Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sistem Pembalasan Dendam: Menantu Sampah Mengguncang Dunia

Sistem Pembalasan Dendam: Menantu Sampah Mengguncang Dunia

nadaa | Bersambung
Jumlah kata
27.4K
Popular
100
Subscribe
11
Novel / Sistem Pembalasan Dendam: Menantu Sampah Mengguncang Dunia
Sistem Pembalasan Dendam: Menantu Sampah Mengguncang Dunia

Sistem Pembalasan Dendam: Menantu Sampah Mengguncang Dunia

nadaa| Bersambung
Jumlah Kata
27.4K
Popular
100
Subscribe
11
Sinopsis
PerkotaanAksiMenantuBalas DendamMiliarder
Selama tiga tahun, Devon hidup layaknya budak di kediaman keluarga istrinya, Keluarga Wijaya. Dijuluki "Menantu Sampah", ia setiap hari menerima cacian, disuruh mencuci, hingga dipaksa membersihkan sepatu sepupu istrinya. Puncaknya, Devon diusir dan dipukuli hingga sekarat di jalanan saat menolak menandatangani surat cerai paksa.Di ambang kematian, sebuah suara mekanis menggema di otaknya: [Sistem Pembalasan Dendam Diaktifkan! Mendeteksi kemarahan tuan rumah. Membuka Paket Pemula: Hak Kepemilikan 51% Saham Wijaya Group dan Keterampilan Tempur Dewa Perang!]Kini, Devon bukan lagi pria lemah yang bisa ditindas. Berbekal sistem yang memberikannya misi untuk menghancurkan orang-orang sombong, sang menantu sampah bangkit untuk memutarbalikkan dunia dan membuat mereka berlutut memohon ampun!
BAB 1 Kebangkitan Sang Menantu Sampah

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Devon. Rasa panas dan perih langsung menjalar, membuat kepalanya terhantuk ke lantai marmer yang dingin.

Di atasnya, seorang wanita paruh baya dengan pakaian glamor dan perhiasan emas yang mencolok sedang menatapnya penuh jijik. Dia adalah Siska Wijaya, ibu mertua Devon.

"Tanda tangani surat cerai ini sekarang juga, Devon! Jangan menjadi benalu di Keluarga Wijaya lebih lama lagi!" teriak Siska dengan suara melengking yang menggema di ruang tamu mewah itu.

Devon mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Matanya menatap selembar kertas di atas meja kopi. Itu adalah surat cerai resmi. Tiga tahun lalu, Devon menikahi Viona Wijaya karena sebuah perjodohan kuno yang diatur oleh mendiang kakek Viona. Sejak hari pernikahan itu, hidup Devon berubah menjadi neraka. Di rumah ini, statusnya bahkan lebih rendah daripada seorang pelayan. Dia mencuci pakaian, membersihkan lantai, memasak, dan setiap hari harus menahan makian dari keluarga istrinya sendiri.

"Ibu ... Viona adalah istriku. Aku tidak akan menceraikannya," ucap Devon dengan suara serak namun penuh penekanan. Pria itu masih mencoba bertahan demi janjinya pada mendiang kakek Viona.

"Istri? Sadarlah, wahai sampah!"Suara tawa mengejek terdengar dari arah pintu.

Seorang pemuda dengan setelan jas mahal berjalan masuk dengan angkuh. Itu adalah Reno Wijaya, sepupu Viona. Reno melangkah mendekat, lalu tanpa peringatan, sepatu kulit mahalnya langsung menginjak tangan kanan Devon yang sedang bertumpu di lantai.

Krek!

"Akh!" Devon mengerang kesakitan saat Reno sengaja memutar tumit sepatunya, menghancurkan jari-jari tangan Devon.

"Viona adalah Direktur Utama Wijaya Group yang cantik dan jenius. Sementara kamu? Kamu hanya orang miskin tidak berguna yang menumpang hidup di sini! Malam ini, Tuan Muda Kevin dari Keluarga Konglomerat Group akan datang melamar Viona. Pria seperti dia yang pantas bersanding dengan Viona, bukan sampah jalanan sepertimu!" bentak Reno sambil menendang dada Devon hingga pria itu tersungkur keluar dari pintu rumah, terkapar di atas tanah halaman yang basah karena guyuran hujan deras.

Air hujan langsung membasahi tubuh Devon yang penuh luka. Dinginnya malam menusuk hingga ke tulang, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih menyakitkan. Tepat di saat itu, sebuah mobil mewah Rolls-Royce hitam berhenti di depan gerbang rumah. Pintu mobil terbuka, dan seorang wanita dengan gaun malam hitam yang sangat elegan turun dibantu oleh seorang pelayan yang memayunginya.

