
PLAYBOY kampung jadi anak CEO
SAMPRAWIRA|Bersambung
- Jumlah kata
- 140.5K
- Popular
- 854
- Subscribe
- 140
- Jumlah kata
- 140.5K
- Popular
- 854
- Subscribe
- 140
Sinopsis
Evan yang liar, bebas, dan tak pernah takut kini harus hidup sebagai Sam yang lemah, penurut, dan tak berani menolak siapa pun. Semua orang di sekitar Sam, keluarga, teman, rekan bisnis, bahkan kekasih Sam terbiasa memanfaatkan kelemahannya. Mereka mengira Sam masih sama: patuh, lemah, mudah diatur. Tapi di balik wajah dan tubuh Sam, kini ada jiwa Evan. Bagaimana jika "Sam" tiba-tiba berani menolak? Berani membentak? Berani melawan siapa pun yang mencoba memanfaatkannya? Dunia yang dulu tunduk pada nama keluarganya tapi meremehkan dirinya, kini akan terguncang.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Perahu itu mengubah segalanya
Hujan turun rintik-rintik di awal malam, tak lama kemudian berubah jadi deras, membasahi seluruh badan tanpa ampun. Angin laut bertiup kencang, menggoyangkan perahu kayu yang jadi tempat kami berpesta malam itu. Tapi tak ada satu pun yang peduli. Justru makin ramai tertawa, makin keras berteriak, seolah hujan dan angin itu bukan ancaman, melainkan musik pengiring kegembiraan kami.
Di atas perahu kayu yang lumayan besar itu, ada tujuh orang aku, Andi, Vivi, dan empat teman lainnya. Botol-botol minuman keras berserakan di lantai, sebagian sudah kosong, sebagian lagi masih bergelombang isinya saat perahu terguncang ombak kecil. Bau alkohol bercampur bau air laut dan hujan, menciptakan aroma yang khas bebas, liar, tanpa beban.
Evan tertawa lebar, menenggak sisa minuman di botolnya sampai tetes terakhir.
"Ha-ha! Inilah hidup, kawan-kawan!" teriaknya, suaranya terdengar gagah di tengah deru angin. "Tak ada bos, tak ada tagihan, tak ada aturan! Cuma laut, angin, dan kita semua!"
Andi tertawa sambil memukul bahu Evan dengan keras.
"Kau memang selalu paling berapi-api, Van! Tapi malam ini... aku rasa aku yang paling beruntung nih!"
Evan mengernyit, menoleh ke arah Andi.
"Memangnya kenapa? Kau menang lotre di laut sini?"
Andi tak menjawab langsung. Dia malah tersenyum lebar, lalu tangannya bergerak cepat merangkul pinggang Vivi yang duduk di sampingnya, menarik gadis itu mendekat ke tubuhnya.
Hati Evan langsung berubah panas, seolah disiram minyak panas.
Vivi. Gadis yang sudah lama ia incar, gadis yang belum pernah ia dapatkan sepenuhnya, gadis yang ia janjikan pada dirinya sendiri akan jadi miliknya. Dan sekarang, di depan matanya sendiri, Vivi dirangkul begitu saja oleh Andi orang yang sama sekali tak pernah serius pada siapa pun.
Vivi tampak kaget, mencoba melepaskan diri.
"Andi... lepaskan... jangan begitu..."
Tapi Andi tak peduli. Dia malah mempererat pelukannya, wajahnya mendekat ke wajah Vivi.
"Sudah, jangan malu-malu lah. Kita kan sedang bersenang-senang. Lagian, siapa yang tak mau dengan aku?"
Pandangan Evan menggelap. Darah mendidih di seluruh tubuhnya, alkohol yang tadi diminum seolah jadi bahan bakar amarahnya. Semua tawa dan kegembiraan lenyap seketika, digantikan oleh satu dorongan saja melindungi apa yang ia anggap miliknya.
"LEPASKAN DIA!" teriak Evan, suaranya menggelegar di tengah gemuruh angin.
