
Cincin Kegelapan: Sistem Kekayaan Tanpa Batas
Akina|Bersambung
- Jumlah kata
- 53.0K
- Popular
- 240
- Subscribe
- 111
- Jumlah kata
- 53.0K
- Popular
- 240
- Subscribe
- 111
Sinopsis
Alex hanya seorang kasir biasa yang hidup sederhana dan bekerja keras demi membantu ibunya. Namun, semuanya berubah ketika selisih kas sebesar dua juta rupiah membuatnya dituduh, dipecat, dan bahkan gajinya ditahan tanpa bukti yang jelas. Di tengah keputusasaan, Alex menemukan sebuah cincin misterius yang memberinya Sistem Kekayaan. Sistem itu tidak memberinya uang secara cuma-cuma, tetapi memberinya misi untuk mendapatkan kekayaan dengan kemampuannya sendiri. Misi pertamanya hanya mendapatkan dua juta rupiah dalam tiga hari. Dengan kemampuan Analisis Keuangan Dasar, Alex mulai menemukan bahwa kemampuan menghitung uang dan membaca laporan ternyata bisa menjadi senjata untuk mengubah hidupnya. Dari seorang kasir yang diremehkan, Alex perlahan membangun kekayaannya sendiri. Namun, semakin banyak uang yang ia miliki, semakin besar pula masalah yang datang—termasuk Pak Haris, orang yang pernah menghancurkan pekerjaannya. Kali ini, Alex tidak berniat kembali menjadi orang yang bisa diinjak begitu saja. Dia akan menjadi kaya. Siapa pun yang pernah meremehkannya, akan melihat sendiri seberapa jauh Alex bisa melangkah.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1. Selisih di Kasir
Alex berdiri di belakang meja kasir sambil menghitung uang untuk ketiga kalinya. Tangannya berhenti ketika angka di layar mesin kasir menunjukkan hasil yang sama seperti sebelumnya. Kurang dua juta rupiah.
"Masih kurang?" tanya Pak Haris dari sampingnya. Alex mengangguk pelan. "Iya, Pak. Saya sudah hitung tiga kali."
Pak Haris mengambil kertas laporan dari meja dan melihatnya sekilas. "Shift kamu dari jam dua sampai sepuluh malam, kan?"
"Iya, Pak."
"Berarti uang ini tanggung jawab kamu." Nada suara Pak Haris terdengar datar, seolah masalah itu sudah jelas.
Alex menatapnya. "Tapi saya nggak merasa mengambil uangnya, Pak."
Pak Haris menghela napas. "Mas, saya juga nggak bilang kamu mengambil. Tapi uang kas kurang, dan kamu yang pegang kasir."
Alex diam sejenak. Ia sudah bekerja sebagai kasir di minimarket itu selama tiga tahun, dan selama itu ia selalu berusaha berhati-hati dalam menghitung uang. Gajinya memang tidak besar, tetapi pekerjaan tersebut cukup untuk membantu ibunya memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Saya bisa cek rekaman CCTV, Pak. Mungkin ada transaksi yang belum tercatat," ujar Alex. Ia masih berusaha mencari kemungkinan lain karena merasa yakin tidak melakukan kesalahan.
"Sudah dicek," jawab Pak Haris singkat. "Tidak ada masalah di mesin."
Alex mengerutkan dahi. "Terus?"
Pak Haris memasukkan laporan ke dalam map. "Besok kamu jangan masuk dulu. Saya harus laporkan masalah ini ke pusat."
Alex langsung menatapnya. "Kenapa saya yang harus diliburkan, Pak?"
"Kita tunggu keputusan dari pusat."
Alex menarik napas panjang. "Kalau saya nggak salah, saya nggak mau dituduh seperti ini."
Pak Haris menatapnya datar. "Kalau memang tidak salah, nanti juga terbukti."
Alex tidak menjawab lagi. Ia tahu berdebat malam itu tidak akan mengubah apa pun, jadi ia hanya menyelesaikan pekerjaannya sebelum pulang.