Itu Viona, istrinya.

Devon menatap Viona dengan sisa harapannya. "Viona ... tolong aku ...."

Namun, Viona hanya menghentikan langkahnya sejenak. Tatapan matanya yang sangat indah terasa begitu dingin dan asing saat melihat suaminya terkapar di tanah. "Tanda tangani saja surat itu, Devon. Kita memang berasal dari dunia yang berbeda. Aku lelah dengan semua ini," ucap Viona datar sebelum berjalan melewati Devon begitu saja masuk ke dalam rumah.

Hancur. Harapan terakhir Devon runtuh seketika. Di tengah guyuran hujan, ia mengepalkan tinjunya yang gemetar. Kemarahan, rasa terhina, dan dendam bergejolak membakar dadanya hingga sesak. Kenapa orang miskin selalu diinjak-injak? Kenapa kebaikan selalu dibalas dengan kehinaan?!

Jika aku diberi kesempatan kedua ... aku bersumpah akan membuat kalian semua berlutut di bawah kakiku!’ teriak Devon dalam hatinya dengan penuh dendam.

[Ding! Mendeteksi gelombang kemarahan dan dendam yang sangat kuat dari Tuan Rumah.]

[Kriteria kelayakan terpenuhi ...]

[Sistem Pembalasan Dendam mulai diintegrasikan! 1% ... 50% ... 100%! Integrasi Berhasil!]

[Membuka Paket Hadiah Pemula untuk Tuan Rumah:][1. Memperoleh: Hak Kepemilikan 51% Saham Utama Wijaya Group (Aset otomatis dialihkan atas nama Devon).][2. Memperoleh: Keterampilan Tempur Fisik Tingkat Dewa Perang.][3. Memperoleh: Saldo Tunai Rp10 Miliar (Sudah masuk ke rekening pribadi Tuan Rumah).]

Bum!

Detik itu juga, Devon merasakan aliran energi yang sangat panas dan dahsyat mengalir di dalam pembuluh darahnya. Rasa sakit di dadanya hilang seketika. Jari-jarinya yang tadinya remuk akibat diinjak Reno tiba-kira berbunyi kencang dan sembuh total dalam sekejap. Otot-otot di tubuhnya mengeras, dan aura di sekeliling Devon berubah drastis menjadi sangat dingin dan mengintimidasi.

"Hei, sampah! Kenapa kamu belum pergi juga? Mau aku patahkan lagi kakimu?!" Reno berjalan keluar rumah sambil memegang sebuah payung, menatap Devon yang masih duduk di tanah dengan pandangan meremehkan.

Reno melangkah maju dan bersiap melayangkan tendangan keras ke wajah Devon.

Namun, kali ini terjadi sesuatu yang tidak terduga. Devon tiba-tiba bergerak dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia. Tangan kirinya bergerak kilat, langsung mencengkeram pergelangan kaki Reno yang sedang melayang di udara.

Duk!

"Hah?!" Reno terkejut setengah mati. Ia mencoba menarik kakinya, namun cengkeraman tangan Devon terasa seperti jepitan besi yang sangat kuat. Tidak bergerak seinci pun.

Devon perlahan bangkit berdiri. Air hujan mengalir di wajahnya, namun tatapan matanya kini memancarkan kilatan dingin yang membuat bulu kuduk Reno merinding seketika. Devon tersenyum sinis, menatap Reno seperti seorang predator yang sedang melihat mangsa kecilnya.

"Reno ... tiga tahun ini aku sudah cukup bersabar dengan kalian," ucap Devon dengan suara rendah yang terdengar sangat berwibawa dan penuh tekanan. "Mulai detik ini, giliran kalian yang akan membayar semuanya.

"Krek!

Devon memutar pergelangan tangan kirinya dengan sedikit tenaga.

"AAAKHHH!!! KAKIKU!!!" Jeritan histeris Reno pecah, memecah kesunyian malam yang dingin. Tubuhnya langsung ambruk ke tanah sambil memegangi pergelangan kakinya yang kini patah. Payung yang dipegangnya terlempar jauh.

[Ding! Berhasil membalas dendam fisik pertama kali pada target 'Reno Wijaya'. Membuat target syok dan ketakutan.]

[Hadiah: +1.000 Poin Dendam!]

Mendengar suara teriakan histeris di luar, pintu rumah mewah itu langsung terbuka lebar. Siska dan Viona berlari keluar dengan wajah panik, dan mata mereka berdua seketika membelalak syok melihat pemandangan di halaman rumah mereka. Devon berdiri tegak dengan gagah di bawah hujan, sementara Reno mengerang kesakitan di bawah kakinya.

