Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
I AM HACKER

I AM HACKER

Yansya | Bersambung
Jumlah kata
107.6K
Popular
464
Subscribe
114
Novel / I AM HACKER
I AM HACKER

I AM HACKER

Yansya| Bersambung
Jumlah Kata
107.6K
Popular
464
Subscribe
114
Sinopsis
PerkotaanAksiTeknologiBalas DendamSistem
Berdiri di tepi jurang maut lantai 15 setelah seluruh keluarganya dibantai dan adiknya diculik, Yohan siap mengakhiri hidupnya. Namun, tepat di detik ia melangkah jatuh, dunia mendadak membeku—dan sebuah layar holografik misterius menyala di retinanya: [SISTEM HACKER SIBER AKTIF.] Dari pemuda miskin yang putus asa, ia kini memegang kendali penuh atas seluruh jaringan digital dunia. Dendam kesumat telah dimulai.
Bab 1: Putus Asa di Atap Gedung

Angin malam terasa sangat dingin saat Yohan berdiri di pinggir atap lantai 15.

Hembusan angin itu menusuk hingga ke tulang, mengibarkan kemeja lusuhnya yang sudah robek di bagian kerah.

Di bawah sana, gemerlap lampu kota metropolitan terlihat seperti lautan bintang yang mengejek kemalangannya.

Mobil-mobil mewah berlalu lalang. Gedung-gedung pencakar langit memancarkan cahaya neon yang menyilaukan.

Namun bagi Yohan, semua keindahan itu terasa hampa.

Pemuda berusia dua puluh tahun itu menundukkan kepalanya. Rambut hitamnya yang berantakan menutupi sepasang mata yang kini telah kehilangan seluruh cahaya kehidupannya.

Ujung sepatu ketsnya yang sudah usang kini hanya berjarak beberapa sentimeter dari jurang kematian.

Satu langkah kecil saja ke depan, dan tubuhnya akan terjun bebas menghantam kerasnya aspal jalanan.

{ Untuk apa aku hidup lagi? Semua sudah hancur. Semuanya sudah berakhir. }

Mata Yohan memerah. Air mata keputusasaan menetes, jatuh tertiup angin malam yang kejam.

Kedua tangannya mengepal erat, kuku-kukunya menancap ke telapak tangan hingga berdarah, namun rasa sakit di tangannya tidak sebanding dengan rasa sakit di dadanya.

❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

Tiga hari yang lalu.

Kehidupan Yohan dulunya sederhana namun penuh kehangatan. Ayah dan ibunya bekerja keras dari pagi hingga malam demi menghidupi Yohan dan adik perempuan satu-satunya, Mia.

Namun, semua kehangatan itu hancur dalam semalam.

Malam itu, hujan turun dengan sangat deras. Petir menyambar-nyambar di langit yang gelap.

Pintu rumah mereka didobrak paksa hingga hancur berkeping-keping.

Sekelompok pria bertubuh besar dengan wajah beringas masuk ke dalam rumah. Mereka adalah para penagih utang dari rentenir kejam yang meminjamkan uang kepada ayah Yohan untuk modal usaha yang sayangnya berujung kebangkrutan.

Yohan masih mengingat dengan sangat jelas bagaimana pria bertangan dingin itu—pria dengan tatapan mata seperti iblis pembunuh—langsung mengeksekusi kedua orang tuanya tanpa belas kasihan sedikit pun.

Darah segar menggenang di lantai ruang tamu yang dingin.

Bau amis darah menusuk hidung Yohan.

"Ayah... Ibu..."

Suara Yohan tercekat di tenggorokan saat melihat tubuh kedua orang tuanya tergeletak tak bernyawa.

Dunia Yohan runtuh seketika. Hatinya hancur berkeping-keping melihat pemandangan paling mengerikan dalam hidupnya.

Namun, penderitaan malam itu belum berakhir.

Setelah merenggut nyawa kedua orang tua Yohan, para penjahat itu beralih ke sudut ruangan tempat seorang gadis kecil berusia empat belas tahun meringkuk ketakutan.

