
Skill Unik Penakluk Wanita Sang Raja Esport
Ilham6192|Bersambung
- Jumlah kata
- 29.9K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
- Jumlah kata
- 29.9K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
**[⚠️ PERINGATAN 21+: KHUSUS PEMBACA DEWASA.]** Bermula dari kamar kos sempit bermodal keahlian mekanik dewa dan pesona manipulatif yang berbahaya, Rian Pratama menerobos lingkaran elit esport ibu kota untuk menaklukkan panggung kejuaraan sekaligus para wanita penting di balik layarnya. Dari sang pembawa acara anggun pujaan publik hingga mahasiswi modis yang mencari perlindungan, kelihaian jari dan dominasi dingin pemuda ini berhasil menjerat mereka ke dalam pusaran relasi privat yang tak terelakkan. Di depan sorotan panggung dia adalah ahli taktik yang tak terbendung, namun di balik pintu tertutup, dialah raja sejati yang membuat para wanita memikat arena bersaing memperebutkan perhatiannya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Prolog - Layar Kemenangan
SKILL UNIK PENAKLUK WANITA SANG RAJA ESPORT
PROLOG: LAYAR KEMENANGAN
Layar monitor dua puluh empat inci di hadapan Rian Pratama memancarkan pendar emas bertuliskan VICTORY di tengah hancurnya kristal Nexus lawan. Ia melepaskan genggaman tangannya dari tetikus kabel serat, lalu merebahkan bobot tubuhnya ke sandaran kursi gaming yang lapisan kulit sintetisnya mulai retak-retak.
Kedua kelopak matanya terasa panas dan berpasir setelah menatap layar tanpa jeda selama nyaris tiga jam.
"Beres juga akhirnya satu antrean. Pedes banget mata gue."
Rian meraih kembali tetikusnya, mengarahkan kursor ke menu riwayat laga, lalu mengambil tangkapan layar statistik pertempuran yang menampilkan medali emas MVP atas penggunaan champion LeBlanc miliknya. Tanpa menunda waktu, ia segera membuka tab peramban WhatsApp Web di monitor kedua dan mengirimkan berkas gambar tersebut ke nomor kontak sang pemesan jasa.
Hanya butuh waktu kurang dari dua menit sampai ponsel pintar di samping tatakan tetikusnya bergetar kencang di atas meja kayu lapis.
Layar ponsel itu menampilkan notifikasi transaksi masuk dari aplikasi perbankan digital, mengabarkan transfer pelunasan pesanan pokok ditambah saldo bonus cuma-cuma sebesar empat ratus lima puluh ribu rupiah.
"Gila, Bro! Gendongannya bener-bener mantap, main lo ngeri banget dan kelarnya jauh lebih cepet dari estimasi awal. Nih sesuai janji, gue lebihin empat ratus lima puluh ribu buat uang rokok sama kopi lo, makasih banyak ya!"
Rian terkekeh puas membaca rentetan kalimat bernada takjub yang dikirimkan oleh sang klien.
Tanpa berniat membalas panjang lebar, ia hanya mengirimkan emotikon jempol, lalu segera melakukan proses keluar akun dari peladen kompetitif tersebut.
Rian meregangkan kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara hingga bunyi kertukan persendian punggungnya terdengar renyah di dalam kamar kos berukuran tiga kali empat meter itu. Udara di dalam ruangan terasa pengap bercampur desau kipas angin dinding yang berputar monoton, mengusir aroma sisa mi instan cup dari sudut tempat sampah.
Pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu sebenarnya menyandang gelar sarjana teknik sipil yang baru saja ia peroleh beberapa bulan lalu dari salah satu universitas swasta ternama di Jakarta Barat.
Namun, ijazah sarjana itu kini hanya tersimpan rapi di dalam laci lemari pakaian tanpa pernah ia sentuh lagi untuk melamar lowongan kerja ke firma kontraktor.
Tawaran gaji awal sebagai pengawas proyek lapangan yang rata-rata hanya berkisar antara empat hingga lima juta rupiah sama sekali tidak menggugah selera makannya. Baginya, menghabiskan waktu berpanas-panasan di bawah terik matahari Jakarta sambil menghirup debu semen proyek adalah hal yang sangat sia-sia jika dibandingkan dengan penghasilan duduk di depan komputer berpendingin ruangan.
