
Rangga sang Petualang
kopi Hitam|Bersambung
- Jumlah kata
- 28.3K
- Popular
- 317
- Subscribe
- 62
- Jumlah kata
- 28.3K
- Popular
- 317
- Subscribe
- 62
Sinopsis
Rangga hanya seorang yang ingin hidup tenang bersama adiknya, namun satu kejadian tak terduga membuat ia menjadi orang yang punya kekuatan hebat
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Rangga
Langit di Gunung Tanggamus yang tadinya cerah berubah menjadi hitam pekat tertutup awan mendung. Angin bertiup kencang seakan ingin mencabut semua pepohonan yang ada. Para penduduk di sekitar kaki Gunung Tanggamus berlarian mencari tempat aman dari tiupan angin puting beliung.
"Goaaaar!"
Suara raungan terdengar memekakkan telinga.
"Lari! Penguasa gunung sedang marah!" seorang warga yang mendengar suara raungan itu berseru, lalu melarikan diri terlebih dahulu.
Para warga pun ikut berlarian menjauh dari sana karena mereka juga ikut mendengar raungan itu.
Tak lama hujan turun dengan deras. Petir menyambar-nyambar menghantam sejumlah pohon besar. Dari salah satu pohon yang tumbang, kini terlihat sebuah sinar terang dan tampak bayangan naga terbang ke angkasa. Derak suara petir kian terdengar.
Slaaash!
Jelegaaaar!
Bum!
Satu petir terlihat menyambar naga itu. Naga tersebut terpental dan jatuh mengeluarkan suara kencang, bahkan bumi bergetar.
"Goaaaargh!"
Naga itu kembali bangkit dan berkoar marah. Ia terbang lagi menuju inti petir.
Ternyata naga itu telah bertapa ratusan tahun dan ini tahap ia menjadi Naga Ilahi. Namun, untuk mencapai itu ia harus melewati ujian petir dewa. Naga itu kembali mengudara. Kini awan semakin hitam, petir berwarna ungu kini berderak. Inilah puncak ujian petir. Bila naga itu berhasil melewati ujian Petir Ungu, maka ia akan berhasil menjadi Naga Ilahi dan akan berpindah ke alam khayangan. Namun bila gagal, ia akan kembali menjadi telur dan menunggu beberapa ratus tahun lagi untuk bisa menantang ujian petir dewa.
Jdaaaaar!
Dhuaaaar!
Naga itu hancur berkeping-keping. Hanya kepingan terakhir yang mengeluarkan sinar dan jatuh menghujam ke bumi. Sinar itu melesat jauh ke dalam bumi, dan perlahan tertutup oleh reruntuhan.
Naga itu kini berhibernasi lagi. Kegagalannya harus ditebus dengan kembali bertapa dalam Gunung Tanggamus untuk beberapa ratus tahun lagi.
Langit kembali cerah, mendung tersapu awan, membuat mentari kembali bersinar.
Lambat laun peristiwa petir dan angin puting beliung yang mengamuk terlupakan oleh warga.
Di dalam perut Gunung Tanggamus, sinar pecahan dari naga yang terkena petir berdiam di atas sebuah batu, dan lambat laun menyatu dengan batu itu.
Waktu terus berjalan, kehidupan di kaki Gunung Tanggamus semakin ramai memasuki kemajuan zaman yang kian canggih. Kejadian yang sempat menggemparkan itu pun mulai terlupakan.
⚫⚫⚫⚫⚫⚫
Di sudut kota, seorang pemuda tampak berjalan di tengah keramaian. Ia tak peduli bila ia menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, dengan pakaian yang kotor dan rambut memutih karena banyaknya tepung yang memenuhi muka, rambut, dan bajunya. Ia baru saja mengantarkan pesanan tepung dari langganan tokonya. Lori yang biasa ia pakai entah kenapa tiba-tiba rodanya hilang, membuat ia mau tak mau harus memanggul karung tepung itu. Walau tak terlalu jauh, tapi melelahkan karena ia harus membawa 3 karung bolak-balik.
"Eh, Rangga, kemana lorinya?" tanya Mawar, seorang pramuniaga di sebelah toko tempat Rangga bekerja.
"Ada, cuma rodanya hilang satu, Mbak," sahut Rangga sambil tersenyum.
"Kok bisa?" Mawar mendekat dan membersihkan muka Rangga dengan sapu tangan di tangannya.
"Nggak tahu, Mbak. Kemarin waktu sore mah masih ada, dimakan tikus kali, he he he," Rangga tertawa kecil dan membiarkan Mawar membersihkan wajahnya.
