
Kebangkitan Pangeran Mahkota Bisu
Fadiyah NK|Bersambung
- Jumlah kata
- 108.5K
- Popular
- 503
- Subscribe
- 48
- Jumlah kata
- 108.5K
- Popular
- 503
- Subscribe
- 48
Sinopsis
Dikenal sebagai panglima perang dan pahlawan hebat, Adiwilaga justru tewas saat melindungi sahabat yang pernah mengkhianatinya. Pengorbanannya ini memberinya sebuah kesempatan kedua. Ia terbangun di tubuh Pangeran Mahkota bisu yang hidupnya memiriskan karena tidak dianggap. Siapa yang ingin dipimpin Pangeran Mahkota bisu? Itu sebuah noda! Lantas bagaimana kehidupan Adiwilaga sang panglima sebagai Danendra Pangeran Mahkota Bisu?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Kebangkitan Jiwa yang Naas
"Tahan barisan! Jangan biarkan bagian kiri goyah!"
Suara bariton Panglima Adiwilaga menggelegar di antara desing angin kutub dan denting baja yang saling beradu.
Di bawah langit perbatasan Kemaharajaan Waradwipa, situasi kian mendingin sekaligus membakar pertahanan mereka.
Pasukan barbar dari lereng utara menyerang dengan brutal, memanfaatkan badai salju untuk mengacaukan formasi pertahanan Waradwipa.
Di tengah kekacauan itu, Bahuwirya—senopati muda yang bertarung beberapa langkah dari Adiwilaga justru malah bergerak maju ke depan. Dengan agresif ia menebas musuh-musuhnya, mengabaikan garis pertahanan kelompok yang seharusnya ia jaga.
"Bahuwirya! Tarik mundur pasukanmu ke formasi! Kau membuka celah di lambung kiri!" teriak Adiwilaga, matanya berkilat murka melihat kebebalan sahabat lamanya itu.
Bahuwirya tidak mendengarkan. Ia justru melompat, menebas satu prajurit barbar lagi, sebelum berteriak tanpa menoleh, "Kita bisa menghabisi mereka sekarang, Panglima! Jangan biarkan ketakutanmu menahan laju pedang kami!"
"Ini perintah, Senopati!" Adiwilaga melompat maju, menebas musuh yang mencoba menyergap Bahuwirya dari samping, lalu mencengkram pundak baju baja Bahuwirya dengan kasar hingga pria itu terpaksa mundur dua langkah. "Jangan jadi orang bodoh yang egois di atas tanah bersalju ini! Kau membahayakan nyawa baris belakang hanya demi memuaskan egomu!"
Bahuwirya menyentak pundaknya kasar, melepaskan cengkeraman Adiwilaga. Napasnya memburu, matanya menatap Adiwilaga dengan kilatan tersinggung. Egonya yang keras kepala menolak untuk tunduk. Ia merasa Adiwilaga selalu menggunakan otoritasnya sebagai Panglima Agung untuk menekannya sejak hubungan mereka sebagai sahabat retak.
Wuuush!
Belum sempat Adiwilaga menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba sebuah anak panah bermata hitam pekat melesat cepat, membidik lurus tepat ke arah jantung Bahuwirya.
Secara otomatis, insting Adiwilaga sebagai panglima yang bersumpah menjaga nyawa pasukannya mencoba melindungi Bahuwirya.
Jleb!
Anak panah beracun itu menghujam telak ke dada Adiwilaga, merobek baju baja peraknya dan menembus tepat di jantungnya.
"Pang–Panglima?!" Bahuwirya terbelalak. Seluruh otot di tubuhnya mendadak kaku saat menyaksikan tubuh sang Panglima tumbang ke arahnya.
Bahuwirya menyandarkan tubuh Adiwilaga yang mendadak kehilangan seluruh tenaga ke dalam dekapannya.
"Ada pemanah gelap! Cari bajingan itu! Kepung reruntuhan dan bawa kepalanya ke hadapanku sekarang juga!!!" teriak Bahuwirya, suaranya menggelegar memecah keheningan.
Prajurit Waradwipa yang terkejut langsung bergerak secepat kilat mengepung reruntuhan kereta, memburu sang penembak yang mencoba melarikan diri ke balik kabut salju.
"Adiwilaga! Kenapa?! Kenapa kau melakukan ini?!" Bahuwirya menangis histeris. Perasaan bersalah menghantam dadanya. Ia mengira pria ini membencinya karena telah merebut Sekar Ayu—wanita yang Adiwilaga cintai, namun mengapa pria ini justru memberikan nyawanya sendiri untuk menyelamatkannya?