"Bawa anak perempuan ini! Dia bisa dijual dengan harga tinggi untuk melunasi sisa utang orang tuanya!" teriak salah satu penjahat berbadan besar.

Mia, adik kandung Yohan satu-satunya, ditarik paksa dengan kasar.

"Kak Yohan! Tolong aku! Kakak!!"

Jeritan Mia yang melengking terdengar menyayat hati di tengah derasnya hujan. Gadis kecil itu menangis histeris, meronta-ronta melepaskan diri dari cengkeraman pria berbadan besar itu.

Yohan yang saat itu terluka parah di sudut ruangan mencoba merangkak maju. Darah mengalir dari dahi dan pelipisnya.

"Lepaskan... lepaskan adikku, bajingan!" teriak Yohan dengan suara parau.

Namun sebuah tendangan keras mendarat telak di perut Yohan, membuatnya memuntahkan darah dan pandangannya langsung menjadi gelap gulita.

Saat Yohan kembali sadar, rumahnya sudah kosong. Hanya tersisa mayat kedua orang tuanya yang mulai mendingin.

Adiknya, Mia, telah lenyap ditelan kegelapan malam.

❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

Selama tiga hari berturut-turut, Yohan berlari ke sana kemari seperti orang gila.

Ia pergi ke kantor polisi, mengemis memohon bantuan. Namun para petugas hanya mencatat laporannya sebagai kasus orang hilang biasa.

Ia menyusuri gang-gang kumuh, mendatangi markas-markas preman, bahkan rela dipukuli dan dihajar habis-habisan demi mendapatkan informasi sekecil apa pun tentang adiknya.

Hasilnya nihil. Tidak ada satu pun jejak Mia yang bisa ia temukan.

Hutang keluarganya masih menumpuk. Pihak bank telah menyita sisa harta benda mereka. Para rentenir masih terus memburunya, mengancam akan mematahkan kedua kakinya jika ia tidak segera membayar utang ratusan juta yang tidak pernah ia gunakan.

Yohan benar-benar berada di titik terendah dalam hidupnya.

Ia lapar. Ia kelelahan. Tubuhnya penuh dengan luka memar berwarna keunguan akibat pukulan para preman di jalanan.

Namun yang paling menyiksa adalah rasa bersalah yang terus menggerogoti kewarasannya.

{ Aku adalah kakak yang tidak berguna. }

Yohan menatap nanar ke arah kerlap-kerlip lampu kota di bawahnya. Kakinya yang gemetar mulai kehilangan tenaga.

{ Ayah dibunuh di depan mataku. Ibu meregang nyawa untuk melindungiku. Dan Mia... adik kecilku yang malang... dia diculik dan aku sama sekali tidak bisa melindunginya. }

Beban hidup ini terlalu berat untuk ditanggung oleh pemuda berusia dua puluh tahun.

Dunia ini terlalu kejam untuknya. Tidak ada keadilan bagi orang miskin dan lemah sepertinya. Uang adalah segalanya, dan mereka yang tidak memiliki uang hanyalah sampah yang bisa diinjak-injak kapan saja.

{ Maafkan aku, Ayah. Maafkan aku, Ibu. }

Air mata Yohan mengalir deras membasahi pipinya yang kotor.

{ Mia... maafkan Kakak. Kakak terlalu lemah. Kakak tidak bisa menyelamatkanmu. Kakak akan menyusul Ayah dan Ibu sekarang. }

Yohan menarik napas panjang. Udara dingin malam mengisi paru-parunya untuk yang terakhir kalinya.

Ia memejamkan matanya rapat-rapat.

Satu langkah.

Ujung sepatunya telah melewati batas beton pembatas atap. Gravitasi mulai menarik tubuhnya ke bawah.

Kematian sudah menyapanya.

Namun, tepat pada detik itu juga...

Sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal terjadi.

❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

Dunia di sekitar Yohan mendadak berhenti.

