Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
VINO : THE UNTOUCHABLE

VINO : THE UNTOUCHABLE

LianiAlviani | Bersambung
Jumlah kata
63.1K
Popular
108
Subscribe
29
Novel / VINO : THE UNTOUCHABLE
VINO : THE UNTOUCHABLE

VINO : THE UNTOUCHABLE

LianiAlviani| Bersambung
Jumlah Kata
63.1K
Popular
108
Subscribe
29
Sinopsis
PerkotaanAksiKekuatan SuperTeknologiSi Genius
Lima belas tahun lalu, seorang anak laki laki berusia lima tahun bernama Vino ditemukan terdampar di sebuah pulau terpencil. Seorang kakek misterius bernama Arga Wijaya menemukannya dalam keadaan nyaris tak bernyawa. Arga bukanlah kakek biasa. Puluhan tahun lalu, namanya pernah membuat para pendekar, organisasi rahasia, pengusaha gelap, bahkan kelompok kriminal internasional gemetar. Namun Arga memilih menghilang dari dunia dan hidup sendirian di pulau tersebut. Melihat bakat luar biasa dalam diri Vino, Arga memutuskan menjadikannya murid. Selama 15 tahun, Vino dilatih secara ekstrem. Bela diri. Strategi. Bisnis. Teknologi. Hacking. Pengobatan. Membaca situasi. Menembak. Bahkan cara bertahan hidup. Pada usia 20 tahun, Vino telah berubah menjadi pemuda tampan dengan kemampuan yang hampir tidak masuk akal. Namun Vino tidak tahu satu hal. Dirinya bukan anak biasa. Dan hilangnya dirinya 15 tahun lalu ternyata bukan kecelakaan.
Anak yang terdampar

Langit malam terlihat begitu gelap.

Tidak ada cahaya bulan yang mampu menembus awan tebal yang menggantung di atas lautan. Angin bertiup semakin kencang, membuat ombak setinggi beberapa meter menghantam apa pun yang berada di permukaannya.

Suara petir terdengar berkali kali.

Guruhnya bahkan mampu membuat dada terasa bergetar.

Di tengah lautan luas itu, sebuah kapal kecil terombang ambing tanpa arah.

Kapal tersebut bukan kapal nelayan biasa. Ukurannya cukup besar dan terlihat memiliki fasilitas yang jauh lebih mewah dibandingkan kapal pada umumnya.

Namun malam itu, kemewahan tidak berarti apa apa.

Kapal tersebut sedang berada di ambang kehancuran.

"Kapten!"

Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun berteriak sambil berpegangan pada tiang kapal.

"Gelombangnya semakin besar!"

"Saya tahu!"

Kapten yang berdiri di depan kemudi berusaha mempertahankan kendali.

Wajahnya pucat.

Tangannya gemetar.

"Hubungi daratan!"

"Sudah, Kapten! Tidak ada sinyal!"

"Terus coba!"

"Baik!"

Beberapa orang berlari ke sana kemari.

Namun di tengah kepanikan tersebut, terdengar suara seorang wanita menangis.

"Anakku..."

Wanita itu berlari menuju bagian belakang kapal.

Seorang pria segera mengejarnya.

"Sayang, jangan ke sana!"

"Vino!"

Wanita itu berteriak.

"Di mana Vino?"

Pria tersebut terdiam.

Wajahnya langsung berubah.

"Dia tadi bersamamu."

"Aku kira dia bersama Ayah!"

Mata wanita itu membesar.

"Vino!"

Keduanya langsung berlari menyusuri kapal.

Mereka mencari ke setiap sudut.

Kamar.

Ruang makan.

Dek belakang.

Tidak ada.

"Vino!"

Suara sang ibu semakin panik.

Anak laki laki berusia lima tahun itu tidak terlihat di mana pun.

Pria tersebut berlari menuju bagian belakang kapal.

Di sana, sebuah pintu terlihat terbuka akibat diterjang angin.

Matanya langsung tertuju ke laut.

Ombak besar menghantam badan kapal.

Pria itu terdiam.

"Tidak..."

Wajahnya seketika kehilangan warna.