"Kamu ada-ada aja, mana ada tikus doyan roda lori," Mawar tersenyum geli.
"Kayaknya tikusnya gragas (rakus) Mbak, makanya roda lori juga dimakan," sahut Rangga.
Mawar bekerja di sebelah toko tempat Rangga bekerja. Toko Rangga menjual bahan makanan, sedangkan toko Mawar menjual suvenir, baju-baju, juga perangkat pendukung sekolah. Mawar seorang wanita yang menarik, selain cantik ia juga baik hati. Ia sering bercanda gurau dengan para pekerja di toko yang ada di lingkungan itu. Hanya saja keramahannya sering disalahartikan oleh sebagian orang.
Di sudut toko, seorang pria mengepalkan tangannya melihat Rangga dan Mawar bercanda gurau.
"Awas loe, masih aja loe dekat sama Mawar," gumam Eki sambil mengepalkan tangannya. Eki teman kerja Rangga. Ia sangat iri dengan Rangga yang mendapatkan perhatian lebih dari bos mereka padahal Rangga hanya bekerja setengah hari di toko itu. Apalagi kini ia melihat wanita yang diincarnya malah bercanda dan terlihat dekat dengan Rangga. Jadi ia selalu berusaha membuat Rangga tak betah bekerja di toko itu dan mengundurkan diri. Roda lori pun ia yang membuangnya saat pagi sebelum Rangga datang.
Rangga memang hanya bekerja setengah hari karena ia masih bersekolah.
Ia hanya hidup berdua dengan adiknya yang kini duduk di kelas tiga Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), sedangkan ia baru kelas 2 di SMK Bhineka. Ia menjadi tulang punggung bagi adiknya semenjak orang tuanya kecelakaan dua tahun yang lalu di jalan lintas timur.
"Nah, udah bersih kan, kelihatan tampannya sekarang," ucap Mawar setelah membersihkan tepung yang mengotori muka Rangga tadi, membuat Rangga tersipu.
Eki yang mendengar semakin geram.
"Awas loe nanti!" ucap Eki penuh dendam.
Rangga yang tak tahu-menahu bila Eki cemburu padanya, dengan santai berjalan masuk ke dalam toko dan memberesi karung terigu yang sedikit berantakan karena tadi ia mengambil secara acak karena buru-buru akan diantarkan.
Jam 5 Rangga beberes karena setengah 6 toko tutup. Ia biasa pulang dengan naik bus DAMRI karena ongkosnya lebih murah.
Eki melihat Rangga sudah pulang, dengan cepat bergegas ke laci kasir. Ia mengambil beberapa lembar uang dan memasukkan ke dalam kantongnya. Ia tadi melihat tas pinggang milik Rangga tertinggal di toko. Tentu saja ia sudah menghalangi CCTV agar tak ketahuan, dan yang dipakai menghalangi adalah handuk kecil Rangga. Ia memasukkan beberapa lembar uang yang diambilnya ke dalam tas pinggang Rangga sebelum ia berpamitan pulang.
Sampai rumah pas azan magrib berkumandang.
"Assalamu'alaikum," salam Rangga.
"Wa'alaikumussalam," dari dalam terdengar suara menjawab salam dari Rangga.
Dari dalam rumah seorang remaja kecil membukakan pintu.
"Baru pulang, Mas?" Andri mencium punggung tangan kakaknya.
"Iya, kamu sudah makan?" sahut Rangga balik bertanya.
"Sudah, Mas. Tadi buat mi rebus. Eh, tas pinggang Mas kemana?" tanya Andri yang tak melihat tas pinggang di pinggang kakaknya.
"Eh, iya, sepertinya ketinggalan," ucap Rangga baru menyadari bila tas pinggangnya tak ada di pinggangnya.
"Ya udah, Mas mandi saja. Nanti Andri masak air buat bikin kopi," ucap Andri. Setiap malam selepas mandi, Rangga selalu menikmati kopi di serambi depan rumah.
"Gimana dengan pelajaran di sekolah?" tanya Rangga setelah selesai mandi.
"Lancar, Mas. Cuma sepatu aku sudah bolong dan celangap ujungnya," sahut Andri. Sepatunya memang sudah tak layak pakai karena sudah banyak tambalan.
"Besok Mas gajian, kita beli ya," ucap Rangga sambil mengusap kepala adiknya.
Rangga memang berniat membelikan sepatu karena sudah lebih dari setahun Andri memakai sepatu lama.
Daftar bab
26 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