Ketiadaan modal usaha dan keengganan tunduk pada jam kantor formal membuat Rian memilih menyambung napas sebagai penjoki akun game independen.
Melalui kelincahan sepuluh jarinya, ia sanggup meraup lembaran rupiah yang jauh lebih melimpah dalam hitungan minggu, cukup untuk membayar sewa kos, makan harian, dan membeli perlengkapan gawai terbaru.
Kendati demikian, jauh di dasar benaknya yang paling dalam, impian Rian bukanlah sekadar menjadi kuli joki bayaran yang mengurung diri di balik pintu tertutup.
Dua tahun silam, manajemen tim esports semiprofesional sempat menyodorkan draf kontrak uji coba resmi kepadanya berkat rekor bertandingnya yang gemilang di papan atas tangga peringkat nasional.
Akan tetapi, Rian langsung menampik kontrak tersebut mentah-mentah begitu melihat nominal bayaran bulanan dan skema bagi hasil turnamen yang dinilainya terlalu kikir bagi pemain sekaliber dirinya.
Sosok yang selalu ia jadikan patokan hidup adalah para atlet bintang yang berlaga di panggung utama liga profesional tingkat tertinggi.
Ia kerap menghabiskan waktu berjam-jam menyaksikan siaran langsung turnamen resmi, menatap piala kristal megah, sorotan lampu panggung yang menyilaukan, serta riuh tepuk tangan ribuan penonton yang meneriakkan nama sang pemenang.
Namun, hal yang paling sering menyulut rasa iri di rongga dadanya bukanlah kilau piala perak ataupun gelontoran hadiah uang tunai ratusan juta rupiah.
Pemandangan yang paling membakar rasa dengkinya hingga ke ubun-ubun adalah keberadaan deretan pacar para atlet profesional tersebut yang selalu berparas rupawan layaknya model busana metropolitan.
Tiap kali membuka media sosial dan mendapati unggahan para bintang esports itu tengah merangkul kekasih cantik mereka di restoran mewah kawasan Senopati, hati Rian selalu bergolak panas.
Rasa dongkol, cemburu, dan rasa tidak terima atas garis nasibnya sendiri terus menggerogoti akal sehatnya, menciptakan luka menganga pada harga dirinya.
Rian kerap berdiri cukup lama di depan cermin lemari pakaian kamarnya, meneliti lekuk rahang, garis hidung, tatanan rambut, serta tinggi badannya secara teliti.
Secara fisik, ia merasa penampilannya sama sekali tidak kalah memikat dibanding para pemain profesional yang wara-wiri di layar gawai anak-anak muda zaman sekarang.
Satu-satunya jurang pemisah antara dirinya dan para bintang itu hanyalah keberuntungan panggung besar dan isi dompet yang belum mencapai puluhan juta rupiah per bulan.
Rasa tidak terima yang mengendap itu perlahan bermutasi menjadi kepercayaan diri semu yang kelewat batas, menumbuhkan keyakinan picik bahwa ia memiliki daya pikat alami untuk menaklukkan wanita mana pun yang ia incar.
Keyakinan berlebihan itu bukan tumbuh tanpa riwayat masa lalu.
Saat masih berstatus mahasiswa aktif di tingkat awal perkuliahan, Rian pernah menjalin hubungan asmara singkat dengan salah satu mahasiswi senior yang menjadi primadona di unit kegiatan mahasiswa esports kampusnya.
Catatan masa lalu tersebut tertanam kuat di kepalanya, menuntun pola pikirnya bahwa relasi romantis bukanlah tempat saling menghargai, melainkan panggung adu dominasi untuk mempertegas superioritas egonya atas laki-laki lain.
Rian memutar kursi kerjanya, membuka aplikasi penyunting video di komputernya, lalu memilah rekaman permainan apiknya pada pertandingan barusan.
Ia memotong klip aksi akrobatik saat LeBlanc miliknya melancarkan kombo eliminasi kilat ke garis belakang musuh, lalu memadatkannya menjadi video montase berdurasi tiga puluh detik bertempo dinamis.
