

Ada dua jenis orang di Akademi Aether: mereka yang dilahirkan untuk menjadi kuat, dan mereka yang harus berjuang hanya untuk dianggap ada. Di antara ribuan siswa baru yang berdiri di depan gerbang raksasa akademi, Evren Vaelric berada di sisi yang kedua. Menara-menara putih menjulang menembus kabut pagi, sementara lambang berbentuk lingkaran dengan tujuh inti energi terpampang megah di atas gerbang utama. Akademi Aether dikenal sebagai tempat berkumpulnya para jenius terbaik di benua, tempat di mana kekuatan menentukan kedudukan dan bakat menjadi tiket untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik. Dan entah bagaimana, Evren berhasil masuk ke tempat tersebut.
Bukan karena bakat.
Bukan karena keturunan.
Bahkan bukan karena kekuatan.
Namanya berada di urutan terakhir daftar penerimaan.
“Jadi itu Evren Vaelric?”
“Yang nilai Core-nya cuma dua puluh tiga?”
“Serius? Bukankah batas normal saja lima puluh?”
Bisikan-bisikan itu terdengar jelas di sekitar Evren. Ia pura-pura tidak mendengarnya. Kedua tangannya tetap berada di saku seragam hitam yang baru dikenakannya pagi itu, sementara matanya menatap gerbang Akademi Aether tanpa menunjukkan emosi. Ia sudah terlalu terbiasa diremehkan untuk merasa terkejut hanya karena beberapa orang membicarakannya. Sejak kecil, Core miliknya memang tidak pernah menunjukkan kemampuan khusus. Ketika anak-anak lain mampu membangkitkan api, petir, angin, atau kemampuan fisik yang luar biasa, Evren hanya mendapatkan energi lemah yang bahkan sulit digunakan untuk latihan dasar.
Selama bertahun-tahun, Evren memiliki satu kebiasaan yang tidak diketahui banyak orang. Setiap kali gagal, ia mencatat alasan kegagalannya. Ia tidak melakukannya untuk mengeluh atau menyalahkan keadaan, melainkan untuk mencari celah dari setiap kelemahan yang ia miliki. Baginya, seseorang tidak benar-benar lemah selama masih mau belajar dan memperbaiki diri. Karena itu, ketika siswa lain melihat angka 23 sebagai hukuman, Evren justru melihatnya sebagai titik awal.
Kalau mereka menganggap angka itu sebagai akhir, biarkan saja. Aku belum selesai.
Evren menarik napas panjang sebelum kembali menatap gerbang akademi. Ia tahu tempat ini tidak akan mudah baginya. Para siswa di sekelilingnya memiliki Core yang jauh lebih tinggi, keluarga yang lebih berpengaruh, dan bakat yang bahkan tidak bisa ia bandingkan dengan miliknya. Namun semua itu tidak membuatnya ingin mundur.
“Aku tidak datang ke sini untuk menjadi yang terbaik,” gumam Evren pelan. “Aku cuma ingin tahu seberapa jauh aku bisa bertahan.”
Bel tanda masuk terdengar dari dalam akademi. Ribuan siswa mulai bergerak menuju aula utama. Evren mengikuti arus tersebut dengan tenang, tanpa mengetahui bahwa hari pertama itu akan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar daripada kehidupan akademinya.
Di dalam aula, sebuah kristal raksasa melayang di atas panggung. Kristal tersebut digunakan untuk mengukur kapasitas Core para siswa baru. Satu per satu nama dipanggil, dan setiap siswa yang maju mendapatkan hasil yang berbeda. Beberapa memperoleh tepuk tangan, sebagian lainnya hanya mendapatkan tatapan biasa, sementara mereka yang memiliki hasil rendah harus menerima bisikan dari orang-orang di sekitar.
“Liora Veyne.”
Seorang gadis maju ke depan dengan langkah tenang. Ia meletakkan tangannya pada permukaan kristal, dan beberapa saat kemudian cahaya biru memenuhi ruangan.
“Core Level 87.”
Tepuk tangan langsung memenuhi aula. Liora hanya mengangguk sebelum kembali ke tempatnya.
“Dimas Alvaro Mahendra.”
Seorang pemuda tinggi berjalan menuju panggung dengan percaya diri. Ketika tangannya menyentuh kristal, cahaya merah muncul dan angka besar terlihat pada permukaannya.
“Core Level 94. Atribut: Reinforcement.”
Suara kagum terdengar dari berbagai sudut aula. Dimas hanya tersenyum tipis lalu kembali ke tempatnya. Ia terlihat seperti seseorang yang sudah terbiasa mendapatkan perhatian.