Sesampainya di kamar kontrakan, Alex langsung membuka ponselnya. Ada satu pesan dari ibunya yang masuk beberapa menit sebelumnya.
Ibu: Besok jangan lupa belikan obat Ibu, Nak.
Alex menatap pesan itu cukup lama. Ia kemudian membuka aplikasi rekening dan melihat saldonya yang hanya tersisa delapan ratus ribu rupiah.
Harga obat ibunya sekitar dua ratus lima puluh ribu. Sementara itu, gajinya seharusnya masuk tiga hari lagi.
Alex meletakkan ponselnya di atas meja. "Semoga masalah di tempat kerja cepat selesai."
Namun, harapannya tidak bertahan lama. Keesokan harinya, Alex justru mendapat panggilan dari kantor minimarket dan diminta datang menemui Pak Haris.
Saat tiba, Pak Haris sudah menunggunya bersama seorang supervisor. Alex duduk di hadapan mereka dengan perasaan tidak nyaman.
"Alex, kami sudah melakukan pemeriksaan," kata supervisor sambil membuka sebuah dokumen. "Selisih kas dua juta rupiah terjadi saat kamu bertugas."
Alex menatap dokumen tersebut. "Jadi?"
"Kamu diberhentikan."
Alex terdiam beberapa saat. Ia tidak menyangka keputusan itu akan datang secepat ini.
"Pak, saya tidak mengambil uang itu," katanya tegas.
"Kami tidak bisa membuktikannya," jawab Pak Haris.
Alex menatapnya. "Tapi kalian juga nggak bisa membuktikan saya mengambil."
Ruangan mendadak hening. Pak Haris tampak tidak suka dengan jawaban Alex, tetapi ia tetap mendorong sebuah surat ke hadapannya.
"Jangan memperumit masalah. Tanda tangan surat ini."
Alex mengambil surat tersebut dan membacanya perlahan. Di bagian alasan pemutusan kerja tertulis bahwa ia diberhentikan karena dianggap melakukan kelalaian yang menyebabkan kerugian perusahaan.
Alex mengangkat kepala. "Bagaimana dengan gaji saya?"
Pak Haris menjawab singkat, "Ditahan sampai masalah ini selesai."
Alex mengepalkan tangan di bawah meja. "Itu gaji saya, Pak. Saya sudah bekerja satu bulan."
"Saya tahu."
"Saya butuh uang itu."
Pak Haris hanya mengangkat bahu. "Kalau mau uang, selesaikan masalah kasnya."
Alex menatapnya beberapa detik. Ia ingin marah, tetapi ia sadar tidak akan mendapatkan apa-apa jika terus berdebat.
Akhirnya Alex berdiri. "Baik."
Ia mengambil tasnya lalu keluar dari ruangan. Di luar, ia berjalan melewati deretan kasir yang selama tiga tahun terakhir menjadi tempatnya bekerja setiap hari.
Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bahkan jika ada yang tahu, belum tentu mereka peduli.
Saat sampai di luar gedung, Alex berhenti di trotoar. Ponselnya kembali bergetar dan sebuah pesan dari ibunya muncul di layar.
Ibu: Nak, obat Ibu hampir habis.
Alex memejamkan mata sejenak. Ia tidak punya pekerjaan, gajinya ditahan, dan tabungannya hanya tersisa delapan ratus ribu rupiah.
Ia menatap layar ponselnya sambil menarik napas panjang. "Kenapa harus sekarang?"
Alex akhirnya duduk di bangku dekat minimarket. Ia menunduk sambil memijat pelipis, mencoba memikirkan cara mendapatkan uang sebelum obat ibunya habis.
Namun, Alex tidak membiarkan dirinya larut terlalu lama. Ia tahu mengeluh tidak akan membuat uang muncul, jadi ia mulai memikirkan pekerjaan apa pun yang bisa dilakukan untuk mendapatkan penghasilan.
Saat itulah matanya tertuju pada sebuah lapak barang bekas di seberang jalan. Di antara berbagai barang lama yang tersusun di atas meja, sebuah cincin tua tiba-tiba menarik perhatiannya.