Semua orang di perahu langsung diam. Suasana yang tadinya riuh rendah seketika berubah hening, hanya terdengar suara hujan dan deburan ombak yang makin besar.
Andi menoleh, menatap Evan dengan tatapan meremehkan, sambil masih memeluk Vivi.
"Kenapa, Van? Cemburu? Kan belum tentu dia mau sama kau. Lagian, di sini siapa yang tak boleh sama siapa? Kita kan bebas, katanya?"
"Bebas bukan berarti seenaknya!" Evan melangkah maju, napasnya memburu, tangan mengepal erat sampai buku-buku jarinya memutih. "Aku sudah lama mengincarnya, Andi. Kau tahu itu. Dan kau berani berbuat begitu di depan mataku?"
"Terus gimana? Kau mau apa?" Andi menyeringai, semakin mendekatkan wajahnya ke Vivi. "Kalau kau tak sanggup mendapatkannya, jangan larang aku yang lain."
Kata-kata itu jadi batas akhir kesabaran Evan.
Tanpa berpikir dua kali, Evan melompat maju, tangan kanannya mengepal kuat, lalu melayangkan pukulan sekuat tenaga tepat ke wajah Andi.
Duar!
Bunyi benturan keras terdengar jelas, diikuti suara rintihan tertahan dari Andi. Tubuhnya terguling ke samping, melepaskan pelukannya pada Vivi, lalu jatuh terkapar di lantai perahu, botol-botol minuman jatuh dan pecah berderai di sekelilingnya.
Vivi langsung mundur, menjauh dari Andi, matanya membelalak kaget menatap Evan.
"Evan... kau..."
Evan tak menjawab. Dia menghela napas kasar, menatap Vivi dengan tatapan yang bercampur aduk ada kemarahan, ada kepuasan, ada juga kelembutan yang tak sempat keluar.
Dia berjalan pelan ke arah Vivi, langkahnya sedikit sempoyongan karena alkohol dan goyangan perahu. Hujan terus turun, membasahi wajahnya, membuat rambutnya basah menempel di dahi.
"Vivi..." suaranya melembut, tangan kanannya terulur ingin menyentuh wajah gadis itu. "Dia tak pantas untukmu. Kau tahu itu kan? Selama ini... aku yang selalu memperhatikanmu. Aku yang..."
Belum sempat tangannya menyentuh pipi Vivi, sesuatu terjadi di belakang punggungnya.
Andi yang tadi terkapar ternyata belum pingsan sepenuhnya. Dia hanya terhuyung, menahan sakit di rahangnya, lalu melihat kesempatan saat Evan membelakanginya. Dengan sisa tenaga yang ada, Andi bangkit secara tiba-tiba, melompat ke arah Evan, dan mendorongnya sekuat tenaga ke sisi tepi perahu kayu itu.
"PERGI SAJA KAU!"
Semua terjadi dalam hitungan detik.
Evan sempat membalikkan badan, matanya membelalak kaget, tapi sudah terlambat. Dorongan itu terlalu kuat, ditambah perahu yang sedang terguncang ombak besar. Kakinya terangkat dari lantai, tubuhnya terhuyung ke belakang, dan dalam sekejap ia jatuh ke laut.
"EVAN!" teriak Vivi histeris, tangan kanannya terulur ke arah Evan tapi tak sempat menangkap apa-apa.
BYUR!
Suara benturan dengan air terdengar samar, lalu tubuh Evan langsung tenggelam ke dalam gelapnya air laut yang sedang bergolak hebat.
Hujan makin deras, ombak makin besar dan tinggi, memukul-mukul permukaan air dengan ganas. Langit yang tadinya masih agak terang kini sepenuhnya gelap, hanya sesekali diterangi kilatan petir yang menyambar di kejauhan.
