Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kultivasi Alif

Kultivasi Alif

Bp. Juenk | Bersambung
Jumlah kata
51.9K
Popular
100
Subscribe
15
Novel / Kultivasi Alif
Kultivasi Alif

Kultivasi Alif

Bp. Juenk| Bersambung
Jumlah Kata
51.9K
Popular
100
Subscribe
15
Sinopsis
FantasiFantasi TimurSpiritualKultivasiIdentitas Tersembunyi
Seorang pemuda 38th yang di anggap biasa ternyata adalah pemegang puncak Kultivasi tertinggi di Negri itu, yaitu SUWUNG
1. Oli dan Asap Menyan

Suara dentang besi beradu dengan lantai semen yang berdebu menyatu dengan raung mesin kendaraan di Jalan Raya Sukajadi.

Di sebuah bengkel kecil beratap seng gelombang yang agak miring, Alif berjongkok di samping motor bebek rakitan tahun sembilan puluhan. Kaos oblong hitamnya yang pudar sudah tidak jelas lagi warna aslinya, penuh usapan oli kering di bagian dada dan perut.

Jari-jemari pria berusia tiga puluh delapan tahun itu cekatan membersihkan jarum skep karburator menggunakan semprotan pembersih.

Wajahnya tipikal pria paruh baya yang dihabisi rutinitas: ada garis halus di ujung mata, kulit agak gelap terbakar matahari, dan tatapan mata yang tenang—terlalu tenang untuk ukuran orang yang saban hari menghirup asap knalpot dan debu jalanan.

Namun, kota ini bukan sekadar kota perkakas dan bensin.

Di luar garis peneduh bengkel Alif, dunia bergerak dalam dua tatanan yang tumpang tindih. Kendaraan bermotor lalu lalang membawa manusia modern, tetapi di balik sapuan angin jalanan, bau oli beradu sengit dengan samar aroma menyan, minyak mistik, dan pembakaran buhur.

Beberapa pemuda berseragam hitam dengan lambang bordir padepokan di dada melintas menunggangi motor matic besar atau motor sport. Di bahu atau di atas helm mereka, berpendar cahaya samar-samar.

Ada yang membawa pancaran aura kemerahan tipis, ada pula yang diiringi bayangan halus menyerupai serigala atau burung pemangsa yang melayang seolah mengikuti laju kendaraan. Kota modern ini adalah panggung bagi padepokan-padepokan batin, di mana pamer kekuatan gaib sudah menjadi bagian dari status sosial kaum muda.

Alif hanya melirik tipis parade halus itu tanpa minat. Ia kembali meniup lubang karburator, memastikan tak ada sumbatan sekecil apa pun. Bagi Alif, mau seseorang memelihara khodam sebesar gunung atau membawa seribu rajah di dompetnya, rantai motor yang aus tetap butuh oli, dan ban bocor tetap butuh tambalan.

BRUMMM! BRUMMM!

Sebuah motor sport merah menyala berhenti mendadak tepat di garis depan bengkel Alif, menyemburkan asap tipis dan kerikil kecil.

Pemuda yang menungganginya turun dengan gerakan kasar, menghentakkan kaki ke tanah. Ia mengenakan jaket kulit hitam tipis dengan sabuk kain merah melingkar di pinggang—seragam khas murid tingkat muda dari Padepokan Macan Geni, salah satu padepokan aliran kebatinan terbesar di wilayah tersebut.

"Kang! Woy, Kang Alif!" panggil pemuda itu keras-keras, memotong deru lalu lintas.

Alif tidak langsung berdiri. Ia menyelesaikan putaran baut terakhir pada karburator bebek tua di depannya, mengelap tangannya yang berlepotan oli hitam ke lap majun kotor, baru kemudian menengadah.

"Iya, Mas. Ada apa?" jawab Alif datar, suaranya agak serak.

Pemuda itu bernama Rian. Dadanya terangkat busung, wajahnya dipenuhi keangkuhan khas remaja yang baru saja berhasil menguasai sedikit olah batin. Di sekeliling tubuh Rian, hawa hangat terpancar tipis.

Di atas bahu kirinya, sesosok wujud halus berwujud kucing hutan bertaring panjang—khodam tingkat rendah hasil tirakat pertama di padepokannya—tampak bertengger bangga, memamerkan taring imajinernya ke udara.

"Motor saya mendadak mati di perempatan depan," kata Rian seraya menepuk tangki motornya dengan kasar.

"Coba cek karburator atau kelistrikannya. Cepat ya, saya ada janji kumpul bareng anak-anak padepokan setengah jam lagi."

