
Sistem Identitas Membuatku Kaya Raya
Story Forge|Bersambung
- Jumlah kata
- 103.8K
- Popular
- 3.8K
- Subscribe
- 335
- Jumlah kata
- 103.8K
- Popular
- 3.8K
- Subscribe
- 335
Sinopsis
Dijebak korupsi oleh istrinya sendiri, Elvaro Satya kehilangan segalanya—dipenjara, diceraikan, dan dipermalukan. Saat hidupnya berada di titik terendah, liontin yang telah menemaninya sejak bayi membangkitkan Sistem Identitas Tanpa Batas, memberinya identitas baru dan kemampuan luar biasa!!
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Titik Terendah
Suara desahan samar mengalun dari kamar utama saat Elvaro Satya baru saja pulang dari kantor. Pintu kamar yang terbuka sedikit membuat pemandangan di dalamnya terlihat jelas.
Di sana, istrinya, Tania Norman, terlihat tengah beradu peluh dengan Raka Pratama, Pewaris tunggal Pratama Group.
Melihat mereka, darah Elvaro seketika mendidih.
Dengan tenaga penuh, dia menggebrak pintu hingga terbuka lebar.
BRAK!!
"Brengsek! Apa yang kalian lakukan?!" raungnya. Urat-urat di leher Elvaro menonjol, sementara napasnya memburu karena menahan amarah.
Selama tiga tahun menikah, Tania tak pernah mengizinkannya menyentuh tubuhnya. Jangankan tidur seranjang, sekadar menggenggam tangan pun selalu ditolak dengan berbagai alasan.
Namun, sekarang wanita yang selalu bersikap dingin itu justru dengan sukarela menyerahkan tubuhnya kepada pria lain!
Meski sejak awal sadar kalau Tania tidak pernah mencintainya, Elvaro tidak pernah menyangka harga dirinya akan diinjak-injak serendah ini.
Bahkan di rumah dan di kamarnya sendiri!
Di sisi lain, mendengar teriakan Elvaro, Tania dan Raka sempat terkejut. Namun, keterkejutan itu hanya berlangsung sesaat.
Detik berikutnya, ekspresi mereka berubah menjadi tatapan penuh penghinaan, seolah-olah kehadiran Elvaro sama sekali tidak berarti.
“Astaga, ternyata pengemis ini.” Raka Pratama mendengus jijik. “Benar-benar merusak suasana.”
Ia bahkan berdiri santai lalu mengenakan kembali pakaiannya tanpa sedikit pun rasa malu atau penyesalan.
“Kalian benar-benar tidak tahu malu!” bentak Elvaro lagi. “Berani-beraninya berbuat mesum di kamarku! Sialan kau, Raka!”
Begitu kata-kata itu keluar, Elvaro langsung mengayunkan tinjunya ke wajah Raka.
Namun, sebelum tinju itu sempat mengenai sasaran, dua tangan kekar mencengkeram kedua lengannya dari belakang.
BRUK!!
Tubuh Elvaro dibanting hingga berlutut di lantai. Dua pria berbadan besar menekan bahunya kuat-kuat, membuatnya sama sekali tak mampu bergerak.
Mereka adalah para pengawal Raka yang diam-diam melindungi majikan mereka.
Melihat itu, Raka Pratama merapikan resletingnya sebelum menatap Elvaro dengan senyum meremehkan.
“Pengemis sepertimu pantas menyentuhku?” katanya dingin. “Aku Raka Pratama. Siapa pun yang berani mengangkat tangan kepadaku tidak akan berakhir baik, Elvaro.”
Raka lalu menyeringai.
“Tapi untuk sampah sepertimu, aku tak perlu turun tangan. Istrimu sudah menyiapkan hadiah yang jauh lebih menarik.”
Kening Elvaro berkerut. “Apa maksudmu?”
“Kamu telah menggelapkan dana Norman Group selama tiga tahun terakhir, total lima puluh miliar rupiah.” Tania menuangkan teh hangat ke dalam cangkirnya, menyambut perkataan Raka.