Klip pendek tersebut segera ia unggah ke akun TikTok pribadinya, lengkap dengan keterangan ringkas yang mempromosikan jasa penaikan peringkat akun dengan jaminan tingkat kemenangan tinggi.
Langkah promosi melalui video pendek di platform daring terbukti menjadi tambang emas yang sangat efektif dalam beberapa bulan terakhir.
Selalu ada pemain amatir berkantong tebal yang terpukau melihat kecepatan jemarinya, lalu menghubungi nomor kontak di bio profilnya demi mendongkrak gengsi peringkat akun di lingkaran pergaulan mereka.
Sebelumnya, Rian sempat mencoba peruntungan sebagai penyiar langsung di platform siaran game, namun jumlah penonton kanalnya hampir tidak pernah beranjak dari angka belasan orang.
Demi memancing interaksi dan menahan orang agar tidak keluar dari ruang siarannya, ia bahkan sering terpaksa memberikan layanan joki gratisan yang menguras stamina tanpa menghasilkan uang sepeser pun.
Merasa pekerjaan itu hanya membuang-buang energi, ia memutuskan berhenti siaran langsung dan memusatkan seluruh tenaganya untuk memburu klien langsung lewat algoritma video pendek.
Ketika tangannya baru saja hendak menekan tombol daya untuk mematikan komputer dan bersiap tidur, nada dering notifikasi pesan masuk tiba-tiba memecah kesunyian kamarnya.
"Tumben jam segini masih ada yang nyangkut. Biasanya orang baru pada bangun cari joki pas tengah malam."
Rian meraih kembali ponselnya dari permukaan meja dan membuka tab pesan langsung di aplikasi TikTok.
Pengirimnya adalah sebuah akun pribadi tanpa centang verifikasi, dengan foto profil seorang gadis muda berwajah manis yang tersenyum mengenakan riasan kasual alami.
"Kak, jago banget main LeBlanc-nya. Bisa tolong jokiin akun punyaku nggak?"
Melihat pesan tersebut, sudut bibir Rian terangkat membentuk senyuman tipis, dan jemarinya segera membalas dengan lugas.
"Bisa banget. Mau dorong akun dari tier apa ke tier apa dulu nih?"
Tidak butuh waktu lama bagi lawan bicaranya untuk mengirimkan respons balasan.
"Dari tier Bronze sampai Diamond 1, Kak. Aku pengin banget dapet akses masuk ke Server Elit musim ini biar bisa ngerasain main bareng top rank."
Rian sempat menahan napas membaca lompatan peringkat yang diajukan oleh sang gadis.
Melompati rentang peringkat sejauh itu membutuhkan alokasi waktu berhari-hari, tenaga ekstra, dan fokus mekanik yang sangat melelahkan di depan monitor.
Kendati demikian, insting bisnisnya langsung bekerja menghitung tarif standar pasar untuk pekerjaan borongan seberat itu.
"Kira-kira biayanya sekitar dua juta rupiah, sudah termasuk garansi winrate di atas delapan puluh persen."
"Hah? Mahal banget ya ternyata, Kak. Eh, aku barusan kepo bio profil Kakak, lokasinya di Jakarta juga kan? Bisa minta tolong kasih diskon khusus nggak?"
Satu kota?
Rian langsung menghentikan gerak jarinya di atas papan ketik virtual, lalu mengetuk foto profil gadis itu untuk memeriksa riwayat unggahannya secara menyeluruh.
Keterangan lokasi di akun tersebut memang secara gamblang mencantumkan kawasan Jakarta Barat, wilayah yang jaraknya hanya terpaut beberapa halte bus TransJakarta dari kamar kosnya.
Melihat deretan swafoto dan video pendek yang terpampang di linimasa sang gadis, pikiran Rian mendadak berbelok ke arah yang menyimpang dari urusan bisnis murni.
Ia sudah terlalu sering mendengar obrolan santai di warung kopi dari rekan-rekan sesama penjoki game daring.
Banyak kisah beredar tentang kesepakatan joki di luar tarif resmi, transaksi tatap muka yang berujung pada janji kencan santai dan keintiman pribadi di balik pintu ruangan tertutup.
Rian terus menggulirkan jemarinya ke bawah, memperhatikan setiap video yang diunggah gadis itu dengan busana kasual khas mahasiswi kelas menengah ke atas yang modis.
