

Suasana barak pagi itu hangat, tapi tidak dengan hati Arjuna. Di dalam kamar kecil berdinding semen dingin itu, ia menatap dirinya di cermin, mencoba meyakinkan diri bahwa ia siap untuk tugas yang sebentar lagi akan menantinya di perbatasan.
“Jun! Kau udah bangun, kan? Ayo cepat, latihan dimulai sepuluh menit lagi!” seru Raka dari luar.
“Sudah, sudah! Aku bukan prajurit telat bangun!” balas Arjuna sambil mengenakan seragam hijau gelap dengan rapi.
Ia mengambil dompet kecil dari atas lemari. Sebuah foto terselip di dalamnya, foto Safira. Ia mengelusnya pelan, seperti menyentuh sesuatu yang rapuh namun berharga.
“Safira... doakan aku, ya,” gumamnya pelan.
---
Sementara itu, di sudut kota, di dalam mobil sedan putih milik Safira, suasana terasa jauh lebih rumit. Mobil itu terparkir rapi di depan sebuah kafe, jendelanya tertutup, dan AC berhembus pelan.
“Kenapa kita harus begini terus, Saf?” tanya Dion, mengenakan seragam polisi, duduk di kursi pengemudi dengan tangan yang menggenggam erat setir.
Safira menoleh padanya. Wajahnya cantik, bersih, tapi matanya memendam sesuatu.
“Karena ini salah,” jawab Safira pelan. “Aku tunangan Arjuna, Dion. Aku tidak bisa terus bertemu diam-diam begini.”
“Tapi kau juga mencintaiku, kan?” tanya Dion cepat. “Safira, jangan terus bohong pada dirimu sendiri. Kau datang ke sini, itu artinya..”
“Jangan paksa aku memilih sekarang,” potong Safira. “Arjuna akan segera berangkat tugas. Aku tidak bisa meninggalkannya dalam keadaan seperti ini.”
Dion menghela napas, lalu menunduk. “Kau tahu dia tidak akan selamanya di medan perang. Kau akan terus menunggunya dalam keraguan?”
“Aku... tidak tahu.” Safira menatap kaca depan, hampa.
“Kau tahu aku mencintaimu. Aku ingin memperjuangkanmu, bukan sembunyi-sembunyi seperti ini,” lanjut Dion dengan suara yang mulai meninggi.
“Jangan sekarang, Dion,” kata Safira, sambil membuka pintu. “Aku harus ke rumah Arjuna malam ini.”
“Untuk apa? Menjaga citra tunangan setia?” ejek Dion, pahit.
“Untuk pamit... atau... entahlah.”
---
Malam harinya, suasana rumah Arjuna begitu tenang. Ia sedang menyemir sepatunya di ruang tamu, ditemani secangkir teh yang mulai dingin. Ketukan di pintu memecah kesunyian.
“Masuk saja, Fi,” kata Arjuna, tanpa menoleh. Ia mengenal suara langkahnya bahkan dari kejauhan.
Safira masuk perlahan. Ia mengenakan blus putih dan celana jeans sederhana. Tak ada riasan tebal, hanya wajah yang nampak gelisah.
“Kau masih menyemir sepatu sendiri?” tanya Safira membuka pembicaraan.
“Aku prajurit. Bukan jenderal,” jawab Arjuna sambil tersenyum.
Safira duduk di sofa, diam beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Jun... kalau aku tanya sesuatu, jawab jujur, ya?”
“Tentu. Apa itu?”
“Kalau suatu saat nanti aku melakukan kesalahan besar, yang mungkin menghancurkan kepercayaanmu... apa kau akan memaafkanku?”
Arjuna berhenti menyemir. Ia menatap Safira lama.
“Safira, aku bukan prajurit biasa. Aku dilatih untuk bertahan, untuk menerima kenyataan, sekeras apa pun itu,” ucapnya mantap. “Kalau kau melakukan kesalahan... aku akan coba memaafkan. Tapi lupa? Mungkin tidak.”
Safira menggigit bibir bawahnya, menunduk. “Aku tidak tahu harus berkata apa...”
“Kau tidak perlu berkata apa-apa sekarang,” kata Arjuna. “Cukup temani aku malam ini. Esok aku sudah harus berangkat ke markas utama. Mungkin tidak akan ada sinyal selama beberapa hari.”
Safira menatap mata Arjuna. Hatinya bergetar. Tapi ia tidak sanggup mengaku. Belum.
---
Beberapa jam kemudian, di mobil yang sama, Safira kembali duduk sendiri. Lampu dashboard menyala, tapi mesin mati. Ia memandangi layar ponselnya. Nama Dion terpampang.
Ia menekan tombol hijau. Suara Dion terdengar segera.
“Jadi kau ke rumahnya?”
“Iya...”
“Dan kau masih belum bilang apa-apa?”
Safira menutup matanya. “Belum. Dia terlalu baik, terlalu percaya. Aku tak sanggup menyakitinya sekarang.”
“Semakin kau tunda, semakin menyakitkan nanti.”
“Aku tahu.”
Diam. Lalu suara tangis tertahan.