Kemudian nama terakhir dipanggil.
“Evren Vaelric.”
Aula mendadak terasa lebih sunyi.
Evren berjalan menuju panggung. Beberapa siswa mulai tertawa kecil dan saling berbisik. Ia tidak memperhatikan mereka dan berdiri tepat di depan kristal.
“Letakkan tanganmu.”
Evren menurut.
Beberapa detik berlalu tanpa perubahan berarti. Kemudian kristal tersebut mulai memancarkan cahaya yang sangat redup. Sebuah angka muncul perlahan pada permukaannya.
23.
Beberapa siswa langsung tertawa dan saling memandang. Instruktur yang berdiri di samping kristal hanya menghela napas sebelum mencatat hasilnya.
“Core Level 23. Tidak ada atribut khusus yang terdeteksi.”
Evren menarik tangannya.
Tidak ada yang berubah. Aku sudah tahu hasilnya.
Ia berbalik meninggalkan panggung, tetapi seseorang berdiri di hadapannya.
Dimas.
“Jadi kau Evren,” katanya.
Evren menatapnya. “Kenapa?”
Dimas menyeringai. “Aku cuma penasaran. Orang dengan Core sepertimu benar-benar berniat bertahan di akademi ini?”
Evren diam.
“Kalau aku jadi kau,” lanjut Dimas, “aku akan pulang sebelum dipermalukan lebih jauh.”
Beberapa siswa di belakang Dimas kembali tertawa. Evren menatap Dimas selama beberapa detik sebelum menjawab dengan tenang.
“Aku tidak terlalu peduli dengan pendapatmu.”
Senyum Dimas menghilang.
“Berani juga.”
“Bukan berani.” Evren melewatinya. “Aku cuma tidak punya waktu untuk memikirkan orang lain.”
Dimas tidak langsung menjawab. Tatapannya mengikuti Evren yang berjalan menjauh.
Di sisi lain aula, seorang gadis berambut hitam memperhatikan Evren dengan tatapan penasaran. Namanya Naya Alesha Pradipta, salah satu siswa dengan hasil Core tertinggi pada angkatan tersebut. Ia baru saja mendapatkan Core Level 91, tetapi angka itu bukan alasan mengapa perhatiannya tertuju pada Evren. Ada sesuatu yang menurutnya aneh dari pemuda tersebut. Bukan kelemahannya, melainkan caranya menerima semua penghinaan tanpa terlihat hancur.
Dia tidak terlihat seperti seseorang yang sudah menyerah.
Naya terus memperhatikan Evren sampai pemuda itu menghilang di antara kerumunan siswa.
Malam tiba. Asrama Akademi Aether jauh lebih tenang dibandingkan siang hari. Evren duduk di tepi tempat tidur sambil menatap telapak tangannya. Hari pertama sudah selesai, dan hasilnya tidak bisa disebut bagus. Core Level 23, tidak memiliki atribut khusus, dan sudah menjadi bahan pembicaraan banyak siswa. Namun Evren tidak merasa terkejut. Ia sudah mengetahui sejak awal bahwa dirinya akan berada di posisi paling bawah.
“Setidaknya aku sudah menduga.”
Evren berdiri dan berjalan menuju jendela. Dari lantai tiga, ia dapat melihat hampir seluruh area akademi. Menara-menara energi memancarkan cahaya biru ke langit malam, sementara beberapa gedung masih dipenuhi aktivitas siswa. Tempat itu terlihat indah dari kejauhan, tetapi Evren tahu bahwa di balik keindahan tersebut terdapat persaingan yang jauh lebih keras.
Besok aku harus mulai mencari cara untuk meningkatkan kemampuan.
Ia hendak menutup jendela ketika sebuah layar transparan tiba-tiba muncul di hadapannya.
Evren berhenti.
Layar tersebut tidak berasal dari perangkat apa pun. Tidak ada proyektor atau sumber cahaya yang terlihat. Panel biru itu hanya melayang di udara tepat di depan matanya.
“Apa ini?”
Tulisan perlahan muncul.
[SYSTEM INITIALIZING…]
Evren mundur satu langkah.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat ketika tulisan berikutnya muncul.
[Memindai tubuh Host …]
[Core Level: 23]
[Kesesuaian Host: 100%]
Host? Apa maksudnya?
Layar tersebut kembali berubah.
[SYSTEM AKTIF.]
[Selamat datang, Evren Vaelric.]
Evren belum sempat memahami apa yang sedang terjadi ketika sebuah panel baru muncul di hadapannya.