“Semua bukti sudah diserahkan ke polisi. Surat penahanan juga sudah diterbitkan. Mereka hanya tinggal datang untuk membawamu pergi.”
Raka tertawa lagi. “Kamu dengar itu, Elvaro?” ejeknya.
“Manusia pengemis, pecundang, sekaligus pencuri. Philip Norman mengasihanimu, memungutmu dari jalanan, dan memberimu kehidupan. Sebagai balasannya, kau malah menguras uang perusahaan.”
Mata Elvaro membelalak. “Itu bohong!”
Dadanya bergemuruh hebat. Selama ini, mendiang Philip Norman selalu ia hormati seperti kakeknya sendiri.
Jangankan mencuri uang perusahaan, mengambil satu sen tanpa izin pun tidak pernah terlintas di benaknya!
Tiga tahun lalu, Elvaro Satya mengalami kejadian yang mengubah hidupnya.
Saat sedang berjalan-jalan di sebuah taman, seorang pria tua tiba-tiba jatuh pingsan. Kebetulan Elvaro berada tidak jauh dari sana.
Tanpa ragu, Elvaro segera berlari menghampiri dan memberikan pertolongan pertama, melakukan CPR untuk menyelamatkan nyawanya. Pria tua itu adalah Philip Norman.
Berkat bantuan Elvaro, Philip berhasil selamat. Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi sangat dekat.
Bahkan bagi Philip, Elvaro bukan lagi sekadar orang asing yang menyelamatkan hidupnya, menjadikannya cucu menantunya sendiri hingga akhirnya Philip meninggal.
“Kalian lebih tahu daripada siapa pun. Aku tidak pernah melakukan hal sekeji itu!” ujar Elvaro. Tatapannya begitu tajam hingga membuat Tania dan Raka terkejut.
Selama beberapa saat, aura yang terpancar dari Elvaro membuat keduanya sedikit terkejut. Namun, sedetik kemudian, mereka kembali memasang ekspresi meremehkan.
“Tidak perlu repot-repot membela diri. Bukti-buktinya sudah diserahkan kepada polisi dan kamu tidak akan bisa mengelak.” ujar Tania dengan nada santai.
“Dengan kekuatan keluarga Norman, tidak akan ada seorang pun yang mau mendengarkan pembelaanmu.”
Raka tertawa kecil. “Pecundang sepertimu seharusnya bersyukur masih bisa hidup sampai sekarang,” katanya.
“Untung saja Tania masih punya sedikit belas kasihan. Karena itu, dia hanya memasukkanmu ke penjara.”
“Padahal aku ingin membuatmu menghilang selamanya. Yatim piatu sepertimu... kalau tiba-tiba lenyap, siapa yang akan peduli? Siapa yang akan mencari?”
Mendengar itu, gemuruh di hati Elvaro semakin besar. Setelah apa yang selama ini ia lakukan untuk keluarga Norman, mereka malah bekerja sama menjebaknya!
Elvaro semakin mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskan diri. Otot-otot di tubuhnya menegang.
Hampir saja berhasil lepas dari cengkeraman kedua pengawal itu, di saat yang sama bel pintu berbunyi.
Tania segera memberi instruksi pada pembantu rumah tangga untuk membukakan pintu.
Tak lama, beberapa polisi memasuki rumah dan di belakang mereka terdapat Mario Norman dan Lupita Norman yang adalah ibu mertua Elvaro.
“Itu dia, Pak! Silakan tangkap koruptor itu dan bawa keluar dari rumah kami!” Mario langsung menunjuk Elvaro sesaat setelah melihat wajah pria itu.
Sejak awal, dia memang sudah bertekad menyingkirkan Elvaro.
Selama pria itu masih menjadi suami Tania, Mario tidak akan pernah bisa bebas menggunakan uang perusahaan. Bagi Mario, uang perusahaan adalah uang miliknya dan Elvaro hanya menghalangi.
Sementara itu, Raka Pratama menawarkan suntikan dana dan kerja sama bisnis yang menggiurkan jika Mario yang memegang perusahaan.