Safira menangis dalam diam, di dalam mobilnya sendiri. Di antara dua dunia yang saling menuntut, dan seorang prajurit yang menatap masa depan dengan setia, tanpa tahu bahwa hatinya sedang dirobek dari belakang.
Tiga hari sebelum keberangkatan.
Cuaca cerah membungkus barak militer dengan ketenangan yang langka.
Seluruh pasukan batalion Arjuna mendapat jatah libur dua hari penuh, waktu khusus untuk berpamitan pada keluarga, sebelum mereka dikirim ke medan tugas yang belum tentu kembali.
“Aku pulang ke Jogja, Jun. Ibu pasti nangis lagi,” kata Raka sambil mengemas ransel kecil.
“Salamin buat Ibumu,” sahut Arjuna sambil tersenyum tipis. “Titip juga mendoakan kami semua.”
“Lho, kamu nggak pulang ke kampungmu?” tanya Raka penasaran.
Arjuna menggeleng pelan. “Aku nggak punya siapa-siapa di sana. Bapak meninggal waktu aku SMP, Ibu nyusul dua tahun kemudian. Aku sendirian di sini.”
“Maaf, Jun. Aku nggak tahu...”
“Gak apa-apa, Ra. Tapi aku punya satu tempat buat pamit,” ucap Arjuna sambil merapikan kerah seragamnya yang tetap ia pakai meski tak wajib.
---
Sore harinya, Arjuna tiba di depan rumah besar bergaya semi-klasik di kawasan perumahan elit. Ia menarik napas, mengetuk pintu dengan ragu.
Pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya menyambut dengan senyum lemah. Wajahnya masih mirip dengan Safira.
“Arjuna?” sapa ibu Safira, Bu Ratna.
“Permisi, Tante. Saya... boleh masuk?”
“Tentu. Masuk, Nak. Safira belum pulang kerja, tapi ayahnya ada di dalam.”
Arjuna masuk, melepas sepatunya, dan duduk di ruang tamu yang wangi dan hangat.
Pak Budi, ayah Safira, muncul dengan kemeja putih dan raut datar. Ia menyilangkan tangan, menatap Arjuna tajam.
“Ada apa ke sini, Jun?”
“Saya... datang untuk pamitan, Pak,” jawab Arjuna tegas. “Saya dapat penugasan ke wilayah timur. Dua hari lagi berangkat.”
Pak Budi tidak menjawab. Ia berjalan perlahan menuju kursi di depannya, lalu duduk.
“Jadi kau ke sini hanya untuk pamit?”
“Saya merasa... Safira dan keluarga ini sudah seperti keluarga saya sendiri. Saya tidak punya orang tua lagi. Jadi saya anggap Tante dan Bapak seperti... orang tua juga.”
Bu Ratna menahan haru, tersenyum tulus. Tapi Pak Budi tetap dingin.
“Kau prajurit. Sudah tahu risikonya.”
“Saya tahu, Pak.”
“Jangan buat anak saya menderita. Kalau kau mati di sana, Safira akan kehilangan tunangannya.”
Arjuna tersenyum kecil. “Justru karena itu saya ke sini. Kalau takdir berkata lain, saya ingin Safira tahu... saya tidak pergi tanpa restu.”
Pak Budi terdiam lama, lalu menghela napas berat. “Hati-hati, Jun.”
“Terima kasih, Pak.”
“Safira tak pernah cerita banyak tentangmu, tapi saya tahu satu hal, kau bukan lelaki sembarangan.”
Arjuna menunduk hormat. “Saya akan menjaga kehormatan saya, Pak.”
Bu Ratna menggenggam tangan Arjuna lembut. “Kami akan doakan yang terbaik. Kau anak yang baik, Juna.”
---
Arjuna meninggalkan rumah itu menjelang magrib, berjalan kaki menembus senja yang mulai memerah. Di luar, ia melihat sebuah mobil putih yang familiar masuk ke halaman rumah.
Safira.
Mereka bertatapan dari kejauhan. Ia tersenyum kecil.
“Jun? Kenapa nggak bilang mau ke sini?” tanya Safira saat keluar dari mobil.
“Aku mau pamit sama orang tuamu. Dua hari lagi aku pergi.”
Safira terdiam. “Kau masih menganggap orang tuaku keluargamu?”
“Masih,” jawab Arjuna singkat. “Meski... kadang aku merasa, aku bukan bagian dari dunia kalian.”
Safira menunduk. “Jangan bilang begitu...”
Arjuna mendekat, lalu menyelipkan sesuatu ke tangannya. Sebuah kalung kecil dengan pelat nama logam kecil bertuliskan ‘A. Juna’.
“Simpan ini. Kalau aku nggak bisa kembali, anggap saja aku tetap bersamamu.”
“Jun, jangan bicara seperti itu!”
“Tapi kita prajurit, Fi. Harus siap kehilangan.”
Safira menggigit bibirnya, menahan tangis. “Aku... aku akan menunggumu.”
Arjuna mengangguk, menatap matanya yang bergetar. Ia tidak tahu bahwa di balik mata itu, ada rahasia yang belum terucap.
Ia hanya tahu satu hal, ia mencintainya sepenuh jiwa.
Dan ia percaya.
Untuk saat ini.