
- Jumlah kata
- 128.7K
- Popular
- 1.8K
- Subscribe
- 193
Sinopsis
“Ati-ati ing lakumu, waspada karo basamu, lan elinga! Aja metu adzan Maghrib, utamane adzan Isya!” ucap Marni, dengan kedua mata yang melempar tatapan tajam pada ketiga perempuan muda dan juga dua laki-laki di depannya itu. Seharusnya, ketika mendapat peringatan yang seperti itu, Alisha dan keempat temannya lebih dijaga lagi tingkah laku dan juga bahasanya, supaya tidak ada suatu hal yang tak diinginkan terjadi. Namun, mereka berlima justru merasa penasaran, sehingga larangan yang sudah diberikan justru dilaksanakan semua. Teror demi teror pun dialami, bagaimana teror yang dialami oleh mereka berlima?
Ulasan
1 ulasan
Aulia Hazuki
10/7/25 17:51
Halo kak keren idenya🙏❤️. Kalau berkenan mampir balik dan subscribe di ceritaku "Rumah Laba-laba" ya Kak terima kasih sebelumnya 🙏
bab 1. peringatan
"Ati-ati ing lakumu, waspada karo basamu, lan elinga! Aja metu adzan Maghrib, utamane adzan Isya!" ucap Marni, dengan kedua mata yang melempar tatapan tajam pada ketiga perempuan muda dan juga dua laki-laki di depannya itu.
("Hati-hati dengan tingkah laku kamu, waspada dengan tutur bahasamu, dan sadarlah! Jangan keluar saat adzan Maghrib, apalagi saat adzan Isya!")
Setelah mengatakan hal itu, Mirna langsung membalikkan tubuhnya dan berkata, "Ayo, Cu, kita masuk segera. Sebentar lagi mau adzan Maghrib."
'Nenek kok aneh banget ya, tadi pakainya bahasa yang enggak aku ngerti sama sekali, sekarang pakai bahasa indonesia dan suaranya juga lembut banget. Enggak kek tadi, yang bahkan aku sendiri juga serem dengernya,' gumam Alisha dari dalam hatinya.
Tersadar jika sedari tadi ia melamun, cepat-cepat saja Alisha berkata pada keempat temannya itu. "Ayo, kita masuk yuk! Orang yang terakhir jangan lupa nutup pintu ya. Kata nenek, kita enggak boleh keluar di adzan Maghrib, apalagi pas adzan Isya, jangan berani ada yang membuka pintu."
"Ya lagian, siapa juga coba ya, yang mau keluar pas adzan berkumandang," celetuk Sisil, dengan kedua bola mata yang menatap ke arah sekeliling. Hening.
Semuanya sudah masuk ke dalam rumah sederhana tersebut, bahkan, mereka berempat, kecuali Alisha juga baru pertama kali ini mengetahui ada sebuah rumah yang terbuat dari kayu dan juga didominasi dengan anyaman bambu.
"Pina, apa ini beneran rumah ya? Kok keliatannya itu kek bukan rumah loh, aku jadi ragu sendiri deh. Padahal, kan kita ke sini itu mau liburan ya, tapi kenapa malah kek gini coba," cerocos Sisil pada Pina, yang memang berada di samping perempuan tersebut.
Namun, apa yang diutarakan oleh Sisil, langsung menarik atensi dari Mirna, sehingga menunjukkan reaksi berupa tatapan tajam dari perempuan yang memiliki umur di atas 80 itu.
"Nak, apa kamu enggak bisa dikontrol tentang apa yang mau kamu keluarin dari mulutmu itu? Yen omonganmu ora apik lan ora enak dirungokake, meneng wae lan nutup. Cangkeme sampah!" Sisil lumayan terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar.
(Nak, apa kamu enggak bisa dikontrol tentang apa yang mau kamu keluarin dari mulutmu itu? Kalau ucapan kamu itu enggak baik dan tidak enak untuk didengar, lebih baik diam saja. Mulut sampah!")
Sebuah bahasa yang sebenarnya sangat asing di telinga, tetapi entah mengapa Sisil tiba-tiba saja paham dengan apa yaang dikatakan oleh nenek Alisha.
Sehingga, dengan segera dan detik itu juga Sisil menundukkan kepalanya, lalu menjawab, "Maafin saya, Nek."
"Wes, lanjut jalan lagi," titah Mirna, dengan kedua kakinya yang kembali berjalan lagi, hingga akhirnya ia membuka pintu rumah yang ada di depan mereka.
Rumah satu-satunya yang di kelilingi oleh pohon-pohon yang sangat lebat, memang ada beberapa rumah lagi. Hanya saja, memiliki jarak yang cukup jauh, di antara rumah satu dengan rumah yang lainnya.
Mereka berlima mengikuti langkah kaki dari Mirna, hingga satu persatu mulai masuk ke dalam rumah tersebut.
"Jangan lupa ditutup ya pintunya, Fandi," ucap Alisha, kala ia melihat ke belakang dan mendapati adanya Fandi yang paling akhir untuk masuk ke dalam rumah.