"Vino!"

Dia berlari mendekati pagar kapal.

Sang ibu menyusul beberapa detik kemudian.

"Ada apa?"

Pria itu tidak menjawab.

Tangannya menunjuk ke laut.

Wanita tersebut melihat ke arah yang ditunjukkan.

Tubuhnya langsung lemas.

"Vino..."

Tidak ada siapa pun di sana.

Hanya lautan gelap yang terus bergulung.

"VINO!"

Jeritan seorang ibu terdengar di tengah badai.

Dia mencoba membuka pintu untuk turun ke sekoci.

Namun suaminya menahannya.

"Jangan!"

"Lepaskan aku!"

"Kalau kamu turun sekarang, kamu juga akan mati!"

"Anak kita ada di sana!"

Air mata mengalir di wajah wanita itu.

"Dia baru lima tahun..."

Pria tersebut menggigit bibirnya.

Dia ingin menyelamatkan putranya.

Namun keadaan tidak memungkinkan.

Ombak semakin besar.

Kapal mulai miring.

"Semua orang berpegangan!"

Teriakan kapten terdengar.

Beberapa detik kemudian...

BRAK!

Sebuah gelombang besar menghantam kapal.

Lampu kapal mati.

Suasana berubah menjadi gelap gulita.

Di tempat lain.

Jauh dari kapal tersebut.

Sebuah benda kecil terlihat mengambang di atas laut.

Benda itu ternyata sebuah pelampung.

Dan di atasnya...

Seorang anak kecil sedang terbaring.

Tubuhnya menggigil.

Wajahnya pucat.

Bibirnya membiru karena kedinginan.

Anak itu tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.

Dia hanya tahu bahwa beberapa saat sebelumnya dia berada bersama ayah dan ibunya.

Sekarang...

Tidak ada siapa pun.

Tidak ada suara manusia.

Tidak ada cahaya.

Hanya suara ombak.

"Ma..."

Suara kecil keluar dari mulutnya.

"Ma..."

Matanya perlahan terbuka.

Namun yang terlihat hanyalah lautan.

"Ayah..."

Dia mencoba bangun.

Tubuhnya terlalu lemah.

Air mata mengalir dari sudut matanya.

"Vino takut..."

Tidak ada jawaban.

Anak itu memeluk dirinya sendiri.

"Vino mau pulang..."

Angin malam terus menerpa tubuh kecilnya.

Pelampung itu semakin jauh terbawa arus.

Tidak ada yang tahu ke mana laut akan membawanya.

Tidak ada yang tahu apakah dia akan bertahan hidup.

Dan tidak ada yang tahu bahwa malam itu akan mengubah seluruh kehidupannya.

Pagi mulai datang.

Matahari perlahan muncul dari balik cakrawala.

Langit yang sebelumnya hitam berubah menjadi warna jingga.

Namun di tengah lautan...

Pelampung kecil itu masih bergerak mengikuti arus.

Vino sudah tidak sadarkan diri.

Tubuhnya hampir tidak bergerak.

Jika tidak segera ditemukan, nyawanya mungkin tidak akan bertahan lama.

Waktu terus berjalan.

Satu jam.

Dua jam.

Tiga jam.

Hingga akhirnya...

Arus laut membawa pelampung tersebut mendekati sebuah pulau.

Pulau itu tidak tercatat dalam peta yang biasa digunakan manusia.

Tidak ada pelabuhan.

Tidak ada rumah.

Tidak ada listrik.

Tidak ada manusia.

Hanya hutan lebat dan tebing batu yang mengelilingi sebagian besar wilayahnya.

Pelampung Vino akhirnya tersangkut di antara bebatuan.

Tubuh kecilnya terjatuh ke pasir.

Dia tetap tidak sadarkan diri.

Burung burung di sekitar pantai terbang ketika suara langkah kaki terdengar.

Seseorang sedang berjalan menuju pantai.

Seorang pria tua.

Rambutnya sudah memutih.

Janggutnya panjang.

Pakaiannya sederhana.

Di tangannya terdapat sebuah tongkat kayu tua.