Namun, gerakan jempolnya mendadak terhenti kaku saat matanya menangkap sebuah video lama yang disematkan di baris tengah halaman profil.
Video berdurasi lima belas detik itu menampilkan sang gadis tengah tertawa manja sambil merangkul erat lengan seorang pemuda bertubuh jangkung dan berwajah tampan di sebuah kafe terbuka kawasan Senayan.
Keterangan video tersebut secara terang-terangan memamerkan perayaan hari jadi hubungan asmara mereka yang kedua tahun, lengkap dengan sorotan kamera ke arah kunci mobil bermerek di atas meja kafe.
Rasa panas seketika menyengat rongga dada Rian, membakar habis ketenangan akal sehatnya.
Pandangan matanya menajam, dipenuhi gelombang kecemburuan dan rasa dongkol yang mendidih secara tiba-tiba.
Laki-laki di dalam rekaman video itu tampak memiliki segalanya secara cuma-cuma: wajah rupawan, kendaraan mewah, gaya hidup berkelas, serta kekasih berwajah manis yang menatapnya penuh pemujaan.
Sementara dirinya harus membanting tulang memeras keringat di kamar kos sempit setiap malam hanya demi mengumpulkan lembaran ratusan ribu rupiah dari para pemain amatir.
Ego dan rasa tidak terima seketika menguasai pertimbangan moralnya.
Ia tidak lagi memandang pesanan joki ini sebagai transaksi ekonomi biasa, melainkan peluang liar untuk merebut sesuatu dan melampiaskan dendam egonya kepada sosok laki-laki necis tersebut.
Rian kembali ke ruang percakapan pesan langsung TikTok, lalu merangkai kalimat tawar-menawar yang telah ia pertimbangkan dengan sangat cermat.
"Gini aja biar lo nggak ngerasa keberatan sama harganya. Gue jokiin akun lo gratis sampai Diamond 1 tanpa pungut biaya sepeser pun, tapi syaratnya kita mabar langsung di tempat lo karena kebetulan kita sama-sama di Jakarta Barat. Gimana?"
Rian sengaja membungkus maksud tersembunyinya dengan dalih bermain bersama secara tatap muka, kendati kalimat penawaran tersebut jelas mengandung tendensi terselubung.
Status obrolan di layar ponselnya menampilkan ikon sedang mengetik dalam durasi yang cukup lama sebelum sebuah balasan akhirnya terkirim.
"Tapi aku udah punya cowok, Kak. Kayaknya nggak enak dan kurang pantes deh kalau ada cowok lain main ke unit apartemenku."
Rian mendengus sinis membaca keberatan tersebut.
Bagi pemuda dengan kepercayaan diri picik sepertinya, respons bernada ragu itu justru menandakan bahwa pintu pertahanan sang gadis belum sepenuhnya terkunci rapat.
Ia segera membalas dengan argumen yang meyakinkan, menegaskan bahwa niat kedatangannya murni urusan bermain game, tidak akan memakan waktu lama, dan ia bersedia membuktikan kebolehannya secara gratis di sesi pertandingan pertama.
Setelah melalui jeda hening yang menegangkan, pesan persetujuan yang ditunggu-tunggu akhirnya menyala di layar ponselnya.
"Ya udah deh, boleh dicoba dulu satu match. Hari ini hari Senin kan? Sebelum hari Jumat harus udah kelar ya Kak, soalnya hari Sabtu cowokku mau datang ke tempatku."
Rian mengepalkan tinjunya ke udara dengan seringai mengembang penuh kemenangan semu.
Keduanya segera bertukar kontak WhatsApp, dan tak lama berselang, sebuah tautan penunjuk arah apartemen di kawasan Puri Indah masuk ke ruang obrolannya.
Rian mematikan komputer, bergegas mandi, menyisir rambutnya dengan pomade wangi, lalu mengenakan jaket denim kasual paling rapi yang tergantung di balik pintu kamar kosnya.
Bagi Rian, pesanan joki biasa ini kini telah bermutasi menjadi arena perburuan untuk membuktikan superioritas pesonanya atas gadis kota metropolitan.
Daftar bab
23 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








