
Guruku Mantan Tentara Nomor Satu
Fajar99|Bersambung
- Jumlah kata
- 41.5K
- Popular
- 862
- Subscribe
- 152
- Jumlah kata
- 41.5K
- Popular
- 862
- Subscribe
- 152
Sinopsis
Revan adalah mantan tentara bayaran yang berbahaya. Setelah misi terakhir yang merenggut nyawa sahabatnya, ia terpaksa menjalankan wasiat terakhir sang sahabat, merawat adik perempuannya, Kirana. Namun, pertemuan pertama mereka justru dimulai dengan Kirana yang mencoba menipunya. Menyadari betapa nakalnya gadis itu, Revan memutuskan untuk melamar sebagai guru di sekolah Kirana agar bisa mengawasi dan membimbingnya dari dekat. Namun, yang tidak ia duga, kelas yang harus diampunya adalah kelas paling dihindari di seluruh sekolah! Mampukah mantan tentara bayaran yang biasa menghadapi maut ini menaklukkan segerombolan murid bermasalah?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
Jalanan kota Astera di negara Reksa penuh dengan kendaraan roda dua dan empat. Suara klakson bersahut-sahutan dari berbagai arah.
Revan terpaksa mengendarai mobil sedan hitamnya dengan lambat. Dia tidak bisa protes karena pagi itu merupakan jam sibuk ketika orang-orang berangkat kerja.
Pria bertubuh tegap dan rambut pendek berpotongan rapi tersebut sedang mengenang sahabat karibnya, Ezra.
Dulu, Revan membentuk kelompok tentara bayaran dan Ezra adalah anggota pertamanya.
Mereka berdua menjalankan berbagai misi bersama di berbagai negara, mulai dari menyelamatkan sandera hingga menyerang markas musuh.
Suatu hari, mereka terlibat baku tembak sengit di sebuah misi. Revan dan rekan-rekannya yang lain memang berhasil selamat, tetapi Ezra tumbang karena tertembak di dada.
“Bertahanlah, Ezra,” kata Revan waktu itu, berusaha untuk tidak panik.
“Kamu harus dengarkan aku,” pinta Ezra yang tergeletak di tanah. Bibirnya bergetar.
“Jangan banyak bicara. Sebentar lagi pertolongan akan datang.”
“Waktuku tidak banyak. Tolong jaga dan rawat adikku. Namanya Kirana. Dia tinggal di kota Astera, perumahan Cakrawala nomor 109.”
“Kamu bisa merawat dan menjaganya sendiri!”
“Tidak, kamu harus berjanji padaku.”
Melihat darah Ezra yang semakin deras mengalir, Revan akhirnya memejamkan mata dan mengangguk.
“Baiklah, aku akan mengurus adikmu sebaik mungkin.”
Ezra menggenggam tangan Revan erat-erat. Dengan napas terputus-putus, dia berkata, “Terima kasih, Revan—”
Setelah itu, Ezra pun meninggal dunia.
Revan menghela napas panjang dan mempercepat laju mobilnya. Akhirnya, jalanan sudah cukup lengang untuk dilalui.
Keputusan Revan sudah bulat. Dia akan tinggal di kota itu untuk memenuhi wasiat Ezra apa pun yang terjadi.
Setelah mengecek alamat rumah Kirana yang tertulis pada secarik kertas, Revan kembali fokus ke jalanan.
Tepat ketika itu, seorang gadis berseragam putih dan rok kotak-kotak menyeberang secara tiba-tiba.
Revan sudah mengerem, tetapi gadis tersebut tetap terjatuh dan mengerang kesakitan.
Dia pun buru-buru turun dari mobil dan menghampiri gadis itu. “Hei, kamu tidak apa-apa?”
Tak ada luka sama sekali pada tubuh si gadis. Jelas sekali dia hanya berpura-pura. Revan tahu itu.
“Paman menabrakku! Sekarang kakiku patah!” seru gadis tersebut sambil menangis, tetapi air matanya tidak keluar. “Paman harus membawaku ke rumah sakit dan memberikan ganti rugi 10 juta!”
Revan menghela napas panjang. Dia tak menduga akan menemukan hal seperti ini di kota Astera.
Sejumlah pejalan kaki sudah berkumpul di lokasi kejadian dan mulai marah-marah.
“Dia harus bertanggung jawab!”
“Inilah akibatnya kalau terlalu ngebut di jalan raya!”
“Kalau dia tidak mau ganti rugi, kita tangkap dan bawa ke kantor polisi!”
Bukannya panik, Revan justru berjalan santai mendatangi gadis itu. Keadaan seperti ini bukan apa-apa baginya.
Sebagai tentara bayaran, dia sudah sering menghadapi situasi yang jauh lebih genting.
“Oh, jadi kamu patah tulang, ya?” Revan berjongkok dan mencubit paha gadis itu keras-keras.
“Aduh! Sakit!” Gadis tersebut menjerit keras dan melompat.
“Hebat sekali kamu masih bisa berdiri padahal sedang patah tulang. Seorang tentara terlatih saja tidak bisa melakukan itu.”