Pria tua itu berhenti ketika melihat sesuatu di pasir.

Alisnya mengernyit.

"Apa itu?"

Dia berjalan mendekat.

Beberapa langkah kemudian, matanya melihat seorang anak kecil.

Pria tua itu langsung terdiam.

Seorang anak.

Di pulau yang bahkan jarang didatangi manusia.

Dia berjongkok dan memeriksa tubuh Vino.

Masih hidup.

Namun napasnya sangat lemah.

"Bagaimana kau bisa sampai ke sini?"

Pria tua tersebut mengangkat tubuh Vino.

Anehnya, meskipun sudah tua, gerakannya sangat ringan.

Dia membawa anak tersebut menuju sebuah rumah sederhana yang berada jauh di dalam hutan.

Rumah itu terlihat sangat tua.

Namun di sekelilingnya terdapat berbagai tanaman obat yang tumbuh dengan rapi.

Pria tua itu membaringkan Vino di atas tempat tidur.

Dia kemudian mengambil beberapa tanaman.

Tangannya bergerak dengan sangat cepat.

Beberapa saat kemudian, dia membuat ramuan sederhana dan memberikannya kepada Vino.

"Minum."

Vino tidak merespons.

Pria tua itu menghela napas.

"Anak ini hampir mati."

Dia memeriksa denyut nadi Vino sekali lagi.

Kemudian ekspresinya berubah.

"Aneh..."

Pria tua itu menatap wajah Vino.

Ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak biasa.

Anak ini masih sangat kecil.

Namun napasnya teratur.

Jantungnya kuat.

Bahkan setelah terombang ambing di laut dalam waktu yang sangat lama, tubuhnya masih mampu bertahan.

"Siapa sebenarnya kau?"

Pria tua itu memperhatikan sebuah gelang kecil yang berada di tangan Vino.

Gelang tersebut terlihat sederhana.

Namun pada bagian tengahnya terdapat sebuah lambang keluarga.

Pria tua itu menyentuhnya.

Tatapannya berubah.

"Mustahil..."

Dia mengenali lambang tersebut.

Tetapi dia tidak mengatakan apa apa.

Malam kembali tiba.

Setelah hampir satu hari penuh, mata Vino akhirnya bergerak.

Kelopak matanya perlahan terbuka.

Dia melihat langit langit kayu.

Kemudian menoleh ke kanan dan kiri.

Tempat itu asing baginya.

Vino mencoba bangun.

Namun kepalanya terasa sangat berat.

"Jangan bergerak."

Suara seorang pria tua terdengar.

Vino menoleh.

Pria tua tadi sedang duduk di sebuah kursi kayu sambil meminum teh.

"Siapa..."

Suara Vino sangat kecil.

Pria tua itu meletakkan cangkirnya.

"Namaku Arga."

Vino menatapnya.

"Di mana Mama?"

Arga diam.

"Papa?"

Tidak ada jawaban.

Mata Vino mulai berkaca kaca.

"Vino mau pulang..."

Arga menatap anak tersebut cukup lama.

Dia bukan orang yang terbiasa berurusan dengan anak kecil.

Selama bertahun tahun dia hidup sendirian.

Tidak ada keluarga.

Tidak ada teman.

Tidak ada siapa pun.

Dia sengaja memilih kehidupan seperti ini.

Namun sekarang seorang anak kecil muncul di hadapannya.

Seorang anak yang bahkan mungkin tidak mengetahui bahwa dirinya sudah berada sangat jauh dari rumah.

Arga berdiri.

Dia berjalan mendekati Vino.

"Namamu Vino?"

Anak itu mengangguk.

"Umurmu?"

"Lima..."

"Nama ayahmu?"

Vino terdiam.

Dia mencoba mengingat.

Namun kepalanya terasa sakit.

"Ayah..."

Dia menutup matanya.

Air mata kembali jatuh.

"Aku tidak ingat."

Arga terdiam.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun tahun, wajahnya menunjukkan sedikit perubahan.

"Berarti kau kehilangan ingatan?"

Vino menggeleng.

"Aku ingat Mama."

Dia menatap Arga.

