
REINKARNASI PENDEKAR SAKTI DI DUNIA KULTIVASI
shodiq|Bersambung
- Jumlah kata
- 64.6K
- Popular
- 1.0K
- Subscribe
- 89
- Jumlah kata
- 64.6K
- Popular
- 1.0K
- Subscribe
- 89
Sinopsis
Kesempurnaan kekuatan yang Radit dapatkan dari berlatih, bertapa, dan benda pusaka miliknya membuat rekan seperguruannya iri. Rasa iri itu membuat Radit diracun hingga mati. Bukan neraka, bukan surga yang Radit tuju. Ternyata, dia terlempar di dunia tempat para kultivator. Ia bangun di tubuh pemuda yang tak bisa berkultivasi. Berbekal kesaktian di kehidupan sebelumnya, juga catatan ilmu pusaka keris yang setia mengikutinya, Radit berhasil membuat pemuda tanpa kultivasi itu menjadi kultivator terkuat sealam raya.
Ulasan
1 ulasan
Rendra69
26/9/26 02:37
Keren, kak. lanjutkan terus karyanya. menarik banget....suka cerita yang bernuansa kayak gini bikin mata melek terus.
PENGHIANATAN
Padepokan Gunung Kendeng, malam sunyi. Radit duduk di kursi utama, dua sahabatnya berdiri di hadapannya. Gelas minuman di tangan Radit sudah kosong.
"Kenapa… kalian melakukan ini? Apa ada apa dengan kalian? Kenapa kalian mengkhianatiku? Apa salahku pada kalian sehingga kalian tega meracuni minumanku?"
"Salahkan pada nasibmu, Radit. Bukan kesalahan kita."
"Apa maksudmu? Kita berjuang bersama selama sepuluh tahun!"
"Itu yang kau pikir. Selama sepuluh tahun itu, aku dan Bima hanya berjalan di belakangmu. Semua orang memujamu. Semua orang menunduk padamu."
"Aku tidak pernah meminta itu. Aku berbagi ilmu, aku ajarkan teknik bernapas, aku bantu kalian membuka jalan tenaga dalam!"
"Tepat! Kau 'memberi' kami sisa-sisa kekuatanmu, sementara kau sendiri memegang puncak tertinggi. Kerismu bercahaya sendiri, namamu disebut sampai ke keraton, dan kami? Kami hanya 'sahabat Radit'."
"Itu tidak benar! Aku selalu menganggap kalian sama derajatnya denganku!"
"Sama? Kau bilang sama? Saat kau mengalahkan perampok bukit, siapa yang dipuji? Saat kau menyembuhkan demam warga desa, siapa yang dipuja? Radit Pratama, pendekar sakti mandraguna! Dan kami? Tak ada yang tahu nama kami."
"Aku tidak menginginkan pujian itu! Kalian tahu itu!"
"Tapi kau memilikinya. Dan selama kau hidup, kami tak akan pernah bisa berdiri setinggimu."
Radit memegang perutnya yang mulai terasa panas. "Rasa ini… apa yang kalian berikan padaku?"
Sena tersenyum tipis. "Ramuan halus. Tidak terasa di awal, tapi perlahan memadamkan api tenaga dalammu."
"Kalian… bajingan?"
"Kekuatanmu terlalu besar untuk satu orang saja. Dan terlalu menyilaukan bagi kami yang berdiri di sampingmu."
"Kita saudara… sejak kecil kita tumbuh bersama…"
"Itu dulu. Sekarang kami lelah menunggu giliran yang tak pernah datang."
"Kalau kalian iri… katakan saja! Aku tak akan menutup pintu padahal!"
"Kau tak mengerti, bukan? Kekuatanmu itu bukan sekadar kuat. Pamormu memancar, membuat semua yang ada di dekatmu terlihat pucat. Tak peduli seberapa keras kami berusaha, kami tetap terlihat buruk di sebelahmu."
Napas Radit mulai berat. "Jadi… persahabatan kita… hanya topeng?"
"Sampai hari ini, ya."
"Dan setelah aku mati… apa yang akan kalian lakukan?"
"Meneruskan namamu. Mengambil kerismu. Membiarkan orang percaya bahwa kami yang bertahan, dan kau yang gugur dalam pertempuran."
"Orang akan tahu… mereka akan mengenali kebohongan kalian…"
"Siapa yang akan membuktikannya? Tidak ada saksi selain kita bertiga."
Radit menatap mereka dengan sedih. "Aku tidak membenci kalian… aku hanya sedih sekali. Kekuatan yang aku banggakan, persahabatan yang aku jaga… semuanya hancur karena iri hati."
"Simpan belas kasihanmu! Kami tidak butuh itu!"
"Bukan belas kasihan… aku sungguh berharap kalian bahagia, walau tanpa aku."
Sena memalingkan wajah. "Sudah waktunya, Bima."
"Tunggu… satu hal terakhir…"
"Apa itu?"
"Jika aku bisa hidup lagi… aku ingin bertemu kalian sekali lagi. Bukan sebagai sahabat yang dikhianati, tapi sebagai orang yang memahami: kekuatan sejati bukanlah seberapa kuat kau berdiri sendiri, melainkan siapa yang berani berdiri bersamamu tanpa merasa tersaingi."