Alex berdiri dan berjalan mendekat. Ia mengambil cincin tersebut lalu memperhatikannya.
"Berapa, Pak?"
"Seratus ribu, Mas," jawab penjualnya.
Alex hampir mengembalikan cincin itu. Namun, sebelum tangannya lepas, penjual tersebut berkata, "Ambil saja, Mas. Katanya cincin itu membawa keberuntungan."
Alex tersenyum hambar. "Kalau benar begitu, saya lagi butuh keberuntungan."
Ia membayar seratus ribu rupiah dan memasukkan cincin itu ke saku. Setelah itu, Alex pulang ke kamar kontrakannya dengan pikiran yang masih dipenuhi masalah.
Di perjalanan, ia menghitung uang yang tersisa. Setelah membeli cincin tersebut, saldonya semakin sedikit, tetapi Alex tetap merasa tidak terlalu menyesal.
Baginya, seratus ribu rupiah tidak akan menyelesaikan masalah. Namun, ia setidaknya ingin mencoba sesuatu daripada hanya duduk diam.
Malamnya, Alex duduk sendirian di tepi kasur. Ia mengeluarkan cincin tersebut dan kembali memperhatikannya.
"Kalau memang bisa membawa keberuntungan." Alex berhenti sebentar lalu tertawa kecil. "Setidaknya sekali ini, jangan bikin saya kecewa."
Alex kemudian memasang cincin itu di jarinya. Sesaat tidak terjadi apa-apa, tetapi beberapa detik kemudian batu hitam di tengah cincin tiba-tiba menyala.
Alex langsung berdiri. "Apa-apaan?"
Cahaya dari batu itu semakin terang sebelum perlahan menyebar ke seluruh permukaan cincin. Udara di dalam kamar terasa lebih dingin, membuat Alex secara refleks mundur beberapa langkah.
Sebuah suara terdengar di dalam kepalanya. Suara itu terdengar tenang dan tidak berasal dari mana pun.
"Kau membutuhkan uang?"
Alex terdiam. Ia melihat sekeliling kamar sebelum kembali menatap cincin di jarinya.
"Siapa?"
"Aku bisa membantumu."
Alex menatap cincin tersebut dengan waspada. "Bagaimana?"
"Terima sistem ini, dan hidupmu akan berubah."
Alex mengepalkan tangan. Ia teringat pekerjaan yang baru saja hilang, gajinya yang ditahan, serta pesan ibunya tentang obat yang hampir habis.
Ia juga teringat dua juta rupiah yang membuatnya kehilangan pekerjaan. Jumlah itu masih mengganggu pikirannya karena ia yakin tidak mengambil uang tersebut.
"Kalau memang kamu bisa membantu, apa yang harus saya lakukan?" tanya Alex.
"Ikuti petunjuk yang diberikan sistem. Setiap kesempatan memiliki harga, dan setiap hadiah harus diperoleh."
Alex terdiam. Ia tidak tahu apakah suara tersebut benar-benar nyata atau hanya akibat stres setelah kehilangan pekerjaan.
Namun, ketika ia melihat cincin di jarinya kembali bercahaya, keraguannya mulai berkurang. Apa pun benda ini, jelas bukan sesuatu yang biasa.
Alex menarik napas panjang. Ia tidak punya banyak pilihan, tetapi ia juga tidak ingin menerima sesuatu tanpa mengetahui risikonya.
"Kalau saya menerima, apa yang akan saya dapatkan?"
"Kesempatan untuk mengubah hidupmu."
Jawaban itu membuat Alex terdiam cukup lama. Ia kemudian mengingat wajah ibunya dan obat yang hampir habis.
Setelah kehilangan pekerjaan dan tidak memiliki banyak pilihan, Alex akhirnya mengambil keputusan. "Kalau begitu, saya terima."
Cahaya hitam langsung memenuhi ruangan. Alex berdiri terpaku ketika sebuah layar transparan muncul di hadapannya.
[Sistem Kekayaan berhasil diaktifkan.]
Daftar bab
52 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