"Mama bilang jangan takut."

"Kalau begitu jangan takut."

Arga mengulurkan tangan.

Vino menatap tangan tersebut beberapa saat.

Kemudian perlahan menggenggamnya.

Tangan kecil itu terasa dingin.

Arga membantunya duduk.

"Untuk sementara, kau tinggal di sini."

"Di mana?"

"Pulau ini."

Vino melihat ke arah jendela.

"Papa dan Mama akan datang?"

Arga tidak langsung menjawab.

Dia menatap lautan dari kejauhan.

Jarak antara pulau tersebut dengan daratan sangat jauh.

Tanpa kapal dan tanpa alat komunikasi, hampir mustahil bagi seorang anak kecil untuk kembali.

Namun Arga tidak ingin menghancurkan harapan seorang anak.

"Mungkin."

Vino menatapnya.

"Mungkin?"

Arga mengangguk.

"Kalau mereka mencarimu, suatu hari mereka akan datang."

Vino tersenyum kecil.

"Benarkah?"

"Benar."

Vino kemudian kembali berbaring.

Tidak lama kemudian, dia tertidur.

Arga berdiri di samping tempat tidur.

Tatapannya kembali jatuh pada gelang yang dikenakan Vino.

Lambang itu membuat pikirannya kembali ke masa lalu.

Sudah lebih dari dua puluh tahun dia tidak melihat lambang tersebut.

Arga berjalan keluar rumah.

Dia berdiri di depan pantai.

Angin malam meniup rambut putihnya.

Matanya menatap laut.

"Jadi kau yang mereka cari..."

Tangannya mengepal.

"Kenapa kau bisa sampai ke sini?"

Arga kembali menatap rumah kecilnya.

Di dalam sana, seorang anak berusia lima tahun sedang tertidur lelap.

Anak yang tidak tahu bahwa kehidupannya telah berubah selamanya.

Arga menghela napas.

"Mulai hari ini..."

Dia terdiam sejenak.

"Nasibmu akan berubah."

Sementara itu, jauh di daratan...

Sebuah rumah besar dipenuhi orang.

Suasana sangat kacau.

Polisi datang dan pergi.

Beberapa orang mencari informasi mengenai kecelakaan kapal.

Di ruang keluarga, seorang wanita duduk sambil menangis.

Di tangannya terdapat foto seorang anak kecil.

Foto Vino.

"Sudah ditemukan?"

Seorang pria berdiri di depannya.

Dia menggeleng.

"Belum, Pak."

Wanita tersebut memeluk foto itu erat erat.

"Terus cari."

"Kami sudah mengerahkan tim pencarian."

"Berapa lama pun, cari anak saya!"

Pria tersebut menundukkan kepala.

"Baik."

Namun beberapa hari berlalu.

Tidak ada hasil.

Seminggu berlalu.

Tidak ada hasil.

Sebulan berlalu.

Tetap tidak ada kabar.

Akhirnya pencarian dihentikan.

Vino dinyatakan hilang.

Bagi sebagian orang...

Vino mungkin sudah meninggal.

Namun di sebuah pulau yang tidak diketahui dunia...

Vino masih hidup.

Dan tidak seorang pun menyadari bahwa anak kecil yang dianggap telah meninggal itu kelak akan menjadi seseorang yang namanya membuat dunia bergetar.

Seseorang yang akan menguasai bela diri.

Seseorang yang mampu mengendalikan dunia bisnis.

Seseorang yang mampu menembus sistem keamanan paling ketat.

Seseorang yang akan membuat musuh gemetar hanya dengan satu tatapan.

Namun sebelum semua itu terjadi...

Vino harus tumbuh.

Dan orang yang akan membentuknya menjadi manusia tersebut adalah seorang pria tua yang selama puluhan tahun sengaja menghilang dari dunia.

Namanya...

Arga.

Dan bagi dunia luar, Arga sudah lama dianggap sebagai legenda yang telah mati.

Mereka tidak tahu...

sang legenda masih hidup.

Dan kini...

dia memiliki seorang murid.

Lanjut membaca
Lanjut membaca