Angin malam yang berhembus kencang tiba-tiba terasa diam. Suara klakson mobil dari kejauhan lenyap seketika. Bahkan tetesan air matanya yang jatuh ke bawah tampak membeku di udara.

Semuanya seolah berhenti berputar dalam efek slow motion yang mengerikan.

Lalu, sebuah sinar biru ghaib yang sangat terang tiba-tiba menyala di dalam retinanya.

Sinar itu begitu menyilaukan, membuat Yohan secara refleks membuka matanya kembali.

Di depan matanya yang terbuka lebar, tepat di ruang hampa udara di mana tubuhnya hampir condong ke bawah, sebuah layar holografik transparan berwarna biru neon mendadak muncul melayang di udara.

Layar itu penuh dengan angka-angka nol dan satu yang bergerak dengan kecepatan cahaya. Rantai kode-kode biner mengalir seperti air terjun digital.

Sebuah suara mekanis yang sangat jernih, dingin, namun entah kenapa terasa akrab, tiba-tiba bergema tepat di dalam tengkorak kepalanya.

[Pemindaian Retina Selesai.]

[DNA Tuan Rumah Teridentifikasi: Yohan Aryon.]

[Kecocokan Genetik: 100%.]

Yohan terbelalak. Mulutnya terbuka namun tidak ada suara yang keluar. Tubuhnya masih membeku di udara, tertahan oleh kekuatan gravitasi yang entah bagaimana gagal menariknya jatuh.

[Proses Inisialisasi Dimulai...]

[Mengunduh Basis Data Inti...]

[10%... 40%... 80%... 100%.]

Suara mekanis itu berbunyi semakin nyaring, bersamaan dengan rasa sakit yang luar biasa di dalam kepala Yohan, seolah ada miliaran informasi yang disuntikkan secara paksa ke dalam otaknya.

Lalu, sebaris teks besar berwarna merah menyala muncul di tengah pandangannya.

[SISTEM HACKER SIBER AKTIF.]

[Selamat Datang, Pengguna.]

Sebelum Yohan sempat mencerna apa yang sebenarnya terjadi, tubuhnya tiba-tiba bergerak sendiri!

Tubuh yang awalnya hampir jatuh ke bawah itu mendadak tertarik mundur ke belakang dengan keseimbangan sempurna, menjauhi bibir atap.

Yohan tersungkur di lantai beton atap gedung. Napasnya terengah-engah. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari dahinya.

{ Apa yang baru saja terjadi?! Suara apa itu tadi?! }

Jantung Yohan berdetak sangat kencang hingga rasanya mau meledak. Ia melihat ke sekeliling, tapi tidak ada siapa-siapa di atap gedung itu selain dirinya sendiri.

Belum sempat rasa paniknya mereda, hal gila kedua terjadi.

Tangan kanan Yohan mendadak bergerak sendiri tanpa perintah dari otaknya.

Gerakannya sangat mulus, cepat, dan presisi, seolah tangannya dikendalikan oleh mesin robot yang sempurna.

Tangannya merogoh saku celana jinsnya yang lusuh, menarik keluar sebuah ponsel pintar murah yang layarnya sudah retak parah di berbagai sudut.

Ponsel itu adalah satu-satunya barang peninggalan yang tersisa dari kehidupannya yang hancur. Sebuah ponsel usang yang bahkan sering mati mendadak jika baterainya tersisa dua puluh persen.

Namun kini, layar retak itu memancarkan cahaya biru terang.

Bukan wallpaper biasa yang muncul di sana.

Layar ponsel rusaknya itu dipenuhi oleh rentetan kode-kode aneh berwarna hijau terang berlatar hitam, bergulir dari atas ke bawah dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata manusia biasa.

[Interkoneksi Perangkat Eksternal Selesai.]

[Modul Peretasan Tingkat Dasar Telah Terpasang.]

Yohan menatap ngeri ke arah ponsel di tangannya, sementara suara mekanis di kepalanya kembali bergema.

Lanjut membaca
Lanjut membaca