Alif berdiri perlahan, membetulkan letak celana jeans-nya yang agak melonggar, lalu berjalan mendekati motor merah tersebut. Ia berjongkok, mengamati bagian mesin.

"Mogoknya gimana, Mas? Berbetuk dulu atau langsung mati total?" tanya Alif tenang.

"Mana saya tahu! Saya kan bukan montir!" potong Rian ketus. Matanya menatap Alif dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan meremehkan.

Rian menyipitkan mata, mencoba menyapukan pandangan batinnya ke arah Alif. Di dunia praktisi saat ini, hampir semua orang memiliki "pagar" atau minimal bau-bau minyak penolak bala. Namun, saat Rian memperhatikan Alif, ia tidak menemukan apa pun.

Tidak ada pendar aura batin. Tidak ada simpul energi. Tidak ada rajah keselamatan di kulitnya, dan jelas tidak ada entitas khodam yang mendampinginya.

Di mata penglihatan batin Rian, Alif hanyalah sosok "manusia tawar"—sebutan merendahkan bagi rakyat biasa yang benar-benar kosong dari ilmu batin dan dianggap berada di kasta terendah masyarakat modern.

Rian menyunggingkan senyum sinis.

"Lagian, tinggal ngecek mesin aja lama banget. Pantesan bengkel sampean sepi terus, Kang. Jaman sekarang orang cari keselamatan pake ilmu batin, bukan cuma ngandelin otot sama kunci inggris. Sampean ini udah mau umur empat puluh tahun, idup di pinggir jalan raya besar, tapi tawar banget kayak air mentah. Nggak minat ikut pasang rajah atau cari khodam pendamping apa?"

Alif hanya diam mendengarkan. Tangan kirinya menjangkau obeng minus di dalam kotak perkakas, lalu mulai membuka kap penutup mesin motor Rian.

"Nggak Mas," sahut Alif pelan, tanpa mengalihkan pandangan dari sekrup mesin.

"Saya nggak kuat tirakatnya. Lagian, khodam nggak bisa dipakai buat nambal ban bocor."

Rian tertawa terkekeh, merasa menang angin.

"Ya beda kelas, Kang! Kalau punya khodam kayak punya saya ini," Rian menepuk bahunya dengan bangga, memamerkan aura merah tipis yang makin membara di sekitar tubuhnya, "orang enggak akan berani macam-macam. Orang jahat ngeliat dari jauh aja udah gemeteran. Lah Kang Alif? Dikageti gertakan praktisi tingkat dasar aja bisa-bisa langsung masuk angin."

Rian sengaja menghentakkan napas batinnya sedikit, melepaskan riak hawa panas dari ajian Macan Geni yang ia pelajari untuk mengintimidasi sang montir. Ia ingin melihat orang tua di depannya ini terkejut atau setidaknya merasa kepanasan dan ketakutan.

Namun, tidak ada respons.

Alif bahkan tidak mengedip. Ia dengan santai menarik kabel busi motor Rian, mencabutnya, lalu mendekatkan ujungnya ke blok mesin untuk mengecek percikan api.

Ctek. Ctek.

"Busi Mas mati ini. Pengapiannya hilang," ucap Alif datar, menyerahkan busi hitam pekat yang sudah aus kepada Rian.

Rian terpana sejenak. Gertakan hawa panasnya tadi seolah-olah menguap begitu saja begitu mendekati tubuh Alif—seperti melempar secangkir air panas ke dalam samudra yang tak bertepi. Tidak ada dampak sama sekali.

‘Ah, paling dia cuma terlalu bebal sampai nggak bisa ngerasain hawa batin,’ batin Rian menenangkan dirinya sendiri.

Namun, sesuatu yang aneh justru terjadi pada bahu Rian.

Khodam kucing hutan bertaring yang tadinya bertengger gagah di bahunya mendadak menggeram rendah—bukan geraman marah, melainkan geraman ketakutan yang amat sangat.

Bentuk halus entitas itu mendadak menciut, mengecil hingga ukurannya tak lebih besar dari anak kucing jalanan. Bulu-bulu ghaibnya berdiri tegak, dan dengan gerakan panik, khodam itu melompat turun dari bahu Rian, melesat sembunyi ke pojokan bengkel di balik tumpukan ban bekas.

Khodam itu meringkuk di sana, menggigil hebat seraya menutupi wajahnya dengan kedua cakar ghaibnya, sama sekali menolak untuk kembali ke tubuh Rian.

Rian yang merasakan ikatan batinnya mendadak tertarik keras, langsung mengernyit bingung. Ia menoleh ke arah tumpukan ban bekas di pojok bengkel.