"Reno! Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan kakimu?!" Siska menjerit histeris. Wajah paruh bayanya pucat pasi melihat keponakan kesayangannya bergulingan di atas tanah yang becek. Ia menunjuk Devon dengan jari yang gemetar karena marah. "Kamu ... dasar binatang! Berani-beraninya kamu menyentuh Reno! Kamu sudah bosan hidup, ya?!"

Viona juga terpaku di ambang pintu. Sepasang matanya yang indah menatap Devon dengan tatapan tidak percaya. Devon yang ia kenal selama tiga tahun ini adalah pria yang lemah, penurut, dan tidak pernah membalas meskipun diludahi sekalipun. Namun, pria yang berdiri di depannya sekarang seolah-olah adalah orang yang sama sekali berbeda. Aura yang memancar dari tubuh Devon begitu dingin dan pekat, menekan dada siapa saja yang melihatnya.

"Devon ... apa yang kamu lakukan? Lepaskan Reno sekarang!" Suara Viona terdengar bergetar, kehilangan ketenangan yang biasanya selalu ia banggakan.

Devon tidak melepaskan injakannya pada kaki Reno, melainkan justru memberikan sedikit tekanan ekstra yang membuat Reno kembali melolong kesakitan. Devon menatap Viona dengan senyuman sinis yang belum pernah wanita itu lihat sebelumnya.

"Viona, bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa kita berasal dari dunia yang berbeda?" Devon berbicara dengan nada santai, namun setiap katanya terdengar seperti dentangan lonceng kematian di telinga mereka. "Kamu benar. Mulai hari ini, aku berada di dunia yang jauh di atas kalian semua. Dan untukmu, Ibu Mertua yang terhormat ...." Pandangan Devon beralih kepada Siska, membuat wanita tua itu mendadak mundur selangkah karena ketakutan. "Simpan surat ceraimu itu. Karena dalam waktu dekat, kamulah yang akan memohon berlutut di hadapanku agar aku tidak menceraikan anakmu."

"S-sombong sekali kamu, sampah! Kamu pikir kamu siapa?!" Siska mencoba berteriak demi menutupi rasa takutnya. "Penjaga! Panggil semua satpam! Seret bajingan ini dan patahkan kedua tangannya!"

Namun, sebelum para penjaga keamanan rumah sempat bergerak maju, sebuah suara klakson mobil yang nyaring memecah ketegangan di halaman mansion tersebut. Sebuah mobil sedan mewah lainnya berwarna perak metalik berhenti tepat di belakang mobil Rolls-Royce milik Viona.

Pintu mobil terbuka, dan seorang pria muda dengan setelan jas putih yang sangat rapi turun dengan angkuh. Di wajahnya bertengger senyuman meremehkan yang penuh percaya diri. Pria itu adalah Tuan Muda Kevin, pewaris dari salah satu konglomerat terbesar di kota ini, orang yang digadang-gadang Siska untuk menggantikan posisi Devon.

Kevin berjalan mendekat dengan payung yang dipegang oleh asisten pribadinya. Ia melirik sekilas ke arah Reno yang mengenaskan, lalu menatap Devon dengan pandangan penuh penghinaan.

"Jadi ini yang dinamakan menantu sampah dari Keluarga Wijaya?" Kevin terkekeh pelan, seolah sedang melihat sebuah lelucon. Ia kemudian menatap Viona dengan pandangan memuja. "Viona, maaf aku sedikit terlambat. Tapi sepertinya, rumahmu sedang kedatangan seekor anjing kurap yang perlu diusir secara paksa."

[Ding! Mendeteksi target baru 'Kevin'. Target memancarkan aura penghinaan tingkat tinggi pada Tuan Rumah.][Misi Sampingan Diaktifkan: Permalukan Kevin dan hancurkan kesombongannya dalam waktu 24 jam!]

[Hadiah Misi: Kartu Upgrade Kemampuan Pengobatan Dewa dan +2.000 Poin Dendam!]

Mendengar suara sistem di kepalanya, Devon tidak marah. Ia justru menatap Kevin dengan tatapan penuh arti, seolah baru saja melihat sebuah ladang poin yang berjalan. Devon perlahan mengangkat kakinya dari tubuh Reno yang sudah tidak berdaya, lalu melangkah maju menghadapi Kevin.

"Tuan Muda Kevin," ucap Devon, menyebut nama itu dengan nada yang sangat meremehkan. "Kuharap uang di dompetmu malam ini cukup banyak, karena sebentar lagi ... kamu bahkan tidak akan sanggup membeli harga dirimu sendiri yang jatuh di tempat ini."

Lanjut membaca
Lanjut membaca