"Iya, Alisha. Pasti bakalan saya tutup kok," jawab Fandi, tetapi kedua matanya langsung tertarik pada sesuatu di depan sana.
Padahal, kedua tangan milik Fandi sudah bersiap untuk menutup pintu rumah tersebut, tetapi justru ia harus dipaksa untuk menelisik apa itu yang tengah berhadapan dengan dirinya, hanya saja beberapa meter lebih jauh.
Semakin Fandi melihat dan juga memperhatikan, sesuatu tersebut terasa semakin jelas dan juga semakin ... dekat. Namun, untuk menggerakkan kedua tangannya masih terasa sangat susah sekali.
Hingga pada akhirnya, sesuatu yang sedari tadi diperhatikan oleh Fandi semakin mendekat dan juga akan tepat berada di depan Fandi, barulah laki-laki tersebut berucap, "Astaghfirullah!"
Bahkan, kedua tangannya saja langsung bergerak sendiri untuk menutup pintu tersebut, lalu Fandi segera menghirup napas dalam-dalam.
Apa yang tadi ia rasakan, seakan menghabiskan seluruh tenaga yang ia miliki. Rasanya menjadi sangat lemas dan juga lemah. Bahkan, seketika itu juga Fandi langsung terduduk tepat di depan pintu yang tertutup itu.
Persetan dengan keempat temannya yang sudah melangkah lebih masuk terlebih dulu, Fandi hanya butuh ketenangan saja untuk saat ini.
Tidak ada yang lain lagi, hanya ingin menetralkan degup jantungnya. Tidak beraturan, tetapi kala ia mendengar suara ketukan di pintu, membuat Fandi langsung membulatkan kedua mata dengan sangat sempurna.
"Aja mbukak lawang," ucap Mirna pelan, tetapi anehnya terdengar dengan sangat jelas sekali di telinga Fandi.
(Jangan buka pintunya.)
Hal itu tentu saja membuat Fandi langsung merinding, apalagi bertepatan dengan itu, ketukan di pintu justru semakin keras dan seperti ingin segera mendobrak pintu.
Namun, anehnya pintu tersebut tidak dapat terbuka sama sekali. "Astaghfirullah, astaghfirullah." detik itu juga Fandi langsung bangkit berdiri dan menyusul keempat temannya itu.
"Nutup pintu kok lama banget deh, kek abis ketemuan sama pacar," celetuk Sisil, yang membuat Fandi semakin merinding.
Laki-laki bernama Fandi itu, memilih untuk tidak menggubris sama sekali apa yang dikatakan oleh Sisil. Jika mengingat apa yang tadi ia alami, seluruh tubuhnya langsung merasa merinding tak karuan.
Bahkan, keringat dingin langsung keluar dari seluruh tubuh Fandi. Pasalnya, ia baru pertama kali ini ditampakkan dengan hal yang sangat di luar akal.
Sepanjang perjalanan hidupnya, ia sama sekali tidak pernah merasakan hal-hal yang mengganjal seperti tadi. Baru kali ini ia merasakannya. 'Ya Allah, ternyata apa yang saya denger cerita dari temen saya, emang ternyata beneran ya,' gumam Fandi, dengan tangan kanan yang langsung mengusap pelan dadanya sendiri.
"Kata nenek, nanti yang laki-laki tidurnya itu di ruangan yang di situ tuh, pas kita baru aja masuk rumah," ucap Alisha, seraya menunjuk ke arah di mana ruangan yang harus ditempati oleh dua laki-laki itu.
'Alisha, apa enggak ada kamar lain yang harus jadi tempat tidur?' tanya Fandi, tetapi apalah daya, ia hanya berani mengatakan itu di dalam hatinya saja.
"Kalau yang perempuan, bakalan tidur di mana, Alisha?" tanya Pina, yang akhirnya bersuara, di saat sedari tadi ia hanya diam saja.
"Ada kamar kosong yang enggak pernah ditempatin kata nenek. Adanya di belakang," jawab Alisha, dengan tangan kanan yang segera menunjuk ke arah di mana kamar yang akan mereka tempati itu berada.
"Ya udah, kita ke situ aja yuk sekarang! Aku udah capek banget nih," pinta Sisil, yang bahkan dengan penuh keberanian sekali ia langsung menuju ke arah di mana Alisha tadi menunjuk.
Mirna sedari tadi sudah masuk ke dalam kamarnya sendiri, persetan dengan anak muda yang salah satunya ada cucunya sendiri, tetapi yang saat ini akan ia lakukan adalah menyiapkan beberapa mukenah yang kebetulan memang memiliki stok.
Alisha mengikuti langkah kaki dari Sisil, karena jujur saja ia merasa sedikit takut dengan apa yang saat ini ia lihat.
'Kenapa suasananya beda banget ya sama pas aku masih kecil? Perasaan enggak seserem ini deh?' gumam Alisha, dengan otak yang terus saja mengingat bagaimana waktu ia kecil.
Daftar bab
124 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
124 bab








