
- Jumlah kata
- 45.1K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
Sinopsis
Pada hari kiaamat Nael mendapatkan Gudang senjata dan kendaraan tempur, gudang tersebut berisi dengan beragam jenis senjata, termasuk senjata individu maupun kendaraan tempur yang sudah dimodifikasi dengan tambahan berbagai senjata. Bahkan termasuk senjata pemusnah massal seperti senjata rudal serta nuklir yang bisa menghacurkan suatu negara. Dengan persenjataan yang kuat itu Nael siap untuk mengahadapi dunia pasca kiamat yang dipenuhi dengan makhluk yang mengerikan.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Sang Pemimpin
"Hei, Nael, Cepat bangun!, Guru memanggilmu..."
Nael merasakan bahunya didorong-dorong pelan.
Dengan mata masih berat, ia perlahan membuka kelopak matanya.
Ternyata yang membangunkannya adalah sahabat sekaligus teman sebangkunya, Kenzi.
Nael mengusap matanya yang masih kabur pandangannya dan ingin bertanya ada apa, tiba-tiba suara Guru Bahasa terdengar dari atas podium dengan nada menuntut.
"NAEL! Kau tidur nyenyak sekali ya. Apa pelajaran saya cukup membosankan?"
Nael seketika tersentak kaget.
Barulah ia sadar bahwa ia sedang berada di dalam kelas.
Ia mendongak menatap depan dan melihat Bu Aira sedang menatapnya dengan wajah tidak senang.
Dengan jantung berdebar kencang, Nael segera bangkit dari kursinya dan menggeleng tanpa sadar.
"Maafkan saya, Bu. Saya tidak bermaksud begitu... entah kenapa, tiba-tiba saja mata saya terpejam."
"Jadi begitu, ternyata penjelasan saya memiliki efek tidur yang begitu kuat ya."
Begitu kalimat Aira terucap, seisi kelas tidak bisa menahan tawa kecil yang penuh rasa geli melihat Nael.
Wajah Nael memerah padam karena malu, namun ia tidak tahu harus menjelaskan apa.
Sebelum-sebelumnya ia tidak pernah sekalipun tertidur saat jam pelajaran.
Tapi entah kenapa, beberapa hari belakangan ini ia terus didatangi sebuah mimpi yang sama sekali tidak masuk akal.
Di dalam mimpi itu, sekolah yang ia kenal berubah sepenuhnya menjadi neraka tempat berkeliaran zombie.
Teman-teman sekelas yang ia kenal satu per satu berubah menjadi zombie yang mengejar dan menggigit siapa saja yang lari ketakutan.
Udara dipenuhi bau amis darah yang menyengat.
Teriakan minta tolong, teriakan ketakutan, dan raungan mengerikan bergema di setiap sudut sekolah.
Namun di tengah kekacauan itu, saat semua orang sibuk menyelamatkan diri, hanya dirinya yang tampil lengkap dengan seragam tempur dan senjata di tangan.
Memegang sepasang Desert Eagle, Nael bagaikan dewa yang turun ke bumi.
Dengan tenang dan terkendali ia menembaki zombie-zombie yang mendekat.
Peluru demi peluru melesat membelah udara, menembus tepat ke tengkorak mereka satu per satu.
Dalam sekejap mata, puluhan zombie telah roboh di hadapannya.
Namun meski gelombang pertama habis disingkirkan, gelombang berikutnya terus datang tanpa henti.
Peluru Desert Eagle tidak lama kemudian habis.
Dengan gerakan luwes ia melempar kedua pistol itu, lalu seolah sulap merogoh dari balik bajunya sebuah senapan mesin ringan MP40 dan kembali menyemak peluru ke arah kerumunan.
Brrrr-tt! Brrrr-tt!
Rat-tat-tat-tat!
Daya tembak MP40 jauh lebih dahsyat dibandingkan Desert Eagle sebelumnya.
Hujan peluru yang beruntun menyapu lorong hingga bersih, dan siapa pun yang berani mendekat seketika penuh lubang luka.
Ketika peluru di senapan itu pun habis, bukannya mengisi peluru baru, Nael kembali dengan gagah mencabut sebuah senapan M1014 dari punggungnya.
Klak! Dor!
Klak! Do!
Klak! Dor!
Peluru terus menyembur dari moncong senapan.
Setiap kali pelatuk ditarik, selongsong peluru berukuran besar melesat keluar dengan suara yang memekakkan telinga.
Kaca jendela di sepanjang lorong berhamburan pecah menjadi ribuan kepingan, dan debu dari langit-langit pun ikut berjatuhan terkena getaran ledakan.
Meskipun shotgun itu tidak mampu menembus terus-menerus layaknya senapan mesin, namun jangkauan dan kekuatan mematikan tiap butir pelurunya berkali-kali lipat lebih dahsyat dari peluru biasa.
Butiran peluru seperti jaring besi yang tak terlihat celah, menutupi separuh lorong sekaligus.
Dan zombie-zombie yang menerjang ke arahnya langsung pecah seperti tahu putih, daging dan darah berhamburan ke segala arah, pemandangan yang sungguh mengerikan dipandang mata.
Nael melangkah maju dengan tenang sambil terus menembak, hingga peluru terakhir habis terpakai.
Ketika asap tembakan perlahan lenyap, tidak ada lagi jejak zombie yang berdiri di lorong itu.
Hanya sisa-sisa tubuh dan darah yang berceceran menempel di dinding dan lantai, menyerupai pemandangan neraka tempat para raksasa bertempur.
Sudut bibir Nael sedikit terangkat membentuk senyuman.