Suara Sena bergetar. "Pergilah, Radit."
Radit tersenyum lemah, cahayanya perlahan memudar. "Selamat berpisah… saudaraku."
Dua sosok itu berdiri diam. Tak ada kemenangan di wajah mereka. Hanya keheningan yang lebih dingin dari malam itu. Dan di tempat yang jauh, di dunia di mana tenaga dalam bernama lain, sebuah jiwa yang tak menyerah mencari tempat untuk kembali lahir.
Cahaya terang menyapa saat mata terbuka kembali. Radit terbangun di hamparan jerami gubuk reyot. Tubuh ini ringkih, kurus, napas pendek — namun namanya tetap sama.
Anak-anak pemuda Sekte Lembah Terang baru saja pergi setelah memukulinya. Lina, tunangannya, berdiri di ambang pintu dengan wajah dingin.
"Radit, kita batalkan pertunangan ini. Aku tak mau seumur hidup mengurus orang yang tak bisa membuka inti kultivasi sekalipun. Kamu… terlalu lemah."
Suaranya lirih. "Lina… kita sudah bertahun-tahun bersama…"
"Bersama orang yang berguna, bukan beban!" Ia berbalik pergi. "Jangan cari aku lagi."
Radit terdiam. Sakit di dada ini bukan dari pukulan — rasa persis sama seperti pengkhianatan yang dulu.
Malam tiba. Di samping bantal, keris Nogo Sosro muncul perlahan, melayang lalu mendarat pelan. Ia terlelap, dan mimpi datang.
Bayangan dirinya yang berdiri di padepokan lama tersenyum.
"Kau ingat jalan pulang. Tubuh ini lemah, tapi jiwamu tak pernah lupa."
"Bagaimana caranya?"
"Ambil kerismu. Teteskan darahmu ke bilahnya. Darahmu yang sama akan membuka kunci ingatan itu."
Di sampingnya terhampar gulungan catatan — tulisan tangannya sendiri, ditulis sebelum akhir.
"Bacalah saat terjaga. Kekuatan sejati bukan untuk dipuja, tapi agar tak lagi dikhianati."
Terbangun, keris itu nyata di tangannya. Ia menggigit jari, meneteskan darah — diserap masuk, menyala seperti urat emas yang hidup. Ilmu mengalir deras: napas gunung, kendali tenaga, jurus yang tak terikat aturan dunia ini.
"Ternyata… jalan mereka bukan satu-satunya," bisiknya. "Biarkan mereka menyebutku lemah. Aku akan tunjukkan apa artinya kekuatan yang tak diukur dengan ukuran mereka."
Gulungan terbuka. Baris pertama:
"Jangan mengejar bayang orang. Tegakkan dirimu sendiri. Di situlah pamormu bersinar."
Ia merenungi lembar terakhir, lalu mengangguk mantap.
"Sesuai petunjuk ini… aku harus berpuasa mutih empat puluh satu hari untuk menebus dan membangkitkan ilmu yang kubawa dari kehidupan dulu. Aku harus pergi dari sini. Bertapa di hutan jauh, jauh dari gangguan, agar tak ada halangan saat penyucian diri."
Ia melipat gulungan rapat di dada, lalu bangkit perlahan. Sebelum fajar, ia akan berangkat.
Radit melipat gulungan catatan itu, menyimpannya rapi di samping keris Nogo Sosro. Tatapannya teguh.
"Petunjuk ini jelas. Aku harus pergi."
Ia berdiri, meski tubuh masih terasa ringkih. Langkahnya menuju pintu gubuk, lalu berhenti sejenak menatap sekte Lembah Terang di kejauhan.
"Puasa mutih empat puluh satu hari. Tak ada makanan, tak ada gangguan. Hutan jauh di utara itu tempatnya. Di sana aku menebus, membuktikan, dan membangun kembali dari awal."
Ia melangkah pergi, tanpa pamit pada siapa pun.Hutan purba yang sunyi, lebat, jauh dari jejak manusia. Di sebuah lembang tersembunyi, Radit duduk bersila di atas batu datar. Matahari terbit dan terbenam, hari berganti minggu. Ia tak menyentuh nasi, tak menyentuh garam. Hanya air murni yang menyentuh bibirnya. Hari demi hari tubuhnya menipis, tapi matanya makin jernih.
Di hari keempat puluh satu, langit berubah. Lima warna cahaya — emas, biru, merah, hijau, ungu — turun perlahan, menyelimuti tubuhnya. Tanpa ia cari, tanpa ia pinta.
Suara yang menggema dari langit terdengar jelas di telinganya.
"Tubuh fana disucikan. Inti lima unsur menyatu. Tubuh Suci Surgawi lahir."
Radit membuka mata. Ia merasakannya — bukan sekadar tenaga dalam kembali, melainkan fondasi tubuh yang berubah total. Setiap urat, setiap tulang, bernapas dengan kekuatan alam.
Daftar bab
60 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