[Misi Utama: Buktikan bahwa kau tidak lemah.]
[Batas waktu: 7 hari.]
[Hadiah: Fitur Sistem akan dibuka.]
[Kegagalan: Core Host akan dihapus.]
Evren menatap kalimat terakhir cukup lama.
“Dihapus?”
Tangannya perlahan mengepal. Untuk pertama kalinya sejak memasuki Akademi Aether, matanya menunjukkan sesuatu yang berbeda. Bukan ketakutan, melainkan tekad yang semakin kuat.
Kalau sistem ini benar-benar memberiku kesempatan, aku tidak akan menyia-nyiakannya.
Namun sebelum ia menyentuh panel tersebut, layar sistem kembali berubah.
[Peringatan.]
[Sistem telah mendeteksi pemilik sebelumnya di dalam Akademi Aether.]
Evren terdiam.
“Pemilik sebelumnya?”
Sebuah informasi baru muncul.
[Target berada kurang dari 500 meter dari posisi Host.]
Evren langsung melihat ke arah pintu kamarnya. Tidak ada seorang pun yang terlihat dari celah bawah pintu. Suasana asrama yang sebelumnya tenang kini terasa berbeda. Ia bahkan tidak tahu apakah sistem tersebut dapat dipercaya atau tidak.
Kemudian sebuah suara terdengar dari balik pintu.
“Evren Vaelric.”
Evren tidak menjawab.
Suara itu terdengar tenang dan tidak menunjukkan niat menyerang.
“Kalau kau sudah melihat sistem itu, berarti mereka akhirnya menemukanmu.”
Evren menatap layar di hadapannya. Panel tersebut tiba-tiba berubah warna.
[PERINGATAN DARURAT.]
[JANGAN BUKA PINTU.]
Tangan Evren yang sempat bergerak ke arah gagang pintu langsung berhenti.
Siapa orang di luar sana? Dan bagaimana dia tahu tentang sistem?
Dari balik pintu, suara pria tersebut kembali terdengar.
“Kita tidak punya banyak waktu.”
Evren tetap diam.
Pria itu kemudian menyebut sebuah nama yang belum pernah Evren dengar sebelumnya.
“Arven.”
Layar sistem di hadapan Evren kembali berubah.
[TARGET: ARVEN DARIUS VALERIAN.]
[STATUS: HIDUP.]
Evren menatap layar tanpa berkedip.
Siapa Arven Darius Valerian? Dan kenapa sistem mengenalnya?
Beberapa detik kemudian, suara langkah terdengar menjauh dari depan kamar. Namun sebelum orang itu benar-benar pergi, suaranya kembali terdengar untuk terakhir kalinya.
“Jangan percaya siapa pun di akademi ini.”
Evren tetap berdiri di dalam kamar. Ia tidak membuka pintu dan tidak mengejar orang tersebut. Hari pertamanya di Akademi Aether bahkan belum benar-benar berakhir, tetapi hidupnya sudah berubah sepenuhnya. Sistem misterius telah memilihnya, seseorang yang tidak dikenalnya mengetahui keberadaan sistem tersebut, dan sebuah nama dari masa lalu tiba-tiba muncul di hadapannya.
Namun Evren belum mengetahui bahwa di salah satu menara pengawas Akademi Aether, sebuah alat pendeteksi energi baru saja menunjukkan perubahan yang seharusnya tidak mungkin terjadi.
Seorang pria tua yang sedang mengawasi layar berdiri perlahan. Wajahnya berubah serius ketika melihat data yang muncul di hadapannya. Ia telah bekerja di akademi selama puluhan tahun dan mengetahui banyak rahasia yang tidak pernah diketahui para siswa. Namun energi yang baru saja terdeteksi membuatnya teringat pada sesuatu yang seharusnya sudah lama terkubur.
“Tidak mungkin.”
Tangannya bergerak menuju layar.
Segelnya seharusnya tidak aktif lagi.
Pria itu menatap data tersebut lebih lama sebelum akhirnya menyebut satu nama dengan suara rendah.
“Arven.”
Di tempat lain, Evren masih berdiri di depan layar sistem yang perlahan meredup. Ia belum tahu siapa Arven, siapa pria yang datang ke depan kamarnya, atau mengapa sistem memilihnya.
Yang ia tahu hanya satu hal.
Mulai malam ini, aku tidak bisa lagi menjalani hidup seperti sebelumnya.
Dan tanpa disadari Evren, sesuatu yang telah tertidur selama bertahun-tahun baru saja membuka matanya