Lalu ia berbalik dan berdiri di tepi jendela.
Di halaman sekolah bawah, masih terlihat kerumunan zombie yang jumlahnya tak terhitung banyaknya.
Suara tembakan tadi ternyata memancing mereka semua berdatangan, sehingga gedung sekolah sekarang terkepung rapat dari segala arah.
Nael melempar senapan di tangannya, lalu seketika itu muncul di genggamannya sebuah senapan tempur SCAR17 yang terlihat baru.
Sebagai senjata dari FN , SCAR17 memiliki ketepatan tembak yang sangat baik untuk jarak menengah hingga jauh sangat cocok untuk menghadapi kerumunan zombie di bawah sana.
Bahkan SCAR17 yang ada di tangan Nael dilengkapi beragam perlengkapan tempur, tidak terkecuali seperti M1 Rocket Launcher yang terpasang di bawah laras senapan.
Ia mengarahkan M1 Rocket Launcher itu ke titik di mana kerumunan terlihat paling padat, lalu menarik pelatuk.
DORR!
Rocket itu melesat melukis garis melengkung di udara, mendarat tepat di tengah kerumunan, lalu meledak dengan dahsyatnya.
BOOMMM!
Gelombang kejut akibat ledakan itu seketika menghancurkan puluhan zombie yang berada di dekatnya menjadi kepingan sampai tidak berbentuk.
Setelah meluncurkan M1 Rocket Launcher, Nael segera menyesuaikan posisi menembaknya, menyandarkan gagang CheyTac M200 di bahu dan mulai menembak satu demi satu ke arah kerumunan di bawah.
CKLEK-CLACK!
DARR!....
CKLEK-CLACK!
DARR!....
Dengan bantuan teropong penembak canggih, Nael seperti mempunyai cheat ke mana pun ia mengarahkan senapan, kepala zombie di bawah seketika pecah berhamburan seperti semangka yang jatuh ke tanah.
Tanpa terasa, 7 butir peluru dalam magazine kembali habis dalam sekejap mata.
Namun jumlah mereka di bawah sana masih terlihat sangat banyak.
Nael pun tidak repot-repot mengganti magazine lagi.
Ia melempar CheyTac M200 yang telah kosong itu, dan seketika muncul senapan M4 yang dilengkapi sudah dilengkapi magazine.
Sebagai versi sempurna dari M4, M4 memiliki hentakan tembakan yang lebih ringan dan ketepatan yang lebih baik.
Ditambah lagi magazine berisi 30 butir peluru, senjata ini sungguh bagaikan mesin penuai nyawa di medan tempur.
Dorr-dorr-dorr...
Nael memegang erat M4 dan mengarahkan peluru ke arah kerumunan di bawah.
Saat itu juga ia seakan berubah menjadi mesin pembunuh yang tidak kenal ampun, terus-menerus memanen kepala-kepala zombie itu.
Dan senjata di tangannya terus berganti bagaikan lentera berputar AN94, M16A1, AUG, M1014, M249, PKM...
Setiap kali peluru di senatannya habis, senjata di tangannya seketika berubah menjadi senjata lain yang masih baru.
Hampir seluruh jenis senapan dan senapan mesin yang pernah ada sudah ia pegang dan tembakkan.
Dalam waktu singkat tidak lebih dari 5 atau 6 menit, ia telah berganti senjata berkali-kali.
Diiringi suara tembakan yang terus terdengar, selongsong peluru berwarna kuning keemasan menumpuk setinggi gunung di kakinya.
Dan jumlah zombie di halaman sekolah pun perlahan berkurang hingga tidak bersisa satu pun yang masih berdiri.
Saat zombie terakhir jatuh tertembak, Nael seketika berhenti menembak.
Memandang seisi sekolah yang kini penuh sesak dengan sisa-sisa tubuh, sudut bibir Nasl terangkat perlahan, menampakkan senyuman puas.
Benar saja semua rasa takut berakar dari ketidakmampuan melawan.
Jika di tanganmu tersedia senjata sebanyak itu hingga tak habis-habis digunakan, zombie sebanyak apa pun tidak layak ditakuti.
Setelah bahaya berlalu, teman-teman sekelas yang selamat karena beruntung pun berkumpul mengerumuni Nael di dalam gedung sekolah.
"Nael, hebat sekali! Kerumunan zombie sebanyak itu habis kamu singkirkan sendirian!"
"Nael, dari mana kamu mendapatkan begitu banyak senjata?"
"Nasl, mungkinkah identitas aslimu adalah mafia?"
Para siswa laki-laki menatap senjata di tangan Nael dengan penuh kekaguman.
Sementara reaksi para siswi perempuan jauh lebih terbuka.
"Nael, bisakah kamu mengantarku pulang ke rumah?"
"Nael... asalkan kamu mau melindungiku, apa pun permintaanmu pasti kupenuhi."
Pandangan mata mereka penuh dengan rasa kagum yang tidak bisa disembunyikan.
Di mata semua orang, Nael adalah penyelamat yang turun dari langit.
Siswa berprestasi, pemuda tampan, anak orang kaya semua itu tak ada artinya saat ini.
Hanya Nael yang paling luar biasa.
Namun tepat saat Nael ingin menikmati rasa kemenangan itu, mimpi indahnya tiba-tiba terputus paksa.
"NAEL! Apa kau mendengarkan penjelasan saya?!"
Suara Aira kembali terdengar, menarik Nael seketika kembali ke realita.
"Iya, Bu... saya mendengarkan." Nael menjawab dengan hati berdebar.
Daftar bab
32 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