Gadis tersebut mematung sambil menutup mulutnya dengan tangan. Sementara itu, orang-orang yang berkumpul langsung membisu sejenak sebelum berbalik memarahinya.
“Padahal kelihatannya seperti anak baik-baik, tapi ternyata tukang tipu!”
“Kamu cuma mau memanfaatkan Paman ini, ya?!”
“Masih sekolah saja sudah bertindak kriminal! Bagaimana kalau sudah dewasa?!”
Dengan wajah memerah karena malu, gadis itu berlari kabur sambil menunjuk Revan.
“Awas saja kalau kita ketemu lagi! Kamu akan menyesal telah mengerjaiku!” pekiknya.
Sebelum orang-orang mengejar gadis tersebut, Revan berujar, “Ini hanyalah masalah kecil, jadi tidak usah diperpanjang. Lebih baik Bapak dan Ibu melanjutkan urusan masing-masing.”
Kalau sampai gadis itu dibawa ke kantor polisi, Revan harus memberikan keterangan kepada pihak berwajib. Itu hanya akan merepotkannya.
Begitu orang-orang bubar, Revan kembali memasuki mobilnya.
Satu-satunya hal yang membuatnya agak kesal adalah fakta bahwa dirinya menghabiskan beberapa menit secara sia-sia.
“Ada-ada saja,” gumamnya, lantas melanjutkan perjalanan ke rumah Kirana di Perumahan Cakrawala.
Kedua orang tua Ezra dan Kirana sudah meninggal, sehingga Ezra harus bekerja sejak masih belia hanya untuk bisa makan dan punya tempat berteduh.
Mereka juga tidak punya kerabat yang bisa membantu. Dari dulu, kakak-beradik itu selalu hidup dalam kekurangan.
Wajar saja jika Ezra ingin menitipkan Kirana yang sudah tak punya siapa-siapa lagi kepada Revan.
Sesampainya di perumahan, mobil Revan melewati aspal penuh lubang. Rumah-rumah kecil nan sederhana berjajar di kedua sisi jalan.
Ketika sampai di ujung perumahan tersebut, Revan menghentikan mobilnya.
Dia pun turun untuk menghampiri sebuah rumah yang sebagian besar cat birunya sudah mengelupas.
Setelah mengetuk pintu rumah yang juga tampak kusam, Revan menunggu.
Saat pintu itu terbuka, dan Revan langsung melongo. Dia tak bisa memercayai apa yang dilihatnya.
Gadis berambut hitam panjang yang membukakan pintu itu ternyata adalah siswi yang tadi mencoba menipunya.
“Mau apa kamu ke sini?! Kamu belum puas mempermalukan aku?! Dasar pria sialan!” bentak gadis tersebut dengan mata melotot.
“Kamu ini Kirana, adik Ezra?”
Gadis itu mengerutkan kening. “Dari mana kamu tahu namaku?”
Ezra selalu bercerita bahwa adiknya adalah gadis yang baik hati, selalu menurut, rajin belajar, serta polos.
Namun, kejadian di jalanan tadi langsung meruntuhkan gambaran di kepala Revan.
Gadis ini justru bertingkah seperti seorang preman. Selain menipu, dia bahkan berbicara kasar.
“Pergi sekarang juga atau aku akan memanggil teman-temanku untuk menghabisimu!”
“Tenang dulu,” kata Revan dengan nada lebih halus. “Kalau kamu tadi kesal denganku, aku minta maaf. Namaku Revan. Aku ini teman Ezra, kakakmu. Dia berpesan padaku untuk–”
“Aku tidak punya kakak! Jangan sok tahu, ya!” potong Kirana, kemudian membanting pintu keras-keras.
Revan pun cuma mematung dengan kebingungan. Dia mencoba mengetuk lagi, tetapi Kirana tak menjawab.
“Kenapa malah jadi begini?” desah Revan sambil memijat keningnya.
Meski begitu, Revan tidak menyerah. Janjinya kepada Ezra harus ditepati. Kirana harus bisa hidup dengan terjamin dan aman.
Tidak seharusnya gadis semuda itu hidup sebatang kara.
Selain itu, kini Revan juga bersumpah untuk membantu Kirana menjadi seseorang yang lebih baik.
Kalau dibiarkan, gadis itu bisa-bisa terjerumus ke hal-hal yang lebih buruk. Bukan tidak mungkin dia akan masuk penjara karena menipu.
Di masa depan, Kirana akan kesulitan melamar pekerjaan karena catatan kriminalnya.
Namun, bagaimana bisa Revan membimbing Kirana jika gadis itu justru mengabaikannya?
Pada akhirnya, Revan kembali ke mobilnya dan duduk sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Ezra, apa yang akan kamu lakukan jika melihat adikmu seperti itu?” Revan menarik napas panjang.
Di medan perang, Revan sudah terbiasa memikirkan jalan keluar dalam kondisi terdesak. Namun, kali ini otaknya malah buntu.
Daftar bab
40 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