Adiwilaga terengah-engah, merasakan racun dingin mulai melumpuhkan otot jantungnya dan menyumbat jalan napasnya dengan cepat. Kesadarannya kian menipis, dunianya mulai menggelap, namun matanya menatap Bahuwirya dengan sisa rasa hangat masa lalu yang rapuh. Tangan kanannya yang bersimbah darah terangkat lemah, mencengkeram zirah dada Bahuwirya dengan sisa tenaga terakhirnya.
"Bahuwirya ...," bisik Adiwilaga, suaranya terdengar serak, berat, dan terputus-putus. "Jaga ... jaga Sekar Ayu …Jika kau ... membuatnya menangis ... aku tidak akan memaafkanmu ... bahkan di neraka sekalipun."
Setelah mengucapkan kata terakhir itu, cengkeraman tangan Adiwilaga terlepas. Matanya perlahan tertutup rapat, jiwanya di kegelapan meratapi nasibnya sendiri. Ia telah memberikan seluruh hidup, darah, dan raganya untuk Kemaharajaan Waradwipa, namun ia harus mati dengan cara yang menyedihkan.
Meskipun bagi seorang panglima, mati di medan perang adalah kehormatan tertinggi, baginya ini belum memuaskan. Masih ada begitu banyak hal yang ingin ia lakukan. Ia tidak boleh lenyap begitu saja di sini.
"Jika takdir memberiku kesempatan kedua…," bisik jiwa Adiwilaga di tengah kehampaan, "bawa aku ke tempat yang lebih tinggi…"
Hening.
Segalanya mendadak menjadi begitu sunyi. Dinginnya salju perbatasan yang tadi membekukan kulitnya perlahan memudar, digantikan oleh sensasi hampa yang tak berujung. Adiwilaga berpikir inilah akhir dari segalanya. Kegelapan abadi yang menyambut jiwa-jiwa yang telah menyelesaikan tugasnya di dunia.
Namun, kedamaian itu tidak bertahan lama.
Secara perlahan, sebuah kesadaran asing mulai merayap kembali ke dalam benaknya.
Sentakan rasa sakit mendadak datang menghantam.
Adiwilaga mengernyit di dalam tidurnya. 'Apakah ini akhirat?' pikirnya linglung. 'Mengapa rasanya begitu nyata?'
Ia bersiap merasakan perih yang luar biasa di dadanya—tempat di mana anak panah beracun milik pasukan utara menembus jantungnya. Namun, sebaliknya, rasa sakit itu justru terpusat di tempat lain.
Tenggorokannya.
Ada rasa panas yang membakar, menyumbat pangkal lehernya hingga parunya menjerit meminta oksigen. Adiwilaga mencoba menarik napas, namun yang ia dapati udara terkunci rapat di tenggorokannya.
Pikiran tajamnya berputar cepat, mencoba mencerna situasi yang tidak masuk akal ini.
'Bukankah aku sudah mati? Bukankah jantungku sudah berhenti berdetak di pelukan Bahuwirya? Lalu rasa sesak apa ini?'
Seseorang sedang mencekiknya!
Ini bukan sisa halusinasi dari kematiannya. Ini adalah ancaman nyata yang tengah berlangsung saat ini juga!
Dalam sekejap, segala kebingungan tentang bagaimana bisa 'ia menggerakkan tubuhnya?' tersapu bersih oleh instingnya bertahan hidup. Jiwa seorang panglima perang yang telah melewati ratusan pertempuran hidup dan mati seketika mengambil alih kendali penuh.
Meskipun matanya belum sanggup terbuka dengan sempurna karena kelopak matanya terasa teramat berat, Adiwilaga menggerakkan kedua tangannya yang terasa berbeda ke atas.
Dengan gerakan refleks yang cepat dan presisi, ia mencengkeram kuat-kuat kedua lengan bawah sosok yang tengah menekan lehernya.
Ia sempat tertegun sesaat karena menyadari pergelangan tangan yang ia cengkeram terasa begitu kecil dan rapuh untuk ukuran seorang pembunuh, namun Adiwilaga tidak memiliki waktu untuk ragu. Ia menghentakkan seluruh sisa tenaga yang ada pada raga baru ini, lalu mendorong sosok di atasnya sekuat tenaga ke arah depan.
Brak!
Sosok itu terlempar ke belakang, kehilangan keseimbangan hingga menghantam lantai kayu yang dingin dengan suara jatuh yang cukup keras.
Adiwilaga langsung bangkit, menegakkan tubuhnya dalam posisi duduk di atas ranjang sutra yang teramat megah. Ia terbatuk-batuk hebat hingga dadanya naik-turun dengan liar, berusaha meraup oksigen di sekitarnya.
Sambil berusaha menstabilkan napasnya yang terputus-putus, sepasang matanya yang tajam perlahan terbuka, langsung memburu ke arah sosok yang baru saja mencoba mencabut nyawanya.