Vivi berlari ke tepi perahu, menunduk ke bawah, matanya mencari-cari sosok Evan di antara ombak yang bergulung-gulung. Tapi tak ada apa-apa selain air hitam yang terus bergejolak, seolah siap menelan siapa saja yang berani masuk ke dalamnya.
"EVAN! EVAN!! KAU DI MANA?!" teriaknya lagi, air mata bercampur air hujan mengalir di pipinya, suaranya pecah penuh ketakutan.
Teman-teman yang lain langsung bergegas ke tepi perahu, berteriak memanggil nama Evan, menunjuk ke sana kemari ke arah laut, berharap ada tangan atau kepala yang muncul ke permukaan. Tapi tak ada. Ombak yang besar itu seolah langsung menyeretnya pergi, menjauh dari perahu, menjauh dari mereka.
"Cepat! Kita harus menolongnya!" teriak salah satu teman, suaranya gemetar ketakutan.
"Tapi ombaknya terlalu besar! Kalau kita turun, kita juga bisa hanyut!" balas yang lain, suaranya bergetar.
"Terus apa? Kita biarkan dia begitu saja?!"
Andi masih berdiri di sana, tubuhnya gemetar bukan karena kedinginan, tapi karena ketakutan yang luar biasa. Kesadarannya kembali seketika, alkohol yang tadi membuatnya berani kini berubah jadi racun yang membakar hatinya. Dia menatap air laut yang gelap dan bergolak, lalu mundur perlahan sampai punggungnya menabrak dinding perahu.
"Aku... aku tak bermaksud begitu..." gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar di tengah deru angin. "Aku cuma... ingin mendorongnya sedikit... bukan untuk..."
Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang peduli sekarang. Semua mata tertuju pada air laut yang semakin ganas, tempat di mana Evan hilang tanpa jejak.
Pesta yang tadi penuh tawa, teriakan, dan kegembiraan berubah menjadi mimpi buruk dalam sekejap.
Hening yang mencekam menyelimuti perahu itu, hanya dipecahkan oleh suara tangis Vivi yang semakin keras, suara hujan yang makin deras, dan deburan ombak yang terus memukul perahu seolah menuduh mereka semua.
Vivi masih memandang ke bawah, ke arah air yang terus bergejolak. Di hatinya, ia tahu, Evan tak akan kembali ke permukaan itu. Bukan malam ini, bukan dengan ombak sebesar itu.
Dan di dalam kegelapan air yang semakin dalam, Evan merasakan napasnya habis. Tubuhnya dihantam ombak berulang-ulang, diputar ke sana kemari seperti benda tak berharga. Ia mencoba berenang ke permukaan, mencoba berteriak, tapi air laut yang dingin dan pahit langsung masuk ke mulut dan hidungnya.
Kekuatannya perlahan habis. Pandangannya mulai kabur. Suara-suara dari atas teriakan nama-namanya perlahan menjauh, samar, lalu hilang sama sekali.
Hanya ada kegelapan. Dan kesadaran yang perlahan memudar.
Apakah ini akhirnya?
Apakah hidupku yang bebas dan liar berakhir di sini, di tengah laut yang tak kenal ampun ini?
Pikiran terakhir yang terlintas di kepalanya adalah wajah Vivi, tatapan takutnya, dan Andi yang berdiri terpaku di tempatnya. Lalu semuanya lenyap, tertelan kegelapan total.
Di atas perahu, Vivi jatuh berlutut, tubuhnya berguncang hebat karena tangis yang tak tertahankan. Teman-temannya saling berpandangan, wajah pucat, mata membelalak, dipenuhi rasa bersalah dan ketakutan yang sama.
Mereka tahu satu hal dengan pasti: malam ini, di atas perahu kayu itu, sesuatu yang sangat berharga telah hilang. Dan tak ada satu pun dari mereka yang bisa mengembalikannya.
Ombak terus bergulung, hujan terus turun, langit semakin gelap seolah alam sendiri sedang menangis atas apa yang baru saja terjadi.
Daftar bab
131 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
131 bab








