tahu."

Dia memasukkan map ke koper, lalu mengikat barang-barangnya pada motor. Jemarinya beberapa kali gagal memasang tali. Di balik pagar, dua tetangga lain mulai merekam. Gladys berada paling depan.

"Kalau kamu pergi malam ini, jangan pernah kembali."

Aren mengenakan helm retak. "Baik, Bu."

Dia duduk di atas motor, tetapi tidak langsung menyalakan mesin. Foto Elara masih menjadi latar layar ponselnya. Ibu jarinya berhenti di atas pilihan hapus, kemudian turun tanpa menyentuh apa pun.

Tiga tahun hidupnya terasa seperti kuitansi panjang atas sesuatu yang tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.

Suara mesin berat muncul dari ujung jalan.

Tiga mobil hitam memasuki blok rumah Rahadya dan berhenti melintang beberapa meter dari pagar. Jalan keluar tertutup. Enam pria turun hampir bersamaan. Empat orang menjaga mobil, sementara lelaki muda berbekas luka di alis berjalan paling depan.

Aren menurunkan satu kaki ke aspal. Tangannya meraba ponsel, siap menekan panggilan darurat. Mireya mundur mendekati pintu rumah utama. Tirai kamar Elara bergerak lagi. Kamera para tetangga kini beralih kepada rombongan asing itu.

Lelaki berbekas luka berhenti di depan motor Aren. Tatapannya menyapu wajah Aren, helm retak, koper, dan kardus yang terikat seadanya.

Kemudian dia berlutut.

Lima pria lainnya mengikuti.

Bisik-bisik muncul dari balik pagar. Gladys menurunkan ponselnya sesaat, seolah baru sadar bahwa rekamannya menangkap sesuatu yang tidak dipahaminya.

Aren mundur setengah langkah. "Kalian salah orang."

Lelaki itu mengangkat kepala. Matanya memerah, tetapi suaranya terkendali.

"Wajah Anda muncul di jaringan publik enam jam lalu. Sistem lama unit kami mengenali pola yang menutupi identitas Anda. Metadata unggahan membawa kami ke kompleks ini sebelum peringatan mencapai pusat."

Enam jam. Aren teringat video Gladys yang diunggah setelah pukul tujuh malam.

"Nama gua Aren. Kalian pasti salah orang."

Lelaki itu menunduk lebih dalam.

"Black Vigil Third, Hidra Dewara, memberi hormat."

Aren menggenggam sisi helmnya. Retakan pada kaca pelindung membelah bayangan rumah Rahadya menjadi dua.

Hidra memandangnya seperti seseorang yang baru menemukan orang mati berdiri di depan mata.

"Zero," katanya. "Akhirnya saya menemukan Anda."

Lanjut membaca
Lanjut membaca