Namun, pemandangan di depannya membuatnya membeku.
Orang yang tersungkur di lantai itu bukanlah seorang pembunuh bayaran berzirah hitam, melainkan seorang wanita paruh baya. Pakaiannya terbuat dari kebaya sutra yang indah khas bangsawan tinggi istana, namun rambutnya yang semula disanggul rapi kini tampak acak-acakan.
Wanita itu tidak mencoba menyerang lagi. Ia justru bersimpuh pasrah di atas lantai, menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan menangis terisak-isak dengan bahu yang terguncang hebat.
"Maafkan Ibu, Danendra ... maafkan Ibu …" suara wanita itu pecah oleh tangis yang teramat memilukan. "Ibu adalah Ibu yang gagal ... karena tidak bisa melindungimu dan membuatmu hidup dengan baik di istana Kedatuan Arcapada yang kejam ini ..."
Wanita itu mendongak, menatap Adiwilaga dengan pandangan yang dipenuhi keputusasaan yang teramat dalam. "Lihat dirimu sekarang ... mereka merenggut suaramu. Pangeran Mahkota yang bisu ... dunia luar hanya akan menginjak-injak dan menghasutmu sampai kau mati mengenaskan, Nak. Ibu tidak sanggup melihatmu menderita lebih jauh lagi ... Lebih baik Ibu membawamu mati bersama Ibu malam ini ..."
Adiwilaga tertegun di tempatnya duduk.
Potongan ingatan dari kehidupan yang rupanya dari si pemilik asli tubuh ini mendadak berputar cepat di kepalanya. Ia sempat memegangi kepalanya, mencoba menahan rasa sakit luar biasa akibat penyatuan dua ingatan yang berbeda.
Di dalam benaknya, kilasan ingatan Raden Mas Danendra berputar kacau.
Pangeran Mahkota itu semula memiliki segalanya sebagai pewaris sah Kedatuan Arcapada. Namun, paviliun megah itu ternyata sarang ular. Orang-orang kepercayaannya berkhianat demi sebuah takhta....
Cairan hitam pekat bernama Getah Wisa Panglipur dituangkan kasar ke dalam tenggorokannya. Rasa terbakar yang hebat merenggut suaranya selamanya. Sejak hari itu, namanya dicap sebagai "noda" bagi Kedatuan karena kebisuannya. Jiwa pangeran yang malang itu perlahan runtuh, mengurung diri, dan menyerah sepenuhnya pada takdir.
Adiwilaga mencoba mengeluarkan suara, namun hanya desisan napas serak tak berbentuk yang lolos dari bibirnya. Ia perlahan melangkah perlahan mendekati Nyi Ageng Kenanga.
Karena pita suaranya telah rusak total, Adiwilaga tahu ia tidak bisa menenangkan wanita itu dengan kata-kata. Maka ia berlutut dan mengambil perlahan kedua tangan wanita itu sambil memberikan senyuman.
Detik berikutnya, tangis Nyi Ageng Kenanga pecah dengan jauh lebih histeris. Ia menarik tangannya yang digenggam dan langsung merangkul tubuh Danendra erat-erat.
"Maafkan Ibu, Danendra ... " ratap sang ibu dengan penyesalan yang teramat dalam. "Ibu mengira ... Sejak hari mengerikan itu, kau sudah menyerah pada hidup.. Ibu mengira ... Danendra milik Ibu sudah pergi dan mati sejak hari itu ... Ibu sangat menyesal karena sempat berpikir untuk mengakhiri hidupmu …"
Mendengar bisikan pilu yang keluar dari bibir wanita itu, jantung Adiwilaga mendadak berdenyut sangat menyakitkan. Ada rasa bersalah yang menusuk dadanya dengan tajam.
'Danendra milik Ibu sudah pergi dan mati sejak hari itu …'
Firasat seorang ibu memang tidak pernah salah.
Jiwa pangeran rendah hati bernama Raden Mas Danendra memang telah menyerah dan pergi dari raga ini. Dan pria yang kini sedang memeluknya, bukanlah putranya yang berhati suci. Melainkan Adiwilaga—seorang panglima perang berdarah dingin dari Kemaharajaan Waradwipa.
Meskipun ia bukan Danendra, Adiwilaga mengepalkan tangannya di belakang punggung sang ibu. Sebuah janji baru yang pekat terpatri di dalam hatinya.
'Danendra yang asli mungkin telah tiada,' bisik Adiwilaga di dalam hati. 'Tapi demi air mata ibumu, dan demi posisi Mahkota yang berusaha mereka rebut darimu ... aku, Adiwilaga, bersumpah akan menggunakan tubuhmu ini untuk meremukkan mereka semua yang telah menghancurkan hidupmu.'
Bersambung ...
Daftar bab
95 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