"Lho? Kenapa kowe?" gumam Rian heran, mencoba memanggil khodamnya kembali lewat batin. Namun entitas itu malah makin menyusup dalam ke kegelapan tumpukan ban, seolah-olah di area bengkel kecil itu ada buaya raksasa kasat mata yang siap menelannya bulat-bulat.

Rian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Matanya bersitatap dengan Alif yang sedang mengambil busi baru dari dalam laci meja kayu.

"Kenapa, Mas?" tanya Alif polos seraya membawa busi baru.

Rian berdehem keras, berusaha menutupi rasa canggung dan paniknya karena khodamnya mendadak tidak penurut.

"Ngg... Nggak papa! Ini khodam saya... kayaknya agak kaget kena bau bensin sama bau oli kotor di bengkel sampean!" alibi Rian asal-asalan, tidak mau jatuh gengsi di hadapan pria yang ia anggap "manusia tawar". "Bikin pengapian batinnya agak terganggu!"

Alif hanya mengangguk-angguk kecil, sudut bibirnya terangkat membentuk garis tipis yang tak terlihat oleh Rian.

"Ooh... bau oli ya," kata Alif pelan.

Tanpa ucapan mantra, tanpa ada kepalan tangan, dan tanpa ada hawa panas yang menyembur, Alif hanya memasang busi baru itu ke lubangnya lalu mengencangkannya dengan kunci busi.

Namun, tepat saat jemari Alif menyentuh besi mesin motor untuk mengencangkan putaran akhir, keheningan yang teramat sangat menyelusup secara ghaib di sekeliling bengkel.

Hawa panas dari ajian Macan Geni di tubuh Rian langsung padam seketika—seperti lilin kecil yang ditiup angin badai di tengah malam.

Rian mendadak merinding hebat. Tengkuknya dingin, dan dadanya terasa sesak selama satu detik penuh, seolah-olah udara di sekitarnya mendadak dihisap habis oleh sebuah jurang tanpa dasar.

"Mas?" tegur Alif, memecah keheningan murni itu. "Coba di-starter. Harus nya udah hidup."

Rian tersentak dari lamunannya. Keringat dingin menetes di pelipisnya tanpa ia sadari. Ia memandang Alif dengan tatapan bingung, namun pria di depannya masih menampilkan wajah lelah yang sama—wajah montir paruh baya yang hanya memikirkan berapa uang yang akan ia dapatkan hari ini.

Dengan tangan yang sedikit agak gemetar, Rian menaiki motornya dan menekan tombol starter.

BRUMMMM!

Mesin motor sport itu meraung halus seketika.

Rian menghela napas lega, membuang jauh-jauh perasaan aneh yang baru saja melintas. Ia menganggap sensasi dingin dan hilangnya daya batinnya tadi hanyalah akibat kelelahan fisik karena motornya sempat mogok di jalan.

"Berapa, Kang?" tanya Rian seraya merogoh dompetnya, tak lagi se-jumawa saat datang tadi.

"Busi barunya dua puluh lima ribu. Jasa pasangnya lima ribu aja. Jadi tiga puluh ribu, Mas," jawab Alif seraya mengelap kunci businya kembali ke kain majun.

Rian menarik lembaran uang dari dompetnya lalu melemparnya begitu saja ke atas meja kayu bengkel. Ia bergegas menarik gas motornya dan memanggil khodamnya secara paksa. Khodam kucing kecil itu melompat kembali ke bayangan Rian dengan tubuh yang masih gemetaran, seolah baru saja lolos dari neraka.

"Lain kali kalo servis yang benar, Kang!" seru Rian berteriak di atas raung mesinnya, mencoba mengembalikan gengsinya sebelum melesat pergi meninggalkan debu jalanan.

Alif berjalan santai ke arah meja kayu, mengambil uang tiga puluh ribu rupiah tersebut, lalu merapikannya ke dalam laci bersama uang kembalian lainnya.

Ia memandang ke arah jalan raya yang bising, tempat Rian menghilang di antara kerumunan kendaraan. Alif menghela napas panjang, menghirup dalam-dalam perpaduan antara bau oli, asap knalpot, dan sisa-sisa aroma menyan yang terbawa angin sore.

"Dunia makin ramai..." gumam Alif pada dirinya sendiri. "...tapi orang-orangnya makin bising."

Ia kembali berjongkok di samping motor bebek tua milik pelanggannya yang belum selesai, mengambil tang, dan kembali bekerja dalam keheningan yang tak tersentuh oleh siapapun.

Lanjut membaca
Lanjut membaca