Satu-satunya syarat hanyalah menyingkirkan Elvaro. Malam ini, rencana itu akhirnya menjadi kenyataan.
“Elvaro Satya? Mari ikut kami. Anda ditahan atas dugaan penyalahgunaan keuangan Norman Group!”
Tanpa diberi kesempatan membela diri, Elvaro langsung diseret ke mobil polisi. Tinju yang terkepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Sesampainya di kantor, Elvaro dimasukkan ke dalam sel yang sudah dihuni sepuluh tahanan.
Ia berjalan ke sudut ruangan lalu duduk bersandar. Berusaha menahan amarah yang terus bergolak.
Selama tiga tahun terakhir, dia telah mengorbankan hampir seluruh hidupnya demi mendapat pengakuan keluarga Norman.
Siang dan malam bekerja tanpa kenal lelah. Mulai dari menyelesaikan berbagai persoalan perusahaan, menutup kerugian yang ditimbulkan Mario Norman, hingga mengambil alih sebagian besar tanggung jawab yang seharusnya dipikul pewaris keluarga itu.
Berkatnya, anak perusahaan mengalami pertumbuhan yang signifikan setelah beberapa kali terancam bangkrut.
Namun, sebagai balasannya, mereka bekerja sama menjebaknya dan melemparnya ke penjara hanya untuk mengeluarkannya paksa dari keluarga.
Elvaro pasti tidak akan melupakan pengkhianatan ini sampai dia mati!
“Hey, anak baru! Beraninya masuk begitu saja. Harusnya tahu sopan santun! Sapa dulu senior di sini!” seru salah seorang tahanan.
Elvaro hanya diam saja. Dia tidak berminat untuk menjawab.
“Eh, tuli ya? Tidak sopan! Memangnya dakwaannya apa sih?” tanya orang tersebut.
“Aku mengintip datanya di berkas yang dipegang sipir tadi! Dia pencuri! Menggelapkan harta keluarga!” seru yang lain.
“Apa? Mencuri harta keluarga sendiri? Bocah tak tahu diuntung! Sama seperti menantuku!” seru salah seorang dari mereka. Pria paruh baya bertubuh besar.
“Sudah kupungut dari jalanan, ternyata dia mencuri semua hartaku dan menjebloskanku ke penjara! Sama seperti bocah busuk ini!” serunya lagi.
“Kuhajar kau bocah sialan!” seru pria itu sambil menendang Elvaro. Para tahanan lainnya ikut serta.
Pria itu kemudian mencengkram kerah leher Alvaro, hendak meninju wajahnya. Di saat itulah, Elvaro tidak bisa berdiam diri lagi. Dia menangkap tangan pria itu dan mencengkramnya kuat. Pria itu merintih kesakitan.
“Sialan! Bocah sialan! Lepaskan aku!” serunya.
Teman-teman pria tersebut segera maju untuk memukuli Elvaro.
Namun, Elvaro segera melawan balik. Ia pernah belajar ilmu bela diri. Jadi, ia mampu melawan orang-orang itu.
Namun, lawannya sangat banyak dan tubuh mereka jauh lebih besar. Satu tinjuan melayang keras ke rahang Elvaro.
Satu tendangan mendarat telak di dadanya, membuat salah satu rusuk Elvaro patah.
Elvaro jatuh menabrak dinding sel tahanan. Mulutnya memuntahkan darah.
Samar-samar ia masih mendengar suara orang menertawakan dirinya ketika telinganya berdengung dan pandangannya perlahan menjadi gelap.
Namun, di saat itulah, setetes darahnya mengenai kalung yang sudah dibawanya sejak bayi, sejak ia ditemukan di depan pintu panti asuhan.
Liontin itu bercahaya dan seketika rasa hangat memenuhi tubuh Elvaro.
[Sistem Identitas Tanpa Batas telah aktif. User Elvaro Satya.]
[Kondisi terluka parah, nyaris kehilangan kesadaran. Menginisiasi penyembuhan instan untuk host Elvaro Satya.]
Daftar bab
102 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
102 bab








